The first 200 lines.
SEMUA TOKOH, LOKASI, ORGANISASI, KEJADIAN, DAN KELOMPOK ADALAH FIKSI
AKTOR ANAK DAN HEWAN DIREKAM DALAM KONDISI AMAN
Seperti inilah hariku.
Kesehatan, kecantikan,
dan Bellissimo.
Semoga harimu seindah Bellissimo.
FINAL WANITA 50 M SENAPAN 3 POSISI JI HAN-NA MAJU
Kami siarkan secara langsung
dari Final Wanita 50 M Senapan 3 Posisi.
Ji Han-na dari Korea sedang memasuki arena.
Dia sudah menyabet emas di 10 Meter Senapan Angin.
Jika dia menyabet emas lagi kali ini,
dia akan menjadi peraih emas dobel dalam tiga kompetisi berturut-turut.
-Sungguh rekor yang mengesankan. -Benar.
Kami sangat menantikan untuk melihat apa dia akan memecahkan rekor dunia.
Menurut analisis riset ekonomi,
tiap tembakan yang Ji Han-na lakukan
-bernilai melebihi satu miliar won. -Astaga.
Dia benar-benar bernilai.
-Ini mengagumkan. -Ya.
-Dia pasti akan menyabet emas. -Benar.
Rekor dunia sudah di depan mata.
Bagus sekali.
Itu tembakan yang bagus.
Isi peluru untuk tembakan berikutnya.
Mulai.
Semoga sukses pada babak terakhir bagi Ji Han-na dari Korea.
Lima.
Empat.
Tiga.
ATLET YANG BERHARGA
Kau orangnya.
-Siapa kau? -Kurasa kau tahu.
Sudah kubilang, aku petugas kepolisian.
Petugas Yoon Dong-ju, Kepolisian Metropolitan Insung.
Petugas Yoon Dong-ju, Kepolisian Metropolitan Insung.
Kau sudah lupa?
Aku ingat kau
dengan sangat jelas.
Pelaku tabrak lari sialan.
Sepertinya ada kesalahpahaman.
Ini kali pertamaku melihatmu, Detektif.
Kali pertamamu?
MIN JU-YEONG BEA CUKAI INSUNG
Hei.
DIVISI PENGAWASAN PETUGAS BEA CUKAI MIN JU-YEONG
Lihat ini. Masih kali pertamamu?
Ini ulahmu. Lihatlah.
Lihat!
Ada apa denganmu?
Permisi. Kau kira apa yang sedang kau lakukan?
-Lepaskan aku. -Yang benar saja!
Hei, kau sebaiknya mengingat siapa tepatnya diriku.
-Pergilah saja. -Ingat diriku.
-Lepaskan aku! -Diam dan pergilah.
Ingat diriku!
Kau dengar, Pelaku Tabrak Lari?
Dia memang tidak lazim.
Terima kasih.
Sekarang bagaimana? Komisaris mengatakan apa?
Dia mengeluhkan timmu.
Dia tak bisa membubarkan TIKK,
tapi juga tak mau memamerkanmu.
Ini memusingkannya.
Bagaimana dengan Ji Han-na?
Statusnya ditangguhkan. Tapi jika dia keluar, tak bisa dicegah.
Pengunduran dirinya jangan diproses dahulu.
Aku akan menemuinya nanti.
POLSEK SEOBU, INSPEKTUR SENIOR KANG
Hei, ada apa?
Yoon Dong-ju?
Hei.
Ini ulahmu. Lihatlah. Lihat!
Permisi. Kau tak boleh melakukan ini.
-Keluarkan dia. -Lepaskan aku!
Kenapa kau terus memelorotkan celanamu di mana-mana?
Kau suka pamer ketelanjangan?
Kemari, Mesum!
Masalah kita bukan itu.
Sudah kubilang, itu orang yang sama.
Ini buktinya!
Cukup. Naikkan celanamu.
Bukti apa? Kau mau mengirim pantatmu ke Badan Forensik Nasional?
Itu ide bagus. Kukirimkan fotonya saja, ya?
Foto tak memadai. Biar kukelupas.
Menurutmu, Kak Jae-hong?
Aku tak yakin.
Dia tampak seperti PNS biasa.
Itulah maksudku.
Apa maksudmu?
Pegawai bea cukai, PNS tingkat tujuh…
Berkaitan dengan pembunuhan, bos geng, dan penjahat Korea-Cina berpisau.
Aneh, bukan?
Kau yang aneh.
Semua itu hanya dugaanmu. Kau tak punya bukti.
Karena itulah harus kita selidiki!
Mari kita kirimkan fotonya ke BFN.
Kak Jae-hong, potretkan sebelum bukti ini memudar.
