The first 187 lines.
Apa itu cukup lama?
Aku sangat merindukanmu.
Aku juga.
Maafkan aku!
- Aku tak… - Tak kupercaya aku di sini.
Aku…
Wah. Aku senang kau ada di rumah dan kau mengangkat telepon.
Aku juga.
Aku juga…
Aku juga sangat menyesal.
Baik, terima kasih.
Ya.
Untuk memperjelas, apa kau menyesal karena bertunangan dengan mantan pacarmu?
Atau menutup telepon dariku saat dia di belakangmu?
Atau karena mematahkan hatiku?
Astaga.
Karena semuanya?
Maaf, Mavis.
Baru 48 jam yang lalu,
kupikir tak akan bertemu denganmu lagi. Kupikir kita sudah selesai.
Ya, tapi karena kupikir tak akan bertemu kau lagi,
aku naik pesawat dan ada di sini.
Kau sangat penting bagiku.
Kita bisa mengatasi ini.
Dan aku ingin melihat duniamu.
Kita akan lakukan apa di Roma?
Apa kita akan pergi ke opera?
Atau membuat focaccia? Atau apa pun yang berakhiran "a"?
Kita harus apa?
Berapa lama kau tinggal di sini?
Benar.
Aku memang tiba-tiba datang, ya?
Aku di sini selama seminggu. Jadi, enam hari lagi. Tidak apa-apa?
Ya, bagus.
Aku ingin mengajakmu berkeliling hari ini,
tapi aku harus mengurus keluarga pengungsi
dan dokumen mereka sudah hampir selesai.
Baiklah.
Aku bisa mengundurnya.
Mereka mungkin dideportasi dan tak boleh kembali ke Italia.
Astaga, Luca, sudahlah.
Kau harus selamatkan keluarga itu.
Mereka butuh rumah di Italia. Di sini indah.
Aku baik-baik saja. Aku bisa sendiri saja hari ini
dan, entahlah,
bersukaria di Roma.
Itu cerdas.
Itu sangat cerdas.
Hei, Mav.
Hei, Khalil! Aku di negara lain!
Tapi kau sudah tahu itu. Bagaimana kabarmu?
Aku baik-baik saja. Biasa saja.
Aku beli selimut berat. Ini membantu.
Andai aku bisa memelukmu dan mengajakmu ke Red Rooster.
Kau sudah bicara dengan India?
Sedikit, saat aku mengantar sepatu roda Cooper.
Rasanya seperti dua patah hati.
Khalil, kau memberi dampak padanya. Juga pada India.
Sial, mungkin pada Henry juga.
Yah,
beginilah adanya.
Kau tidur tanpa penutup rambut.
Bagaimana denganmu?
Ya! Giliranku!
Khalil! Aku sangat senang!
Aku senang berada di sini. Aku senang bertemu Luca.
Dan aku mengatakan semua yang ingin kukatakan dengan caraku.
Aku senang saat kuketuk pintunya, dia mengizinkanku masuk.
Lalu, kubiarkan dia mengetuk pintuku
dan kubiarkan dia masuk. Kau tahu maksudku?
Ya, aku tahu maksudmu.
- Berhenti mengatakannya. - Kami berhubungan seks.
Dia menaruh baget Italianya
di focaccia -ku,
dan kami buat minyak zaitun.
Jijik.
Tolong berhenti. Ya, aku tahu.
Jadi, kau dan Luca sudah berbaikan sekarang?
Aku sudah menyakitinya.
Jadi, dia masih memproses.
Tapi… Entahlah.
Aku ingin dia tahu aku berkomitmen agar hubungan jarak jauh ini berhasil.
Aku benar-benar berharap
tahu cara menunjukkannya.
Baiklah.
Mungkin kau… Entahlah.
Astaga! Aku bisa memasak makanan enak untuknya
dan menunjukkan kehidupan kami bisa sangat luar biasa.
Kau tahu maksudku? Khalil, kau yang terbaik.
Ya. Aku senang bisa membantu.
Aku sayang kau, saudaraku.
Aku juga, Mav.
Baiklah, dah.
Selamat malam.
Jika kau suka Emily in Paris,
maka kau akan suka Mavis di Roma, Jalang!
Kamar mandi, tolong.
