スライム倒して300年、知らないうちにレベルMAXになってました
The first 182 lines.
Iya, begitu.
Ah, huruf yang itu kelebihan titik.
A-Aku tahu, kok!
Tulislah dengan hati yang tenang.
Iya, tahu. Biar kutulis dulu sendiri.
Bagus, bagus!
Pelan-pelan saja menulisnya.
Sudah jadi! Benar begini, kan!
Tapi, kalau begitu jadinya "apil", bukan "apel".
Be-Benar! Aku sedang mengetes kalian!
Ternyata kalian bisa sadar.
Kalau begitu ayo latihan sekali lagi!
Iya, baiklah.
Bagus sekali.
Putriku seakan bertambah satu.
Aku ini bukan putrimu, Azusa!
Jangan bicara ngawur begitu.
Sifatnya yang suka melawan juga manis sekali!
Habisnya Falfa dan Shalsha terlalu penurut.
Sekarang Mama mau mencuci dulu, kalian belajar yang rajin, ya.
Baik!
Tuang detergen spesial buatan puan sihir.
Datanglah, wahai angin!
Hyat! Peras airnya!
Lalu dijemur.
Praktis, praktis.
Bunda.
Shalsha?! Ada apa?
Shalsha ingin mengajukan proposal.
Oh, proposal apa?
Selama ini aku dan Kakak sudah belajar secara mandiri.
Dengan bertambahnya Sandra,
aku merasa ada perkembangan baru dalam belajar kami.
Di situlah aku berpikir.
Secara penampilan, aku, Kakak dan Sandra masihlah anak-anak.
Dengan berada di lingkungan berisi banyak anak-anak,
kupikir akan lebih banyak hal yang bisa kami temukan.
Maksudnya, kamu ingin bersekolah?
Iya.
(Tanpa Sadar Levelku Mentok Setelah Membasmi Slime Selama 300 Tahun - Kedua)
Namaku Falfa, salam kenal!
Aku Shalsha, saudara kembar Kakak.
Aku Sandra.
Kalian yang rukun dengan teman baru, ya.
- Baik! - Baik!
Aku datang karena khawatir.
Mereka bertiga bisa berbaur tidak, ya?
Langsung saja dari soal ini.
Bu! Sudah selesai!
Wah, cepat sekali.
Lalu selanjutnya...
Iya! Sudah selesai!
Eh? Cepat sekali.
Kalau begitu...
Sudah selesai!
Be-Berarti selanjutnya...
Sudah selesai!
Bagaimana kalau ini?!
Sudah selesai!
Tidak mungkin! Ini soal tingkat universitas, lo!
Kalau cuma begini, enteng untuk Kakak.
Dia genius.
Gila.
Dalam artian lain malah tidak berbaur.
Shalsha, oper sini!
Baiklah.
Shalsha, operannya pelan saja biar bisa ditangkap temanmu.
Mengatur tenaga itu sulit sekali.
Dasar barbar.
Gila banget kecepatannya.
Mereka juga jago olahraga?
Di sini mereka juga mencolok dengan buruk.
Halah, paling cuma kebetulan.
Jangan cuma dioper, langsung lempar sini!
Baiklah.
Tu-Tunggu dulu, Shalsha!
Shalsha hebat!
Jangan lempar bolanya ke dia!
Incar anak lain yang lemah saja.
Oke, kuincar dia saja!
Terima ini!
Ah, Sandra!
Bahaya!
Menyelam ke dalam tanah?
Sandra?
Apa, sih?
Wah, keren!
Bagaimana caranya?
Aku juga mau coba!
Sandra juga menarik perhatian, tapi kayaknya, tidak apa-apa?
Ada kejadian seperti itu.
Sekolah sampai jadi gempar.
Mama Yufufu dengar tidak?
Iya, kudengarkan, kok.
Lalu, setelah kelas Falfa dan Shalsha selesai...
Karena sudah tidak ada yang bisa diajarkan ke Dik Falfa dan Dik Shalsha,
jadi mereka akan diluluskan.
Teman-teman, belajarnya asyik sekali!
Aku telah mendapat banyak pelajaran
dari kebebasan anak-anak yang tidak bisa hanya dipelajari dari bangku sekolah.
