The first 200 lines.
Baik manga shoujo atau lirik lagu romantis,
bagiku, itu sangat menyilaukan.
Tapi, apapun yang kulakukan, aku tidak bisa meraihnya ...
Kalau arti katanya, tanpa membuka kamus pun aku mengerti.
Tapi, itu sesuatu yang takkan menjadi milikku.
Tak Lama Lagi, Aku Menjadi Dirimu
Padahal pohon sakura sudah menghijau,
dan aku sudah terbiasa dengan lereng curam menuju gerbang dan seragam baruku.
Tapi, masih ada satu hal yang tertinggal di SMP.
Yuu?
Kau ngomong sama siapa?
Bukan sama siapa-siapa.
Kau hari ini latihan pagi lagi, Akari?
Ya!
Kenapa nggak segera putuskan saja? Penerimaan klub hampir berakhir, loh.
Ya, aku juga tahu, sih.
Kalau gitu, gimana kalau klub lari?
Itu bikin aku penasaran, sih.
Bola tangan dan bulu tangkis juga.
Klub kebudayaan di SMA juga susah diabaikan.
Kau ragu-ragu banget, ya.
Nah kalau gitu, klub basket saja!
Bukannya bakalan susah dengan tinggi badanku ini?
Bisa, kok!
Hei, Kaito! Kaito Yuu!
Oh, iya?
Kalau kau masih belum memutuskannya, bagaimana kalau ikut OSIS?
Eh? OSIS?
Kayaknya membosankan.
Enggak juga, kok.
OSIS kita lumayan aktif, jadi kupikir bakalan menyenangkan seperti klub.
OSIS, ya?
Apakah boleh percobaan dulu?
Oh, kau tertarik, ya? Itu sangat membantu.
Hah? Sangat membantu?
Sebenarnya, sebentar lagi ada pemilihan ketua OSIS.
Bapak mencari murid yang mau membantu mempersiapkannya.
Bapak terbantu sekali!
Itu artinya ...
Rasanya aku seperti sedang dimanfaatkan.
Yah, aku memang tertarik, jadi nggak apa-apa, deh.
Katanya ruang OSIS-nya ada di sebelah sini ...
Ada di tempat yang aneh, ya.
Di mana, sih?
Maaf telah memanggilmu ke sini.
Hah?
Ada seseorang, ya?
Itu dia!
Nanami-san ... Kumohon ...
Kumohon pacaranlah denganku!
Aku menyukaimu.
Maaf, ya. Aku nggak bisa pacaran denganmu.
Begitu, ya. Memang seharusnya begitu, ya.
Soalnya, kau dan aku sama sekali nggak cocok.
Jangan ngomong begitu. Kau jangan merendahkan dirimu.
Aku hanya ...
Aku hanya nggak berniat pacaran, siapapun yang menembakku.
Nah, sekarang ...
Apa ada orang di situ?
Ah, maaf! Aku nggak berniat menguping!
Aku nggak tahu kapan harus muncul. Maaf!
Yang barusan itu, tolong dirahasiakan, ya?
Hah? Baik.
Murid baru? Sedang apa kau di tempat begini?
Iya, aku sedang mencari ruang OSIS. Katanya ada di sebelah sini, sih.
Oh, di sebelah sana. Memang susah dicari, sih.
Ruang OSIS itu dulunya adalah ruang kelas kaligrafi.
Eh?
Anak kelas 2, ya?
Tapi, SMA kita sekarang, pelajaran seni cuma ada musik dan melukis saja, 'kan?
Karena nggak terpakai, jadi OSIS yang menempatinya.
Kau tahu banyak, ya.
Tentu saja.
Anak kelas 1 yang katanya hari ini mau membantu itu kau, 'kan?
Eh? Iya.
Sudah sampai.
Jadi ini ...
Ruang OSIS. Dan juga ...
Namaku Nanami Touko, anggota OSIS.
Mohon kerja samanya!
Mohon ... kerja samanya juga.
Yuu!
Hei, Yuu!
Hah?
Oh, maaf!
Bagaimana dengan OSIS-nya?
Kelihatannya sibuk banget, sih. Kau ke sana lagi?
Hmm, aku masih bingung.
Oh, iya! Ada kakak kelas keren di sana.
Wah!
Ada apa? Akhirnya orang sepertimu tertarik dengan yang begituan—
Tidak, dia kakak kelas cewek.
Owalah ...
Aku sudah menduganya.
Habisnya, dia keren, loh! Dia sangat terampil, cantik, dan baik hati.
Namanya Nanami-senpai.
Oh, aku pernah mendengar namanya.
Sejak kelas 1, dia lebih terkenal dari ketua OSIS.
Tapi, karena kau bilang "keren," jadi kupikir yang kau maksud cowok.
