The first 200 lines.
Katanya Kathleen telah pindah ke Korea.
Menurutmu pesawatnya jadi berangkat?
Kathleen?
Ya, itu nama topan ini.
Kau tahu kenapa taifun namanya cantik?
- Kenapa? - Katanya
agar ia berlalu dengan tenang.
Tapi kau tahu, itu tidak pernah terjadi.
Halo.
Halo, selamat datang.
Silakan lewat sini.
Selamat datang.
Halo. Silakan lewat sini.
Selamat datang.
Berita Olimpiade Beijing.
Menjelang Olimpiade Beijing
pada 8 Agustus, para atlet...
Curah hujan lebat mencapai 200โ480 mm.
Akibatnya, banjir dan longsor
menyebabkan setidaknya 86 pemadaman listrik
dan berdampak pada lebih dari 140 rumah.
Waspadai longsor saat berkendara
atau saat berjalan kaki di dekat pergunungan.
(Film Orisinal disutradarai oleh Rene Liu)
- Terima kasih. - Sama-sama.
Permisi.
Sepertinya kau duduk di kursiku.
Maaf?
Tidak. Kursiku nomor 30.
Oh, ternyata kursiku yang di lorong? Maaf.
Tidak! Tidak apa-apa. Duduk saja di situ.
- Tidak. Kursiku nomor 31. - Oh, maaf.
Kita akan berangkat sekarang.
Silakan kenakan sabuk pengaman.
Nyaris saja.
Kau tidak apa-apa?
Aku baik-baik saja.
- Ini. - Terima kasih.
- Ini aku? - Bukan.
Tidak, itu bukan kau.
Ya, itu aku.
Maaf.
Tidak apa-apa. Aku merasa tersanjung.
Para penumpang, ada tanah longsor.
Kita tidak bisa lanjutkan perjalanan.
Akan butuh 2 jam untuk pembersihan.
Silakan hubungi seseorang untuk menjemput kalian.
Bagaimana kalau tidak ada yang bisa dihubungi?
Kalau begitu, kau harus menunggu di sini.
Boleh minta perhatian sebentar?
Penerbangan kita dibatalkan
akibat cuaca buruk di Incheon.
Kami minta maaf atas...
Silakan ikuti instruksi untuk keluar dari pesawat
dan kami akan membantu perubahan penerbangan di konter.
Silakan lewat sini.
Hei, bisa minggir?
Ah, baiklah.
Aku sudah selesai memotret.
Baiklah.
Bisa berikan gambar yang tadi?
Gambarnya? Tenang saja, sudah kubuang.
Padahal aku ingin menyimpannya... tapi sudahlah.
Hei.
Sebentar.
Terima kasih.
Sama-sama.
Lee Eun-ho!
Ayah, gunungnya longsor!
Ayah tahu ini akan terjadi suatu hari nanti.
Masuklah, cepat!
Astaga. Apa yang terjadi?
Tunggu sebentar.
Hei.
Ya?
Uhโฆ
Tenang. Semuanya, tolong tenang.
Kami benar-benar minta maaf. Silakan berbaris.
Tidak ada kamar kosong. Maaf, coba cari...
Apa ada kamar tersisa?
Maaf, kamar terakhir sudah diambil pria ini.
Masuklah.
Baik.
Sepertinya Kathleen lewat sini tanpa hambatan,
tapi kondisi di Korea tampak buruk.
Katanya ini topan terkuat dalam 80 tahun.
Pasar malam pasti rusak parah.
Pasar malam?
Ada pasar malam di seberang hotel ini.
Pernah ke sana?
Ya, dan ke sungai dan kuil di seberangnya.
Ada kuil juga?
Benar juga...
Lama tak bertemu.
Aku juga.
Sudah lama sekali.
Mau turun di terminal bus?
Ya, Pak. Terima kasih.
Ini kampung halamanmu, Jeong-won?
Aku tidak lahir di sini, tapi besar di sini.
