The first 198 lines.
Kalau ada peluang gelang ini bisa bawa kita pulang, kita harus coba.
SEBELUMNYA DI
-Halo? -Nani.
-Soal gelang itu... -Gelang itu punya ibunya Nani , Aisha.
Kita ini apa?
Dikenal sebagai Clan Destine.
Tapi, kami seringnya dikenal sebagai...
Aku Djinn. Mereka butuh bantuanku, jadi bantu aku, ya.
Kalau bantu mereka pulang, mungkin ada yang meledak.
-Ternyata berbahaya. -Memang berbahaya. Kau pikir tidak?
Kamala. Kau dan keluargamu dalam bahaya.
-Mau peringatkan. -Akan kukecoh.
Kenapa ibu begini? Katanya mau melindungiku.
Untuk apa melindungi pengkhianat?
-Ayo. -Kamala.
Selama ini ternyata kau, tapi kau enggak bilang?
Nanti kujelaskan semuanya. Sumpah.
Halo, Kamala? Apa kau lihat keretanya, beta?
-Kenapa Nani bisa tahu? -Karena Nani juga lihat.
Kau harus datang ke Karachi.
-Pertama kali ke Pakistan? -Kenapa bilang begitu?
Boneka itu kau pegang kencang sekali.
-Ini bantal tidur. -Baik.
Bicara juga.
Kupikir suara putriku hilang, kecuali untuk minta Canada Dry lagi.
Kukira aku enggak boleh bicara.
Kecuali hukuman rumah enggak berlaku di perairan internasional?
Setelah kau merusak pernikahan kakakmu, serius?
Kau akan dihukum sampai lama.
Tapi, karena Nani- mu sudah tua,
dan dia memaksa kita datang ke Pakistan,
jadi kita harus damai sebentar.
Entahlah. Mungkin Nani -mu bisa tahu
apa pun ulahmu belakangan ini.
Nakia - Maaf. Tolong angkat. Akan kujelaskan semuanya.
Maaf sekali. Kumohon, tolong bilang kau tak apa-apa.
Hei, bisa tolong duduk?
Selamat Datang di Karachi
Kamala. Di sini.
-Hai. -Hai.
Hai.
Apa kabar?
-Bagaimana kabarmu? -Apa kabar?
Kamala, ingat sepupumu, bukan?
Anak-anaknya Kakoo Chacha.
Ya. Zainab dan Owais, sekarang kalian sudah tinggi, ya.
Kau masih pendek saja.
Terima kasih.
-Kamala. -Nani.
Cucu gadisku.
Ini sudah tengah malam. Seharusnya Nani tidur.
Ayolah. Nani baru pulang dari pesta.
-Aku suka perhiasanmu. -Ini?
-Sudah tua, tetapi untukmu saja. -Enggak, aku... Ini...
Hei, Kamala.
-Munee. -Hai, Bu. Senang bertemu Ibu.
-Selamat datang, beta. -Terima kasih. Senang bisa ke sini.
Kulitmu kering? Kau pasti diet yang aneh lagi itu lagi, ya?
-Kamala, kita pulang? -Ya.
-Ayo. -Kita ketemu besok.
-Sampai jumpa. -Dah.
Karachi - Kota Cahaya
Hai, Magnum. Sini. Hai, Sayang.
Magnum. Sudah besar ya.
-Dahulu rumahnya sebesar ini? -Ya, tetapi sepertinya perlu dicat.
Semua bagian bagusnya dicat?
Cuma saran saja...
Ayo kita ke dalam.
Oke, mari.
Kamala, kamarmu di kanan.
Yang ini?
Bukan.
Dua Kisah Pemisahan & Penculikan Wanita
Aku baru tahu Nani bisa gambar.
Banyak yang hilang selama Pemisahan.
Satu-satunya Nani bisa mengingat yang hilang adalah melukis sendiri.
Cuma ini foto Nani saat bayi yang ayah Nani punya.
-Tunggu. Itu Hasan Nana? -Ya, dan...
Ini Ammi-nya Nana , Aisha. Nenek buyutmu.
Setidaknya, yang bisa Nani ingat.
Nani, kenapa gelang ini dikirim padaku?
Apa aku...
Djinn? Tentu saja. Setidaknya itu kata ayah Nani .
Kenapa Nani santai banget?
Nani enggak paham kenapa diributkan. Ini cuma genetika.
Kau fokus pada hal yang salah.
Ini bukan soal Nani dapat penglihatan, kau Djinn atau bukan.
Yang penting itu saat gelangnya terakhir dipakai,
nyawa Nani diselamatkan .
Seperti jejak bintang? Di hari Nani pergi dari India.
Itu saat terjadi Pemisahan.
Saat itu malam musim panas.
Nani terpisah dari ayah Nani .
Lalu jejak bintang muncul dan menuntun Nani balik ke beliau.
-Di kereta. -Ya. Kereta terakhir malam itu.
Nani, itu kereta yang sama? Yang ada di penglihatan kita?
-Itu kereta dari malam itu? -Ya.
Gelang itu ingin bilang sesuatu padamu, beta.
Nani enggak tahu apa,
tapi Nani tahu kau harus bersama Nani di sini untuk tahu jawabannya.
Aku enggak tahu caranya.
Rasanya kayak memahami banyak banget hal,
tetapi aku malah makin bingung.
