The first 200 lines.
Aku yakin itu saja.
Tunggu, ada satu hal lagi.
Peralta memberiku catatan sebelum rapat.
Tulisannya jelek, tapi kurasa tertulis,
"Tanyakan apa ada yang punya min anus."
Itu "pengumuman", dan kami punya.
Cara datang yang hebat!
Amy dan aku punya berita besar untuk dibagikan.
- Aku hamil. - Kami hamil!
Kejutan.
Apa? Kukira kalian akan lebih senang.
Charles tak pingsan.
Maaf, akan kucoba.
- Tak bisa. Aku tercekik. - Siap.
Rosa. Maaf, kami ikut senang,
tapi kami juga mungkin sudah tahu.
Kau gagal menyembunyikannya.
- Kenapa kau sering bawa kotak itu? - Aku suka kotak ini.
Kenapa kau baca koran dua tahun lalu?
Aku suka edisi ini.
Kenapa kau mengenakan itu?
Aku suka penampilan ini.
Baiklah, kalian sudah tahu.
Bagus. Tapi aku yakin kalian tak tahu anak kami kembar.
Tidak. Hanya satu.
Aku hanya ingin melihat Charles pingsan.
Jake.
Aku senang kau punya anak.
Terima kasih. Jumat depan, kami adakan pesta pengungkapan.
Aku pernah lihat di Amsterdam.
Aku tak akan mengundang kerabat.
Kenapa? Tidak.
Pesta mengungkap jenis kelamin bayi dengan cara mengejutkan.
Berharaplah anak perempuan.
Ayah Peralta tak akur dengan anak lelaki.
Kenapa? Itu tak benar. Lihat kita. Kita lebih baik kini.
Tahun ini, kau ingat bulan lahirku.
Hubungan kita baik, tapi sejujurnya,
- itu mungkin salah. - Senang mendengarnya.
Begitulah keadaannya. Ini kutukan keluarga.
Aku dan ayahku belum bicara sejak kau 10 tahun.
Ayahnya meninggalkannya di Pekan Raya Dunia.
Ayahnya kabur ke Amerika setelah menenggelamkan ayahnya di sumur.
Astaga.
Baik, ya, ada sedikit pola.
Tapi kita tak dikutuk. Kita akur.
Aku yakin kau bisa akur.
Laksamana? Aku selalu berharap bisa berdamai dengannya kelak,
tapi dia tak akan mau.
Aku bisa bilang apa? Kita tak ditakdirkan punya anak lelaki.
- Ada iblis dalam gen kita. - Judul video seksmu.
Tidak, judul video seksku
"Kokpit Larry dan Pramugari Angkasa.
- Apa? - "Stewardae."
Kata jamak untuk pramugari.
Ya, baiklah.
Asisten Jaksa Kurm, apa kabar?
Kau ingin jawaban tentang istriku meninggalkanku,
atau hanya, "Baik, apa kabar?"
- Yang terakhir? - Bagus, apa kabar?
Baik, kenapa kau di sini?
- Pembobolan rumah di Carroll Street? - Ya, jendela pecah, merampas TV tua.
Rumah itu milik teman wali kota.
Aku tak tahu kasus ini prioritas.
Akan segera kuperiksa.
Bagus, hubungi aku jika ada sesuatu.
Ya. Baik.
- Astaga, mimpi buruk. - Setuju.
Dia kacau. Kau tahu umurnya 24 tahun?
Tidak, kasus Jalan Carroll. Aku tak sadar wali kota tertarik,
dan kurasa aku melakukan hal buruk.
Kau memberi Hitchcock dan Scully kasus penting?
Baik, ini kuenya.
Merah muda, perempuan. Biru, laki-laki.
Kenapa kau tampak sedih?
Karena menurutku lebih baik babi panggang, kita mulai memakan moncong,
dan jenis kelamin bayi terungkap di alat kelaminnya.
Ya, Amy juga mau, tapi aku tidak.
Aku dapat pesan.
"Sampai jumpa, Pak." Tebak siapa itu.
- Elton John. - Apa?
- Kau bilang "Pak," itu salahmu. - Dari kakekku, Laksamana.
- Kau menghubunginya? - Ya, dia menuju ke apartemenku.
Akan kubuat dia dan ayahku akur. Pasti mengharukan.
Pasti. Kau cocok jadi produser Ellen.
Sunguh? Karena aku punya ide untuk segmen ubah rumahmu jadi rumah hantu.
Aku menyebutnya "Bedah Ekstrem: Edisi Tulang."
- Tapi, tak perlu. Aku suka jadi polisi. - Dan jago.
Aku akan menemui kakekku.
- Asyik! Terry bermain seruling. - Di kantor.
- Memangnya kau William Wonka? - Tidak, ini urusan polisi.
Pemain seruling band NYPD pensiun, dan aku ikut audisi untuk menggantikannya.
Kapten Holt, kau suka musik. Bisa beri petunjuk?
Lebih baik tidak. Musik mereka buruk.
Bulan lalu, mereka menampilkan Sousa di pemakaman perwira yang gugur.
Orang-orang merasa ngeri, mereka menangis.
- Atau menangisi mendiang. - Tidak, dia tak populer.
Band membuat mereka menangis.
Singkatnya, aku tak menghargai musiknya, jadi, aku bukan guru yang tepat. Maaf.
Hei, Kakek.
Perhatian!
Istirahat di tempat. Aku hanya bercanda.
Aku kakekmu, bukan komandanmu. Ayolah.