Buat fotonya, lalu rekamannya.
Apa kau melihatnya?
Ada dua, atau tiga garis? Atau satu?
-Kurang jelas. -Lihat bagian atas.
-Jijik. Lakukan di tempat lain. -Tak menjijikkan.
Hei.
Ada keperluan apa, Sersan Kim?
Bagaimana lukamu? Aku mengkhawatirkanmu.
Kau tak melihat dia sehat?
Dokter mengatakan aku baik-baik saja,
tapi aku tak merasa begitu.
Aku hanya lega kau tak terluka.
Aku bukan ingin membesar-besarkannya,
tapi faktanya tetap bahwa aku menyelamatkanmu.
Aku berterima kasih untuk itu.
Cukup. Kemarilah.
Astaga, lihat ini.
Meja ini cocok untuknya.
Kaulah pelengkap yang tepat untuk TIKK.
Bagaimana jika kau bergabung di tim kami
sebagai balasan atas pertolonganku?
Wah, Kapten…
Bagaimana jika makan malam tim nanti dijadikan pesta penyambutan?
-Keduanya sekaligus. -Kapten…
Sersan Kim, kau menyukai apa? Daging sapi?
Aku menentang.
-Makanlah yang kubayar, Berandal. -Tidak.
Siapa mengatakan dia boleh bergabung?
Meski kau yang kapten, jangan membuat keputusan sendiri.
Setiap anggota tim harus ikut menentukan.
Aku menentang. Kau juga, bukan, Kak Jae-hong?
Aku tidak keberatan.
Apa?
Baik.
Han-na dan aku menentang. Berarti dua melawan satu.
Dari mana kau tahu opini Han-na?
Aku tentu tahu opininya.
Dia berkata tak mau bergabung.
Berhentilah memohon. Kau tampak putus asa.
Bagaimana jika aku mau?
Apa? Sungguh?
Kau boleh berbuat sesukamu.
Kenapa dia boleh berbuat sesukanya?
Karena dialah Sersan Kim.
Yang benar saja. Dia sama sekali tak membantu.
Dia hanya mahir main pedang seperti bocah dan mematung dalam situasi nyata.
Apa kau ingin menguji sendiri…
apakah aku memang mematung?
Ayo.
-Di mana? -Di sini.
-Kapan? -Sekarang.
Aku tak bisa dikalahkan dengan pukulan macam itu.
Pandangan periferalku 180 derajat.
Aku tahu dari mana tiap pukulan…
-Kita harus menonton ini. -Bukankah harus dilerai?
Lepaskan aku.
RUANG LATIHAN
Bagaimana? Siap bertinju serius sekarang?
Sempurna. Suasana hatiku memang buruk.
Ayo bertinju.
Jika kau menang, kau boleh bergabung, sesukamu.
Itu terserah kepadaku.
Jika aku menang, hentikan nada kasualmu.
Katakan itu setelah kau menang.
Pertarungan besar seperti ini tak selalu ada.
Dung-ju versus Jong-hyeon.
Siapa yang akan menang?
Apa pun divisi kalian,
aku yang membayar makan malam tim nanti, maka bertaruhlah!
Aku menjagokan Sersan Kim Jong-hyeon.
Hanya ada satu goresan di wajahnya setelah kalahkan geng itu.
Aku menjagokan Sersan Kim. Lima banding satu.
Ayolah. Seperti ucapan Petugas Yoon.
Bertinjulah dalam perkelahian tanpa senjata.
Dialah juara tinju Asia. Menyabet medali emas pula.
-Benar. Kita melihat kejadiannya. -Justru itu.
-Kau benar. Kita melihatnya. -Ya, benar.
-Aku juga. -Kita semua melihatnya.
Aku menjagokan Sersan Kim.
Bagaimana denganmu, Kapten?
Kim Jong-hyeon, atau Yoon Dong-ju?
Aku?
Sudah jelas, bukan?
Aku memilih pihak ini.
Nyeri?
Tapi itu gerakan kecil.
-Aku tak apa. -Senang mendengarnya.
Lihatlah dirimu.
Gerakanmu lincah.
Sersan Kim Jong-hyeon.
Dia anggota cadangan timnas taekwondo SMA.
-Dong-ju, kau baik-baik saja? -Apa…
-Apa-apaan? -Apa yang terjadi?
Sial, seharusnya tak kuganti.
-Dia kalah? -Sial!
Tadi itu tidak adil.
Dia seharusnya mengatakan pernah mengikuti taekwondo.
Bedebah licik itu.
Kau tadi menjanjikan daging sapi, bukan gopchang.
Ini mahal, Berandal!
Benarkah?
Enak.
No comments yet. Be the first to leave one.