Rebecca

Rebecca

Download Indonesian Subtitle

Release info

Rebbeca (1940) Bluray Kookie
A Commentary by Kapten Kooky
IDFL™ SubsCrew

Tags

BluRay
Published on: 2015-11-05
Downloads: 99
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Diterjemahkan oleh Kapten Kooky IDFL™ SubsCrew

Tadi malam, aku bermimpi datang lagi ke Manderley.

Aku berdiri di depan gerbang besi yang mengarah ke jalan masuk,

Untuk sementara waktu, aku tak bisa masuk, aku tertahan.

Kemudian, seperti semua pemimpi,

tiba-tiba kekuatan gaib merasukiku.

Dan bisa melewatinya seperti roh melalui gerbang itu.

Jalan masuk terbentang di hadapanku.

Berkelok-kelok dan memutar seperti biasanya.

Tapi saat aku berjalan,

aku sadar ada satu perubahan.

Alamnya sudah seperti semula, dan sedikit demi sedikit...

...aku berjalan semakin jauh melalui kelokan jalan itu.

Semakin jauh kulewati jalanan yang dulunya jalur kita.

Dan akhirnya, terlihat Manderley.

Manderley, menyimpan rahasia serta kesunyian.

Waktu ternyata tak merusak simetri sempurna dinding-dindingnya.

Cahaya bulan bisa memainkan nuansa aneh di atas kemewahannya,

Dan tiba-tiba tampak terlihat ada cahaya dari jendela.

Kemudian awan menyelimuti bulan.

Dan melayang seketika seolah tangan gelap menutupi wajah.

Ilusi pun terjadi.

Aku memandang rumah terpencil itu.

Tanpa bisikan masa lalu lewat dindingnya yang terbentang.

Kami takkan pernah bisa kembali ke Manderley lagi.

Itu sudah pasti.

Tapi terkadang dalam mimpiku, aku kembali...

...di mana hari-hari yang aneh dalam hidupku...

...yang dimulai ketika aku sedang di Prancis Selatan.

Jangan! Berhenti!

Kenapa kau berteriak?

Siapa dirimu? Apa yang kau lihat?

Maaf, aku tak bermaksud menatapmu, tapi, aku hanya berpikir...

Oh, tapi benar, bukan? Lalu, sedang apa kau di sini?

Hanya sedang berjalan-jalan.

Kalau begitu, lanjutkan saja. Jangan berteriak-teriak di sini.

Aku takkan pernah mau lagi ke Monte Carlo di musim seperti ini.

Tak satu pun yang kukenal di hotel ini.

Ya ampun. Pelayan!

Garcon! Panggil dia. Katakan padanya untuk ambilkan aku beberapa...

...Wow, itu Max de Winter.

Apa kabar?

Aku Edythe Van Hopper. Senang sekali berjumpa denganmu...

...di saat aku mulai putus asa mencari teman lama di Monte ini.

Silahkan duduk dan minum kopi.

Tn. De Winter akan minum kopi bersamaku.

Pesanlah pada pelayan bodoh itu secangkir lagi.

Sepertinya aku berpikiran lain.

Kalian berdua akan minum kopi bersamaku.

Garcon. Tolong kopinya.

Rokok? / Tidak, terima kasih.

Kau tahu, aku tahu itu dirimu ketika kau masuk...

...meski aku belum melihatmu lagi sejak malam di kasino Palm Beach itu.

Mungkin kau takkan ingat wanita tua sepertiku.

Apa kau akan pasang banyak taruhan di Monte ini?

Tidak, aku khawatir hal semacam itu tak lagi bisa menghiburku tahun lalu.

Aku mengerti.

Seperti aku, andaikan punya rumah seperti Manderley,

Aku pasti takkan pernah datang ke Monte.

Kudengar itu adalah salah satu tempat terbesar di wilayah itu,

Dan kau pasti takjub melihat kecantikannya.

Apa pendapatmu tentang Monte Carlo? Atau sama sekali tak terpikir olehmu?

Ya, sepertinya itu memiliki nilai seni.

Dia anak manja, Tn. De Winter, itulah masalahnya.

Kebanyakan gadis pasti mau mengunjungi Monte.

Bukankah itu agak berbelok dari pembicaraan?

