The first 200 lines.
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
Angin bertiup di lautan, mendorong kapal melaju.
Ia meluncur di atas ombak dengan layar yang terkembang...
Bukan begitu, terlalu cepat.
Begini...
Kereta salju melaju, salju pun berterbangan,
Tsar Saltan sedang bergegas pulang.
Melewati lembah, perbukitan, dan hutan pohon birch,
melintasi sungai-sungai yang membeku.
Tak terasa, senja pun menjelang.
Cahaya siang mulai meredup,
Tsar memerintahkan mencari tempat bermalam.
- Tukang ngelamun! -
Sedang apa kau di sini?
Dia lagi-lagi melamunkan seorang pangeran.
Iya!
Menunggu dia datang menjemputnya dengan kuda putih lalu menjadikannya istri.
Sst!
Lihat dulu dirimu sendiri,
dasar dekil.
Mana mungkin ada pangeran yang menginginkanmu. Sama sekali tak berguna.
Sst!
Sudah, berhenti melamun.
Lebih baik kerjakan sesuatu.
Baik, Ibu.
Permisi!
Ada orang di rumah?
Siapa pula yang datang malam-malam begini?
Kurang ajar kau bilang "siapa pula".
Kenapa malah tidur?
Tsar akan singgah di rumah kalian.
Astaga...
Tsar?
Astaga!
Tsar datang!
Tsar datang!
Tsar! Tsar sudah tiba!
Tsar sudah tiba!
- Porfiry! - Ya?
Masih tidur juga? Cepat siapkan roti dan garam!
- Tapi malam-malam begini aku harus... - Cari di mana pun! Yang penting cepat!
Tidak setiap hari Paduka Tsar berkunjung. Dunya, Manya,
pakai baju terbaik kalian! Sambut Paduka Tsar!
Cepat!
Kalau kau...
Kemari!
Kubilang kemari!
Dasar bodoh...
Sekarang pergi dari hadapanku.
Jangan sampai aku melihat atau mendengarmu, paham?
Pergi!
Bagus.
Sambut Paduka Tsar!
Kenapa kau berdiri di sana, gadis cantik?
Kemarilah.
Mendekatlah, gadis cantik.
Bukan kau.
Kau.
Siapa namamu, gadis?
Annushka.
Hmm...
Pergilah.
Kenapa kau berdiri di pintu, Paduka Tsar?
Masuklah, duduklah...
Santaplah apa yang Tuhan berikan.
Ah, sudah larut.
Kita bermalam di sini, lalu melanjutkan perjalanan untuk urusan kita.
Baik.
Atau tinggal saja.
Tempat kami menyenangkan.
Ada hutan, sungai, jamur, buah-buahan.
Yang terakhir itu tidak perlu.
Atau apa maksudmu?
Apa kau ingin Paduka Tsar tinggal di sini sampai musim panas?
- Lalu siapa yang akan mengurus kerajaan? - Ah, wanita yang lucu.
Van, jangan emosi.
Sudah makan?
Saatnya beristirahat.
Benar, Paduka Tsar. Sudah waktunya tidur.
Nah, ceritakanlah, bagaimana keadaan alam di tempat kalian?
Ah, Paduka Tsar, alam di tempat kami sungguh luar biasa.
Dan gadis-gadis seperti apa yang tumbuh di alam seindah itu...
Kau sendiri sudah melihatnya. Sudah melihat putri-putriku?
Masing-masing lebih cantik dari yang lain.
Ya, tapi entah kenapa putri-putrimu itu tidak terlalu mirip.
Maksudmu bagaimana?
Manya maupun Dunya...
Cantik dan sehat.
- - Yang ketiga?
Siapa?... Oh...
- Annushka? - Ya.
Dia bukan putriku.
Dia hanya anak yatim yang kutampung.
Maksudku, anak tiriku.
Dasar bodoh! Aduh, mulutku ini.
Sudah malam, waktunya tidur.
Wah, aku jadi tak bisa tidur.
Bayangkan saja, Tsar ada di rumah kita.
Memangnya kenapa? Kau suka padanya?
Mau menikah dengannya?
