Si Doel the Movie 2

Si Doel the Movie 2

Download Indonesian Subtitle

Release info

Si Doel the Movie 2 (2019) NF WEB-DL
A Commentary by doddyirwanto
Si Doel the Movie 2 (2019) NF WEB-DL HI Removed.

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Published on: 2020-09-15
Downloads: 42
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

UNTUK ORANG TUA KAMI SRI HIROO & SRI VINITA BHARWANI

Ayo, cepat. Kita berangkat ke Belanda.

Aku tak tahan di sini. Panas.

Gaya sekali, Bang!

Hans, Sarah masih di sini? Di Amsterdam?

Apa hubungannya dengan Sarah?

Kamu tak tahu, Hans itu saudara Sarah?

Jangan mencari Sarah lagi, tak usah temui dia.

Dia sudah membuatmu susah, bertahun-tahun meninggalkanmu.

Selama ini aku berusaha melupakanmu, Doel.

Semakin aku membencimu, semakin aku cinta padamu.

Ceraikan aku, Doel.

Pesan dari Mandra? Mereka sudah sampai Jakarta?

Bang Doel memeluk siapa?

Kanan, Pak.

Hore, Cang Doel pulang.

Bunda, Cing Zaenab, Cang Doel sama Kong Mandra sudah pulang!

Aduh...

- Selamat datang, Kong. - Ya.

- Kamu kenapa di sini? - Lagi menggantikan bunda.

- Bolos, ya? - Tidak, baru pulang.

- Selamat datang, Cang. - Kenapa rambutmu pitak?

- Sungguh? - Tidak, bercanda.

- Asalamualaikum, Atun. Nab. - Alaikum salam.

Bang, seminggu di Belanda, kenapa menjadi gemuk.

- Makan enak, ya? - Apaan kamu. Nyak sehat?

- Alhamdulillah sehat. - Alhamdulillah sehat.

- Bang, oleh-oleh Atun mana? - Sama Bang Mandra.

- Bakiak ada? - Ada sana.

Bang, di mana bakiakku?

- Sini tas ranselnya. - Tak usah, berat.

- Sebentar Abang mau lihat Nyak dulu. - Sini bakiaknya!

Bakiak? Sepatu kuda lebih cocok.

- Kata Abang ada. - Ini, sebentar.

- Banyak sekali. Apa saja? - Banyak.

- Asalamualaikum, Nyak. - Alaikum salam.

- Doel sudah sampai. - Baru sampai. Nyak?

Alhamdulillah sehat. Bagaimana urusanmu beres?

Alhamdulillah semua beres, Nyak.

Nyak, Hans kirim salam. Dia beli oleh-oleh buat Nyak.

Pasti permintaan Mandra, minta oleh-oleh untuk Nyak.

Tidak. Hans beli sendiri.

Terima kasih jika begitu. Alhamdulillah.

Nyak, aku mandi dulu. Dari semalam belum mandi.

Sana, mandi.

- Nab? - Ya, Nyak?

Urus suamimu dan siapkan makanannya.

Mungkin dia lapar.

Handuk dan lainnya sudah kusiapkan.

Eh... Zaenab hangatkan makanan dulu.

Terima kasih, Nab.

- Aku mandi dulu, ya. - Ya.

Aduh.

Apa sih, Bang?

Kamu cari sendiri saja.

- Berat. - Berat ini, Kong!

Ini kopermu dibawa.

- Sudah semua? - Sudah.

Motor kenapa parkir di sini, tidak di luar. Pemalas.

Siapa yang mau keluarkan?

Apa pekerjaan anakmu?

Angkat dulu ini.

- Indonesia panas sekali. Tak tahan. - Cari silet.

Aku mandi dulu. Sudah dua hari tak mandi.

Jorok. Bakiakku mana?

Itu di sana. Cari saja. Hati-hati banyak pecah belah.

- Ini, Bun. - Bang, tengok Nyak dulu.

- Aku mau mandi! - Ketemu Nyak dulu!

Setelah bertemu Nyak, kita bicara dulu penting.

Siapa kamu penting? Pejabat?

Susah.

Halo, kakakku.

Ini surat-surat penting yang mungkin kamu perlukan.

Liburan mau ke mana?

Belum tahu. Nanti tanya orang tua dulu.

- Aku di rumah saja. - Ayo main gim video!

- Biasanya sekalian diganti. - Oke.

- Sampai besok, ya. - Ya.

- Permisi dulu! - Dah.

Dul! Tunggu!

- Kamu mau ke mana? - Aku mau pulang.

Kenapa pulang? Masih ada kelas, 'kan?

Pak Agus sakit, jadi pulangnya lebih cepat.

Pantas, mata pelajaran dia di kelasku juga tidak datang.

Kita makan siang, Yuk. Aku yang traktir.

Terima kasih, Tari. Tapi aku makan siang di rumah saja.

Padahal aku mau traktir kamu. Sekalian pamit.

Kamu mau ke mana?

Liburan minggu depan, aku pulang ke Jakarta.

Tugas papaku di sini sudah selesai.

Oh...

Terus sekolah kamu bagaimana? Tinggal beberapa bulan lagi ujian?

Ya. Aku akan ikut ujian di Jakarta.

Oh ya, setelah lulus SMP di sini, jadi pulang ke Indonesia?

Ya, tahun depan aku pulang ke Indonesia. Tinggal di Jakarta.

Mau aku bantu mencarikan sekolah bagus di Jakarta?