Memang tidak ada pilihan lain.
Sayang sekali.
Aku diberi tahu kalau cuma Sandra mungkin masih bisa mereka urus.
Tapi Sandra sayangnya cuma mau dekat denganku, Falfa atau Shalsha.
Mungkin nanti saja saat dia lebih terbuka.
Benar juga.
Ah, jalan pikiran putriku memang sulit dimengerti.
Sini, Azusa, sudah jadi.
Wah, kelihatannya enak!
Mumpung Azusa mampir kemari, jadinya kubuat lebih niat dari biasanya.
Ayo dimakan.
Iya! Selamat makan!
Enak!
Ini rasa rumahan!
Sudah seperti rasa buatan ortuku!
Mama Yufufu memang mama banget!
Aku juga senang disebut mama sama Azusa.
Ini betulan enak, lo.
Mama, jamur ini namanya apa?
Rasanya sudah lama aku tidak memakan ini.
Itu jamur gnome.
Teksturnya renyah jadi asyik dimakan, bukan?
Jamur gnome?
Rasanya pernah dengar...
Aduh, aduh, kamu malah jadi comel begitu.
Pantas saja aku seperti kenal rasanya.
Dulu pernah kumakan dan jadi perkara besar.
Maaf, ya.
Seharusnya kupastikan dulu kalau dimakan akan membuat manusia jadi anak-anak.
Yah, aku tahu cara mengobatinya, jadi kurasa tidak masalah.
Hei, Azusa, untuk sementara, mau tidak menganggapku sebagai mamamu betulan?
Eh, selama ini aku juga sudah menganggap sebagai mama betulan, lo.
Tapi cuma sekadar seorang putri yang pulang ke rumah mamanya, kan?
Kalau sekarang, kita seperti bunda dan putri kecilnya.
Tapi...
Tadi kamu bilang tidak mengerti perasaan Falfa dan Shalsha, kan?
Jadi, bagaimana kalau kamu mencoba jadi putri Mama?
Itu memang ide yang bagus.
Wah, maaf.
Aku lupa aku ini roh tetes air.
Jangan bilang Mama Yufufu aslinya cuma ingin jadi mama dari gadis kecil?
Ketahuan?
Aduh, dasar.
Oh, iya.
Kalau begitu, aku punya satu permintaan lagi.
(Tanpa Sadar Levelku Mentok Setelah Membasmi Slime Selama 300 Tahun - Kedua)
Wah, Nona Azusa!
Mbakyu jadi kecil lagi, ya!
Imutnya!
Biar kupeluk sini!
Ih, lepaskan aku!
Aku ingin Sandra juga jadi putri Mama.
Tentu saja boleh.
Dik Sandra, salam kenal.
Aku harus apa memangnya?
Anggap saja Mama Yufufu ini mamamu.
Mama?
Aku tumbuhan, jadi tidak terlalu mengerti.
Hei!
Tidak usah memikirkan apa-apa, kamu bermanja saja pada Mama, Sandra.
Mama, ya.
Terasa menenangkan, mungkin tidak buruk juga.
Ditambah lagi...
Aku bisa menyerap cukup air dari Mama, enak sekali.
Tumbuhannya sedang menyerap tetesan air.
Kalau begitu Mama akan menyiapkan makan malam.
Kamu main sama Kakak, ya.
Kakak?
Ya, terserah, aku akan main denganmu.
Dia adik yang tidak tahu diri.
Mau main rumah-rumahan?
Aku jadi tukang sepatu kota, ya.
Kalau begitu aku jadi pohon cedar besar.
Boleh-boleh saja, sih.
Ah, hari ini capek banget.
Pergi ke tempat pohon cedar besar di pinggir kota, ah.
Dilihat kapan pun, besar sekali cedar ini.
Sudah berapa lama pohon cedar ini tumbuh di sini, ya?
Anu, kamu bisa ngomong sesuatu?
Kenapa pohon cedar harus ngomong?
Tumbuhan itu tidak bisa bicara, lo.
Kalau begitu main rumah-rumahannya tidak jalan, dong
No comments yet. Be the first to leave one.