The first 200 lines.
Terima kasih banyak.
Latihan bersamamu memberiku pelajaran.
Ya.
Hebat!
Benarkah dia anak SMP?
Anak kuliah pun tak akan mampu menangkap lemparan bola itu dengan mulus!
Kemampuannya melampaui anak SMA.
Aku tertawa saat mendengar ceritanya, tapi setelah menyaksikannya sendiri...
Rasanya dia seperti bukan manusia.
Pantas saja dia disebut “Unicorn.”
WASPADAI KEDATANGAN UNICORN
Ingat, minggu depan ada UTS.
- Serius? - Menyebalkan!
Artinya, mulai hari ini, seluruh kegiatan klub akan ditangguhkan selama sepekan.
Jangan lupa, pelajari lagi semua yang sudah kita bahas.
Tak terasa sebentar lagi UTS.
Aku gugup soalnya ini ujian pertama kita sejak masuk SMP.
Kalau kau, Ogami?
Waduh, seramnya.
Ha?
Sepertinya kau sedang kesal.
Tidak, bukan begitu.
Lebih tepatnya, "Ujian! Siap, aku pasti bisa mengatasinya!"
Auramu tegang sekali.
Ogami jadi kelihatan seperti pembunuh bayaran, ya?
Bos, jangan membongkar identitas gara-gara hal sekonyol ini!
Anu, baru kali ini aku menghadapi ujian tengah semester.
Aku harus bagaimana, Guru?
Ini juga hal baru buat murid lainnya.
Ayo kita berusaha sebaik mungkin, Noren!
Tiba-tiba saja nongol begitu.
Ogami, persiapanmu dalam belajar dan mengulas pelajaran sudah bagus...
jadi menurutku tak akan ada masalah kalau kau belajar seperti biasa.
Terima kasih atas petuah bijakmu, Guru!
Serius, deh, energi macam apa itu?
Pagi!
Oh, hei, Noren!
Pagi!
Terang sekali!
Auramu bersinar? Apa yang terjadi padamu?
Jadi, begini.
Selama pekan ujian, semua orang sibuk belajar, ‘kan?
Maksudnya, tak ada waktu untuk mengurusi hal-hal sepele.
Artinya, tak ada cowok yang akan menembakku!
I-Iya, sih.
Aku tidur nyenyak tanpa rasa stres.
Andai saja selamanya kita ujian.
Kau sakit mental, ya?
Aku mulai mengkhawatirkanmu, loh.
Ah, maaf.
Ha?
Wajahmu amburadul! Gersang begitu!
Oh! Pagi!
Kantung matamu kenapa? Kau tidak tidur?
Eh? Apa yang terjadi padamu, Ogami?
"Bersinar" dan "gersang"?
Kenapa dengan pasangan ini? Sangat berbanding terbalik!
Waduh! Kantung matamu mengkhawatirkan!
Harusnya kau tidur yang cukup, Ogami.
Ya.
Aku juga tahu itu, tapi...
Ha? Sudah pagi?
Rasanya aku tak bisa berhenti.
Bagaimana cara menggambarkannya, ya?
Mirip seperti petinju yang tahu bahwa istirahat sebelum bertanding itu penting...
tapi malah terus keasyikan berlatih.
Aku tak paham metafora macam itu,
tapi bisa dibilang, kau terlalu giat belajar?
Mau?
Ini membantu menenangkanmu.
Tidak butuh.
Sudah kubilang...
Bos terlalu rajin belajar.
Tutup mulutmu. Urus saja urusanmu.
Percayalah, mauku juga begitu.
Berusaha menghentikan seseorang yang terlalu giat belajar itu masalah konyol.
Malam ini aku ada acara, jadi makanlah di tempat Mama, ya?
Ha? Aku bisa makan di mana saja.
Pergi saja, oke?
Anggaplah selingan.
RAMEN
Kau sudah boleh pulang.
Ha? Benarkah?
Ini pekan ujian, ‘kan?
Tak masalah, kok.
Begini-begini, aku sebenarnya serius belajar setiap hari, tahu.
Bukan begitu.
Lagi pula sepertinya malam ini pelanggan tidak akan terlalu banyak.
Baiklah.
NATSUKIYA
Kalau begitu, aku pulang!
Ogami?
Mau ke mana dia?
Eh, tunggu!
Dia terus berjalan menuju area yang mencurigakan.
Oh, Juzo!
Selamat malam!
Hei. Gekota, ya?
Lama tak jumpa, anak gemas!
Sudah buka?
Pastinya buka, sayang!
Aku datang buat makan malam...
JABAMI
tapi apa Kyosuke, maksudku Mama, ada?
Ada, dong, ah!
Mama Nagisa!
