Survival of the Thickest

Survival of the Thickest

Download Indonesian Subtitle

Season 3

Release info

Survival of the Thickest S03 NF WEB H264-ETHEL
A Commentary by tedi
Retail NF (8 eps)

Tags

webdl
Published on: 2026-07-02
Downloads: 46
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Entah bagaimana caranya, tapi bakso ini tetap lembap.

- Terima kasih. - Kau wanita pertama yang menanyakannya.

Tahu yang kusuka dari punya suami?

Punya suami.

Wah. Kenapa semua fotonya Jade yang berciuman di bilik foto?

Dia memang genit.

Katanya itu sifat dari nenek buyutnya.

Sudah keturunan.

Tapi sepertinya semua orang…

Kalian masih belum bicara?

Belum. Sudah 163 jam, aku belum bicara dengannya

dan tak mau bicara dengannya.

Aku yang menyuruhnya tak bilang padamu, tapi kau tak marah padaku.

Ya, tapi kau melindungiku. Dan dia…

Dia apa?

Dia menyakiti perasaanku dan merusak hariku.

Maksudku,

aku merindukannya.

Aku rindu dia mengirim swafoto setiap hari.

Memintaku langsung menghapusnya, "Karena pemerintah mungkin mengawasi."

Atau, "iCloud, Mav." Aku bahkan tak tahu fungsi iCloud.

Tapi aku masih marah padanya.

Kalian pernah bertengkar sebelumnya.

Ya.

Ya, tapi tak seperti ini.

- Kau takut bicara dengannya? - Aku tidak takut.

Aku hanya…

Aku merasa sangat rapuh sekarang.

Apa yang terjadi saat kita bicara serius setelah berselisih?

Kita jadi lebih dekat.

Kalau begitu, istriku yang cantik,

bicaralah padanya.

Apa kau barusan bertanya kilat padaku?

Ih! Aku benci saat kau benar.

Tapi aku juga suka jadi istrimu. Ini sangat membingungkan.

Terima kasih sudah datang.

Aku membawakan sesuatu.

Itu untuk kakimu.

Katanya bisa mengatasi mual dan untuk relaksasi.

Dan itu lavender.

Kau suka lavender? Itu roller kecil.

Oleskan di sini sebelum tidur dan kau…

Kau tahu dari mana?

Aku punya teman dan aku sudah membacanya, oke?

Oke, aku hanya bertanya.

Terima kasih.

Dengar…

Aku ingin terlibat. Dan aku tahu itu tubuhmu.

Aku tahu semua itu. Aku mengerti. Dan kau benar.

Itu tubuhmu. Ada bagian diriku di situ, tapi itu tubuhmu.

Dan aku bukan pria pemalas seperti Nelly.

Mengganti popok tengah malam. Aku siap mengurus bayi.

Jika dia butuh sesuatu, aku siap.

Oke? Jika kau ingin kudampingi, dengan senang hati. Aku serius.

Aku berencana melahirkan di Central Jersey.

Bibi-bibiku sudah menyiapkan sistem.

Akan selalu ada orang untuk membantuku dan merawat kami.

Kami percaya gotong royong dan komunitasku sudah siap.

Terima kasih.

Kau bilang komune?

Itu rumah tiga generasi, satu rekening bersama.

- Sebut sesukamu. - Itu disebut komune.

Itu komun-itas.

Itu ada di dalam katanya.

- Aku paham maksudmu. - Jadi…

Dengar, ini rencanaku

karena aku tahu tak bisa melakukannya sendirian.

Apa rencanamu?

Aku tak punya satu rencana.

Aku punya banyak.

Banyak sekali.

Pialaku penuh melimpah dengan rencana.

Sebanyak itulah rencanaku. Aku punya komune dan itas.

- Oke, Khalil. - Ya.

Aku percaya. Itu luar biasa.

Aku ingin bertemu mereka nanti.

Ya.

Khalil, kau di rumah?

Kalau di kamar mandi, bilang saja.

Kalau masih marah padaku, kau bisa bilang juga.

- Hei. - Hei.

- Hei. Tunggu, halo? - Halo?

Tak kedengaran. Kenapa kau seperti di dalam kapal selam angker?

- Ini canggung. - Ya.

Kubawakan tisu toilet dari merek kulit hitam karena…

- Kau tahu aku butuh. - Ya.

Terima kasih. Dua lapis?

Tidak dengan pipa itu.

Kita berdua mengatakan hal-hal menyakitkan di pernikahanku

dan aku merasa terpicu saat itu.

Aku sungguh berharap kita tak melakukannya.

Aku sangat benci itu.

Aku juga sangat benci.

Itu buruk.

Seperti…

Aku melihatmu berjuang selama setahun untuk hamil

dan aku menghindarinya seumur hidupku, lalu bum.

