Mistari 200 ya kwanza.
- Hari ini waktunya. - Firasatku baik.
Kita tiga penyihir hebat.
- Kenapa kita terus coba tanpa keempat? - Mulai lagi.
- Apa? Ini sudah dua tahun. - Mungkin kita tak butuh keempat.
-Ilmu Gaib -Kau butuh empat.
Setiap bulan sabit adalah sebuah elemen. Lihat? Utara, selatan, timur, barat.
- Aku ingin menghentikan waktu. - Meski berempat pun tidak bisa.
Ada di meja, Frankie.
Kau perlu memegangnya, atau bisa ada yang terbakar.
Baik, nona-nona.
Aku suka piring ini.
- Jangan dimatikan. - Harus. Kita akan melakukan ritual.
Bulumu.
Frankie, hati-hati. Kau selalu membakar sesuatu, Bung.
- Kali ini tidak. - Kalian sudah siap?
Saat malam menerima terangmu
Dan lautan merasakan tarikanmu
Aku bertekad untuk bertumbuh denganmu
Dari baru sampai penuh
Aku memanggil roh-roh dari Utara, roh bumi dan tubuh,
roh tanah.
Diberkatilah.
Aku memanggil roh-roh dari Timur, roh udara,
roh awal yang baru, roh napas.
Diberkatilah.
Aku memanggil roh-roh dari Selatan, roh api dan kehendak,
roh panas.
Diberkatilah.
Tabby, pura-puralah kau tak panggil roh-roh Selatan
dan panggil roh-roh Barat?
Apa? Tidak. Aku sudah lakukan tugasku.
Harus ada yang melakukannya atau tidak akan berhasil.
Kalau mau jujur,
sudah lama roh-roh dari Barat berkelakuan buruk
- jadi biarkan saja mereka. - Dia ada benarnya.
Lagi pula, diawali dari Timur. Timur, Selatan, Barat...
Ini sebabnya kita hanya bisa sihir dasar. Kita tidak punya orang keempat.
Berapa kali kita mencoba untuk komunikasi dengan telepati?
Astaga! Kau terobsesi komunikasi dengan telepati.
Baca bukunya.
"Agar dimateraikan dan berlaku
Ketika keempatnya bertemu menjadi satu"
Tunggu.
Astaga!
- Lagu kesukaanmu. - Ya!
Ini dia.
Astaga. Kau hafal liriknya.
Maaf.
Oh, sayang.
Tidak, tidak. Kau boleh... menangis.
Keluarkan semuanya.
Oh, sayang, Ibu...
Ibu mengerti. Ini...
Ini aneh, bukan?
Kita sedang emosional. Kau harus perbaiki rias wajah Ibu saat tiba nanti.
Baik. Tenang saja. Besarkan lagi suaranya.
- Bagaimana alis mata Ibu? - Bagus.
Baik.
Baik.
- Ibu terlihat cantik. - Astaga.
- Sungguh. - Baik. Ibu cantik.
- Ibu siap? - Ibu gugup.
- Ya. - Baiklah.
Ayo kita lakukan. Baik.
Halo.
- Hei. - Hei.
- Kau tiba dengan selamat. - Ya, ini...
Astaga.
Dan kulihat anakmu juga di sini.
Hai, Lily. Akhirnya kau datang.
Senang melihatmu lagi.
Kali terakhir di wilayahmu, sekarang di kandangku.
Itu metafora olahraga.
- Metafora, seperti analogi. - Ya. Aku paham.
- Aku paham. - Lelucon ayah. Maaf.
Kameramu bagus.
- Terima kasih. - Bagus, bukan?
Ayo kita berfoto. Untuk mengenang momen ini.
Ide bagus.
- Boleh? - Baik.
- Kameranya bukan untuk swafoto, tapi ini. - Tentu. Bagaimana cara...
Wah, analog.
Aku suka. Model lama.
Siap?
Mari masuk dan temui anak-anak. Mereka senang bertemu denganmu.
Mereka bahkan mandi.
- Ini Isaiah. - Hei.
- Jacob. - Hai.
Dan Abe.
Hai.
Apa-apaan?
Beri Lily tempat duduk yang bagus. Geser.
Geser.
Isaiah, geser!
Hentikan!
Minggir.
Tenanglah.
Burung kecil memberitahuku kau suka keripik min.
