The Bishop's Wife

The Bishop's Wife

Shkarko Titrat Indonesian

Informacioni i lëshimit

The Bishops Wife 1947 1080p BluRay H264 AAC-RARBG
Një Komentar nga Chyrus

Etiketat

BluRay
1080
Publikuar më: 2022-06-14
Shkarkime: 45
Dëgjim i Dëmtuar: No

Pamje paraprake e titrave në Indonesian

200 rreshtat e parë.

- Oh, baik sekali dirimu. - Ini sebuah kehormatan.

Kau mau ke arah mana?

Tepat sebelah sana, Gedung Mutual. Dokterku di sana.

- Kau tahu, aku punya harapan. - Bagus.

- Oh, aku baik sekarang. - Semoga berhasil.

Terima kasih. Terima kasih banyak. Selamat Natal buatmu.

Selamat Natal.

Ibu, tolong. Tolong, angkat aku. Tolong.

Baiklah, kalau begitu. Sebentar. Nah.

Perhatikan boneka itu.

Perhatikan kereta tut tut lucunya.

Ayo sekarang, sayang. Kita harus pergi.

Oh, bayiku! Oh, bayiku! Oh, bayiku!

Oh, kau menyelamatkannya. Oh, terima kasih Tuhan. Kau menyelamatkan bayiku.

Oh, bagaimana bisa aku berterima kasih?

- Jangan coba. Hanya jangan biarkan ini terjadi lagi. - Aku takkan. Aku janji, aku takkan.

- Baiklah, ingatlah itu. Sekarang pergilah. - Ya.

Ini hampir mirip sepupu bangsawan, cemara merah California.

Ini secara botani berbeda.

Perhatikan aku, Maggenti.

Ini spesimen cemara putih, Abies satu warna.

Dan tentunya, kau jadi orang romawi, tahu Latinmu.

Kau mau beli atau tidak?

- Bila ini bukan sayangku, Julia yang cantik. - Oh, halo, profesor.

Apa yang kau lakukan di bagian kota yang jelek ini?

Aku mau beli pohon Natal.

- Halo, Mr. Maggenti. - Mrs. Brougham, apa kabar?

Berapa kau mematok harga buat pohon kecil tak bermutu ini?

- $1.85. - $1.85 buat ranting tak menarik ini?

Aku akan membayarmu 10 sen secabang, atau aku berlangganan di tempat lain.

Apa yang bisa aku bantu untukmu, Mrs. Brougham?

Kau bisa simpankan aku pohon yang di luar, yang besar tepat dekat pintu.

- Oke. - Terima kasih.

Setiap Natal selama 18 tahun...

Maggenti dan aku telah mengalami argumen yang sama.

Aku tak tahu kau merayakan Natal.

Kupikir kau tak beragama.

Itu benar, sayangku.

Tapi aku ingin punya pohon Natal karena itu mengingatkanku akan masa kecilku.

Aku merasa, karena alasan sama, ini tahun yang baik untuk melihat ke belakang.

Bisa kau bayangkan aku pernah jadi anak kecil?

Bagaimana Henry? Aku tak melihatnya sudah cukup lama.

Oh, dia baik sekali, terima kasih.

Dia sangat lelah dan khawatir.

Bayangkan dia mengalami kesulitan mengumpulkan uang buat katedral.

Ya, pekerjaan yang lamban.

- Bagaimana bukumu yang akan datang? - Oh, baik sekali.

Sejarah terbesar Romawi sejak Gibbon.

Tapi, tentu saja, tak ada yang bakal membacanya.

Dan sekarang, orang baikku...

aku sungguh tak memilih memperpanjang percekcokan mencolok mata ini lagi.

Baiklah, 10 sen secabang.

Ini $1.40.

Baiklah, teman dapat disuapku. Ini uang darahmu.

Mr. Maggenti, bisa kau kirimkan pohonnya pada Malam Natal?

- Tapi jangan terlambat. Aku tak mau putriku melihatnya. - Oh, tentu. Jangan khawatir.

- Aku kirimkan waktu anak kecilku sudah tidur. - Terima kasih.

Dan Selamat Natal.

- Selamat Natal! - Selamat Natal!

Ayo.

Ada sesuatu yang aku ingin kau berikan ke Henry dengan komplimenku buat dana katedralnya.

Ini sudah bagian keberuntunganku.

Tidak bila ini pernah mendatangkanku keberuntungan, selain mengenal dirimu.

