The first 200 lines.
Mustahil. Saat kelas matematika.
Dia melakukannya, tak ada yang sadar.
Coralie, dia memang luar biasa.
Aku baru 18 tahun, belum pernah bercinta.
Itu membuatku gila.
Pierre dulu memanggilku Chikie.
Sekarang dia memanggilku Cherry untuk menggangguku.
Aku merasa sangat kesepian.
Setiap tahun, setelah libur musim gugur,
kami berfoto keluarga untuk kartu Natal.
Satu lagi untuk album.
Tersenyum seperti orang bodoh.
Marie, saudari angkatku, tapi kami tak pernah membahasnya.
Kami juga tak membahas operasi payudaranya.
Baginya, itu terlalu kecil.
Dia bekerja sepanjang musim panas untuk membiayai operasinya.
Jika dia meminta pendapatku,
aku akan bilang menurutku itu terlalu besar.
Tukar tempat.
Pierre, saudara kandungku.
Dia selalu keren. Itu membuatku kesal.
Hentikan!
Orang tuaku sangat normal
sampai itu membuat depresi.
Tersenyumlah.
Romain!
Ayolah! Tersenyum!
Tebak siapa yang belum pernah bercinta.
Aku harus memikirkan hal lain.
Selamat untuk Michel.
Foto yang bagus tahun ini. Kerja bagus, Michel.
Kerja bagus, Ayah.
Aku tak mendengar. Aku tak menyimak.
Selalu topik pembicaraan yang sama.
Kuliah Pierre dan Marie, ujianku, ekologi.
Itu sangat membosankanku, ekologi.
Krisis, sepak bola, makanan...
Tak pernah, sama sekali, kami bicara soal seks.
Itu akan menarik, memecah rutinitas.
Siapa yang menonton laga sepak bola hari Minggu?
Aku menontonnya di tempat Marcel.
Bagaimana mereka bisa bermain seburuk itu?
Untuk apa mereka dibayar?
Bermain seperti sedang main biliar?
Aku setuju denganmu.
Itu mengingatkanku.
Kamis, kami mulai latihan lagi.
Aku tahu. Aku tak pikun.
Mereka bicara soal latihan basket.
Aku tak pernah berhasil.
Tapi kami mulai bicara soal seks.
Mengaktifkan visualisasi karakteristik umum
zona seluler asam basa dan sebagainya.
Saat ini berkat penggunaan antibodi dan...
Romain, apa yang kau lakukan?
Aku tak tahu apa maksudnya.
Dia memintaku datang segera.
Tidak, dia tak terluka.
Dia meyakinkanku Romain baik-baik saja.
Aku akan meneleponmu setelah ini.
Aku juga mencintaimu.
Apa yang harus kukatakan soal Romain
cukup serius, cukup sensitif.
Baiklah.
Saat kelas biologi,
Romain tertangkap basah...
Sedang melakukan onani.
Romain masturbasi?
Tepat sekali, tepat sekali.
Lagipula,
dia merekam tindakannya dengan ponsel...
Yang tentu saja disita gurunya.
Kau merasa ini lucu?
Tidak! Tentu saja tidak!
Romain sudah dewasa selama dua bulan.
Dan dia mempertontonkan diri...
Di depan teman-temannya...
Perempuan dan laki-laki...
Yang sebagian besar masih di bawah umur.
Secara seksual, mereka dewasa secara hukum.
Mereka semua di atas 15 tahun, bukan?
Aku tak bicara dengan pengacara di sini, Nyonya Bertrand,
tapi dengan ibunya.
Ini perilaku tak normal.
Apa yang kau sarankan?
Skorsing...
Sampai kami membahasnya dengan komite disiplin...
Pada tanggal yang akan ditentukan segera.
Sampai saat itu, coba cari tahu apa yang terjadi di kepalanya.
Aku juga harus memberi tahu Anda
bahwa kami telah menyalin film menjijikkan itu
sebagai bukti.
Baiklah.
Terima kasih banyak.
Kami membawanya ke ruang kesehatan.
Sekretarisku akan menemanimu.
Hei, ini bukan apa-apa.
