The first 172 lines.
Juzo Ogami.
Anggota Z.O.O, organisasi paling berpengalaman nomor tiga di industri ini.
Mantan pembunuh bayaran nomor satu di bisnis ini...
sebelum dia lenyap tanpa kabar.
Tingkat keberhasilan misi... 100%.
Namun, ia menolak tugas yang menargetkan perempuan, anak-anak, atau warga sipil.
Merek rokok yang disukai... Blue Apple.
Wiski pilihan... Laphroaig.
Hmm...
Sangat andal dalam menembak jitu, duel tangan kosong hingga adu pisau.
Senjata pilihan... P210.
Tangan kanan dan kiri sama baiknya, dan meski menembak dengan tangan kiri,
konon tingkat akurasinya setara dengan senapan runduk.
Semua fakta ini membuatnya dijuluki sebagai "Tangan Kiri Iblis."
Hebat sekali.
Sebentar lagi.
VERSUS RINDOU BERSAUDARA
Jadi, duel ini berakhir sebelum aku menggunakan senjata asliku, ya?
Tamat sebelum waktunya.
Orang tua mereka sudah dihubungi, belum?
Belum.
Kabarnya, ada pihak petinggi yang menentang langkah itu.
Kenapa?
Mana kutahu.
[Bagaimana dengan makan malam? Kau makan dengan teman di sana? Ya.]
Kalian bertiga, kembalilah dengan selamat.
Sudah jelas aku pasti akan menghajarmu habis-habisan!
Cih.
Dia lihai.
Kalau adu tembak langsung seperti ini, aku pasti kalah.
Bagus.
Aku juga berhasil mengamankan peluruku.
Hari ini, Nekota adalah malaikat penyelamatku.
Hei! Apa kau terluka?
Eh? P-penjaga keamanan?
Tempat ini tutup hari ini, loh. Bagaimana kau bisa masuk?
Ah, itu...
Dari tadi terjadi ledakan aneh.
Di sini berbahaya, cepat keluar!
Sial, kukira dia akan mengosongkan tempat ini sebelum memancingku ke sini.
Tunggu! Kau melibatkan warga sipil!
Itu prinsipmu, bukan?
Aku, sih, tak masalah.
Dengan posisi mereka...
kalau Bos menghindar, penjaga pasti kena!
Ha!
Bajingan, dasar hina!
Hah, kok bisa?
Menangkis peluru dengan peluru itu, mustahil!
Satu-satunya orang yang mampu melakukan hal di luar nalar seperti itu adalah...
Ah, sekarang aku mengerti. Semuanya mulai masuk akal.
Noren Mitsuoka. MITSUOKA PHARMACEUTICALS
Saat aku mengamatimu...
Aku pikir ada yang aneh karena namamu sama persis...
dengan si pembunuh bayaran legendaris.
Tapi selisih usianya terpaut sangat jauh, kukira kalian orang yang berbeda.
Meski sulit dipercaya, ini bukan sembarang kasus nama yang identik.
Kau...
memang Juzo Ogami.
Dia menyadarinya?
Makanya dulu aku tanya...
apa Bos yakin tak mau mengganti nama sebelum resmi mendaftar sekolah!
Mana aku tahu kalau akhirnya bakal begini?
Mestinya tugas ini cuma...
"menyelinap ke SMP, lalu melakukan pengintaian internal".
Iya juga, sih.
Salah!
Aku memang ada kaitan dengan Juzo Ogami, tapi aku bukan dia.
Aku...
Hari ini istriku sedang keluar kota.
Anu...
Ih, dasar tak punya malu!
Aku ini...
anak gelap Juzo Ogami.
Bos ini bicara apa?
Aku mau pergi ke Tokyo supaya jadi orang sukses. Hati-hati!
Dasar tak tahu malu!
Setelah dia bosan dengan ibuku, gundiknya...
dia menggandeng wanita muda, dan menghilang dari kehidupan kami.
Aku bersumpah membalaskan dendam padanya.
Makanya namaku disamakan dengannya dan memilih jalan yang sama.
Dengan membangun reputasi, aku tahu bahwa suatu hari nanti,
saat aku berjumpa dengan ayahku yang berengsek itu, aku akan bilang...
Kenapa kau meninggalkan kami?
Hei Bos, cerita Bos sungguh tak masuk akal!
Begitu, ya.
- Aku mengerti. - Eh?