- Jabat tanganku. - Baik. Masuklah.
Sudah cukup lama, ya?
- Ya. - Kau masih nonton kartun kadal karate?
Kura-kura Ninja?
Ya. Baru-baru ini ada seri baru.
Mereka membuat kisah Splinter dan Krang.
- Tapi, aku sudah dewasa. Apa kabar? - Aku? Kurasa aku…
- Kakek? - Apa?
- Aku hanya bertanya kabarmu. - Tajam seperti biasa.
- Ya - Aku senang kau menghubungiku.
Sama, karena aku akan punya anak,
aku mulai menyadari betapa pentingnya hubungan ayah-anak-kakek.
Yang mengingatkanku, ayahku juga akan datang.
Benarkah? Aku terkejut dia mau menemuiku.
Dia tak tahu kau di sini.
Mungkin bagus mengejutkan kalian.
Kau tahu orang yang merasa kejutan bagus?
Laksamana Yamamoto, dan kita semua tahu apa yang terjadi.
- Apa? - Pearl Harbor.
Pearl Harbor, benar. Kejutan bisa buruk.
Tapi ini tidak. Ini pasti bagus, seperti…
- Pertempuran Midway. - Perjalanan Durbay. Bersamaan.
Itu ayahku.
Ini pasti luar biasa.
- Hei, Jakey. - Roger Peralta.
Bersiap untuk berpelukan dan menangis. Inilah ayahmu.
Ayah, dasar bajingan!
- Tak kusangka kau memukulku. - Maafkan aku.
Wajahku nyut-nyutan. Nugget dinosurus.
- Kenapa ayahku di sini? - Katamu kau mau berdamai.
Maksudku setelah dia mati.
Aku berencana berdiri di makamnya dan berteriak, "Aku memaafkanmu."
Kesempatan datang lebih cepat. Dia terus menatap ke angkasa.
Itu trik lama.
Kapan pun tak mau bicara, dia pasti begitu. Bajingan tua.
Aku tahu kau tak menyukainya,
tapi bisakah kau setidaknya bersikap baik padaku?
Baik. Aku akan bersikap baik.
Kuharap kau mati, Bajingan!
Katamu mau bersikap baik.
Aku berbohong agar bisa bilang "bajingan".
- Ayah! - Baik.
Cucumu ingin kita berdamai.
Jadi, apa kau minta maaf sudah jadi ayah terburuk dalam sejarah?
Lebih buruk ayah yang merantai anak di rubanah?
- Tidak. - Ini salahnya. Aku sudah berusaha.
- Kau tak berusaha. - Kau tak mengerti. Dia kejam.
Saat aku SMA, aku hampir mati. Dia bahkan tak menjenguk.
Baik, mungkin mulai dengan meminta dia minta maaf.
Tidak, dia yang harus minta maaf karena dirawat di rumah sakit.
Aku mulai melihat kejamnya.
Dulu, dia punya kapal. Itu sangat berarti baginya.
Dia menamainya "Walter".
Dia anak yang tak pernah kumiliki.
Aku anak yang kau miliki!
Suatu hari aku mengendarai Walter Junior.
Aku mencoba memukau salah satu gadis danau.
Sebelum bertemu ibumu, aku gila wanita.
Ya, itu berlanjut setelah lama bersama ibu.
- Dia selalu bodoh. - Saat itu gelap.
Aku menabrak dermaga. Aku terbangun di rumah sakit.
- Bagaimana gadisnya? - Lentur. Dia bisa taruh kaki…
Tidak, setelah kecelakaan.
Benar! Tidak. Dia tak terluka, syukurlah.
Tapi aku dirawat tiga minggu, dan Laksamana Sialan tak pernah menjenguk.
Sudah kuperingatkan jangan bawa perahu keluar.
Kau berbuat salah, terima konsekuensinya.
- Aku putramu! - Walter juga putriku.
Kalian berdua, hentikan.
Kalian seperti anak-anak.
Cukup, jika kalian begini, aku akan bersikap seperti orang tua.
- Menangis dengan Pembalasan? - Ya.
Ini buku Bruce Willis tentang pengasuhan.
Dan kita akan membacanya.
Aku baru ditelepon lagi oleh asisten jaksa paling malang.
Dia masih kesal.
-Hitchcock dan Scully punya? - Sulit.
Berkas mereka berisi banyak dokumen tak terkait kasus.
Banyak menu?
Surat berhenti dari TJ Maxx.
Pengajuan paten ganda untuk "sepatu bantal".
Permohonan untuk berbagi waktu di "Figi".
- Maksudmu Fiji. - Bukan, "Figi" dengan G.
Mereka ditipu.
Tunggu. Ini bagus. Ada saksi yang melihat semuanya.
Mengenali pencuri, bahkan menjelaskan mobil itu
sampai bumpernya penyok. Kita hebat.
Ya, tapi Hitchcock dan Scully lupa menulis nama atau kontaknya.
Apa? Tidak, itu gila.
Mereka tak akan sebodoh itu.
Bodoh? Permisi.
Aku tak butuh ini. Aku bisa berada di pantai Figi sekarang.
Untuk ke pengadilan, kita butuh saksi untuk bersaksi.
Tapi kini, kita tak bisa menghubunginya.
Jadi, tak ada kasus. Kenapa kalian tak mencatat kontak saksi?
Tidak seperti kalian, kami tak bekerja "sesuai aturan."
- Kami punya aturan. - Dan kami dapat hasil.
No comments yet. Be the first to leave one.