BLACK TORCH

BLACK TORCH

Download Indonesian undertekster

Sæson 1

Udgivelsesinfo

[Crunchyroll] BLACK TORCH - 08
BLACK TORCH S01E08 CR WEB-DL Indonesian ID
En kommentar af Crunchyroll
Official Crunchyroll subtitles · BLACK TORCH S01E08 WEB-DL · Indonesian · ripped 2026-08-22

Tags

webdl
anime
Udgivet den: 2026-08-22
Downloads: 5
Hørehæmmede: No

Forhåndsvisning af Indonesian undertekster

De første 191 linjer.

Jangan bergerak!

- Jangan bergerak! - Aduh, aduh, yang lebih lembut, dong!

Eh, itu roti krimku, lo!

Berisik, ah.

Barangmu itu juga barangku.

Di sini Jiro.

Ini betul kedengaran tidak, sih?

Iya, kedengaran, kok.

Kau baik-baik saja?

Yah, kurang lebih.

Ada apa? Jawabanmu seperti ragu.

Maaf, aku agak terlalu bersemangat, jadi tidak sengaja membunuh lawanku.

Begitu, ya.

Sudah, jangan dipikirkan.

Untungnya yang dihadapi Ichika berhasil diringkus.

Benarkah?

Reiji bagaimana?

Masih belum ada kontak.

Kalau begitu, sekarang biar kami coba ke tempat dia.

Oke, tolong, ya.

Tapi, jangan memaksakan diri.

Kalau berbahaya, segera mundur.

Iya, siap.

Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya?

Kalau aku terus berada di dalam dirinya...

Apalagi kalau terus memakai aura siluman tiap kali bertempur...

Woi!

Berisik amat!

Kenapa kau ini, anak bodoh?!

Gara-gara kau bengong dari tadi!

Santai-santainya setelah protes ke si kacamata tengik saja.

Ayo.

Ya.

Dari dulu kau memang pandai menghindar dengan jarak yang tipis,

tapi sekarang sepertinya kau makin pandai saja, Reiji.

Shunjin.

Tubuhku masih hafal cara menghindarinya.

Karena itu teknik andalanmu yang sudah tak terhitung berapa kali kuhadapi.

Shinji!

Shinji, ya...

Sedihnya.

Jadi, sudah tidak mau memanggilku "Kakak"?

Tentu saja.

Orang yang dulunya kusebut Kakak telah gagal pada upacara di hari itu,

tertelan pedang siluman dan kini sudah mati.

Jangan lari, Reiji.

Ini bukanlah ilusi.

Aku juga bukan tertelan Yamakaze apalagi sudah mati.

Baik dulu hingga sekarang, aku tetaplah jadi diriku.

Kalau kau tidak mau percaya, biar kubuktikan padamu.

Sebenarnya aku sudah tahu.

Dari tebasan pertama tadi.

Tiap kali pedang kami beradu,

semakin tidak terhindar bagiku untuk merasakannya.

Kau masih tetap dirimu, katamu?!

Kalau begitu kenapa?!

Kenapa kau ada di pihak sana?!

Kebetulan saja ini lebih menguntungkan.

Untuk menyembunyikan diri dan berhadapan dengan Biro Mata-Mata.

Semua itu...

salahmu, Reiji.

Semuanya dimulai sejak kala itu.

Berhasil!

Aku yang menang, Kak!

Bagus sekali, Reiji.

Shinji.

I-Iya, Ayahanda—

Ini kekalahanmu yang keberapa?

Sebagai Kakak, apa kau tidak kesal terus kalah oleh adikmu?

Seperti itu apa kau masih bisa disebut pewaris keluarga Kirihara?

Oh, tunggu.

Jangan salah menyimpulkan dulu, Reiji.

Tentu saja aku kesal tidak bisa menang darimu.

Aku takut dimarahi Ayahanda.

Tapi, ya!

Masalahnya bukan itu.

Bagiku, yang sesungguhnya menyiksa itu, Reiji.

Kau yang setelah itu mulai mengalah dengan sengaja padaku.

Jangan malah bercanda!

Mana mungkin aku—

Tentu saja kau melakukannya secara tidak sadar.

Kalau tidak, akan ketahuan Ayahanda.

Tetapi, aku bisa paham karena terus beradu pedang denganmu.

Aku yang lebih sering kalah, perlahan jadi seimbang.

Perlahan jadi aku yang terus menang.

Hingga akhirnya aku hampir tidak pernah kalah.

Lalu.

Entah sejak kapan kau jadi bisa tersenyum setelah kalah.

Awalnya kukira itu caramu menjaga perasaanku.

Makanya aku berusaha sekuat tenaga.

Meski kulit tanganku terkelupas berulang kali.

Meski darah dan keringat mengalir berliter-liter.

Aku terus mengayun pedang hingga puluhan ribu kali.

Tetapi, meski begitu kau selalu saja berada tepat selangkah di belakangku.

