The first 200 lines.
IN BETWEEN
Tidak!
SAATNYA PERGI
Aku sekarat.
Aku memikirkan apa yang paling aku inginkan sebelum aku mati.
Dan itu adalah melupakanmu.
Jika ingatan itu seperti cucian, maka aku bisa membersihkanmu.
Kau mencoba memotong jalanku.
- Kau yang memotongku. - Tidakkah kau melihatku?
Kau bahkan tidak memberikan peringatan.
Pinggirkan kendaraanmu. Kami sedang lakukan tugas negara.
Diam kau.
- Menunduk. - Sial.
Jalan. Cepat. Jalan.
Lepaskan anak itu.
Ibu.
Jalan. Sekarang.
Jalan. Kau mau mati?
Ya, benar. Kau seharusnya memohon untuk minta bantuanku.
Katakan "Tolong aku. Aku ingin tetap hidup."
Maka mungkin aku akan menolongmu.
Aku menikmati melihat laut sejak aku kecil.
Ini menenangkan. Mungkin itulah kenapa aku jadi teman sekapal.
Saat itu aku takut karena pertama kalinya aku di lautan.
Dia seperti samudera.
Aku takut padanya tapi tidak bisa pergi tanpa melihatnya.
Aku tidak bisa hidup tanpanya.
Samudera..
Seperti itu.
Diam.
Diam? Apa maksudmu? Aku dalam masalah.
Aku hampir orgasme, sial.
Maafkan aku. Maafkan aku.
Aku minta maaf. Maafkan aku.
Tolong jangan bunuh aku.
Sayang.
Ayah.
Aku sedang tidur dan dia datang dengan pisau mencoba memperkosaku.
Apa yang kau lakukan?
Ayah? Ayah?
Ayah. Ayah.
Ayah. Bangun.
Ayah. Bangun.
Ayah.
Bangunlah.
Jika kau ingin membunuhnya, lakukan. Aku akan membantumu.
Orang yang menghancurkan hidup orang lain tidak pantas hidup.
Kau.. Kau sangat berbeda.
- Di mana kau melihatnya? - Aku melihatnya di sana.
Cepat cari dia.
Nyonya, kau baik saja?
Bagaimana penampilanku? Tadi aku membeli ini.
Apa kau tidak enak badan?
Aku sedang sekarat.
- Bagaimana kau bisa.. - Sudah kubilang aku tak takut mati.
Haruskah aku menyetir?
Tidak bisa. Di dalam film selalu tawanan yang menyetir.
Kenapa mobil ini berwarna merah?
Kenapa? Aku hanya menyukainya.
Suamiku melarangku untuk menyetir.
Tetapi aku belajar menyetir secara diam-diam.
Sejak itu aku bermimpi akan kabur dengan mobil merah.
Suatu hari aku menyadari darah dalam tubuhku tidak lagi merah.
Jadi aku pikir aku harus punya mobil merah.
Apa masalahmu?
Pulanglah.
Ada apa?
Tolong pulanglah.
Apa kau mulai takut?
Aku tidak bisa tahan dengan wanita gegabah sepertimu.
Kau juga sakit dan pingsan. Aku tidak mengabaikan itu.
Aku tidak bisa mati seperti ini.
Aku tidak bisa melakukan apa yang aku rencanakan karena kau.
Itu yang aku khawatirkan.
- Itu saja yang mau kau katakan? - Ya.
Ya, itu membuatku jauh lebih lega.
Kau mau pergi ke mana? Ambil mobilnya.
Tolong pulanglah ke rumah.
Pergilah ke rumah sakit di Seoul.
Itu saja?
Jangan bersikap baik di depanku.
Aku akan lebih menderita berjuang untuk hidup.
Aku mungkin ingin hidup jika kau terus melakukan ini.
- Jangan menyerah. - Bagaimana denganmu?
Kau bisa hidup.
Kau seperti pembunuh keji dan bilang agar aku tidak menyerah?
Kau takut mati.
Aku takut tapi..
Aku tidak punya pilihan.
Berengsek kau.
Dasar berengsek.
- Dasar berengsek. - Dasar berengsek.
Kurasa mobil ini juga kelelahan. Dia butuh istirahat.
Ini bukan mobilku.
Kau bisa mencium bau laut?
Sepertinya kita sudah dekat.
Apa ini jalan yang benar?
Aku tidak begitu tahu. Berapa lama lagi kita harus berjalan?
Apa kau lelah?
Aku takut jalan ini tidak akan ada ujungnya.
Naiklah.
Kau ringan sekali seperti anak kecil.
Saat hati semakin berat, tubuh semakin ringan.