Memangnya kenapa kalau iya?
Siapa tahu aku juga mau.
Kenapa memang?
Mahkota permaisuri pasti cocok untukku.
Seandainya aku menjadi permaisuri,
akan kuadakan pesta untuk seluruh negeri.
Untuk seluruh ibu kota.
Bukan cuma ibu kota, seluruh kerajaan.
Bahkan setiap bulan akan kuadakan lagi, biar semua iri.
Seandainya aku menjadi permaisuri,
akan kutenun kain terbaik untuk seluruh negeri.
Kalau aku jadi permaisuri, semua harus memakai pakaian dari negeri seberang.
Dan harus selalu mengikuti mode terbaru.
Seandainya aku menjadi permaisuri,
aku akan melahirkan seorang putra perkasa bagi Paduka Tsar.
Agar ia tumbuh menjadi pemberani, bijaksana, dan kuat.
- Kuat! - Bijaksana!
Dengan ibu sepertimu, paling-paling anakmu cuma jadi orang bodoh.
Putra perkasa, katanya!
Annushka, kenapa kau bersembunyi di sana?
Kemarilah.
Mau ikut denganku?
Ke mana?
- Ke istana. -
Kau akan menjadi permaisuri,
dan musim gugur nanti melahirkan putraku.
Yang bijaksana dan pemberani.
Mau ikut?
Ya, Paduka Tsar.
Kalau begitu, pergilah.
Bergantilah.
Kok bisa begitu?
Gimana bisa? Ya begitulah.
Mungkin kedua gadis ini juga kita bawa sekalian?
Bagaimanapun mereka saudara.
Bukan saudara kandung.
Saudara tiri, maksudku.
Ada yang kau sukai?
Ada, Paduka Tsar.
Yang mana?
Aku belum memutuskan.
Ah, Ivan...
Baiklah, bawa saja keduanya.
- Tapi... - Cepat tentukan pilihanmu. Jangan lama-lama.
Terima kasih, Paduka Tsar. Pasti akan kupilih.
Baiklah, kalian berdua juga bersiaplah.
Kalian ikut bersama adik kalian.
- Baik. - Kau akan kupercayakan mengurus dapur.
Dan kau akan membuat pakaian untuk para bangsawan istana.
- Baik... - Lalu aku, Paduka Tsar?
- Berangkat. - Berangkat.
Porfiry,
setelah kami pergi,
lepaskan anjing-anjingnya untuk mencegah para penyamun mendekat.
Jaga rumah ini. Sementara aku mengurus urusan kerajaan di istana.
KISAH TSAR SALTAN
Tunggu!
Tsar Saltan duduk di pesta pernikahannya bersama sang permaisuri muda.
Senyum yang manis, bodoh!
Semoga bahagia selamanya.
Terima kasih.
Kakak-kakakku tersayang, aku bahagia sekali.
Jadi, sudah kauputuskan siapa yang kau suka?
Belum, Paduka Tsar.
Padahal dia bisa menikahiku...
Kenapa harus menikahimu? Bisa saja denganku.
Lebih baik denganmu,
daripada dengannya.
Tak apa-apa.
Giliran kita juga akan tiba.
Tinggal menunggu saja.
Sudah, jangan senyum-senyum terus.
Makan lagi saja...
Apa yang kamu lakukan, hah?
Pahit (Cium)!
Cium!
Cium!
Cium! Cium! Cium!
Cium! Cium!
Cium! Cium! Cium!
Cium! Cium! Cium!
Cium!
Di dapur, sang juru masak dipenuhi amarah,
sementara sang penenun menangis di alat tenunnya.
Mereka iri kepada permaisuri.
Sedangkan sang permaisuri muda,
mengandung sejak malam pertamanya.
Ada apa, sayangku?
Aku merasa takut.
Gelisah.
Seolah badai akan datang.
Gawat, Paduka Tsar!
Negeri kita diserang musuh!
Perang.
Lalu apa yang akan terjadi sekarang?
Semuanya akan baik-baik saja.
Ingat, aku mencintaimu.
Kembalilah.
Aku akan kembali.
No comments yet. Be the first to leave one.