Hidupmu juga sangat sulit, ya?
Dia percaya?
Aku paham perasaanmu.
Bagi kita, para kriminal, hidup memang penuh sengsara.
Dan orang-orang yang kita temui? Mereka semua hanyalah sampah.
Bos, barusan Bos dianggap sampah.
Kau pasti sangat ingin menghabisi ayahmu.
Y-ya.
Aku dan adikku juga pernah dilanda masalah.
Dulu, adikku Eiji bukanlah tipe pendiam seperti sekarang.
Sadis begitu disebut “pendiam”?
Sampai kami terseret dalam suatu insiden...
Aku cuma anak yang suka trik sulap...
dan adikku cuma anak kecil yang menyukai olahraga.
Kami sama seperti kakak-beradik pada umumnya.
Kakak lihat, tidak?
Tembakanku barusan.
Kakak lihat. Tembakan bagus
Waduh.
Tak ada gunanya bersikap sentimental.
Pokoknya, bagiku adikku Eiji adalah orang paling berharga di dunia.
Noren akan menjadi bagian dari kebahagiaannya.
Dan rahasia Mitsuoka...
mungkin menyimpan secercah harapan untuk memulihkan adikku seperti semula.
Sepertinya kita punya alasan tersendiri...
tapi aku tak boleh kalah.
Pemantik api?
Sudah kubilang, ‘kan? Keahlianku adalah hipnosis.
Ini adalah...
senjata asliku.
Cih! Jadi, begitu cara kerjanya.
Penjaga keamanan muncul di waktu yang sangat tepat...
karena dia sudah dikendalikan olehnya.
Maafkan aku.
Jurusmu agak seram juga, ya.
Tapi, apa hanya itu kemampuanmu?
Satu boneka sipil tak masalah buatku.
Satu? Tentu tidak.
Kau pikir aku baru menggunakan hipnosis setelah menyatakan perang?
Kau keliru.
Aku tahu kau pasti bertahan sejauh ini.
Persiapannya sudah selesai.
Dari jauh hari.
Jangan-jangan...
[Tenma Tendo Sedang memanggil...]
Oh, Ogami? Di mana kau?
Maaf. Aku ceroboh. Keluar dari sana sekarang juga.
Menjauhlah dari kerumunan warga sipil.
Mereka sedang terkena hipnotis.
Oh, ya? Oke. Mengerti.
Santai sekali responsmu. Kau ini paham ucapanku, tidak?
Sudah kubilang aku mengerti.
Setelah menyaksikan ledakan pukulan golf tadi, aku tahu ini tidak normal.
Ya, aku paham kalau aku bisa mati.
Tapi aku tak akan lari.
Kau ini...
Jangan meremehkan atlet.
Di tingkat profesional, pemain unggulan mungkin tak mempertaruhkan nyawa mereka,
tapi tetap saja mereka mempertaruhkan segalanya.
Aku berambisi menjadi "atlet elite tritunggal yang fenomenal," ingat?
Kalau tak sanggup menghadapi sejumlah tantangan hidup-mati, apa hebatnya aku?
Jadi, ya, urus saja masalahmu saat ini.
Ha?
Hei!
Ini memang berisiko...
tapi sekaligus jadi kesempatan bagiku.
Aku berambisi menjadi atlet super tritunggal untuk menggapai...
prestasi yang melampaui akal sehat.
Makanya, aku kerahkan semua kemampuanku pada apa pun yang mungkin kubutuhkan...
seefisien mungkin berdasarkan logika dan teori yang kuat.
Hasilnya sudah terlihat.
Kurasa jalanku sudah benar.
Tapi... untuk menggapai sesuatu yang melampaui akal sehat...
Aku merasa kalau aku juga harus melakukan sesuatu yang mustahil dicerna nalar.
Jadi, inilah kesempatanku.
Jika aku sanggup melewati duel hidup dan mati ini...
apa pun yang kuhadapi setelah ini, aku bisa mengatakan...
"Dibandingkan duel kala itu, ini sepele."
Aku yakin itu.
Aku pasti akan menjadi atlet super tritunggal!
Hei, Raksasa Tambal Sulam!
Mari kita berolahraga.
Makan terus kabur... Tak bisa dimaafkan!
Baiklah kalau begitu, mari kita mulai!
Astaga, ngeri sekali!
No comments yet. Be the first to leave one.