Sekarang kita sudah bertemu lagi, kuharap bisa melihat sesuatu darimu.

Kau harus datang dan bersedia minum di suite-ku.

Kuharap mereka memberimu kamar yang bagus.

Tempatnya kosong, jadi jika tak merasa nyaman, pikiranmu pasti terganggu.

Pasti sudah disediakan oleh pelayanmu, bukan begitu?

Sepertinya tidak. Mungkin kau bersedia melakukannya untukku?

Ya, Aku... Tak terpikirkan olehku...

Mungkin kau bisa membuat dirimu berguna untuk Tn. De Winter...

...jika dia menginginkan sesuatu.

Kau anak yang mampu dalam segala hal.

Saran yang menarik, tapi sepertinya aku berpegang teguh pada pepatah lama,

"Dia pasti dapatkan perjalanan tercepat jika bepergian sendiri."

Mungkin kau belum pernah dengar hal itu. Selamat malam.

Apa maksudmu?

Apa menurutmu keberangkatan tiba-tiba diartikan sesuatu hal yang lucu?

Ayo, jangan duduk bengong begitu, ayo ke lantai atas.

Kau pegang kuncinya? / Ya, Ny. Van Hopper.

Aku ingat, ketika masih muda, ada seorang penulis terkenal...

...yang sering langsung menghampiri setiap kali melihatku datang.

Kukira dia jatuh cinta padaku dan tak yakin pada dirinya.

Baiklah, c'est la vie.

Omong-omong, Sayangku, jangan berpikir aku tak bermaksud baik,

kau hanyalah gadis kecil jika dibandingkan Tn. De Winter.

Upayamu ikut dalam pembicaraan membuatku cukup malu,

Dan aku yakin dia juga malu. Pria benci hal semacam itu.

Ayolah, jangan merajuk. Setelah semua ini, aku bertanggung jawab atas perilakumu.

Mungkin dia tak menyadarinya.

Kasihan, kukira dia masih belum bisa menerima atas kematian istrinya.

Mereka bilang bahwa dia begitu memujanya.

Oh, canggung sekali diriku.

Hal bodoh yang kulakukan. Oh, aku sungguh menyesal.

Tak usah repot. Bukan hal penting.

Biarkan saja, tak apa-apa. Tolong bereskan saja mejaku.

Mademoiselle ini akan makan siang bersamaku. / Oh, itu tak mungkin.

Kenapa tidak? / Oh, maksudku jangan terlalu bersikap sopan. Aku...

Kau sangat baik, tapi aku baik-baik saja jika mereka ganti taplak mejanya.

Aku bukan bersikap sopan.

Hanya ingin bertanya jika kau mau makan siang bersamaku

Bahkan jika bukan karena vas bunganya tersenggol.

Ayo.

Kita tak perlu bicara satu sama lain bila perlu.

Baiklah, terima kasih banyak.

Oh, aku minta orak-arik telur.

Oui, Mademoiselle.

Temanmu kenapa? / Masih berbaring, terkena demam.

Aku menyesal begitu kasar padamu kemarin.

Satu-satunya adalah karena aku sudah terbiasa hidup sendiri.

Belum tentu. Kau hanya ingin sendirian dan...

Apa Ny. Van Hopper itu temanmu atau sekedar relasi?

Bukan, dia majikanku. Akulah yang disebut dengan "pendamping bayaran."

Aku tak tahu persahabatan bisa dibeli.

Menurutku kata "pendamping" yang ada dalam kamus.

Disebutkan, "Seseorang yang dijadikan teman."

Tak mengherankan kau dapat hak istimewa seperti itu.

Tentu, dia benar-benar baik, lagipula aku harus mencari nafkah.

Kau punya keluarga?

Tidak. Ibuku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,

Dan ketika hanya ada ayahku, beliau meninggal musim panas lalu.

Lalu kuambil pekerjaan ini.

Sungguh memprihatinkan.

Ya, begitulah, kami bisa hidup bersama.

Kau dan ayahmu?

Ya. Beliau memang menyenangkan, tak seperti orang lain.

Apa pekerjaannya? / Seorang pelukis.

Apa ayahmu hebat?

Mungkin sepertinya begitu, tapi orang-orang tak memahaminya.

Ya, masalah sering terjadi.

Beliau melukis pohon. Setidaknya, salah satu pohon.