Kalau kau, Akari, bagaimana dengan klub basket-nya?
Oogaki-senpai kemarin keren banget!
Harusnya aku nggak perlu 'nanya lagi.
Banyak orang yang memilih SMA karena mau mengejar cowok.
Koyomi, bagaimana kalau kau ikut klub juga?
Kau mungkin ketemu seseorang.
Aku suka yang lebih tua.
Serius?
Kalau kau, Yuu?
Kalau aku ... Entahlah.
Padahal kupikir kita bakalan bisa melakukan pembicaraan cewek.
Kita beneran belum pernah ngomongin begituan.
Di hari kelulusan SMP ...
Aku ditembak.
"Lebih tua" itu lebih berapa tahun?
Aku masih belum bisa menjawabnya.
Sepuluh tahun ... Atau dua puluh tahun.
Eh?!
Berarti kau suka om-om?
Aku pernah berpikir untuk membicarakannya pada Akari dan Koyomi.
Tapi ...
Aku hanya nggak berniat pacaran, siapapun yang menembakku.
Kakak kelas itu ...
Nanami-senpai, Saeki-senpai, kalian mau teh atau kopi?
Terima kasih. Kalau gitu, aku teh.
Kalau aku, kopi.
Silakan.
Terima kasih.
Kita harus segera beli gula, ya.
Tempat ini kayak rumah, ya.
Nyaman sekali, 'kan?
Ya, sangat nyaman.
Omong-omong, Touko, apa benar kau ditembak lagi?
Eh? Kok kau bisa tahu?
Jangan meremehkan jaringan informasiku!
Yah, orang yang kau tolak yang mengatakannya padaku.
Hah? Apa maksudnya, tuh?
Bukankah bakalan memalukan kalau ditolak olehmu?
Sejak kau masuk SMA, sudah ada 10 orang.
Mereka cuma coba-coba saja, 'kan?
Menemuiku dengan perasaan setengah-setengah begitu, kalau misal aku bilang "oke," bakalan gimana?
Alesan ngomong gitu, padahal kau bakalan menolak semua orang.
Dia juga pernah ditembak oleh cewek, loh.
Eh?
Ya-Yang begituan memang beneran ada, ya?
Jangan menceritakan hal yang nggak perlu!
Oh, anu, termasuk yang cewek itu,
apa selama ini kau pernah merasa senang dengan orang yang menembakmu?
Aku sedikit merasa bersalah sih, tapi aku nggak pernah merasa tertarik.
Apa ada alasan tertentu?
Alasan, ya? Satu-satunya alasan sih ...
Karena ...
Selama ini, saat orang mengatakan suka padaku, hatiku nggak pernah deg-degan.
Anu ...
Anu, mengenai itu ...
Permisi!
Aku tertarik dengan OSIS.
Oh, kau anak kelas 1?
Mau percobaan dulu?
Boleh, ya?
Silakan masuk.
Tadi perutku bersuara!
Ya!
Yuu ...
Yuu?
Hah?
Apa ada sesuatu?
Nggak, kok. Nggak ada apa-apa.
Maaf, ya ... Tapi ...
Masih belum datang, ya?
Aku kayak orang bodoh. Bergegas kemari ...
Kau cepat sekali, Kaito-san.
Luar biasa!
Senpai ...
Sayaka bilang dia libur karena ada urusan di rumah.
Hari ini cuma kita berdua yang akan menyelesaikan dokumen yang kemarin belum selesai—
A-Anu ...
Um ... Co-Cowok itu gimana?
Anak kelas 1 yang kemarin ke sini.
Bukan ...
Oh, dia! Dia bakalan kemari untuk bantu-bantu.
Katanya mulai besok dia kemari.
Bukan itu yang ingin kubicarakan ...
Kita jadi terbantu, ya.
Mungkin juga akan membuatmu sedikit nyaman di sini.
Semoga saja begitu ...
Tapi, ngomongnya gimana?
Terima kasih.
Maaf! Aku nggak sadar kau membuatnya!
Teh doang sih, aku bisa membuatnya. Hari ini dokumennya sedikit, jadi ...
Kalau mau ngomong, aku akan mendengarkanmu.
Hah?
Wajahmu seolah seperti mau ngomong sesuatu.
Nanami-senpai ...
Menjawab tembakan, ya?
Dia bersedia menunggu sebulan penuh, dia beneran serius, ya.
Mungkin.
Tapi, aku nggak kenal orang itu. Aku nggak tahu apakah harus diterima atau nggak.
Oh, bukan itu. Aku sudah menentukan jawabanku.
Hah?
Aku suka dia, tapi kurasa aku akan menolaknya.
No comments yet. Be the first to leave one.