Jika aku lebih ringan lagi, mungkin aku bisa terbang.
Terima kasih. Aku tidak berpikir bisa digendong oleh seseorang.
Istirahatlah.
Aku takut akan bermimpi jika aku tertidur.
Aku mungkin memimpikan anakku dan membuatku ingin hidup.
Sudah kukatakan aku akan lebih menderita berjuang untuk hidup.
Kalau begitu bernyanyilah.
Bernyanyi?
Saat sang ibu pergi menyelam untuk mendapatkan mutiara.
Sang anak sendirian menjaga rumah.
Apa rencanamu?
Berhenti berkeliaran.
Aku akan pergi ke sana untuk sementara.
Kau akan merindukanku. Malam ini kita harus bersama.
- Kau mau apa? - Kau punya apa?
- Hampir semuanya. - Tidak hanya teh, bukan?
Apa?
Berapa hargamu? Atau aku harus izin dulu?
Apa?
Kenapa, apa karena aku seorang wanita?
Melihat dari usiamu, kau bukan tipe pemilih.
Pria mungkin tidak akan melihatmu mudah dan menarik.
Atau mungkin aku harus mencari jauh ke dalam pegunungan.
Wanita kurang ajar.
Maaf aku menyinggungmu. Aku orang yang blak-blakan.
Ada apa?
Aku ingin santai dengan segelas teh tetapi di sini terlalu berisik.
- Berhenti di sana. - Jangan begitu.
Dia sama seperti suamiku.
Bisa tersenyum setelah menyakiti orang lain.
Mereka pantas mati.
Tetapi apa dengan membunuhnya bisa menyembuhkan lukamu?
Kenapa kau tidak melupakannya dan pergi jauh?
Ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenalimu.
Ayahku tuli dan bisu.
Dia juga tidak berpendidikan.
Saat aku mulai belajar menulis di sekolah...
...kupikir aku bisa mengobrol dengannya karena dia bisa melihat.
Aku lari ke rumah dengan gembira.
Tetapi saat ayahku melihat tulisanku...
...wajahnya menjadi merah dan tidak tahu yang harus dilakukan.
Setelah itu aku menyerah untuk berkomunikasi dengan ayahku.
Dasar wanita jalang.
Kau bilang kau sakit? Kalau begitu mati saja.
Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa lari dariku.
Aku mengerti mereka yang tidak bisa menghadapi rasa sakit.
Kau bisa melupakanku jika kau mau.
Kau bisa melupakan semua tentangku jika itu yang kau mau.
Jika kau ingin melihat sinar matahari...
...keluarlah dari gua yang gelap.
Baiklah. Lautan?
Aku tak tahu sejak kapan tetapi ayahku mulai belajar menulis.
Kurasa hal itu sangat mempengaruhinya.
Pria yang kaku.
Saat dia meninggal...
...dia menggunakan jari dan darah...
...dan menulis di tanah.
Aku baik-baik saja. Jangan menangis.
Pada saat dia mati di tanganku...
...hal itu yang ditulis.
"Aku baik-baik saja. Jangan menangis."
Aku tidak akan menyerah.
Tapi kau harus pulang ke rumah.
Kumohon.
- Lihatlah keluar. - Kau membuatku gila.
Aku mendengar sesuatu.
Mendengar apa? Telinga dan mataku normal.
Aku sedang tidak menunggu siapa pun.
Kau mulai gila. Siapa yang datang di jam seperti ini?
Kau tidak mendengar apa pun?
Mungkin itu hanya tikus.
- Benarkah? - Ya.
Kita baru saja membeli obat yang mahal.
Ayo kita selesaikan yang tadi. Sekarang.
Kau menyebalkan.
- Ayo. - Tunggu. Tunggu.
Aku melihat sesuatu.
Ayolah. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Kau serius? Apa itu?
Apa itu? Siapa kau? Apa itu?
Siapa kau?
Aku minta maaf. Tolong maafkan aku.
Aku mohon padamu. Maafkan aku. Semua ini salahku.
Hentikan.
Dia tidak pantas mendapatkan itu.
- Kenapa kau ke sini? - Kau masih punya kesempatan.
Kenapa?
- Kau tidak harus mati. - Aku tidak peduli.
Kumohon turunkan pistolnya.
Kau tidak bisa membunuh. Kau tidak bisa jadi pembunuh.
Kurang ajar.
Tidak. Tidak.
Kenapa kau melakukan ini? Kenapa?
Pada akhirnya aku akan mati.
Ini belum saatnya kau mati.
Kau tidak bisa mati.
- Aku ingin melihat laut. - Kumohon jangan pergi.
No comments yet. Be the first to leave one.