İlk 200 satır.
diriku menunggu, menunggu dirimu
sampai esok hari berjalan seperti masa lalu
aku datang untuk berhenti, berhenti untuk berkaca
pada hari di mana aku harus meratapi diri
kenanganku terbentang menjadi abadi
dan kusadari diriku tak bisa mencari kebenarannya
aku pun jadi selalu menyakiti diri
menangis sendirian di sudut hatiku
masa lalu menyuruhku jangan menyerah
namun semua mengalir layaknya air di sungai
"penyesalan," aku ingin sekali mengatakannya
tapi aku kehilangan kesempatanku di hari itu
aku menunggu, menunggu dirimu
sampai esok hari berjalan seperti masa lalu
hari ini aku menyakiti diriku lagi
mengukir bekas luka agar selalu kuingat
karena ku tak ingin melupakan dirimu
hanya akulah satu-satunya yang mengawasimu
masa lalu maupun masa depanmu
penderitaanmu maupun kegembiraanmu segalanya
aku percaya seseorang akan menjadi lebih baik hati
saat mereka sudah lebih dewasa
namun diriku masih tak berubah dari saat kecil
karena aku masih ingin melindungimu
selagi diriku terbangun dari kegelapan
cakrawala yang luas di depan menantiku
kota yang menyembunyikan kita berdua
tertutupi salju sampai tak diketahui siapapun
di dalam lubuk hatiku ini dirimulah luka yang terbesar yang pernah terukir
yang biasa membuatmu tersenyum di dalam dunia ini
akan kurebut kembali nyanyian yang membuatmu tersenyum
Aku berpikir kalau Ayahku tidak akan bertahan jika ia dicap sebagai pencuri.
Dan aku pikir ibu menganggap ayah benar-benar mencurinya.
Hal ini membuatku berhenti untuk mempercayai seseorang.
Aku pikir aku akan merasa lebih baik
jika aku membenci salah satu di antara Ibu atau Ayahku.
Tapi, setelah beberapa tahun berlalu, Ibuku mengatakan sesuatu,
"kenapa aku tidak percaya padanya saat itu?"
Saat itulah, yang membuat Airi tetap menyayangi mereka berdua.
Airi sadar kalau mempercayai seseorang adalah kekuatan terkuatku.
Apa ini?!
Aku melihat Airi di dalam sana!
Mu-Mungkin dia masih di dalam!
Tunggu!
Airi!
Airi!
Bisakah kau mendengarku?!
Airi!
Airi!
Bertahanlah!
Berat ....
Hei!
Airi!
Sial!
Mustahil, kekuatanku masih belum cukup.
Manajer!
Pembuat manga memang tak bisa diandalkan sepenuhnya.
Kita pasti bisa keluar! Bertahanlah!
Satoru, pergilah lewat pintu belakang.
Jangan melibatkan Airi lagi.
Aku akan mengurus sisanya.
Apa Airi akan baik-baik saja?
Selain itu, apinya ....
Jangan-jangan, itu juga ulahnya, ya ....
Benar juga!
Ponsel Sachiko Fujinuma
Pesan Masuk
Dari Satoru Fujinuma. Tetaplah di tempatmu.
Api itu dibuat untuk menjebak Airi.
Dan jika dilihat lagi, pelakunya adalah aku!
Airi menyelipkan ponsel ini di sakuku agar polisi tidak melihat pesan ini.
Artinya, dia sudah mengetahui tempat tinggal Airi sejak awal.
Dia mengikuti Airi.
Mungkin pelakunya lebih dekat dari yang kuduga.
Aku akan mencarinya.
Aku yang akan tertangkap duluan
atau aku yang akan menemukannya duluan.
Koiwa. Koiwa.
Dimohon untuk tidak meninggalkan koran di kereta ....
Ya?
Siapa ini?
Kenapa kau tidak mengatakan siapa dirimu?
Aku Satoru Fujinuma.
Jika kau adalah Satoru Fujinuma, maka senang bertemu denganmu.
Aku sudah menunggu panggilanmu.
Ya, silakan.
Tidak, jangan di sini.
Mari bertemu di tempat umum saja.
Aku masih belum memperkenalkan diri, 'kan?
Aku akan melakukannya saat kita bertemu besok.
Karena mungkin kau adalah pelaku dari kasus pembunuhan Sachiko Fujinuma.
TOKO KOPI KOHAKUTEI
Selamat datang.
Hai, Satoru.
Sebelah sini.
Senang bertemu denganmu.
Aku adalah Sawada, mantan pegawai Ishikari TV.
Aku lega.
Ternyata kau benar-benar Satoru.
Ya, kau mirip sekali dengan Ibumu.
Orang itu!
Aku tahu kalau kau sedang waspada, tapi aku tidak mengatakan pada orang lain tentang pertemuan ini,
dan aku juga bukan orang yang sudah membunuh Ibumu.
Jadi Anda tidak mencurigaiku?
Tentu saja tidak.
Kenapa?
Karena Ibumu tidak membesarkan seorang anak yang tega untuk membunuh Ibunya sendiri.
Begitu, ya.
Kemarin aku baru ingat kalau ini terselip di sakuku.
Ini menjadi masalah yang serius, ya.
