The first 183 lines.
Kenapa harus mengungkapkan hal ini sekarang?
Padahal hari ini hanya berniat,
membantu Mernes,
meningkatkan teknik komunikasinya di kamarku.
=I'M QUITTING HEROING=
=EPISODE 06 MENDENGARKAN KELUHAN HERO=
Kamu…
Kamu bilang ingin memusnahkan manusia, makanya bergabung di Pasukan Iblis.
Itu bohong, 'kan?
Aku pikir hal seperti ini hanya akan ditanyakan oleh Steina.
Tidak disangka kamu juga.
Bukankah kamu bilang berpikir dari sisi lawan
dan tanyakan pertanyaan yang mereka pikirkan?
Makanya aku berpikir dari sisimu,
dan menyadari satu hal.
Untuk memusnahkan manusia,
dapat kamu lakukan dengan kemampuanmu sendiri tanpa perlu bantuan Pasukan Iblis.
Hebat sekali.
Ternyata kamu telah dapat memikirkan sejauh ini.
Berarti kamu telah mahir teknik komunikasi.
Bagus. Aku akan serahkan sertifikat kelulusan untukmu.
Sertifikat…
Aku kasih kamu vocer makan di kantin saja.
Jangan mengalihkan pembicaraan!
Kenapa kamu tidak turun tangan sendiri?
Aku sendiri juga ingin tahu kenapa.
Jangan berpura-pura!
Kamu ini! Bahaya tahu?!
Memangnya kamu tidak kecewa?
Kamu telah melindungi mereka, namun malah dicampakkan.
Padahal kamu telah mempertaruh nyawa demi mereka.
Apa kamu tidak pernah berharap,
agar semua manusia mati saja?
Aku pernah.
Kamu juga telah mengetahui masa laluku, bukan?
Hanya tahu sedikit.
Kamu memiliki darah campuran setengah manusia setengah Iblis.
Kamu ditolak oleh ras manusia,
dibuang oleh orang tua dan dijual sebagai budak.
Hingga akhirnya dibeli oleh Guild Assassin.
Benar.
Bahkan orang-orang di guild,
menganggapku sebagai bidak yang dapat dibuang begitu saja.
Entah beruntung atau tidak,
aku telah bertahan hidup sebagai assassin.
Lebih baik kalian semua,
musnah dari hadapanku!
Makanya aku sangat menyambut kedatangan Pasukan Iblis.
Karena aku ingin semua manusia musnah.
Raja Iblis,
lapor!
Saat ini pintu gerbang telah terbuka tanpa alasan!
Apa?
Bagus! Jangan lewatkan kesempatan ini!
Semuanya serang!
Siap!
Aku telah bersihkan beberapa jalur,
dan diam-diam bantu mereka.
Namun...
Jangan takut! Aku tidak berniat membunuh kalian!
Targetku hanyalah Kota Holy, Leraje.
Sebagai markas Pasukan Iblis,
kami telah buat rencana untuk membangun ulang kota ini.
Pemimpin yang korupsi telah kami tangkap semua!
Ada banyak makanan di istana,
semuanya akan dapat bagian.
Mari, semuanya berbaris!
- Kenapa tidak bunuh mereka? - Jangan berebut…semuanya kebagian.
Padahal telah habiskan banyak waktu untuk menguasai kota.
Karena tidak mengerti,
aku diam-diam mendekati Echidna,
dan bergabung di Pasukan Iblis.
Akan lebih baik jika kita segera berangkat.
Kita akan berangkat besok.
Malam ini, penduduk kita mengundang kita makan bersama.
Terima kasih telah mengembalikan kedamaian di kota ini.
Terima kasih banyak.
Tidak perlu sungkan.
Kami hanya lakukan hal yang harus kami lakukan.
Ini enak sekali!
Ini juga enak!
Ada lagi yang ingin minum jus?
Sulit dipercaya...
Malah bersantai di tempat ini...
Aku bisa mengerti perasaanmu,
namun Echidna-sama memiliki alasan tersendiri melakukan ini.
Fokus prajurit telah menurun di perang berkepanjangan.
Dia melihat ini sebagai kesempatan,
untuk dapat lebih dekat dengan bawahan,
dan meningkatkan moral prajurit.
Moral?
Kamu benar-benar telah bekerja keras.
