200 dòng đầu tiên.
Bagi manusia yang hidup di dunia modern, seks bukan hanya untuk reproduksi.
Seks memiliki berbagai peran, memberi warna pada hidup kita.
Jepang termasuk negara dengan frekuensi dan kepuasan seksual terendah di dunia.
Namun,
saat malam tiba, orang-orang menunjukkan jati diri mereka.
Dan di pagi hari, mereka kembali ke persona publik mereka.
Tak ada yang membicarakan seks.
Seperti tak punya masalah seksual.
Namun, benarkah begitu?
Jika Anda memiliki masalah seksual, saya bisa membantu…
Oh.
Hati-hati jangan sampai barang Anda tertinggal.
Permisi.
Astaga, maaf.
Ini bahan ajar.
Bahan ajar.
Ini bahan ajar.
KLINIK SHIMOTORI
Mereka mengira kau orang mesum lagi?
Saat asyik, kau tak sadar sekitarmu.
Belajarlah dari kesalahan, Dokter.
Kau tak seharusnya membawa semua bahan ajar itu.
Aku ada kuliah…
Coba pahami posisiku. Aku yang selalu membereskan masalahmu.
Aku akan lebih hati-hati.
Permisi!
Aduh. Sakit.
Aku bahkan tak tahu apakah ini masih sakit.
Kok bisa…
Mungkin sakit.
Dokter, minyak zaitun bisa?
Ya, terima kasih.
Aku tak tahan lagi.
Ini bukan bidangku.
Tapi di plang klinikmu tertulis, "Datang dengan masalah seksual apa pun."
Ini ranahnya
bedah plastik atau urologi.
Kurasa terapi seks belum banyak dipahami.
Belum lama ini, seorang wanita tua memintaku mengebiri kucing liar…
Dok, tolong tarik saja!
Baiklah.
Aku akan tuangkan minyak zaitun.
Minyak zaitunnya masuk!
Tak apa-apa.
- Kutarik perlahan. - Nanti copot!
Nanti copot!
Pelan-pelan.
Copot!
Patah!
Sedikit lagi.
Lepas.
- Saikawa. - Apa?
Terima kasih banyak.
Untung aku datang ke sini.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Bagaimana, ya?
Awalnya karena penasaran. Aku tak bisa menahan diri.
Saat tidur atau terjaga, aku selalu memikirkan seks.
Aku tiba-tiba ingin mencoba segalanya, seperti anak SMP.
Begitu rupanya.
Kukira itu akan mereda begitu aku dewasa.
- Tapi malah makin parah. - Begitu rupanya.
Di toilet stasiun kereta atau di kantor, aku…
Kau main sendiri?
Aku khawatir dengan dampaknya jika ini terus memburuk.
Apa aku punya kelainan?
Aku tak bisa memastikan itu.
Nona Natsume.
Ada klien setelah ini?
Kita punya satu klien baru sore ini, tapi selain itu, tak ada.
Bagus.
Tak bagus. Kita akan bangkrut.
Perkenalkan. Aku Shimotori, terapis seks.
Terapi seks?
Jika kau tak keberatan, maukah kau mencobanya denganku?
Apa?
Jangan khawatir. Semua orang mulai sebagai pemula.
Beranikan diri dan panjatlah.
Aku tak bisa. Aku terlalu takut.
Tak apa. Aku takkan membiarkanmu jatuh.
Mari coba rute biru.
Astaga, tak ada yang bisa kita kerjakan.
Ya.
Baguslah tempat ini sepi.
Tidak bagus. Artinya bisnis kita dalam masalah.
Angkat kaki kanan. Itu akan lebih mudah.
Meski kliniknya sepi, apa dia tidak terlalu memaksakan?
Bagus.
Entah itu botol atau mengebiri kucing…
Aku berhasil!
Selamat!
Apa pun masalahnya, kebijakannya adalah mendengarkan dulu.
Meski begitu, kenapa panjat tebing?
Mana kutahu apa yang dia pikirkan?
Tak apa.
Baiklah, bagus.
Aku berhasil.
Rasanya menyenangkan.
Aku merasa aman memanjat karena kau memegang talinya.
Terapi juga sama.
Aku tak bisa memanjat untukmu atau bersamamu,
tapi aku bisa mencegahmu jatuh dan membimbingmu di sepanjang rute.