Satu langkah yang jaraknya tidak pernah menyempit atau melebar.

Saat kutoleh ke belakang, kau selalu tersenyum sambil bilang begini.

Aku memang tidak bisa menandingi Kakak.

Apa kau paham?

Aku bukannya selangkah di depan.

Tapi, hanya dipersilakan berada selangkah di depan oleh dirimu

yang lebih kuat mewarisi darah Kirihara melebihi diriku kakak kembarmu ini.

Kau pasti tidak mengerti.

Bagaimana rasanya dipaksa paham akan kenyataan itu.

Betapa putus asanya diriku!

Makanya, Reiji.

Aku ingin jadi kuat.

Sebagai penerus yang hebat, sebagai kakakmu.

Lalu yang terpenting, agar aku tetap menjadi diriku.

Meski dengan cara apa pun, meski dengan melakukan apa pun.

Jangan bercanda!

Hanya demi hal seperti itu, Ayahanda sudah kau—!

Zanjutsu aliran Kirihara, Onikubi Otoshi!

Benar...

Kau harusnya begitu.

Dendamlah lebih dalam, bencilah lebih jauh, cacilah aku, buang rasa simpatimu.

Berikan niat seriusmu padaku!

Masih kurang, ini masih kurang.

Ayo, lebih banyak lagi.

Lagi, lagi, lagi, lagi!

Berikan niat seriusmu lebih dalam lagi padaku!!

Kenapa, kenapa jadi begini?

Jadi, aku yang sudah mengubahnya?

Mengubah orang ini...

menjadi iblis?!

Oh, awas, nyaris saja.

Maaf, Reiji, aku hampir saja menebasmu sampai mati.

Menebasmu yang sedang terguncang itu tidak ada artinya.

Tapi, dengan ini aku sudah mengatakan semua yang perlu dibicarakan.

Makanya kali ini sampai sini dulu.

Sampai jumpa lagi, Reiji.

Hari ini seru sekali kita bisa ketemu setelah sekian lama.

Saat kita ketemu lagi nanti, ayo benar-benar saling bunuh, ya.

Lagi-lagi.

Lagi-lagi sama seperti waktu itu.

Meninggalkan diriku seorang diri!

Sialan, capek banget rasanya.

Si sapi berandal itu.

Berani sekali dia menghantamku berulang kali ke tanah seperti memukul tikus tanah.

Gejala kelelahannya ini.

Kemungkinan bukan cuma karena cedera fisik saja.

Justru mungkin penyebabnya adalah...

Hei, bisa dengarkan aku sebentar?

Ha, ada apa memangnya?

Sebenarnya, ada satu hal yang harus kukatakan padamu.

Hei, diam dulu sebentar.

Hah? Jangan bercanda?!

Aku baru mulai bicara—

Sudah lama sekali, Rago.

Kita tidak berjumpa langsung seperti ini.

Syukurlah kau terlihat sehat-sehat saja.

Wahai teman lama.

Amagi?!

Ini mengejutkan.

Ternyata sudah tahu siapa aku.

Jadi sudah berbagi masa lalu Rago dengan suatu cara, ya?

Hatimu sudah terbuka sekali, Rago.

Kalau begitu, ironis sekali.

Kau malah terus memakan nyawa orang yang telah membuka hatimu.

Oalah, masih belum terbuka soal itu, ya?

Coba dipikirkan sedikit saja pasti paham, kan?

Dalam satu wadah ada dua eksistensi.

Betapa tidak wajar kondisi itu.

Mau saling menoleransi sejauh apa pun,

manusia dan mononoke mustahil untuk hidup berdampingan.

Ditambah.

Jika secara paksa memakai kekuatan di kondisi seperti itu.

Api kehidupanmu akan segera termakan habis.

Lalu padam dalam sekejap.

Hei, Rago.

Kita pakai lagi jurus waktu mengalahkan sapi berandal tadi.

Ha—?!

Kau tidak dengar yang dia bahas tadi?!

Aku dengar.

Terus kenapa?

Makanya!

Semakin kau pakai kekuatan, nyawamu juga semakin kumakan—

Aku juga tahu itu.

Terus kalau diam saja karena takut, memangnya bakal menyelesaikan sesuatu?

Aku tidak mau mati kau makan.

Tapi, aku lebih tidak mau diam saja dihajar oleh dia.

Kalau begitu, pilihannya cuma bertarung meski harus mengikis nyawaku.

Entah berpikiran sempit atau justru rasional.

Kau ini memang sulit dimengerti.

Apa maksudmu, goblok?!

Tetapi.

Pemikiranmu terlalu dangkal.

Kekuatanmu yang sekarang bahkan belum layak untuk bertarung.

Jiro?!

Dia medium yang berharga, masih belum akan kubunuh.

Menurutlah hingga kukeluarkan darinya—

Berengsek kau Amagi.

More Indonesian subtitles for BLACK TORCH

Kommentarer

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left