Memang ada sekolah tidak bagus di Jakarta?

Bukan, maksudku mau aku bantu carikan sekolah favorit?

Kamu pintar. Pasti mudah masuk sekolah bagus.

Jika butuh bantuanku telepon, ya.

Terima kasih.

- Dah! - Dah!

Ampun, Indonesia panas sekali!

Sudah tiga kali mandi, masih berkeringat banyak.

Bertingkah. Hanya seminggu di Belanda sudah kepanasan.

Aku lebih betah di Belanda.

Kalau si Hans butuh pembantu, aku mau kerja di sana.

Bang, aku mau bicara sebentar.

- Apa? - Sebentar!

Apa?

Aku minta kamu tidak keceplosan.

- Keceplosan apa? - Pelan-pelan!

Aku minta jangan keceplosan kalau aku bertemu Sarah dan anakku.

Maksudmu?

Maksudku, jangan cerita ke orang lain. Termasuk Atun kalau aku bertemu.

Aku akan bicara ke Zaenab. Tapi tidak sekarang. Nanti kaget.

Bagus kalau mau cerita.

Itu urusan rumah tanggamu bukan aku.

Kamu yang harus selesaikan.

Karena itu aku minta kamu diam. Jangan ditambah-tambahkan.

Untuk apa menambahkan? Apa gunanya?

Tenang, aku simpan baik-baik.

Tapi ada syaratnya.

Kalau Hans mengajakmu ke luar negeri lagi. Negeri apa pun, ajak aku.

Kalau tidak...

- Ini kopinya, Bang. - Terima kasih.

- Bang Mandra mau juga? - Mau, jika dibuatkan.

Aku buatkan. Tapi untung Bang Doel dulu.

Memang harus didahulukan. Namanya suami.

Masak belakang. Kalau tidak, bisa urusannya bisa ke mana-mana.

- Sebentar, dibuatkan dulu. - Ya, Neng Cantik, Manis.

Hei!

Baru aku bilang. Kamu jangan sembarang bicara!

- Tidak. - Apa-apaan.

Tenang saja.

Ya...

- Kalian berdua. - Apa? Kenapa marah?

- Atun mau bertanya. Penting. - Apa?

Dari tadi mengejarku. Mau tanya penting apa?

Abang selama di Belanda mengirim pesan ke Atun dan siapa lagi?

Maksudmu?

Abang memotret, terus dikirim ke Atun.

Lalu fotonya dikirim ke siapa lagi?

Hanya kamu.

Kamu mengirim ke Zaenab?

Tidak. Untuk apa? Bukan muhrim.

Jadi, apa maksudmu?

Ayo.

Ini.

Ini, Bang.

Ada foto kalian berdua.

Mati aku.

Untuk apa foto-foto?

Ah kamu...

Aku tak sengaja, Doel.

Tadinya hanya mau aku simpan. Tak sangka terkirim ke Atun.

Kalau bukan kamu, siapa lagi. Setan?

- Mungkin terpencet. - Tak mungkin.

Kalau Abang menelepon, terpencet mungkin.

Ini Abang mengirim foto. Memilih dulu.

Yakin, tidak mengirim ke Zaenab?

- Yakin? - Perasaanku...

- Jangan pakai perasaan? - Kirim atau tidak?

- Mungkin terkirim ke Zaenab. - Kacau aku.

- Abang ini... - Terus aku harus bagaimana?

Berteriak sekalian. Kasih ke dia. "Nab, ini foto suamimu!"

Abang jangan keras-keras.

- Kamu harusnya tak boleh pakai ponsel. - Kamu bertingkah.

- Apa? - Ini ponselmu. Aku balikan.

- Aku juga masih punya. - Apa?

- Aku hapus fotonya! - Percuma dihapus.

- Sudah dikirim. - Ada foto lain?

- Tak tahu. Mungkin ada. - Bagaimana, Bang.

Jangan marah-marah padaku. Aku menjadi panik.

Buang sekarang!

Aku mau buang. Tapi kamu terus bicara!

Ponselnya yang dibuang bukan fotonya.

Kamu yang ribut, aku yang dimarahi.

- Kamu malah enak-enakan. - Aku mau bertanya!

Jadi, ini anak siapa yang dipeluk, Bang?

Pasti bukan anak Hans.

Anak orang lain, tak mungkin Abang peluk.

Berarti, Abang benar bertemu Sarah dan anak di Belanda?

Ya, Abang bertemu mereka.

Zaenab tahu, kalau Abang bertemu?

Belum, Abang baru sampai. Kamu sudah cerita ke Zaenab tentang foto itu?

Tidak. Atun butuh jelas dulu. Ini anak siapa?

Jangan bicara ke Zaenab. Biar Abang yang bicara.

Ya. Tapi kalau Bang Mandra sudah kirim foto, bagaimana?

Abang cepat beri tahu Zaenab.

Lagi pada kumpul.

- Bang Mandra, ini kopinya. - Terima kasih, Neng.

- Sama-sama. Panas, Bang. - Ya.

- Hati-hati tumpah. - Ya.

Aku minum di dalam. Di sini panas.

- Atun. - Atun mau membereskan oleh-oleh.

- Ada apa, Bang? - Tidak ada apa-apa.

Aku ke belakang, mau wudu dan salat. Sebentar lagi Magrib.

Magrib?

Mataharinya masih tinggi.

More Indonesian subtitles for Si Doel the Movie 2

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left