The first 200 lines.
Devin, aku di pintu belakang. Aku akan masuk.
Baik, ini aku.
Ayah?
Kau takkan apa-apa. Ya.
Kita akan keluar dari sini sekarang.
Ayo, sayang.
Baik.
Ini, pegang tanganku. Peganglah.
Hai, Drummer. Kau mendengarku?
Dev, terhubung. Kemarilah.
Di belakangku.
Kau takkan apa-apa. Ayo.
Ayah!
Ayah!
Ayo.
Kami sudah di luar.
Baikah, kami akan masuk!
,...tanah pengharapan
itu hanya ditawarkan untuk musuh kita.
,...kerusakan yang ditimbulkan penggagas pertahanan,
Amerika Serikat,
dan peringatan oleh Pusat Penanganan Penyakit.
Aku tak sanggup berkata, betapa inginnya aku ada di sampingmu,
Melindungimu...,
Memandumu...,
Jika ada cara, aku ingin menyelamatkanmu dari perang ini...,
yang telah menghancurkan semua...,
kau, ibumu...,
dunia kita...,
Setiap pagi, aku melihat wajahmu.
Aku dengar tawamu...,
suara langkah kakimu di lantai rumah.
Setiap malam aku membayangkan kau terlahir.
Sekarang aku menguatirkan keselamatanmu.
Kau bisa mengatirkan aku, sebesar aku menguatirkanmu dan ibumu.
Aku tak akan berhenti mencari, Johnny.
Aku tak akan berhenti.
Kami diajarkan itu di kesatuan.
Jangan pernah menyerah.
Tak akan pernah.
Masuk.
Kapten, aku terlambat?
Kopral Drummer.
Prajurit Kepala, pak.
Ah, Kapten Peyton. Akhirnya bisa bertemu denganmu.
Senang bertemu denganmu. Maaf terlambat. Aku ketiduran.
Sudah beberapa minggu ini memang melelahkan. Silakan.
Mau minum?
Air saja, kola.
Kami punya mesin pendingin.
Bagus juga.
Kami punya beberapa di sini.
Paki gula kelapa.
Orang Meksiko pintar membuatnya, ya?
Itu anakmu?
Anak angkat. Zachary.
Kau punya anak sendiri,
atau hanya anak angkat? / Yah, sekarang ini,
aku bersamamu.
Jadi, pertemuan ini tidak lebih resmi dari pertemuan lainnya
sejak insiden itu,
namun jika boleh,
aku ingin bicara sedikit mengenaimu...,
kehidupanmu di luar kesatuan.
Tak banyak.
Entahlah, mungkin semuanya ada di situ, kan?
Beberapa saja. Aku ingin mendengarnya langsung.
Menikah selama 9 tahun.
Punya satu anak.
Ya. Jon.
Jonathan.
Jonathan Michael Drummer.
Mengenai Kopral Roberts?
Bagaimana hubunganmu dengannya?
Marinir terbaik yang kukenal.
Hubunganku dekat seperti keluarga.
Manusia paling kupercaya di dunia.
Jika kutarik pelatuknya, aku akan menyesal seumur hidup.
Ya, persetan dengan itu.
Kau tak berpikir demikian? / Berpikir apa?
Menyesal. Kau tak menyesalinya.
Hah?
Kau tak menyesalinya.
Aku menyesalinya.
Sebutkan.
Yah...,
Aku menyesal melibatkamu dalam prang ini.
Dia menuntunku di setiap jalan.
Aku tak mungkin ada di sini jika bukan karena Roberts.
Dan bagaimana perasaanmu sekarang?
Entahlah.
Kau pasti merasakan sesuatu.
Tentang bagaimana...,
Entahlah, aku tak tahu.
Aku hanya ingin kembali pada anakku.
Tentu saja. Kau merindukannya.
Aku tak paham untuk apa semua ini.
Karena ini sudah tugasku,
sampai tugasku selesai,
kau harus tetap berada di sini, jadi...,
kita harus membuatnya mudah.
Mengerti.
Kau yang pegang kuasa, pak.
Tapi kalau kau mau, kita tak usah membahas anakmu.
Aku setuju.