Cukup membingungkan.
Tapi,
kalau sudah hidup seumur Nani , kehilangan kayak Nani ,
kau akan belajar melihat keindahan dalam detail.
Kamala.
Tolong berhenti.
Kamala. Kau berbohong kepadaku.
Gelang itu dibuat untuk sesuatu yang lebih besar darimu.
-Kamala. -Temukan keretanya.
-Kamala. -Temukan keretanya, Kamala.
Kamala, bangun. Kedua sepupumu sudah menunggumu.
Maaf. Aku kira kau sendirian di dalam sini.
-Ini bantal tidur. -Ayo. Bangun.
Kami sudah rencanakan siang ini. Makan siang di klub perahu sejam lagi.
Aku enggak nafsu makan.
Ayo, bangun.
Kamala, jangan bersikap aneh. Kita berkunjung ke sini.
Kau harus kunjungi, ya? Jadi, ayo kita pergi.
Bawa aja boneka terbangmu.
Enggak kusangka kita pesan dari menu di luar.
-Kita enggak kebagian prasmanan. -Dan AC-nya.
Enggak ada yang bilang celana jin dilarang.
Ini lebih cocok buat di Jersey.
Mungkin setelah Napas Tilak, kita bisa ke mal.
Cari baju yang enggak kontroversial.
Enggak apa-apa. Tetap sama sepupumu, ya?
Kita di kota baru. Jangan sampai kau kena masalah.
-Enggak akan. -Hai. Aku datang.
-Hai. Halo. Enggak apa-apa. -Maaf sekali aku telat.
-Rukhsana, ini putriku, Kamala. -Asalamualaikum, Bibi.
-Cantik banget. -Terima kasih.
"Kamala." Bukan nama orang Pakistan.
Bukan?
Itulah khasnya Muneeba. Dia selalu suka memberontak.
Kuharap kau enggak keberatan di luar, karena Kamala pakai jin.
Makanya dia kepanasan, Kamala?
Bukan suhunya, tapi...
Pani poori- nya .
Kenapa enggak ada yang bilang ini pedas?
Di kananmu, ada bangunan era kolonial Kemaharajaan Britania tahun 1891.
Kayaknya di kirimu.
Maaf. Aplikasiku membeku. Ayo keliling.
Kamala, lihat. Ini tempat tinggal beberapa penghuni tertua Karachi.
Kayak Florida?
Old Town itu tempat tinggal pertamanya banyak pengungsi saat tiba dari India.
-Tiga ratus. -Enggak.
Cocok sekali!
Ya ampun. Ini kurang eksotis untuk Instagram orang India Amerika?
Kau tahu, orang India yang lahir di Amerika.
-Aku tahu apa artinya. -Ya, sudah kuduga.
Belajar sejarahnya sudah. Ayo pergi.
Teman menunggu untuk minum kopi.
Pasti keren kalau bisa lihat stasiun keretanya.
Stasiun kereta? Kenapa? Kau mau ke mana?
Enggak ke mana-mana. Itu bersejarah.
Itu gerbang pertama tempat Nani masuk ke negara ini.
Kami pergi saja. Kita jumpa nanti. Jaga dirimu.
-Hei. -Kau tersesat, ya?
Untukmu. Lihat. Foto. Kau suka?
Ambil. Cuma 1.500 rupee.
Seribu lima ratus. Murah buat turis.
Ya. Begini saja.
Saya kasih kalau Bapak tahu lewat mana ke stasiun kereta.
Stasiun kereta? Ya, boleh.
-Stasiun kereta... Kau ke kiri. -Lewat sini?
Ya, kiri. Lalu kiri lagi.
Kiri sekali lagi, lalu ke kanan, agak ke kanan. Ya?
Lalu memutar di gerobak keledai. Paham, tidak? Ya, kiri...
STASIUN KARACHI SEKITAR 1898
Ketemu kau.
Entah lebih jelek itu, atau kacamata yang tadi kamu coba.
-Kau membuntutiku? -Aku merasakan Noor.
Semua Orang AS bertopeng punya kekuatan super?
Mungkin aku orang Kanada?
Kau pakai kaus "New Jersey." Penampilan apa ini?
Enggak ada yang suka, ya?
Ayo.
Belajar dari mana? Kura-kura Ninja?
Kalau kau dari mana? Donkey Kong?
-Kau siapa? -Kau ini apa?
-Kau bukan Clan Destine, kan? -Kau tahu mereka?
Tapi kau pakai gelangnya. Kau dapat dari Aisha?
Tunggu, kau tahu soal Aisha?
-Ikut aku kalau mau hidup. -Apa?
Bercanda. Aku sudah lama mau bilang itu.
Tapi, serius, kita harus pergi. Ada yang harus kau temui.
Kau mau bunuh aku?
Karena aku enggak mau masuk dokumenter kejahatan nyata.
Tenang. Kadang kau harus melihat melampaui apa yang ada di depanmu.
Selamat datang di Red Dagger, kau bisa belajar membuka matamu.
Red Dagger? Kau ikut boyband Pakistan?
Tidak juga.
-Ini benar-benar tersembunyi. -Biasanya turis enggak boleh masuk.
Tapi untuk keturunan Aisha, ada pengecualian.
-Bagaimana bapak tahu aku... -Namaku Waleed.
No comments yet. Be the first to leave one.