İlk 200 satır.
S05E08 - The Joke ~ m o l s k i y ~
Sekarang saatnya!
Aku sudah tak sabar.
Akhirnya sekarang aku bisa menepati janjiku pada para Dewa,
dan membunuh Lagertha.
Aku siap membalaskan dendam Ibu kita.
Bukan karena dia ibu yang baik untukku,
tapi karena Lagertha pantas mendapatkannya.
Cukup bagus menurutku.
Tapi kau siap berhadapan dengan Ubbe?
Kau akan membunuhnya,
meskipun dia darah dagingmu sendiri?
Kalau kubunuh Ubbe, bukankah ketenaranku akan terjamin?
Begitulah caranya bicara!
Sayangku!
Apa yang kaulakukan?
Aku akan ikut denganmu.
Tidak, saat kau mengandung anakku.
Meskipun aku mengandung anakmu,
aku tetap akan ikut denganmu.
Sudah kupikirkan baik-baik.
Seharusnya aku sadar kalau wanita ...
yang dipilih para Dewa sebagai istriku ...
sangat berani dan perkasa.
Keinginanmu adalah perintah untukku.
Kau akan berlayar dengan kami, Sayang.
Selesai memuat!
Yang Mulia!
Jangan memanggilku begitu.
Kaupikir ini lelucon,
tapi kau tak tahu apa-apa tentang kehormatan.
Tunggu.
Aku punya sesuatu untukmu.
Sihir pedang ini hanya berfungsi untuk pemiliknya.
Jadi, ambillah. Ini milikmu.
Ini hari yang membanggakan ...
saat seorang ayah mengajak putranya ke pertempuran pertamanya.
Ayo.
Ibu akan segera pulang.
Kau siap, teman?
Tentu.
Mungkin kau akan berperang melawan saudaramu.
Kau juga.
"Sebagian pohon harus tumbang di hutan."
Kita punya makanan untuk dimakan, air untuk diminum.
Kita punya alasan untuk puas ...
dengan apa yang sudah kita capai sejauh ini.
Tapi kita juga harus membangun kuil.
Kuil untuk para Dewa, yang selama ini baik pada kita.
Dan kusarankan, Thor,
dewa para petani, seperti kita,
harus menjadi dewa utama di kuilnya.
Dan di atas altarnya harus kita buat api ...
yang takkan pernah padam.
Bangunan kuil dan perawatannya,
akan kita bayar dalam bentuk pajak.
Aku yakin ini bisa diterima oleh semuanya.
Kenapa kita harus membangun kuil ...
di saat kita tak punya cukup waktu ...
membangun rumah kita sendiri?
Kita berikan penghargaan yang sudah seharusnya.
Bukan untuk diri kita atas kesempatan ini,
melainkan untuk para Dewa.
Kau bisa membangunnya di tanahku.
Dan aku akan merawatnya.
Aku tak terkejut, Flatnose,
mendengarmu mengajukan diri.
Siapa pun akan berpikir kau sedang mencoba menjilat,
bukan para Dewa, melainkan Floki.
Kurasa ayahku hanya ...
menawarkan jasanya untuk komunitas kita.
Tidak.
Dia sedang menjilat Floki.
Siapa pun juga tahu.
Seolah-olah Floki memang pantas dijilat.
Dia menipu kita dengan mengajak kita ke sini.
Takkan ada panen tahun ini.
Jadi, saat kita memakan ternak kita,
takkan ada yang tersisa untuk dimakan saat musim dingin.
Sebagian besar akan mati kelaparan.
Kenapa kita harus membangun kuil sebelum rumah kita?
Floki sudah bilang, awalnya akan sulit.
Dia tak membohongi kita.
Dia jelas membohongi kita.
Dia hanya mengatakan kebenarannya begitu sudah terlambat.
Bul, kau memang putra ayahmu.
Tentu kau harus menurut padanya.
Tapi tidak saat dia salah.
Aku tahu kita bisa membangun tempat tinggal.
Sebagian besar dari kita di sini berkomitmen untuk keberhasilannya.
Kita ke sini untuk mati./ Tidak!
Tidak, kita takkan mati!
Kita akan mengubah tanah ini menjadi tempat indah untuk ditinggali.
Dan kita harus memuji para Dewa!
Floki benar tentang itu.
Kenapa kita harus berdebat?