Maksudmu, ayahmu melukis pohon yang sama lagi dan lagi?

Ya. Beliau punya teori bahwa jika kau ingin temukan satu benda sempurna...

...atau tempat atau orang, maka kau harus fokus padanya.

Menurutmu itu benar-benar konyol?

Tidak sama sekali. Aku sendiri percaya hal itu.

Dan apa yang kau lakukan sementara ayahmu sedang melukis pohonnya?

Ya, aku ikut duduk lalu kubuat sketsa. Tapi hasilnya tak bagus.

Kau mau buat sketsa sore ini?

Ya.

Di mana? / Entahlah, masih belum terlintas dalam pikiranku.

Aku akan mengajakmu berkendara ke suatu tempat.

Oh, jangan, kumohon, aku tak bermaksud...

Oh, sudahlah. Selesaikan dulu makan siangnya, lalu kita pergi bersama.

Terima kasih. Kau sangat baik, tapi aku tak begitu lapar.

Ayolah. Makanlah seperti seorang gadis yang baik.

Kau sudah cukup lama membuat sketsa itu.

Aku berharap hasilnya benar-benar punya nilai seni yang bagus.

Oh, jangan dilihat. Gambarnya tak begitu bagus.

Tapi belum tentu hasilnya jelek. Jangan hapus gambarnya.

Coba kulihat dulu.

Tapi, cuma gambar perspektif. Hasilnya tak pernah bagus.

Biar kulihat dulu. Astaga.

Katakan, apa itu merupakan perspektif jika menggambar hidung anehku...

...yang memutar di tengah?

Sebenarnya, kau bukan subjek yang mudah untuk dibuat sketsa...

Ekspresimu terus berubah sepanjang waktu.

Benarkah?

Baiklah, aku akan konsentrasi pada pandangan sebaliknya, jika jadi dirimu.

Jauh lebih bernilai.

Ini mengingatkanku pada pantai di tempatku. Kau tahu Cornwall?

Ya, aku pernah berlibur ke sana sekali dengan Ayahku. Pernah sekali ke toko,

dan kulihat kartu pos bergambar rumah yang indah, di pinggir pantai.

Kutanya itu rumah siapa, lalu wanita tua itu menjawab, "Itulah Manderley."

Aku jadi malu karena tak tahu.

Manderley memang indah.

Tapi bagiku, itu hanya tempat di mana aku dilahirkan...

...dan jadi rumah sepanjang hidupku.

Tapi sekarang, tak kusangka bisa melihatnya lagi.

Kita beruntung tak sedang di kampung halaman selama cuaca buruk, bukan?

Sepertinya tak yakin bisa menikmati berenang di Inggris sampai Juni, benar?

Air begitu hangat di sini, aku bisa tinggal sepanjang hari.

Di sana ada arus berbahaya, pernah ada seseorang tenggelam tahun lalu.

Aku tak pernah takut tenggelam. Bagaimana denganmu?

Ayo, kuantar kau pulang.

Oh, ya, aku kenal baik Tn. De Winter. Aku juga kenal istrinya.

Sebelum menikah, dia adalah si cantik Rebecca Hildreth

Dia tenggelam, sungguh malang, ketika sedang berlayar di dekat Manderley.

Tentu saja dia tak pernah bicarakan hal itu, dia pria yang putus asa.

Sebaiknya kuminum obatnya sekarang.

Barang celaka! Beri aku cokelat, cepat!

Oh, rupanya kau di sana. Waktunya tepat.

Cepatlah. Aku mau bermain kartu Remi.

Dia si cantik Rebecca Hildreth.

Mereka bilang dia begitu memujanya.

Dia si cantik Rebecca Hildreth.

Sepertinya dia tak bisa menerima kematian istrinya.

Dia si cantik Rebecca Hildreth.

Tapi dia pria yang putus asa.

Bonjour.

Kau mau ke mana? / Aku mau ikut pelajaran tenis.

Oh begitu.

kau pasti bertemu seorang pro, dan dia sangat tampan.

Dan kau jadi seperti anak sekolah yang naksir padanya.

Baiklah. Lanjutkan. Nikmati saja permainannya.

Sedang bebas tugas?

Demam Ny. Van Hopper berubah jadi flu,

More Indonesian subtitles for Rebecca

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left