Ini bukan kiamat.
Baik, sekarang kau tersenyum.
Ada apa denganmu, Romain?
Kau ingin aku menjelaskan?
Tolong jelaskan.
Di sini? Sekarang?
Ya, kenapa tidak?
Semakin cepat, semakin baik.
Aku menunggu.
Itu tantangan. Mereka menantangku.
Jika kau tak melakukannya, kau pecundang.
Itu giliranku, dan aku tertangkap.
Apa maksudmu, tantangan?
Itu permainan, hanya untuk bersenang-senang.
Baik, jadi demi kesenangan, kalian merekam diri kalian
masturbasi di kelas?
Ya, benar.
Aku menunggu kelas biologi.
Di balik bangku, lebih sulit melihatku.
Tapi itu tak berhasil.
Aku tak mengerti.
Coralie pikir itu terlalu lama.
Yang lain lebih cepat keluar.
Maksudku yang laki-laki.
Hentikan detailnya, bisa?
Baik. Kurasa aku mengerti.
Dengar...
Aku akan memberitahumu nanti malam.
Seperti kata Romain, ini bukan kiamat.
Tidak, tak ada yang serius.
Aku mencintaimu.
Kau memberitahu semua orang?
Ayahmu bukan semua orang.
Apa kau sudah mengambil ponselnya kembali?
Ada di tasku.
- Boleh aku minta kembali? - Ya, boleh.
Itu bukan tantangan nyata jika tak direkam.
Dan aku harus mengirimnya ke Coralie. Dia memberi nilai.
Hei, aku sedang menyetir.
Kau bisa menyetir dan bicara.
Sial! Jangan sekarang.
Ibuku bekerja di firma hukum besar.
Dia menangani banyak berkas kasus besar
tanpa terlalu terlibat.
Untuk melindungi diri, katanya.
Berkas baru hari ini:
Romain: Peringatan Masalah Seksual.
Mengenalnya, dia takkan pernah melepas kasus ini.
Dia menatapku seolah aku bersalah.
Aku tak pernah merasa sehina ini, tidak pernah.
Suatu saat, aku bahkan berpikir
dia akan menunjukkan film Romain padaku.
Semua akan baik-baik saja. Tenanglah.
Apa kau pikir itu normal?
Aku akan bicara dengannya. Jangan khawatir.
Lalu Marie dan Pierre?
Bagaimana dengan kehidupan seks mereka?
Kami tak pernah membicarakannya dengan mereka.
Apa kau bicara soal itu dengan orang tuamu?
Tidak.
Itu zaman yang berbeda.
Selalu zaman yang berbeda.
Kami mencoba melakukan segalanya,
agar mereka tak kekurangan,
tapi soal seks, kami membiarkan mereka dalam kegelapan.
Selain AIDS, kontrasepsi...
Soal kepuasan seksual,
kami membiarkan mereka...
Sendirian.
Jangan panik, Clarinette.
Mereka melihat citra yang kami berikan.
Katakan citra apa yang membuat Romain
merekam dirinya masturbasi di kelas biologi?
Pikirkan ayahmu.
Sudah berapa lama ibumu meninggal?
Lima tahun?
Bagaimana kehidupan seksnya?
Kasihan pria tua itu.
Tenanglah.
Jangan sekarang.
Tidak.
Aku sungguh tak berminat.
Aku hanya ingin sedikit pelukan.
"5/10, dan itu murah hati."
"Jelaskan itu.
Aku layak bonus karena tertangkap."
"Selamat malam!"
Empat.
"Hapus riwayat terkini."
"Hapus sekarang."
Waktunya bangun, Romain.
Kupikir aku diskors.
Itu bukan alasan untuk terus di kasur.
Dia sudah diberi tahu, itu pasti.
Dia sulit ditebak.
Berpura-puralah tak terjadi apa-apa.
Kau pulang larut tadi malam.
Tidak, tidak. Tak terlalu larut.
Semoga harimu menyenangkan.
Marie bisa jadi juara dalam meremehkan masalah.
Ada apa?
Kau terlihat stres.
Banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
No comments yet. Be the first to leave one.