Aku memang menyedihkan.
Aku juga melakukan kesalahan, sehingga aku dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab.
Hanya menyalahkan diri sendiri setelah melihat kenyataannya, itu adalah hal yang percuma.
Itu adalah kata-kata Sachiko.
Aku menyukai kata-kata itu.
Mari kita bicara tentang telepon dari Sachiko.
Silakan.
Sawada, apa kau masih ingat?
Kasus pembunuhan berantai yang terjadi 18 tahun yang lalu.
Tentu saja.
Jun Shiratori sudah dijatuhi hukuman mati, tapi dia masih belum mengakui kesalahannya.
Sama seperti yang dikatakan Satoru.
Pelakunya bukan Shiratori.
Sekarang aku tahu siapa pelakunya.
Mari kita bertemu di Stasiun Koiwa besok.
Seharusnya aku menanyakan namanya dulu.
Mari kita bicarakan tentang insiden di masa lalu.
Tentang kasus kematian Kayo Hinazuki ....
Pada malam hari, tanggal 2 Maret 1988,
Kayo dipukuli oleh Ibunya dan pacar Ibunya,
lalu dia dikunci di dalam gudang.
Dia mati karena kedinginan.
Polisi curiga kalau Ibunya Kayo dan pacarnya sudah menyembunyikan mayatnya.
Tapi, antara jam 10 dan 11 pagi pada tanggal 2,
Kayo menghilang dari gudang.
Ibunya Kayo menyadari kalau Kayo menghilang pada pukul 00.30 malam tanggal 3.
Dia menghubungi rumahmu dan menanyakan keberadaan Kayo dengan normal.
Orang yang sudah membawanya adalah Jun Shiratori.
Jejak sepatu karet yang tertinggal di dekat gudang itu
sangat cocok dengan ukuran sepatu Jun Shiratori.
POLISI HOKKAIDO
Kemudian pihak kepolisian mengungkapkan kasus itu secara publik.
Shiratori menghantam Kayo dengan kekerasan fisik
kemudian dia memfotonya.
Dia mengunci Kayo di ruang pendinginan toko keluarganya
lalu dia menggunakan atomizer untuk mempercepat pembekuan.
Saat suhu tubuhnya jatuh sampai 20 derajat, otaknya mati.
Shiratori menunggu sekitar 30 menit,
saat dia tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup,
dia mengembalikan mayatnya ke gudang Hinazuki sebelum matahari terbit.
Kak Yuuki tidak mungkin melakukan hal seperti itu!
Kayo Hinazuki, Hiromi Sugita, Aya Nakanishi ....
Sesaat setelah ketiga anak itu menghilang,
ada serangkaian kasus penculikan dan pembunuhan di kota sebelah.
Pelakunya sudah tertangkap,
tapi, sama seperti Jun Shiratori, dia juga tidak mau mengakui kesalahannya.
Sekarang.
Termasuk situasimu sekarang,
apa kau sudah menyadari sesuatu?
Aku merasa dibodohi selama bertahun- tahun karena menjadi reporter lepas
dan menyelidiki kasus kejahatan yang sudah terselesaikan.
Sebenarnya masih belum ada yang terselesaikan!
Baik Kayo Hinazuki dan Sachiko telah dibunuh oleh orang yang sama
yang sudah melimpahkan perbuatannya pada orang lain!
Dan sekarang, dia ada di kota ini.
Dia memang licik.
Dia mengulur waktu dengan cara menyalahkan orang lain, meminimalisir adanya saksi
dan mengubah situasi di tempat kejadian.
Dan hasilnya, penyelidikan ini malah semakin jauh darinya.
Ini sangat berlebihan.
Jadi dia bermaksud untuk membungkamnya, ya.
Satoru Fujinuma ....
Dalam kondisi seperti ini, dia takkan bisa mendekatinya.
Lalu, bagaimana dengan gadis SMA itu?
Apa dia adalah rekannya?
Dia membantunya saat membunuh sang Ibu
dan setelah semuanya selesai, dia berniat untuk membungkam mulutnya, ya.
Kejam sekali ya.
Dia sampai melibatkan gadis itu ke dalam kejahatan.
Kalian salah.
Airi, kamu tidak perlu meminta maaf.
Benar.
Ada penguntit yang mengincarmu.
Kamu pasti ketakutan, bukan?
Tante, kejadiannya bukan seperti itu.
Jangan menyalahkan dirimu.
Maaf karena kami tidak menyadarinya.
Bukan seperti itu.
Pihak kepolisian sedang mencari pelakunya.
Kamu tidak perlu takut.
Mereka semua salah.
Tersangka yang Masih Diburu Bertanggung Jawab Atas Kasus Pembakaran?
Target yang Diincar adalah Rumah Salah Satu Pekerja (Chiba)
Aku tidak menyangka kalau mereka sedang mengejar Satoru karena dituduh melakukan pembunuhan dan pembakaran.
Siapa yang akan percaya padaku?
Pesan yang dikirim oleh Sachiko pada gadis itu?
Ya.
Menurut berita, dia tidak mengalami luka yang serius,
tapi sekarang, dia pasti masih dirawat di rumah sakit.
Ini dia.
No comments yet. Be the first to leave one.