The first 200 lines.
Anak-Anak,
Bapak minta kalian tampil maksimal kalau mau ngalahin Aurelita lagi di final.
Pasti mereka akan nyerang habis-habisan, dan kita ada di wilayah mereka. Jadi,
jangan mikir ini bakal mudah cuma karena kita pernah ngalahin mereka sekali.
Bapak minta kalian semua main yang bagus. Jadi, sekarang pulang, istirahat.
Kita ketemu besok.
Ayo, Guys. Ayo kita pulang. Semangat, Guys.
Makasih, Coach.
Oke.
- Gimana, Coach, peluang kita? - Kalau kondisi Dylan
fit, kita bisa menang.
Bapak nggak tahu gimana sebetulnya ayahnya bisa bujuk Kepala Sekolah buat
masukin dia kembali ke tim, tapi jujur, Bapak lumayan lega. Sejak kamu nggak ada,
cuma dia yang kita punya.
Aku sering bantuin ayahku ngatur booth makanan,
jadi aku bakal dateng sekitar jam 2.
Oke. Mungkin aku bisa bantu nunjukin tempatnya.
Eh, nggak usah. Kami bisa. Ayahku udah ngatur semuanya. Aku cuma kayak cadangan
doang, sih.
- Oke. Kalau gitu, kita pergi bareng, Grace. - Iya. Uh, sebenernya aku harus duluan
buat nyiapin undian gereja.
Aku bisa bantuin. Jam berapa?
Relawannya, sih, udah banyak. Kita ketemu di sana aja, ya?
Sekali-kali kamu harus santai.
Oke.
Lagi kenapa, sih?
Kayaknya aku cuma lagi nyari distraksi aja. Besok pagi aku ujian nyetir,
dan aku gugup banget. Kali ini aku harus lulus.
Pasti. Semua bakal lancar.
Semoga aja.
Oke. Aku duluan, ya.
Eh, ikut, dong.
Oke. Yuk.
Kamu pasti bisa, Jackie.
- Dah. - Bye-bye.
Ada catatan, nggak?
Kamu tahu, nggak, Walter?
Kamu udah kayak penunggang kuda beneran.
Aku kagum.
Apa aku, um, udah bisa buat tryout besok? Aku beneran butuh uang sponsor.
Iya. Aku nggak bakal kasih kalau nggak yakin. Ini masalah reputasi aku.
Kamu udah banyak kemajuan, Alex Walter.
Yah…
Yah… Semuanya itu berkat kamu, kan?
Emang, sih, aku yang ngajarin, tapi kamu yang kerja keras.
Latihan berjam-jam dari subuh. Aku bisa ngelatih kamu seharian,
tapi kamu sendiri yang bikin lebih baik. Dan itu udah kamu lakuin.
Kok kesannya kayak perpisahan, ya?
Kalau ayahku jadi sponsor kamu besok, aku nggak akan jadi pelatih kamu lagi.
Kocak banget itu tadi.
Eh, Guys… Nanti aku nyusul kalian, ya.
Kok kamu masih di sini?
Lagi nyelesaiin ini buat dijual di Sparkle besok.
Lucu.
Jadi, masih nggak mau ngomong sama aku, nih?
Aku harus bilang apa, Dylan?
Kamu pikir aku seneng kamu nyoba curang di tes narkoba terus nyuruh ayah kamu
nyogok pihak sekolah?
- Dia nggak nyogok pihak sekolah. - Dia beresin semua masalah kamu, kan?
Aku putus asa. Oke? Kalau aku nggak main, mungkin aku nggak bisa ke showcase.
Kalo aku nggak bisa ke showcase, aku nggak bisa main futbol di kampus.
Dan kalau aku nggak bisa main, ayahku nggak bakal mau ngomong
sama aku sampai aku… 40 tahun.
Terus? Cuma itu yang penting? Kamu jadi anak baik buat ayahmu?
Kenapa kamu nggak melawan? Kamu nggak mau jadi diri sendiri?
Aku nggak yakin aku bisa.
Aku harus kelarin ini.
Itu sempurna. Kamu udah bisa.
Masa, sih?
Iya. Kali ini kamu pasti lulus, 100 persen.
- Pokoknya mikir positif. - Oke.
Hei, Nak.
Hai.
Hai. Gimana kabarnya?
Baik.
Besok pertandingan penting, ya.
Ya…
Kamu pasti bisa.
Um, aku jarang ketemu kamu sejak Halloween.
Iya. Kamu tahu, lah. Aku sibuk aja. Tony, ngelatih, belajar. Jadi agak…
Nilai SAT kamu yang baru udah keluar?
- Belum. - Oh…
Kayaknya harusnya udah keluar, deh. Mending kamu telepon aja.
Iya, nanti aku telepon. Pasti. Makasih, ya.
Mau ngisi pendaftaran kuliah kayak yang kita omongin kemarin?
Nggak. Nggak usah.
Kita udah kehabisan waktu. Aku bisa ngerjain bagian pertama buat kamu…
Jackie… Tolong lupain aja.
Aku harus balik ngerjain ini. Kayak kata kamu,
besok pertandingan penting, jadi…
Oke. Sukses, ya.
Iya.
Sama-sama.
Hai.
- Astaga. - Kejutan!
Oh…
Aku salah, ya? Bukannya kamu pulang minggu depan?