Ini koin Romawi kuno.

Aku membelinya beberapa tahun lalu di toko barang antik di Brindisi.

Ini punya sedikit nilai.

Ini kontribusi mengagumkan.

Omong kosong.

Ini mungkin disebut pemberian janda...

meski ini bukan karena fakta aku bukan janda.

Julia, ini bukan saatnya buat air mata.

Sudah berhenti saljunya, dan...

Oh, andai saja kami bisa habiskan Natal dulu di sini...

di mana kami begitu bahagia denganmu dan teman-teman lama kita.

Cup, cup, cup.

Selamat malam, profesor.

Aku temui kau lagi secepatnya.

Itu tak mungkin cukup secepatnya.

Selamat malam, Julia.

Wah, profesor.

Betapa menyenangkannya melihatmu lagi setelah sepanjang tahun-tahun ini.

- Betapa sehat kau kelihatannya. - Ya.

- Bagaimana kabarmu? - Tak pernah lebih baik.

- Dan kau? - Oh, sehat sekali juga, terima kasih.

Aku tak berpikir kau ingat aku.

Oh, itu tak masuk akal. Tentu saja aku ingat.

- Di mana kita bertemu? - Sekarang, profesor, setelah sepanjang tahun-tahun ini...

Sekarang, sebentar. Itu bukan Vienna, kan?

Vienna. Vienna lama indah.

- Universitas? - Universitas.

- Waktu aku mengajar di sana tentang sejarah Romawi? - Itu dia, profesor.

Dan betapa pelajaran hebat itu dan betapa pelajaran hebat kau bersama para wanita.

Oh, fantastis kau ingat itu.

- Aku harus akui, aku punya momen-momenku. - Dan masih punya.

- Kau mau ke mana? - Ini mobil.

Aku tak bisa apa-apa memperhatikan bagian kebaikan hatimu dari Julia.

- Kau kenal Julia? - Dalam satu hal, ya.

Anak malang.

- Dia tak bahagia? - Ya.

Kapan kau di Vienna?

Oh, aku sudah ke sana banyak kali.

Aku tertarik dengan Julia dan Henry. Apa sepertinya yang jadi masalah mereka?

Aku tak pernah lihat Henry lagi.

Dia tak ada waktu buat gembel sepertiku.

Dia sekarang berkawan dengan si kaya vulgar seperti Mrs. Hamilton.

Kau tahu dia membuatku dipecat dari universitas di sini?

- Benarkah? - Bilangnya aku radikal.

Aku, yang tak pernah menaruh perhatian pada politik sejak kematian Nero.

Perhatikan itu.

Gereja lama Henry, terlantar karena ditinggalkan.

Ini benar-benar gereja kecil bagus.

Terlalu kecil, aku takut.

Ini tak bisa bertahan lama terhadap gerakan kemajuan.

Aku harus melanjutkan untuk pergi.

- Menyenangkan lihat kau lagi, profesor. - Kepuasan.

Kita harus bertemu untuk minum demi hari-hari itu di Vienna.

Pastinya.

- Selamat malam, profesor. - Oh, Pat.

Kau kira-kira tahu siapa itu orang?

Tidak. Dia orang asing bagiku.

- Selamat malam, Mrs. Brougham. - Selamat malam, Matilda.

Halo, Queenie.

- Debby sudah tidur? - Ya, nyonya.

- Dan Mrs. Hamilton dan komite di dalam sana sama uskup. - Oh.

Makan malam sudah menunggu lama, madam.

- Ya. - Aku tak tahu apa yang harus dilakukan di dapur.

- Kami akan makan malam begitu mereka pergi. - Ya, tapi...

- bagaimana dengan ayamnya, Mrs. Brougham? - Jangan khawatirkan hal itu, Matilda, tolong. Ini.

- Baiklah. - Terima kasih.

Oh, Matilda, tasku.

Ini. Terima kasih.

Oh, aku sungguh minta maaf aku begitu terlambat.

Selamat malam, Mrs. Hamilton.

Tapi aku sudah menunda belanja Natal.

Selamat malam, Mr. Perry, Mrs. Trumbull.

Halo, Mrs. Ward.

- Aku harap kalian sudah mengalami pertemuan yang baik. - Kami tidak.

Aku belum pernah dalam hidupku menjumpai pemikiran tak jelas seperti ini.

