نخستین 200 خط.
Jadi, angka 2 merupakan koefisien.
Untuk menentukan ekspresi aljabar, gabungkan suku-suku sejenis.
Nah, dalam persamaan ini...
- A (x + c)... - Uh...
- ...ini sifat distributifnya. - Ha?
- Lalu 2 di sini... - Eh?
URUS URUSANMU SENDIRI
Ha?
Bos kesulitan memahami pelajaran di kelas?
Meski semua materi kupelajari kembali, tetap saja aku masih belum paham juga.
Pantas saja Bos bersikap aneh saat tadi belajar di kelas.
Omong-omong,
bagaimana kemampuan matematikamu?
Aku payah dalam pelajaran itu.
Sudah kuduga.
Ah! Kalau begitu...
Ha? Belajar?
Jadi, saat huruf X dan Y mulai muncul, otakmu tiba-tiba mandek, ya.
Kumohon, Eri. Ajari aku.
Tidak mau.
Aku sibuk kerja dan mengurus rumah.
Aku juga sedang mencari cara agar tubuhmu bisa kembali seperti semula.
Iya juga, sih...
tapi ayolah, bantu aku!
Sebenarnya dia bukan pria yang bodoh.
Bertanyalah pada gurumu.
Itulah gunanya sekolah, ‘kan?
Masalahnya...
usia guruku sedikit lebih muda dariku, jadi aneh rasanya kalau aku bertanya.
Haa?
Enyahkan gengsi konyolmu itu, atau cari sendiri solusinya!
Ah, teleponku ditutup.
Celaka.
Aku masih belum paham juga.
- Kalikan ini dengan... - Kalau aku masuk kelas berikutnya...
...tanpa memahami materi ini, aku pasti bakal kesulitan memahaminya.
Kalau begini terus, aku pasti semakin keteteran di kelas.
Bagaimana ini?
Sedang ada masalah, ya?
Namamu Ogami, ‘kan?
Aku pernah melihatnya di kelas.
Biar kuingat... Shira... ishi...
Ya, Ryo Shiraishi.
Oke, aku paham.
Masalahnya mungkin ada di materi awal.
Ha?
Kau mungkin belum terlalu paham dengan aritmetika dan rumus yang diajarkan
sewaktu SD, makanya sekarang kau jadi gelagapan dan kebingungan.
Iya juga, waktu kecil aku malas belajar dan bermain terus.
Nah, begini saja.
Aku juga sering belajar di sini.
Bagaimana kalau kita belajar bersama?
Ha?
KUIS MATEMATIKA
Berkat bantuanmu, aku dapat nilai seratus saat kuis!
Terima kasih.
Tidak, ini berkat usaha kerasmu dalam mengulang dasar-dasar materinya, Ogami.
Ya ampun, senangnya hatiku.
Sungguh, terima kasih banyak...
Guru!
Ha? Kok, aku dipanggil "Guru"?
Aku sungguh sangat berterima kasih.
Biar kutraktir kau minuman.
Kok sikapmu mendadak seperti orang tua saja?
Bagaimana kalau duduk di sana?
Ah, maaf!
Kalau jalan pakai mata, Bocah.
- Ayo. - Mampir...
- Ada meja kosong di sana. - ...ke restoran keluarga sepulang dari sekolah?
Dasar sombong.
Buang-buang uang orang tua saja.
Para bocah mengira kalau hidup ini mudah.
Serius, kau hebat sekali!
Sambil mengajariku setiap hari,
kau juga belajar sama giatnya, bahkan mungkin lebih giat lagi.
Sepertinya kau bukan hanya ingin belajar serius.
Tapi juga punya semacam tujuan yang ingin kau capai.
Tolong rahasiakan ini dari teman-teman sekelas, ya!
Sebenarnya...
Aku ingin menjadi dokter.
Luar biasa!
Memangnya kenapa kalau orang lain tahu?
Malu saja rasanya.
Ketika aku masih kecil, ibuku meninggal karena suatu penyakit.
Ketika ayahku sedang bekerja, aku diurus oleh nenekku.
Tapi belakangan ini, kesehatan nenekku memburuk.
Jadi, aku sudah menetapkan cita-citaku.
Aku ingin orang seperti ibu dan nenekku bisa berumur panjang.
Makanya, aku kepikiran menjadi dokter.
Begitu ceritanya.
Guru Besar!
Aku naik jabatan lagi? Sudahlah, hentikan!