Istriku Thorunn sedang hamil.
Aku ingin dia terlahir dengan harapan akan masa depan.
Itu cucuku,
dan aku tahu tak ada harapan untuk itu.
Kalau kau tak suka di sini, Eyvind,
kau boleh berlayar pulang.
Tidak, Floki.
Itulah yang tak bisa kita lakukan.
Dengan mengikutimu ke sini,
kami sudah meninggalkan rumah,
kota, dan ratu kami.
Tak satu pun dari kita bisa kembali.
Kalau begitu, kita harus berusaha yang terbaik.
Kita harus sabar dan menyayangi satu sama lain.
Kita harus mendahulukan permukimannya,
dan diri kita setelahnya.
Kau harus menyetujuinya, Eyvind.
Harus.
Ini tak benar.
Tak benar, putra-putra Ragnar ...
harus saling membantai.
Kita akan mengirim utusan.
Setuju.
Jika kita harus bertarung, maka bertarunglah.
Tapi kita bicarakan dulu jalan lainnya, dengan itilad baik.
Kami bersedia melakukannya.
Tapi, kita harus bertukar tawanan dulu.
Itikad baik, meskipun patut dihormati,
itu tak cukup.
Saudaramu akan ikut denganmu ke perkemahanmu.
Dan sudaramu ikut ke perkemahanmu.
Kita bertemu lagi besok.
Setuju?
Ya.
Bagaimana kabar Ivar?
Dia tetaplah Ivar.
Sayang sekali kau membelot.
Aku tak pernah mengerti.
Kau takkan mengerti.
Pantas sekarang kau menyesalinya.
Tidak.
Apa gunanya menyesal?
Aku melihat seseorang di antara pemimpin kalian.
Orang Saxon yang kita temui di perkemahan Aethelwulf,
Uskup Heahmund. Kenapa dia di sini?
Ivar menangkapnya dalam pertempuran.
Dia prajurit yang sangat hebat.
Kalian sebaiknya jauh-jauh darinya.
Dia yang sebaiknya jauh-jauh dariku.
Kami ingin mencari jalan menghindari pembantaian yang tak perlu.
Bantu kami, Hvitserk.
Ini gila.
Benarkah?
Kau di sini, di tempatmu sebenarnya.
Jangan menyangkalnya.
Untuk apa kau berperang demi Lagertha atau Bjorn?
Mereka bukan kaummu.
Bjorn sudah menyelamatkan nyawaku.
Cukup beralasan?
Tidak juga.
Kita semua memilih menjalani hidup berbahaya.
Itu bagian dari jalan kita.
Jadi, kurasa yang terjadi antara kau dan Bjorn ...
terlalu berarti.
Keluarga punya hak yang lebih besar.
Aku tak ingin melawanmu.
Aku tak ingin membunuhmu.
Dunia takkan ada artinya.
Kurasa semua ini juga tak ada artinya baginya.
Dia pejuang yang hebat.
Dia tak butuh sesuatu yang berarti.
Demi para Dewa, kau hanya sinis.
Kau tak peduli, 'kan?
Aku peduli ...
tentang memenangkan perang ini.
Halfdan, kau harus memilih antara teman atau saudara.
Bagiku, jawabannya sudah jelas.
Tuhan berkata padaku,
Engkaulah anak-Ku,
Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.
Mintalah pada-Ku ...
maka akan Kuberikan bangsa-bangsa padamu ...
menjadi milikmu sendiri,
dan akan Kuperluas wilayahmu ...
melebihi batas bangsa-bangsa.
Dan aku akan membuatmu memerintah mereka dengan tongkat besi,
dan meremukkan mereka ...
semudah ...
pembuat tembikar ...
meremukkan tembikarnya.
Ivar dalam posisi yang salah.
Kenapa kau mendukungnya?/ Karena aku ...
Jangan bilang karena kalian bersaudara.
Kita juga saudara.
Jangan pertaruhkan nyawamu demi Ivar.
Bukankah para Dewa sudah memutuskan ...
pada siapa harus kukobankan hidupku?
Para Dewa mungkin sedang menunggu keputusanmu.
Aku tak ingin berhadapan langsung denganmu dalam pertempuran.
Aku tak ingin membunuhmu.
Tinggallah.
Kau adikku.
Tinggallah.
Kau adalah bagian dari takdirku.
No comments yet. Be the first to leave one.