Pacar mungil gemasmu datang!
Apa maksudnya ini?
Padahal aku sudah sering melihatmu, tapi kau masih saja menggemaskan.
Rasanya ingin kumakan dirimu.
Nasi pilaf buatanmu selalu enak, Mama.
Astaga... Geko, tolong buatkan teh oolong untuknya.
Mohon ditunggu!
Kalau orang lain sampai tahu, bisa-bisa aku digosipkan punya anak simpanan,
makanya, aku bilang kau itu keponakanku.
Begitu, ya.
Jujur, saat pertama melihatmu berubah muda, aku tertegun.
Oh, Neko, selamat datang!
Astaga, apa ini? Siapa anak kecil unyu-unyu ini?
Sebenarnya, dia si Bos.
Ha?
Sudah kuduga kau bisa diandalkan, kau selalu hadir saat aku kesulitan.
Jadi, aku sangat terbantu.
Serahkan padaku, Juzo kecil.
Terus-terang, deh, hasratku buat melindungimu jadi semakin menjadi-jadi.
Capeknya!
Mama, dengar, deh.
Si anak baru bikin masalah besar hari ini.
Eri?
Sedang apa kau di sini?
Eri, selamat datang kembali.
Pesan yang biasa?
Ya, terima kasih.
Serius, anak-anak zaman sekarang...
- Oh, hentikan! - Ya ampun.
- Sikapmu seperti wanita tua. - Seharusnya dia tutup mulut saja.
Aku penasaran kenapa kantung matamu hitam begitu.
Oh, jadi begitu ceritanya?
Berisik.
Tak usah pedulikan itu. Memangnya tak apa kalau kau minum di tempat seperti ini?
Terus Kozue bagaimana?
Santai, tidak masalah.
Terkadang dia mengizinkanku mampir untuk minum...
saat dalam perjalanan pulang.
Gadis itu pintar membaca situasi.
Begitu, ya.
Ya, aku setuju.
Jadi, begadang untuk belajar, ya...
Memangnya kenapa?
Selesaikan ujian ini apa adanya dan terima kegagalan apa adanya.
Hei, ayolah!
Aku tak minta dihibur, tapi itu jahat sekali!
Tidak, bukan itu maksudku.
Ha?
Sebelum kau terjebak dalam tubuh itu, saat kau masih sibuk bekerja...
kau selalu mengutamakan misi.
Kau dilarang gagal, benar?
Saat dulu kau sering minum di sini pun, separuh dirimu selalu terluka.
Tapi menurutku kau tak perlu pola pikir semacam itu dalam belajar.
Karena sekarang kau anak SMP, sesekali gagal itu tak masalah.
Jadikan saja sebagai pelajaran dan buat banyak kesalahan...
yang belum pernah kau lakukan, maksudku bukan hanya saat belajar.
Lagi pula, tanpa membahas soal dirimu yang kurang tidur...
sejak kau masuk SMP,
kau jadi tampak jauh lebih hidup.
JABAMI
Sampai jumpa, Mama.
Terima kasih atas minumannya.
Oke, sampai jumpa lagi!
Hei, berhenti melamun dan antarkan dia ke stasiun!
S-Siap.
Apaaa?
Dia masuk ke bar waria lalu keluar bersama wanita dewasa yang cantik?
Siapa sebenarnya Ogami itu?
UJIAN TENGAH SEMESTER (HARI 1) IPS - MATEMATIKA - IPA
Pada akhirnya, aku tidak gagal dalam ujian ini...
tapi ada sejumlah kesalahan ceroboh dan lupa materi sehingga nilainya standar.
Ya, untuk kali ini...
mungkin memang inilah hasil yang pantas kudapatkan.
Aku akan mempelajari kesalahanku dan berusaha lebih baik di UAS.
Kalau dipikir-pikir...
Aku kemari untuk makan ramen saja, jadi...
Rasanya Ogami tidak normal.
Jadi, jangan sentuh gadisku.
Dia ini bukan cuma aneh.
Pergi sana.
Apa, ya?
Rasanya Ogami ini mirip seorang paman atau ayah...
Dia seperti berasal dari kelompok usia yang jauh berbeda.
Benarkah dia cuma anak SMP?
RUANG EKONOMI RUMAH TANGGA
Seperti ini, lalu begini...
masukkan benang di sela kancing dan kain tiga atau empat kali.
Sisipkan jempolmu di bagian sini supaya ada ruang longgar.
Lalu, lilitkan benang pada kumparan ini berulang kali,
sehingga terbentuk batang benang.
Gulung melingkar.
Tarik kencang.
Terakhir, buat simpul.
Selesai sudah.
No comments yet. Be the first to leave one.