Hatiku tersentuh!
Aku tak ada apa-apanya!
Lah, kau ini kenapa?
Tidak, sungguh...
aku serius mengatakan itu.
Aku memang payah menghadapi anak-anak...
tapi mungkin itu karena...
aku tak pernah menganggap mereka sebagai orang dengan keunikannya sendiri.
Setidaknya...
dia jauh lebih mengagumkan daripada aku.
Dari tadi aku menyimak ocehan kalian...
Zaman sekarang mau jadi dokter?
Selain buang-buang duit,
aku jadi penasaran, kau ini anak tolol, ya?
Ha?
Ucapanmu itu sangat tidak realistis.
Harusnya kau pelajari lagi data yang ada.
Mungkin aku harus meninjunya.
Tidak, jangan melakukan kekerasan!
Kau juga, Si Kacamata...
Padahal masih kelas satu SMP, tapi sudah kewalahan belajar?
Itu, sih, bodoh maksimal namanya!
Terus, kau malah giat belajar padahal otakmu memang tak kesampaian?
Kau benar-benar ingin semua orang sadar akan betapa bodohnya dirimu, ya.
Bodoh itu urusan lain, tapi...
Terima kasih atas sarannya.
Namun, ocehanmu cukup sampai di sini saja.
Apa?
Sudah untung aku mau menasihati kalian!
Nasihatmu tidak ada hubungannya dengan cita-citaku menjadi dokter.
Yang paling penting, meski nasihatmu bisa dianggap benar,
menurutku kau sudah kelewatan saat menyebut orang lain “tolol”...
hanya karena tidak sependapat denganmu.
Aku tak mau orang seperti itu menertawakan usaha keras temanku!
Dengar...
Sudah cukup.
Kau terlalu berisik.
Hal semacam itu namanya, "bukan urusanmu."
- Ya ampun. - Memalukan.
- Memangnya... - Harga dirinya hancur lebur.
...apa pekerjaanmu?
Mati saja kalian semua!
Kau berani bersuara saat sedang terdesak.
Aku semakin kagum kepadamu.
Tadi kesabaranku habis.
Memalukan, ya?
Justru keren!
Dasar Bocah sialan!
Beraninya mempermalukanku!
Saat aku lewat...
akan kuhajar dengan tendangan mautku,
sehingga mereka terpental ke sungai.
Mungkin begitulah rencana jahatnya.
Ya ampun.
Bos!
Ya, aku tahu.
Akan kuberi dia sedikit pelajaran.
Kau sudah kelewatan, Nak.
Dinginkan pikiranmu sana.
Lalu belajarlah
- ...dari guruku. - Ha?
Ups.
Ini.
Kau melupakan sesuatu.
Laptopmu yang berharga.
Urus saja urusanmu sendiri!
Eh?
Barusan ada sesuatu yang jatuh?
Entahlah.
Meski kelihatannya tampak tegar, sebenarnya dia gampang kesepian.
Kozu—
Ini aku.
UNTUK PAPA
Pagi.
Waduh, kamar Bos berantakan sekali.
Ruang keluarga juga kotor.
Sudah lama aku tidak memanggil layanan kebersihan.
Ya bersihkan sendiri, dong!
Oh, tidak bisa. Aku belum pernah melakukannya.
Lagi pula, pria tidak perlu mengerjakan tugas seperti itu.
Bos...
itu tidak lucu.
Ha?
Menurut Bos, kita hidup di tahun berapa?
Astaga, jangan ketinggalan zaman begitu!
Tolong diperhatikan, ya?
Ya, ya, siap.
Siapa yang mau bergabung dengan klub kami?
Oh, kegiatan klub, ya?
Kudengar kegiatan klub mulai berjalan minggu ini.
Bos sudah memilih klub, belum?
Hmm...
Aku tak mau ikut klub atletik.
Ha? Alasannya?
Hei!
Maaf! Tolong lemparkan kemari!
Kau baik-baik saja?
- Nanti aku akan... - Bertahanlah!
- tampak terlalu mencolok. - Lemparan apa itu tadi?
Oh, ikut klub apa?
Sepertinya aku mau ikut Kendo.
Ha?
Aku pernah mencoba olahraga ini.
Aku suka dan ingin menekuninya sambil belajar.
Guru!
Kalau kau, Ogami?
Sepertinya aku tak akan mengikuti klub atletik.
Bagaimana kalau klub budaya?
No comments yet. Be the first to leave one.