- Menurutmu kita telah buat suatu kemajuan? - Tidak, tidak, Mrs. Hamilton.

Mr. Perry hendak beritahu kita sesuatu waktu istriku datang.

Sekedar saran. Bila Mrs. Hamilton menyetujui, kami mungkin sanggup...

menempatkan Kapel Memorial George B. Hamilton di sini di timur laut.

Itu bakal sepenuhnya aneh. Aku tak mau mengesahkannya.

Mrs. Hamilton, pastinya kau mengerti katedral ini tak boleh didesain buat keagungan individual.

Ini harus diciptakan buat semua orang.

Aku sangat tak suka keseluruhan sikapmu, Henry Brougham.

Kau sepertinya menganggap aku alat buatmu jadi uskup...

meski yang lainnya berpikir kau terlalu muda.

- Itu pernyataan berlebihan? - Oh, ya, Mrs...maksudku, tidak.

- Kau orang berpengaruh atas semuanya. - Aku jelas ingat kau bilang...

Aku punya setiap keyakinan ketika kau dulu pendeta kecil malang di gereja di daerah kumuh.

Aku akui keyakinanku itu sudah melemah.

Aku menyesali aku benar-benar sebuah kekecewaan.

Penyesalan dan permintaan maaf tak ada gunanya sama sekali.

Kau memberiku kesan untuk jadi bingung, ragu, dan benar-benar tak efektif.

Itu bukan jenis kepemimpinan yang kami harapkan untuk uskup kami.

Sebaiknya kau ingat satu hal.

Kau akan bangun itu katedral seperti yang aku mau, atau kau takkan membangunnya sama sekali.

Itu saja yang harus aku sampaikan.

Seseorang singkirkan anjing ini dari jalan.

- Julia. - Oh, Queenie.

Selamat malam, Mrs. Hamilton.

- Selamat malam. - Selamat malam, Mrs. Brougham.

Selamat malam, Mrs. Brougham.

Selamat malam, Mrs. Brougham.

Bisa kami sajikan makan malamnya sekarang, nyonya?

- Ya, Matilda. - Ayamnya bakal jadi gosong.

Kami segera ke sana.

Julia, kau tahu Mrs. Hamilton sudah menunggu di sini buat pertemuan ini tadi sore?

Aku tahu, Henry. Aku...

Maafkan aku terlambat.

Sungguh sore menakutkan. Sungguh wanita menakutkan.

Aku berusaha dia mengerti, tapi aku tak ada niat dicekik dengan tali tasnya.

Oh, dia iya dan aku bangga denganmu.

Aku punya kebanyakan dorongan non kristen untuk menerima cetak biru itu lalu memberi dia kesempatan bagus lebih dari...

mantel cerpelai.

Kupikir kau sanggup menghadapinya dengan baik sekali.

Aku apresiasi apresiasimu, tapi bagaimana dengan katedralku?

Boleh aku menyampaikan saran, Henry?

Kenapa tak menunda katedralnya? Setidaknya lupakan sampai setelah Natal.

Tak mungkin. Rumah Tuhan tak bisa ditunda.

Katedral ini harus berdiri. Banyak orang kaya di kota ini.

Meski aku harus dapatkan antusiasme finansial mereka...

dan aku bakal manfaatkan semangat masa Natal mereka.

Oh, aku bisa lihat itu semua sekarang.

Keluarga McWhither, keluarga Horne, keluarga Van Deusen.

Pertemuan makan siang, pertemuan komite. Dan kau, kau di sana, merayu mereka...

- bersujud ke mereka, mengemis ke mereka.... - Itu harus dilakukan.

Oh, Henry, andai kau bisa lihat wajah kesal malangmu.

- Kau tak berbuat banyak untuk membantunya. - Kenapa...

Ya, Nona Cassaway, ada apa?

Mr. Trevor di telepon, uskup. Dia bilang mendesak.

- Bilang uskup bakal menelepon balik, tolong. - Ya, Mrs. Brougham.

Henry, apa yang terjadi denganmu?

Apa yang terjadi dengan kita dan pernikahan kita?

Kita dulunya merasakan banyak kesenangan, kau, Debby, dan aku.

Kita dulunya bahagia, kita dulunya membuat orang lain bahagia.

Oh, Henry, itu pembawaanmu.

Kau bukan pemodal dan kau bukan promotor.

Julia, kau tak bisa lihat jauh ke depan.

Komentet

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left