Semesta itu berengsek.

Tak perlu bilang.

Aku tak seharusnya bilang itu kacau dan merusak hidupku.

Seharusnya tak begitu.

Aku tahu kau sangat menginginkannya.

Mavis, maafkan aku.

Terima kasih

sudah katakan itu.

Aku merenungkannya dan kupikir, "Kenapa ini sangat menyakitkan?

Kenapa aku begitu marah?"

Amat sangat marah.

Dan itu karena aku iri.

Aku iri padamu.

Kau bisa mengalami sesuatu yang sudah lama kuinginkan.

Dan aku tak mau iri.

Aku ingin bahagia untukmu. Aku akan bahagia untukmu. Sungguh.

Ya, ini benar-benar…

Ini perubahan hidup yang gila.

Astaga, ya.

- Kau menikah. Aku akan punya bayi. - Apa-apaan?

Kita tumbuh bersama.

Kita sudah dewasa, tapi masih tumbuh?

Dengar, tak ada dunia di mana aku tak ada dalam hidupmu

dan anakmu.

Kita keluarga.

Oke?

Oke.

Aku benar-benar perlu mendengar itu.

Apartemenmu harus dites timbal. Bagaimana kau mengurus bayi di sini?

Ya, ini gaya sederhana.

Ini bukan sederhana lagi. Kurasa kau juga perlu mendengarnya.

TIGA MINGGU KEMUDIAN

Jangan berciuman saat wawancara kartu hijau. Berpisah.

Terkesan memaksakan.

Dan… itu menjijikkan.

Cinta tak menjijikkan. Siapa yang menyakitimu?

Ini bukan tentangku. Jangan beralih.

- Oke? - Oke.

Siapa namamu?

Mavis "Tangguh" Beaumont. Oke?

- Kau, Kawan? - Luca Berrada.

Suami si Tangguh.

Pertanyaan satu. Siapa yang suka menarik selimut?

- Dia. - Aku.

Dia suka sekali menarik selimut.

Dia seperti ayam panggang. Sering sekali.

Jelaskan.

Kakiku dingin.

- Kenapa tak pakai kaus kaki buatanku? - Kakiku jadi panas.

- Kakimu jadi dingin. - Buat kaus kaki yang tak panas.

Bagus. Ya.

Lumayan. Baiklah.

- Kau tidur di sisi ranjang mana? - Di sisi mana pun Mavis tidur.

Aku wanita. Aku bebas berubah pikiran.

Apa kabar?

- Wendy Williams. - Benar.

Lumayan. Tapi bukan dia yang diwawancara.

- Tapi rasanya cukup nyata. - Ya.

Jadi, ke pertanyaan berikutnya.

- Kita hebat, Sayang. - Ya.

Kita bisa lewati soal anak. Tak perlu…

Kami bisa. Tanyakan saja.

Apa kalian berpikir untuk punya anak

dan apa rencana kalian ke depan? Itu saja.

- Tak perlu… - Ya, mudah.

Kami jelas ingin punya anak dan sedang mengusahakannya.

Aku…

Aku tak tahu.

Kurasa tidak.

Kau tak mau?

Kita sudah lama mencoba, tapi tak ada hasil.

Aku sangat lelah hidup dalam tanda tanya emosional ini.

Aku sangat ingin merasa ringan, ceria, dan bahagia.

Aku tak mau merasa minder sama sekali. Jadi…

Aku… Kurasa aku sudah selesai.

Ya, tapi kenapa kau tak bilang?

Kurasa aku baru sadar sekarang.

Kita harus membicarakannya.

Kita sedang membicarakannya.

- Kita sedang diwawancara. - Ini bukan wawancara sungguhan.

Benar.

Tapi ini percakapan sungguhan.

Itu juga benar.

Oke.

Hei.

Mav, maaf. Aku tak…

- Itu pertanyaan bodoh. - Itu tidak bodoh.

Pertanyaan itu sangat bagus.

Aku tak boleh lari dari percakapan sulit dengan orang yang kucintai.

Dan rasanya lega bisa bicara jujur.

Kemarikan tanganmu, Berrada.

Wah!

Sulit tak membuat lelucon MLK sekarang.

Ini impianku!

TIGA BULAN KEMUDIAN

Astaga, warnanya. Jangan pakai pengering. Nanti menyusut.

Ini cantik sekali.

Jika ukurannya pas, aku akan membelinya.

- Babop! - Itu bagus.

Bisa kutambah keliman untuk bokongmu.

Terima kasih.

Astaga. Koleksi kapsul ini. Benar-benar kapsul.

Kau bohong jika bilang siluet ini tak saling bernyanyi.

More Indonesian subtitles for Survival of the Thickest

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left