The first 200 lines.
Semua tokoh hanyalah fiksi tanpa memiliki kemiripan apa pun
Adanya kesamaan hanyalah kebetulan semata
Rambutmu lembut dan berkilau, keanggunanmu menawan!
Sayang, kenapa malu? Tidak perlu! Tunjukkanlah!
Rambutmu lembut dan berkilau, keanggunanmu menawan!
Sayang, kenapa malu? Tidak perlu! Tunjukkanlah!
Ayo, bebaskan pikiranmu, beri aku satu tanda
Untukmu, hatiku tertuju
Kuingin jadi milikmu, janganlah buang waktu!
Kau merenggut hatiku
Aku tergila-gila padamu
Matamu membius
Sayang, kuingin menciummu selalu, bagaimana pun caranya!
Matamu membius
Sayang, kuingin menciummu selalu, bagaimana pun caranya!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Bolehkah aku berserah dan jatuh di pelukanmu
Keberadaanmu telah membuatku hidup
Aku ingin terjerat dalam sisi misteriusmu
Aku ingin hidup dan mati bersamamu!
Hei, kau gadisku! Ayo, mendekat ke tubuhku
Hei, kau gadisku! Ayo, wanita seksi
Kau merenggut hatiku
Aku tergila-gila padamu
Matamu membius
Sayang, kuingin menciummu selalu, bagaimana pun caranya!
Matamu membius
Sayang, kuingin menciummu selalu, bagaimana pun caranya!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Kuingin menciummu selalu! Kuingin menciummu selalu!
Halo. Ya, Pak.
Baik, Pak.
Sameera, Pak J.J. telah mengikat Nona Asha untuk film berikutnya.
Aku yakin kau senang.
Bicaralah tentang dia dengan hormat.
Aku wanita biasa. Aku bisa memanggilnya sesukaku.
Permisi! Sekarang kau asisten sutradara kedua.
Hormati para seniman. Berikan nomor Pak Sharman.
- Kau tahu, Rohit... Tolong aku! - Tentu.
Aku sudah menulis semua dialognya. Dengarkan ini.
"Pak Chauhan, aku benci memanggilmu ayah!"
Bagaimana? Sudah kubilang!
- Sudah kubilang. - Ini dari Pak J.J.
Ya, J.J. Kau sedang apa? Katakan!
- Lama! Dasar tidak berguna. - Maaf, Pak.
Ya. Katakan.
Begitu rupanya. Itu berita bagus. Selamat.
Baiklah. Jaga dirimu.
Akhirnya, aku syuting bersama Asha.
Tapi Pak Moorthy, produsernya, adalah pria yang kikir!
- Kenapa kau setuju? - J.J. mengontrak Asha.
Kau tahu? Ada daya tarik alami di tubuhnya.
Asha juga...
Halo.
Pak, aku Asisten Sutradara J.J., Sujal.
Sampaikanlah.
- Kita pergi tanggal 5. - Baiklah.
Pak J.J. telah menemukan lokasi yang mengejutkan.
Siapa sutradara laga untuk film itu?
- Halo. - Pak Raka. Ini Sujal.
- Katakan. - Beri tahu aku jika kau lowong.
- Dari tanggal 5 hingga 26. - Sujal!
- Selalu mepet! - Mau bagaimana lagi.
- Pak J.J. baru saja mengabari. - Baiklah.
- Siapa aktornya? Apa? - Sharman.
Sharman Kapoor! Dari semua aktor!
Dia bahkan tidak pantas menjadi artis junior.
- Aku tidak bisa berbuat apa-apa. - Ya. Siapa juru kameranya?
Shaky, bukan?
Berkatilah kami, Tuhan. Semoga bahagia menyertai.
- Berkatilah kami, Tuhan. - Sujal menelepon.
Nona Asha, Sujal di sini, asisten sutradara Pak J.J.
- Tanggal sudah ditetapkan. Ya. - Untuk pernikahannya.
Dari tanggal 5 hingga 26. Lokasinya hutan yang jauh.
- Tujuan bulan madunya. - Tidak, Bu!
Itu bukan untukmu. Baiklah.
Akan kukabari. Baik. Terima kasih.
- Kau tak bisa diam? Gadis gila! - Diam!
Pak Sutradara, bisa selesai dalam 15 hari di sini?
Kau lebih ingin melihat bagian akhirnya.
Kami di sini untuk syuting film, bukan membuat Taj Mahal.
DVD dan CD sedang populer sekarang.
Setiap film akan didaftarkan dalam sejarah.
Generasi masa depan akan menontonnya.
Ayolah!
Ucapanmu tidak masuk akal!
Zaman sekarang, acara pertama pun tidak ditonton dengan antusias.
- Pemirsanya melamun! - Lupakan film-film itu!
Dia membuat klaim tinggi!
Maksudku yang ini. Film ini...
- ...akan abadi. - Benarkah?
- Kau terlalu optimis. - Aku tahu.
Aku mengatakan hal yang sama tentang film terakhir.
- Tanggal rilisnya belum resmi. - Begitu juga klimaksnya.
- Itu bisa terjadi. - Aku tahu. Ini pesawatnya.
Mega bintang Bollywood, Sharman Kapoor!
Ini lokasi yang belum terjamah! Kau tak bisa cari aktor lain?
Dia akan menyiksaku. Jika dia melakukan itu...