- Terima kasih. - Benar, burung kecil?
Burung kecilku yang cantik.
Jijik, Ayah.
- Hei. - Hei.
Kamarmu bagus.
Kau baik-baik saja?
Ya.
Bagaimana perasaanmu tentang sekolah besok? Kau senang?
- Kau bisa dapat teman baru. - Itu menyiratkan aku punya teman lama.
Akan ada orang menyebalkan ke mana pun kau pergi.
- Ibu. Itu tidak baik. - Baik.
Yang benar "menjengkelkan".
"Menjengkelkan"? Maksud Ibu "kurang ajar".
Baik. Ingat apa yang selalu Ibu katakan.
Perbedaanmu adalah kekuatanmu.
Ibu mau membereskan barang-barang.
- Ibu menyayangimu. - Aku sayang Ibu.
Hei.
- Terima kasih sudah bersikap menerima... - Ibu.
...akan semua ini.
- Ibu tahu ini cepat. - Aku tidak mengkritik Ibu.
Sudah lama Ibu tidak terhubung dengan orang
dan rasanya menyenangkan punya orang untuk...
Aku mengerti.
Istirahatlah, Sayang.
Baik.
- Ibu menyayangimu. - Aku sayang Ibu.
- Ibu menyayangimu. - Aku sayang Ibu.
Apa kabar?
Sepatumu bagus.
Terima kasih.
- Selamat menikmati hari pertama. - Terima kasih.
Aku tahu mengapa burung yang di kandang bernyanyi, oh aku,
Ketika sayapnya memar dan dadanya sakit...
Ketika dia memukuli jerujinya dan dia akan bebas.
Namun, doa yang dia kirimkan dari hatinya yang terdalam.
Memohon, agar ke Surga dia terbang...
Aku tahu mengapa burung yang di kandang bernyanyi!
Pekan ini kita akan membaca bab satu sampai empat
autobiografi Maya Angelou yang judulnya diambil dari...
Kau melihat ini?
- Timmy. - Maaf.
Apa yang terjadi?
Hei.
Kau menjatuhkan sesuatu.
Wah.
Astaga.
- Jijik sekali. - Bisa tenang?
- Jacob. - Ini bagaikan TKP.
Hei, hei. Cukup.
Tenanglah!
Halo?
Kurasa dia di sini.
Halo?
Semua pernah mengalaminya. Timmy memang menyebalkan.
Serius, jangan buang air matamu untuk dia. Kau tidak sendirian.
Dia pernah membuat kami semua menangis.
Dan juga,
keluarnya banyak dan kita harus merayakan itu.
- Frankie. - Frankie.
Apa? Aku hanya... Bibi Flo dari Daratan Merah.
Kami bawakan celana.
Kupakai saat olahraga, jadi berkeringat, tetapi pas untukmu.
Baik. Kudorong dari bawah pintu.
Terima kasih.
Kau bisa duduk bersama kami kalau mau.
Tidak ada yang ingin duduk bersama kami.
Terima kasih.
- Astaga. Barusan dia melihatmu? - Tenanglah.
Frankie mencintai Jacob sejak kelas lima.
Apa?
Tidak, tidak.
Tidak.
Dia saudaraku.
- Siapamu? - Saudara tiri.
Atau calon saudara tiri.
Maaf, datang bulanku parah.
- Aku tahu rasanya. - Aku juga.
Aku tidak, maaf.
Apa?
Hei, bergabunglah dengan kami usai sekolah dalam minggu ini.
- Ya. - Ya.
Baik.
Ibu?
Halo?
JANTANLAH
Bagaimana Adam Harrison membahas krisis maskulinitas.
MASKULIN SUCI
Keluar!
Astaga.
Mau minum?
Tentu.
- Ibu! - Kau tahu Ibu tak bisa menahan diri.
- Bagus. Baiklah. - Perlihatkan cara Ibu menari.
Astaga.
Menawan sekali.
Hei.
Apa semua itu?
Ibu mengurus dokumen untuk sekolah barumu, tapi kau tahu Ibu.
Ibu menaruh barang penting di kotak sepatu sehingga sulit menemukannya.
Kata Adam dia akan membuat Ibu teratur, maka Ibu bawa ini ke kantor,
tapi Ibu katakan jangan terlalu berharap.
No comments yet. Be the first to leave one.