Pijakan itu
seperti orang yang menguap, ya?
Aku iri padamu, Dokter.
Kau tak punya masalah seksual, 'kan?
Tenang saja.
Semua orang punya masalah seksual.
Aku kembali.
Pak Amakawa akan terus datang.
Klien baru, Pak Akira Hayama, sudah datang.
Apa? Sudah datang?
Dia tak mau menunggu di sini, jadi kuantar ke ruang terapi.
Terima kasih sudah menunggu.
Aku Shimotori, terapis seks.
Dia Saikawa, perawat kami. Dia di sini untuk mencatat.
KUESIONER PASIEN
Masalah apa yang membuatmu datang ke sini?
Kecanduan.
Kecanduan seks.
Meski sudah menikah dan punya anak.
Saat parah, bisa tiga orang dalam sehari.
Entah dengan obat atau apa pun, tolong sembuhkan.
Jadi, dengan banyak pasangan?
- Selain istrimu. - Tidak.
Istriku.
Istriku yang kecanduan seks.
Teh herbal Nona Natsume sangat enak.
- Teh apa hari ini? - Serai dan spearmint.
Itu dia.
Di mana suamimu sekarang?
Dia akan menghabiskan waktu di suatu tempat.
Dia tak mau orang melihatnya…
Maaf.
Tidak apa-apa.
Bolehkah aku bertanya?
Ya.
Seberapa sering kalian berhubungan seksual?
Seberapa sering?
Jika sulit dibicarakan, kau tak perlu menjawab semuanya.
Sudah lama kami tak melakukannya.
Dulu, sekitar sebulan atau dua bulan sekali.
Apa terasa nikmat?
Ya, kurasa begitu.
Berapa nilainya dari satu sampai lima?
Sekitar empat.
Seberapa keras ereksi suamimu?
- Seberapa keras? - Ya.
Di antara konnyaku , jeruk mandarin, limau gedang, atau apel, yang mana?
- Kau bercanda? - Tidak, aku serius.
EHS atau Skor Kekerasan Ereksi
adalah skala pengukur kekerasan ereksi.
Oh, anu…
Limau gedang?
Tunggu, jeruk mandarin? Yang rasanya tak enak.
Tidak enak?
Ya, jeruk yang enak itu empuk, 'kan?
Jadi, bukan yang seperti itu, tapi lebih keras sedikit.
Benar. Kita ingin makan yang empuk dulu, bukan?
Tapi kadang kita kira empuk,
ternyata sudah kering.
Itu selalu mengecewakan.
Omong-omong soal jeruk, kau buang serat putihnya atau tidak?
Aku buang semuanya.
Sayang sekali!
Ayo.
Memangnya tak apa?
Apa?
Kalian menghabiskan separuh sesi membicarakan jeruk.
Kau tahu bedanya ponkan, kinkan, dan tankan?
Tidak, tapi…
Itu dia.
Apa maksudmu?
Kita harus menagih biaya konsultasi?
Tapi dia terlihat lebih santai saat pergi, bukan?
Apa?
Mungkin lain kali, dia akan lebih nyaman bercerita.
Aku pulang.
- Selamat malam. - Sampai jumpa.
- Aku pulang. - Selamat malam.
Aku benar-benar tak mengerti. Apa?
Dia mengurus pekerjaan rumah dan anak dengan sempurna.
Tapi dia kecanduan seks?
Jangan bicara keras-keras.
Setelah perselingkuhan pertamanya, suaminya marah dan ingin bercerai.
Tapi dia menangis dan memohon maaf, bersumpah akan berhenti.
Tapi kecanduannya justru makin parah.
Bukankah kecanduan memang begitu?
Apa? Tidak, aku sama sekali tak paham.
Kau tak punya masalah seksual?
Tidak. Sama sekali tidak.
Aku punya pacar, dan kehidupan seksualku hebat.
Aku tak bertanya soal itu.
Apa?
Tapi karena orang tak mengerti,
orang seperti dr. Shimotori dibutuhkan, bukan?
Menurutmu, bagaimana kehidupan seksualnya?
Entahlah. Aku tak pernah mendengar gosip asmara dia.
Jangan-jangan dia punya fetis yang aneh.
Mana kutahu?
No comments yet. Be the first to leave one.