முதல் 200 வரிகள்.
Tinggal 30 menit lagi.
Cari tempat duduk.
Terima kasih.
Kau menyontek!
Ini Sertifikat Pengawasan Ujian.
Tulis informasimu di sini.
Tanda tangan.
[Karena Xue Tong menyontek, nilai ujian kali ini dibatalkan]
Apa maksudnya?
Kau tertangkap menyontek.
Bukankah sudah kukatakan,
aku tak tahu dari mana kertas itu.
Aku sudah melihatnya.
Tanda tangan.
Aku juga merasa Xue Tong bukan pelajar yang suka menyontek.
Aku akan menyelidikinya.
Jangan ribut lagi.
Kalau begitu aku pergi dulu.
Kau tertangkap menyontek lagi.
Apa kau sudah puas?
Kembalikan pulpenku.
Aku tak akan menuduh sembarangan.
Dasar Mu Chenghe,
tunggu pembalasanku.
[Diadaptasi dari Novel Pengarang Mu Fusheng]
[Selamat datang di Departemen Bahasa Asing]
[Pembagian Asrama Wanita Universitas Donghu]
Kita bertiga satu kamar.
Sepertinya begitu.
Boleh.
[Kamar 301 : Wu Manxiao, Jiang Yu, Yao Jiaqi, Xue Tong]
Masih ada satu orang lagi.
Apa kau kenal dia?
Aku tak kenal.
Kenapa tak ada namamu?
Kenapa harus ada namaku?
Ternyata kau sangat hebat.
Masalah dua bulan lalu aku belum memperhitungkannya.
Jangan keterlaluan.
Minggir.
Minggir.
Boleh juga.
Bibi, aku mau iga dan nasi 100 g.
Ini kartu kampus lama, harus ganti kartu baru.
Baiklah.
Bibi, tunggu sebentar.
Bibi, aku mau pesan ikan.
Teman,
boleh pinjam kartumu?
Kartu ini dari kampus lama.
Akan kuberikan uang tunai padamu.
Baik.
Terima kasih.
Segera kukembalikan.
Bibi, kami mau iga.
Baik.
Empat porsi iga.
Tinggal dua porsi.
Baik, pesan dua porsi.
Baik.
Terima kasih.
Baik.
Ayo.
- Sudah habis. - Bibi!
Halo, Guru.
Halo, Xue Tong.
Iya.
Apa kau sudah daftar?
Sudah.
Segera datang ke lapangan dan bawa teks pidatonya.
Baik, setelah selesai cuci rambut, aku segera ke sana.
- Ayah, berhenti! - Kenapa?
Aku melihat temanku.
Xue Tong!
Xue Tong!
Kau yang akan pidato lagi?
Pembicara profesional.
Kudengar kau lagi yang jadi MC, putri Hummer.
Putri Hummer?
Hammer itu artinya palu.
Panggil aku 'putri palu' saja.
Aku tinggal dulu.
Aku harus menemui Guru Chen Ting di lapangan.
Aku juga mau ke sana.
Ayo sama-sama pergi.
Sama-sama.
Ayo!
Nanti kau pidato pakai teks ini, dengan penuh perasaan.
Seperti sedang pidato sungguhan.
Baik.
Jia Hang.
Iya.
- Biarkan Xue Tong mencobanya. - Baik.
- Xue Tong, berapa nomor kamarmu? - 301.
Ada murid kelas kita?
Semua jurusan Bahasa Jepang, tak ada yang kukenal.
Sedang apa kalian? Cepat mulai!
Selanjutnya pidato dari wakil murid, Xue Tong.
Yang terhormat para Rektor, Guru dan teman,
semuanya apa kabar?
Saya adalah murid Bahasa Inggris tahun 2010.
Tahun ini tahun ke-3, namaku Xue Tong.
Sebagai Universitas Donghu...
Murid dari Universitas Donghu,
aku merasa sangat bangga.
Beban dipundakku selalu mengingatkanku,
tak boleh malas.
Berhenti.
Xue Tong, kemari.
Berikan padaku.
Teks pidatomu ini,
mirip dengan tahun pertama, ya?
Guru, kau pandai menerawang.
Ini adalah teks itu.
Kau tidak mau pidato?
Tidak.
Aku tahu ini menyulitkanmu,
aku juga tak mau pidato.
Tapi kau tak sama.
Kau bukan murid biasa, kau adalah murid teladan.
Kau dapat tambahan 20 poin saat ujian Universitas.
Guru, tanpa 20 poin itu,
aku tetap bisa masuk ke Universitas ini.
Benar apa katamu.
Tapi kau sudah mendapat poinnya.
Tak diberikan pada orang lain.
Jadi kau punya tugas
memberikan semangat untuk murid lain.
Akan kupikirkan lagi.
Aku yang akan menulisnya.
Kau hafalkan saja.
Jangan, biar aku buat sendiri.
Tadi maaf, ya.
Aku menjatuhkan semangkamu saat buka pintu.
Tak apa-apa, jadi tak perlu dipotong lagi.
Kenapa pintunya lengket sekali?
Apa kata tutormu?
Apa lagi kalau bukan hukuman.
Menyebalkan sekali!
Aku hanya melihat ponsel sebentar.
Masih ketahuan juga.
Dengar-dengar di Jurusan Bahasa Inggris
ada yang bernama Xue Tong
ketahuan menyontek di ujian Marxisme.
Kenapa tak dihukum?
Aku tahu mereka pasti bersekongkol.
Kau teman baru dari Jurusan Bahasa Inggris 'kan?
Bicaraku selalu berterus terang.
Yang kukatakan tadi, tolong rahasiakan, ya.
Namaku Wu Mansa, siapa namamu?
Xue Tong.
Ayo, kita makan semangka.
- Guru, aku tak menyontek. - Siapa bilang kau menyontek?
Semua mengatakan aku menyontek.
Kau terlalu mencari masalah.
Guru, Anda sebenarnya
karena status spesialku
atau takut aku dituduh,
atau takut setelah dihukum,
aku tak pantas berpidato lagi.
Makanya kau membelaku.
Kau ini omong kosong saja.
Aku percaya padamu, aku yakin kau tak menyontek.
Mengerti?
Sudahlah, aku ada rapat.
Guru, karena kau percaya padaku,
kau harus menyelidiki dengan jelas.
Kemudian mengumumkan aku tak menyontek.
Mana ada pengumuman tak menyontek?
Dan lagi hal ini belum diselidiki dengan jelas.
Baik, aku yang akan menyelidikinya.
Masalah ini sudah berlalu,
kenapa masih keras kepala?
Benar.
Guru, katakan padaku
di mana Mu Chenghe?
Apa ada orang?
Kau bisa masuk angin kalau begini.
Hati-hati.
Aku baik-baik saja.
Hati-hati dengan replikanya.
Ternyata kau murid kampus ini juga.
Di sini adalah laboratorium Departemen Fisika.
Aku adalah pengurus di sini.
Tak boleh masuk tanpa izin dariku.
Kau jangan berlagak lagi.
Aku datang mencarimu dengan tenang.
Ada apa mencariku?
Ujian Marxisme semester lalu,
kau menangkapku sedang menyontek.
Kau mengakuinya?
Kau menuduhku.
Kau harus membuktikan aku tak bersalah.
Aku bisa membuktikan yang kulihat.
Kau...
Kau ada di laboratorium, ya?
Kenapa?
Jadi begini,
tadi aku melihat replika pesawat terbangmu.
Sangat bagus.
No comments yet. Be the first to leave one.