Kalian mengira kalian Marinir?
Ya, Sersan!
Kubilang kalian berpikir kalian itu Marinir?
Ya, Sersan!
Marinir yang baik mau terluka demi Kesatuan.
Marinir yang baik rela mati demi Kesatuan.
Apa kalian pantas mati dengan kehormatan seperti itu?
Ya, Sersan!
Kubilang apa kalian pantas mati dengan kehormatan seperti itu?
Ya, Sersan!
Ya. Kalian semua tampak ketakutan!
Kalian mungkin senang sudah jadi Marinir,
tapi kalian tampak takut!
Karena itu aku hadir untuk kalian.
Kertas yang kalian pegang itu
adalah nomor serial senjatamu.
Ingat baik-baik nomor itu
bersama dengan informasi lainnya
yang akan kuberikan nanti!
Kalian paham? / Ya, Sersan!
Kau memegang kertas itu, Marinir?
Ya, Sersan!
Berapa berat kertas itu?
Ringan, Sersan! / Berapa beratnya?
Ringan, Sersan! / Lalu kenapa tanganmu turun?
Kenapa tanganmu turun? Kenapa tanganmu turun?
Kenapa tanganmu turun? Katakan padaku!
Katakan padaku!
Katakan padaku! / Aku tak tahu, Sersan.
Kau tak tahu mengapa tanganmu turun?
Tidak, Sersan. / Angkat tanganmu!
Pegang terus kertas itu!
Bersiaplah ke tingkat selanjutnya.
Bersiaplah ke ujian yang berat,
sampai kalian sanggup menghadapi
ketika musuhmu berkata...,
Tetap angkat tanganmu!
Ambil!
Selamat datang kesakitan, bung!
Selamat datang kesakitan!
Selamat datang kesakitan! / Selamat datang kesakitan!
Selamat datang apa? / Selamat datang kesakitan!
Bubar dan segera ke lapangan.
Ya, Sersan. / Ayo!
Ayo! Cepat!
Jalan! Ayo!
Lupakan dia. Kita punya ini.
Ayo! Ayo!
Ayo jalan! Ayo.
Cepat!
Grup dua, cepatlah!
Cepat, saudaraku!
Cepat!
Flank! Set! / Cepat jalan!
Tutup arah depan kita!
Ayo! / Aku bangun, dia melihatku, aku tiarap!
Tiarap! / Ayo bergerak!
Diam!
Kau bilang apa, Marinir?
Tak ada, Sersan!
Apa aku bicara padamu, Marinir? / Tidak, Sersan!
Lalu kenapa kau yang menjawab?
Tak tahu, Sersan. / Kalian bersahabat, Marinir?
Tidak, Sersan. / Bangun!
Ya, Sersan.
Kau banyak omong, Marinir.
Maaf, Sersan.
Kita harus bergerak.
Kita kembali ke markas. / Ya, Sersan.
Ayo! Ayo!
Aku menandatangani akta perdamaian.
Mengapa aku bisa sampai di sini?
Lumba-luba sudah mati, bung.
Kita bisa menyelamatkan lumba-lumba, bung.
Harusnya kau bilang itu saat kau ada di luar sana.
Benar.
"Sersan Miller, aku menandatangani akta perdamaian, pak."
Diam.
Sungguh, kau lebih buruk dari Johnny.
Berhenti bergerak, kau bisa terkena pisau.
Nat. / "Kau bisa terkena pisau."
Bagus sekali, kan? / Bagus sekali.
Baiklah, ayo. Aku tak akan bercanda lagi. Lanjutkan.
Ow!
Ow. / Sudah hentikan.
Kau cengeng sekali.
Kau tak apa-apa? / Ya.
Hei, kau tak apa-apa? / Ya, aku cuma tak bisa tidur.
Aku tertidur, lalu terbangun lagi, kau mengerti?
Berulang seperti itu terus.
Aku akan mengantarnya hari ini.
Kau harus mengantarnya hari ini. / Emm.
Bicara pada gurunya.
Anak-anak pasti buat masalah.
Ya, kau harus bicara pada gurunya, lalu bicara pada ibu itu.
No comments yet. Be the first to leave one.