Ternyata Anda tahu ya...
Bodoh sekali.
Boss kita benar-benar unik.
Awalnya aku pikir Pasukan Iblis adalah organisasi kejahatan dengan tujuan memusnahkan manusia.
Iya, aku juga sama…
Makanya aku langsung menolak saat dia coba merekrutku.
Memang banyak manusia yang jahat,
namun dunia tidak akan musnah begitu saja.
Tapi, saat aku mengetahui jawabannya,
aku langsung berubah pikiran.
Lagi pula,
orang yang suka minum tidak ada yang jahat!
Benar sekali!
Mernes,
kenapa kamu ingin bergabung di Pasukan Iblis?
Mana mungkin aku bilang,
kalau aku ingin memusnahkan semua manusia.
tidak kenapa-napa.
Mernes, terima kasih telah bergabung dengan kami.
Aku sangat menantikan penampilanmu kedepannya.
Setelah kita mendapatkan Sage Stone,
dan membuat dunia Iblis terbebas dari peperangan,
aku harap kamu dapat ikut dengan kami.
Aku jamin kamu akan menyukai tempat tinggal barumu.
Aku tidur dulu.
Kamu mau tidur sekarang?
Aku masih ingin ngobrol sama kamu.
Sudahlah, tidak masalah.
Kalau memang tidak bisa, aku akan kalahkan Echidna
dan pimpin Pasukan Iblis untuk musnahkan manusia.
Kemudian aku jadi bagian dari Empat Raja Langit.
Pasukan Iblis yang gagah perkasa,
dengan mudah menguasai dunia manusia.
Hingga akhirnya,
muncul orang yang menghalangi semua ini.
Maksudmu aku?
Kamu masih ingat kejadian hari itu?
Aku sudah kalah. Cepat bunuh aku.
Jika tidak, suatu hari kelak aku akan musnahkan seluruh manusia!
Ekspresimu mengatakan kamu telah bosan hidup di dunia ini.
Lebih baik kamu lebih sering pergi melihat dunia.
Dunia?
Aku sudah muak melihat hal itu!
Ini dunia yang hancur,
tidak ada bagusnya sama sekali!
Kamu berpikir begitu karena kamu melihat dunia dari sisi assassin.
Pemandangan yang kamu lihat saat kerja,
dan pemandangan saat lakukan hal yang kamu sukai
itu sangat berbeda.
Ngomong saja gampang.
Iya, aku juga tidak begitu tahu.
Apa?
Intinya kamu masih memiliki kesempatan.
Kembalilah ke sisi Echidna,
dan lihat kembali semua yang pernah kamu saksikan.
Jika setelah itu kamu masih ingin mati, aku akan bunuh kamu.
Jika kamu berbuat jahat, aku juga akan bunuh kamu. Ingat itu!
Sampai jumpa!
Setelah mengatakan hal itu, kamu malah berhenti jadi Hero
dan ingin memusnahkan manusia?
Aku tidak dapat percaya.
Aku tidak peduli hidup mati manusia,
namun yang kamu rasakan…
Bagaimana mengungkapkannya...
Dendam pada manusia?
Ya.
Tampaknya bukan itu motifmu.
Jika tidak, kamu tidak mungkin mengatakan hal seperti itu.
Kenapa?
Bukankah wajar akan dendam jika dikhianati orang yang kamu percayai?
Kecewa dan dendam…
Dendam...
Kamu…
Dasar...
Banyak sekali yang aku sadari setelah bergabung di Pasukan Iblis.
Steina yang kupikir cerdas dan serba bisa,
ternyata hanya gadis biasa yang agak sinting.
Lily yang aku anggap polos dan liar, ternyata seorang anak yang baik.
Lalu anak ini juga,
awalnya aku pikir dia pembunuh yang kejam dan tidak berperasaan,
ternyata dia juga memiliki perasaan seperti anak seumurnya.
Lagi pula,
Dia tidak membongkar alasanku bergabung,
bukan karena dia tidak terima,
namun dari dasar hatinya,
dia mengerti rasanya ditolak oleh ras sendiri.
Hei, jangan menangis.
Nanti orang lain pikir karena aku.
Diam!
Aku akan dengarkan dengan serius,
jadi ceritakan semuanya padaku.
No comments yet. Be the first to leave one.