...aku tidak akan membiarkannya! Aku serius!
Selamat datang, Pak.
- Selamat, Pak. - Untuk apa?
- Perjalanan aman dan nyaman! - Apa maksudmu?
- Mungkinkah pesawatnya jatuh? - Jangan bilang begitu!
- Tempat apa ini? - Bandara.
- Kutampar kau! Apa aku buta? - Tidak, Pak.
- Ini bandara yang buruk! - Benarkah?
Aku sudah meminta izin khusus untuk membawamu kemari...
- ...dengan penerbangan. - Pesawatnya buruk!
Sharman.
Menyebutnya "buruk" itu klise.
Selamat datang, Bu. Selamat datang!
Kau tampak cantik! Di mana buketnya?
- Bawa ke sini. - Apa yang harus kulakukan?
Biarkan saja. Seberapa jauh lokasinya?
Akan butuh tiga jam. Kita akan tiba dalam waktu singkat!
- Bagaimana caranya? - Aku tahu kau menyukai alam!
- Urus kostumnya. - Tentu, Bu! Tim Kostum!
Sujal.
Sujal. Aku sudah bicara soal dialog Hindi-ku.
Hanya ada bahasa Inggris.
Tidak, Bu. Yang bahasa Hindi setelah dialog bahasa Inggris.
Maaf. Aku belum memeriksanya.
Gadis bodoh! Dia tidak memeriksanya secara menyeluruh.
Ayolah! Dia tidak sengaja melewatkannya!
- Itu wajar. - Kau selalu membelanya.
Aku tahu yang kau tulis untuknya.
Jangan bicara omong kosong, Sameera.
Dia pemeran utama wanita dan aku hanya asisten sutradara.
Hei! Lakukan dengan benar.
- Tentu, Pak. - Biarkan saja. Sudah.
Kau lihat itu? Dia aktor yang buruk.
Dia pikir dia bintang.
Raka, dia bermain di tiga film blockbuster. Dia orangnya.
Tidak masalah bagaimana caranya.
Tidak semua pria sukses itu efisien!
- Apa ini? - Bus.
- Kutampar kau! Aku tidak buta! - Astaga!
Apa ini lelucon?
Astaga!
Kau tahu siapa aku? Aku Sharman Kapoor.
Kau membawakanku bus! Aku seorang bintang!
Dengar, Pak Jalan yang harus kita lalui...
...sangat bergelombang.
Tidak ada mobil yang bisa lewat. Jadi, tak ada pilihan.
Seharusnya aku tidak menerima tawaran ini.
- Astaga! - Kau hanya ingin menghemat uang!
Aku Sharman Kapoor. Aku akan kembali ke Mumbai.
Tidak boleh!
- Bisa hentikan aku? - Astaga!
- Tiga hari tanpa penerbangan. - Apa?
Ya. Dua penerbangan setiap pekan.
Ini omong kosong! Kau telah menjebakku.
- Aku tidak mau berada di sini! - Mau bagaimana lagi, Pak.
Aku produsernya. Lokasinya adalah pilihan sutradara.
Aku produser emas dengan ponsel emas.
- Keputusannya sangat mahal. - Lihat aku, Sharman.
Lihat aku! Saat kau melihat lokasi di layar...
...kau akan menyesal bersikap seperti ini.
- Kau mungkin mau tetap di sana. - Hasil akhir yang penting.
Kak Sharman, bersikaplah sportif. Jangan selalu merengek.
- Lihat busnya, Asha. - Lihat, kita sudah sampai.
- Ya. Tapi... - Aku yakin lokasinya bagus.
- Bagus. - Baik. Jika kau bilang begitu.
- Kenapa kau memanggilku "Kak"? - Kenapa, Kak?
Jangan lagi! Kita pasangan di film.
Kenapa kau harus memanggilku begitu?
Itu peran kita, Kak Sharman.
Astaga! Hentikan! Panggil aku Sharman. Itu nama yang manis!
Sharman! Jangan panggil aku kakak.
- Jangan panggil begitu. Aku... - Kenapa?
Aku punya penjelasan logis.
Caramu memanggilku akan merusak romansa di layar.
Itu mungkin memengaruhi penampilan kita.
Panggil aku Sharman. Aman dan sederhana! Sharman!
- Selendangnya. - Ya. Ini dia.
Terima kasih.
Mereka mengobrol. Sesuatu sedang dipupuk.
- Gadis itu mudah meyakinkannya. - Bicarakan dia dengan hormat.
- Dia memanggilnya kakak, bukan? - Itu semua pura-pura.
- Mereka ingin menipu kita. - Kenapa begitu?
- Kau salahkan dia tanpa alasan. - Kau sangat berprasangka!
- Diam! - Diam!
- Lakshman! - Ya, Pak.
- Ambilkan aku air. - Ini dia, Pak.
- Aku selalu minta untuk dibuka. - Ya, Pak.
Maaf, Pak.
Astaga! Luar biasa! Bagus sekali!
Ini lokasi terbaik di dunia! Hebat!
- Apa lagi sekarang? - Hotelnya.
Aku akan memberimu satu! Apa ini cukup?
Hanya ini yang ada di sini.
Setu sudah mengaturnya untuk kita.
- Ukurannya kecil. - Ini...
Pak Sharman, dia Setu, raja hutan.
No comments yet. Be the first to leave one.