Malik & Elsa

Malik & Elsa

Download Indonesian Subtitle

Release info

Malik & Elsa 2020 1080p DSNP WEB-DL AAC2 0 x264-Imagine
A Commentary by LenteraMalam
Original sub

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
x264
1080
Published on: 2020-10-10
Downloads: 40
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Namaku Malik.

Aku sekarang sedang melangkah menuju kota Padang.

Namun dalam kesulitan ini, aku menyatakan ingin kuliah.

Tidak mudah untuk menjadi Malik di titik ini.

Karena aku adalah sosok yang selalu dianggap sebelah mata oleh lingkungan.

Nah, itu dia.

Dialah gadis keberuntunganku.

Hari itu, dia juga menatapku...

...seolah menjadi pertanda sebuah sambutan baik.

Kamu tahu tidak...

...alasan kenapa bangsa asing menjajah Indonesia?

Halo?

Kenapa? Tanya apa tadi?

Ya karena mau menjajah saja.

Aku serius.

- Aku juga. - Oke.

Jadi, menurutmu apa?

Ya karena mereka butuh rempah-rempah.

Mereka butuh cengkih. Mereka butuh lada. Makanya mereka menjajah Indonesia.

Hanya itu?

Ya?

Salah.

Kok salah?

Ada satu hal lagi yang jauh lebih penting.

- Apa? - Jengkol.

Apa? Kenapa Jengkol?

Ya justru itu yang keliru!

Guru di sekolah lupa kasih tahu.

Kamu saja yang salah dengar.

Oke. Gini deh.

Kamu pernah makan nasi pakai rempah-rempah atau dicampur kopi?

Tidak pernah.

Kalau Jengkol?

Ya, pernah lihat.

Nah, itu dia alasan yang lebih sah.

Kenapa penjajah datang ke Indonesia?

Karena mereka lapar, butuh makan.

Makan jengkol itu sangat enak, apa lagi dicampur rempag-rempah.

Sangat enak.

Jadi, jawabannya adalah Jengkol.

Benarkah?

Kenyataannya memang begitu.

Oke, sekarang aku yang menang.

Kamu harus traktir aku makan satu minggu ke depan.

Kenapa aku yang kalah?

Oh, ya. Kenalkan, namaku Malik.

Elsa.

Elsa Marimar.

Jengkol?

Ya, dialah Elsa.

Namanya terdengar lucu, tapi dia cantik.

Dan dia semakin cantik dan lucu...

...karena dia akan mentraktir aku.

Kita mau makan di mana?

Terserah.

Loh, yang laki-laki itu kamu atau aku?

Ya aku lah, tapi kan kamu yang traktir.

Jadi, aku yang menentukan?

Boleh.

Ya sudah.

Kalau makan makanan Eropa, mau?

Seperti steik rasa rendang?

Enak tuh sepertinya, boleh.

Ya pasti enak.

Ditraktir apa yang tidak enak?

Ya udah, nanti aku kasih tahu, ya?

Nanti di sana ada kafe yang lagi populer.

Oke.

Aku tidak makan, minum saja. Susu dingin, ya? Aku lagi diet.

Menu favorit di sini, apa ya?

Semua lima steik di sini favorit.

Tapi yang paling disukai steik rendang dengan sausnya.

Boleh, pesan itu satu.

Minumnya es teh manis dan susu dingin satu. Terima kasih.

- Silakan. - Terima kasih.

Kenapa steiknya tidak dimakan?

Malah melihat orang yang makan?

Aku sedang berpikir.

Doa makan steik itu sama seperti doa makan nasi?

Malik!

Kamu nih! Makan saja!

Permisi, boleh saya angkat?

- Silakan. - Boleh, Mbak.

Terima kasih, Mbak.

Kamu...

...manis juga kalau senyum.

- Telat. - Lebih baik telat daripada ga sama sekali.

Bukan terlambat itu.

Kamu orang yang kesekian kali yang bilang seperti itu ke aku.

Tapi aku berbeda.

Apa bedanya?

Kamu perempuan pertama yang aku bilang manis.

Jadi, kamu beruntung.

Terima kasih, Malik.

Kamu tuh, bener-bener, ya?

Bener-bener rakus.

Yang penting halal.

Kamu harus tahu, aku sangat lapar.

Sejak kapan menang taruhan halal?

Apa? Kamu mau marah?