Kamar… Kamar mandi.
Kamar mandi, tolong. Tolong?
Terima kasih.
Terima kasih?
Terima kasih! Yahtzee!
Sama-sama.
Sama-sama. Prego?
Astaga, apa itu seperti saus tomat Prego?
Sama-sama untuk saus tomat encer toko kelontong itu.
Astaga. Pengetahuan baru, Jalang.
Sama-sama.
Kenapa kecil sekali?
Kau tahu? Aku mau lagi.
Tidak perlu. Ini cukup. Seperti inilah di Italia.
Astaga! Ini enak sekali!
Apa yang kau lihat, Mulut Lumut? Kenapa kau menghakimiku?
Kau mirip ibuku,
mata yang sangat ramah di balik batu…
Aku akan makan gelatoku.
Jangan lihat aku begitu, Jalang. Ayolah.
Astaga!
Ini… Apa? Apa ada yang…
Pak Dua Lipa, apa bahasa Italianya "patung itu berpenis besar"?
Baiklah. Itu menyegarkan.
Indah.
Baiklah, kita coba.
Pak, permisi.
DAGING DAN PENGOLAHANNYA
Kenapa ayamnya kecil sekali?
Signora , itu ukuran yang biasa.
Baiklah. Boleh kubeli satu,
- por favore? - Baik.
Akan kumasak malam ini untuk pacarku.
Dia belum jadi pacarku, tapi kami jelas punya hubungan.
Ini seperti The Notebook versi kulit hitam,
tapi tanpa demensia dan surat-suratnya karena ada Internet, tapi…
Aku tak mau membocorkannya jika kau belum menontonnya…
Kini ada di Broadway. Filmnya bagus.
Tapi itu membuatku ingin bersama jodohku, kau tahu?
Karena kita tahu pada saatnya, kau tahu?
Kau mengerti?
Ayamnya sudah siap.
Dan aku sudah muak.
Baiklah.
Kupikir kita menjadi akrab, menikmati momen di pasar loak.
Hei!
Biar aku luruskan. Mereka berencana menikah?
Ya, mereka sudah bertunangan.
Katanya dia menyesalinya.
Aku mengerti, tapi bukan itu intinya.
Bagaimana perasaanmu tentang semua ini?
Aku tak ingin membicarakannya.
Baiklah.
Bagaimana bisa dia kembali padanya?
Bagaimana bisa dia berpikir untuk menikahinya?
Aku tak mau memikirkannya.
Baiklah, tapi…
Bagaimana bisa tak kupikirkan?
Maksudku, dia bertunangan dengan orang lain.
Ya. Aku mengerti.
Tapi aku juga senang dia di sini.
Dia seperti bintang jatuh yang mendarat di kasurku.
Bintang jatuh yang mendarat di kasurmu?
Sekarang kau menjadi puitis?
Jadi, kau jelas bercinta.
Maksudku, dia menyilaukan, bercahaya, dan indah, tapi…
Aku bisa terbakar.
Jadi, seksnya luar biasa?
- Dengar, aku tak bilang, ya? - Sungguh jentelmen.
Kau kenal orang yang bisa perbaiki pancuran?
Pancuran?
Sayang, kau pulang!
Ini sangat menyenangkan.
Ini seperti lagu "Cater 2 U" oleh Destiny's Child.
Aku suka momen itu untuk kita.
Wah.
Manis sekali kau melakukan semua ini.
- Ya. - Kau melakukan apa lagi hari ini?
Pasarnya sangat indah dan menyenangkan,
warnanya sangat cerah, dan orang-orang sangat baik.
Aku bahkan bertemu turis Amerika di luar Colosseum.
Kutanya bagaimana di dalam. Dia hanya bilang, "Meh."
Kubilang, "Meh?"
Katanya, "Ya, itu meh saja, Nona.
Tidak ada ayam panggang, adu tombak, atau pertunjukan. Sedang dibangun."
Kubilang "Apa?"
Aku tak percaya wanita itu datang dari Amerika ke Roma
dan dia pikir Colosseum seperti pekan raya Renaisans?
Ada pepatah di Italia.
Orang berpikiran sempit akan selalu hidup di dunia yang sempit.
No comments yet. Be the first to leave one.