Gak salah, kok. Soalnya di telepon kamu kayak butuh pelukan. Jadi, aku minta ke
Felix pulang seminggu lebih awal dan dia setuju.
Kamu nggak tahu aku udah sekangen apa sama kamu.
Oke. Semoga berhasil.
Aduh, kamu pasti bisa. Tante bakal nungguin kamu
sampai kamu selesai.
Tante janji.
Oke.
Kamu pasti lulus.
Seneng bisa ketemu.
Banyak banget penunggangnya.
Kamu pikir bisa lolos cuma gara-gara aku yang latih? Jangan sombong. Ini nggak
bakal mudah. Ini tuh penting banget. Kalau kamu berhasil, kamu bakal kerja
keras. Bahkan lebih dari yang sekarang. Kamu bakal sibuk sampe malam, akhir pekan.
- Yakin mau kayak gitu? Karena kalau nggak… - Iya, aku mau.
Apa Jackie bakal seneng kayak gitu?
- Maksudnya apaan? - Plis, deh, Alex. Aku tahu kalian
pacaran. Cuma nggak ngerti kenapa mesti dirahasiain. Kamu tuh takut apa, sih?
Nggak. Aku nggak takut, kok. Cuma masalahnya rumit.
Denger, kalau kamu mau lakuin ini, kamu harus tahu, kalau pacaran sama orang yang
bukan dari
dunia kita tuh nggak mudah. Sekuat apa pun hubungan kalian. Jadi, kalau nggak
yakin…
Aku yakin.
Jadi, kamu nggak usah khawatir.
Oke, deh.
Ayo, Koboi.
Mm-hmm.
Udah siap?
Iya, uh, kita lihat aja nanti.
Oke, Isaac. Semangat? Oke, ayo.
Eh, Cole.
Denger. Hari ini aku nggak main, ya.
Maksud kamu apa?
Aku harus tanggung jawab atas perbuatanku.
Aku nggak bisa terus biarin ayahku yang beresin masalahku.
Aku ngerti kalau waktunya nggak pas.
Kamu… Kamu serius?
Aku minta maaf.
Beneran. Aku nggak mau bikin tim kecewa, tapi… harusnya dari awal aku udah nolak.
Aku cuma berusaha ngelakuin yang bener, oke?
Tapi, Dylan, ini udah terlambat.
Iya, tapi ini harus jadi pertandingan Isaac.
Dylan, ini final divisi. Tim butuh kamu.
Nggak.
Mereka butuh kamu.
Makasih.
- Yay! - Aku lulus!
Yah! Tante bilang juga apa.
Ya, ampun. Itu, kan…
Mobil mama kamu. Iya.
Richard yang ngirim dari New York buat kamu.
- Makasih. - Sama-sama.
Bentar, gimana kalau misalnya
aku nggak lulus lagi?
Nggak. Kami tahu nggak mungkin gagal.
Tapi, kalaupun iya, kami tinggal bawa ke garasinya
Tony kayak kemarin.
Oke.
REAKSI]
Sana coba.
Makasih, Tan.
Sama-sama. Enjoy, ya.
Hati-hati.
Woo!
Wuh!
Coach, dia nggak mau main. Kita turunin Isaac.
Oke, Anak-Anak, kumpul. Isaac, kamu harus pemanasan lengan pelempar kamu. Hari ini
kamu jadi quarterback kita. Pemain, uh, nomor 19 kita, Newsome, hari ini nggak
- main. - Oke, tenang. Semua baik-baik aja. Semua
baik-baik aja. Dia menjalani hukuman
dengan serius.
Ayo, Guys! Yang penting kalian berjuang.
Lakuin yang terbaik. Ayo. Oke? Ayo. Ayo! Ayo! Kita harus menangin pertandingan ini.
Hei, Dylan.
Apa-apaan ini?
Aku diskors, Ayah.
- Harusnya aku nggak main. - Apa? Setelah semua yang Ayah lakuin
supaya kamu bisa balik? Kamu tahu sesulit apa itu?
Aku tahu.
Dan aku minta maaf.
Tapi gagal di tes narkoba dan Ayah nyogok supaya aku tetap di tim… itu salah.
Aku salah.
Dan aku harus ngadepin konsekuensinya, kan? Kalo nggak…
Apa gunanya?
Gunanya itu kamu main futbol! Mungkin suatu hari nanti bisa jadi pro.
Itu, kan, mimpi Ayah.
Bukan mimpiku.
Oke? Dan aku minta maaf kalau mimpi Ayah nggak terkabul,
tapi bukan ini yang aku mau.
Seenggaknya nggak kayak gini.
Kamu tahu?
Mungkin kamu emang nggak berbakat.
- Giliran kamu, Alex. - Tenang aja.
Aku pasti bisa.
Mm-hmm.
Siap! Hut!
Ayo, Garcia, oper bolanya. Dia belum siap. Sepupumu.
Dia dijatuhkan oleh lawan. Sekarang kita memasuki babak selanjutnya.
Ah, Bapak harus jawab ini.
Sayang, kamu nggak apa- apa? Ini lagi di pertandingan.
Apa? Berapa lama jaraknya? Oke, oke. Oke, oke. Iya, iya, iya. Aku segera ke sana.
Telepon ibu kamu!
No comments yet. Be the first to leave one.