Kalau begitu, ini kampung halamanmu.
Kalian berdua mulai kuliah tahun '06?
Eun-ho, dia seumuranmu.
Ayah, aku masuk kuliah terlambat dua tahun.
Kita jalan saja dengan tenang, ya.
Jeong-won, kau tidak lapar?
Tidak, Pak.
Makanlah sebelum pergi. Aku punya restoran.
Bukan ingin menyombong, tapi restoranku terkenal di sini.
Ayah, langsung ke terminal saja.
- Haruskah Ayah berhenti mengoceh? - Ya.
Satu gigitan
dan kau akan tahu ini adalah favorit penduduk lokal.
Dia sibuk.
Aku tidak sibuk. Apa menu andalanmu?
Mi boga bahari pedas.
Wow!
Gratis.
Wow!
Aku memotongnya dengan baik.
- Terima kasih, Pak. - Sama-sama.
Kau sedang apa? Kemari dan makanlah.
Bagaimana?
Enak!
Mau dibungkus untuk dibawa pulang?
Tidak, tidak usah, Pak.
Makanlah.
Eun-ho, kapan kita mengunjungi ibumu?
Ayo pergi besok pagi.
Kira-kira bakal hujan lagi?
Guci abunya ada di dalam. Aman.
Maksudku, ibumu suka hujan.
Dia cantik.
Aku mirip ibuku.
Kau mirip Ayah!
Tolong jangan bilang begitu.
- Mau apa ke sini? - Mencuci piring.
Pergilah.
Tinggalkan saja. Lap mejanya saja.
Kau menggambar semua ini?
Aku menggambar beberapa
dan sisanya Ibu yang menggambar.
Gaya kami mirip.
Kau jurusan seni?
Bukan, teknik komputer.
- Apa? - Astaga.
Eun-ho. Bisa buka ini?
- Ow, pergelangan tanganku. - Buka ini saja tidak bisa?
Apa-apaan ini?
Biar kucoba.
Wow!
Harusnya aku bungkuskan makanan.
Tidak, tidak usah, sungguh.
Kembalilah kapan saja.
Terima kasih, Pak.
Hati-hati naik motornya.
Pastikan dia sampai dengan selamat.
- Terima kasih. Jaga dirimu. - Dah.
- Bukankah kau harus pergi? - Benar juga. Dah.
Halo.
Ada yang bisa kubantu?
Apa direkturnya ada?
Dia pulang ke rumah untuk liburan.
Rumah?
Ya, rumahnya. Ini bukan rumah aslinya.
Omong-omong, apa kau dari sini?
Kalau begitu, masuklah. Pengasuh lain ada di sini.
Tidak, tidak usah.
Tolong berikan ini kepada anak-anak.
Tidak perlu repot-repot. Terima kasih!
- Sudah selesai? - Ya.
Kira-kira kapan matahari terbenam?
Biar aku yang bawa. Duduklah di belakang.
Apa?
- Kau bisa naik motor? - Ya.
Pegangan.
Yang kencang!
Apa rasanya pulang ke rumah?
Rasanya... bosan makan mi boga bahari pedas?
Aku ingin membangun rumahku sendiri.
Rumah?
Oh, sungguh?
Aku ingin membuat gim.
Apa? Gim?
Ya.
Gim bisa punya banyak akhir.
Aku ingin punya berbagai akhir yang seru.
Itu sebabnya kau kuliah teknik komputer?
Ya.
Kenapa kau mengambil jurusan kesejahteraan sosial
alih-alih arsitektur?
Karena dapat beasiswa.
Aku tidak punya pilihan.
Apa yang kau lakukan?
- Membuat permohonan. - Permohonan?
Dari saat matahari menyentuh laut hingga terbenam,
ucapkan permohonanmu 100 kali dan itu akan terkabul.
- Kau percaya? - Itu benar.
Itu berhasil. Aku bisa kuliah, bukan?
Memangnya aku tumbal?
No comments yet. Be the first to leave one.