Ya sudah. Aku tidak jadi traktir.

Nih.

Minta.

Siapa tahu ada junior kita di dalam.

- Bisa ospek lanjutan. - Sip.

Toilet di mana, ya?

Tuh.

Ya sudah, sebentar ya?

Kosong, Bos. Ayo pergi.

Elsa?

Liandra.

Ayo.

Ada apa?

Aku masih tidak menyangka kita satu kampus.

Ya.

Kemarin kamu tidak ikut ospek, ya?

Ya. Kemarin aku demam, jadi aku tidak ikut ospek.

Pantas tidak terlihat.

Tapi, tahun besok kamu ikut, ya?

Ya, Kak.

Sial.

Jangan-jangan Elsa belum bayar.

Apa aku harus cuci piring?

Permisi, ada yang bisa saya bantu?

Tidak ada, Uni.

Ya sudah, salam buat mama. Ya?

Permisi.

Kamu kenapa pucat?

Pucat? Tidak, aku tidak pucat.

Kamu dari mana?

Tadi aku beli tisu di kedai sebelah

Perut kamu gimana? Membaik?

Sudah. Biasa, terlalu kenyang.

Makanya, kalau makan jangan terlalu banyak.

Ayo, kembali ke kampus, Uni?

Kampus?

Terima kasih.

Kamu lupa?

Kita ada kelas Pengantar Linguistik Umum.

Oh, ya. Lupa.

Keberuntunganku berlanjut.

Dari menang tebak-tebakan, sekarang aku bisa mengenal Elsa.

Tapi aku pernah baca, yang menentukan kesuksesan itu bukan bakat.

Tapi kerja keras.

Sayangnya, hidup tidak sesederhana itu, Malik.

Tidak hanya dari bakat.

Aku ingin jadi guru. Tapi sedih jika diceritakan.

Apa lagi sekarang. Biaya kuliah mahal.

Biaya hidup semakin tinggi.

Satu negara bisa hancur kalau sampai gurunya tidak sejahtera.

Karena tidak bisa maksimal mencerdaskan anak bangsa, benar?

Tapi aku akan tetap jadi guru.

- Suatu saat nanti, gimana pun. - Benar kata pepatah Minang.

"Kita harus pandai jika hidup di rantau."

Aku mendukungmu.

Jadi, kamu sendiri ingin jadi apa?

Ya, yang jelas aku mau sukses, membahagiakan orang tua, dan...

Kamu asli Padang?

Ya, tapi keluargaku lama di rantau.

Kami baru pindah setahun lalu dari Medan.

Bisnis orang tuaku berkembang di sini dan tinggal di sini.

Sekalian menjagaku kuliah.

Kamu?

Aku dari Pasaman Barat.

Merantau ke sini tinggal di indekos.

Sendiri? Tidak ada saudara?

Anak tunggal.

Aku punya saudara laki-laki. Tapi di pesantren.

Oh ya? Jadi, jarang bertemu?

Sekali saja.

Kira-kira, kamu akan betah kuliah di sini?

Belum tahu, baru juga satu hari.

Menurutku, akan betah.

Kenapa begitu?

Kenapa kamu sangat yakin?

Karena ada aku!

Malik! Kenapa kamu sangat percaya diri?

- Jangan gengsi. - Gengsi? Biarin deh.

- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.

Lubis.

Bagaimana kuliah pertamamu hari ini?

Kata dosennya, setelah lulus dari sana, aku bisa bekerja di mana pun.

Dan gajinya selemari.

Seperti caleg, banyak janji.

Kau tidak boleh begitu pada dosen.

Mungkin, dia mau memberi motivasi.

Biar begitu, dia memberi ilmu pada kita.

Ya ampun, serius banget bapak satu ini.

Sudahlah!

Ini nasi untuk kamu.

Ini untuk aku.

Kamu sangat baik, Lubis.

Hanya nasi bungkus.

Tidak sebanding dengan semangat yang kau tularkan padaku.

Aku kagum padamu, mau hidup susah seperti ini.

Aku tidak ada pilihan lain, Lubis.

Kalau aku tidak seperti ini...

...aku tidak akan sampai di titik ini.

Ibu sudah berpulang saat aku masih kecil.

Aku hanya tinggal bersama ayah di Pasaman Barat.

Malik & Elsa subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Malik & Elsa

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left