The first 200 lines.
Boleh kutahu namamu?
Aku ke sini untuk mencari tahu penyebab kematiannya.
Jika setiap kehidupan punya cerita,
maka orang mati pun harus punya.
Kudengar dia tak punya keluarga.
Pasti dia telah berbuat banyak kebaikan semasa hidupnya.
Ini acara pemakaman.
Bukan tempat untuk bercanda.
Apa kau yakin ini Noe karena kau punya barang...
Dia menderita kanker lambung stadium akhir.
Dia divonis sisa hidupnya 6 bulan.
Tapi... Penyebab kematiannya bukan kanker.
Seorang pasien kanker stadium akhir
dan mewariskan hartanya ke panti asuhan indahnya.
Pintu Menuju Malam
Sayang sekali.
Mengeringkannya pasti butuh waktu.
Kita bertemu di pemakaman?
Rumah ini indah sekali.
Silakan duduk.
Rumah sebesar ini di Seoul
pasti mahal.
Ini bubuk misu.
Bagaimana rasanya tinggal di sini?
Aku tidak tahu. Menurutmu bagaimana?
Luar biasa.
Apalagi jika kau dapat gratis.
Cobalah.
Ternyata lebih enak dari dugaanku.
Kacang hitam, beras merah, wijen.
Aku mengeringkan dan menumbuknya sendiri.
Ini juga bisa jadi pengganti makan.
Aku yakin... Ini juga baik untuk pasien kanker?
Aku penulis cerita untuk majalah ini.
Kudengar...
Yeon-hwa, bukan?
Aku dengar ceritamu dan ingin menerbitkannya.
Cerita... milikku?
Aku dengar dari dokter almarhum.
Kau merawat pasien kanker stadium akhir sendirian?
Aku tahu kau dibayar...
Tapi tanpa rasa kasih sayang, ini pekerjaan mustahil.
Benarkah?
Bukan begitu?
Mungkin saja.
Setahun yang lalu.
Kau mungkin harus membersihkan urin dan kotoranku.
Tidak boleh ada luka baring.
Dan minimal mandi dua kali sehari.
Jika kau hanya akan mengelapku dengan handuk basah...
Aku tidak akan melakukannya.
Aku akan berusaha dan menganggapmu seperti ayahku sendiri.
Jika kau berhenti... kontrak kita batal.
Kau dengar, kan?
Satu dolar pun tidak.
Pergilah buatkan aku teh.
Baik, Tuan.
Kudengar sayuran lebih baik daripada karbohidrat untukmu.
Jadi aku pakai banyak sayuran hijau.
Katanya ini dipetik langsung di pegunungan...
Sudah kubilang jangan membantahku.
Agensimu tidak memberitahumu?
Bersihkan ini.
Baik.
Pijat.
Ada bagian yang terlewat.
Tekan lebih kuat. Agar tidak ada satu sel kanker pun...
Yang bisa bertahan.
Air...
Air...
Air...
Terbangun... dari mimpi indah...
Membuatmu merasa sedih...
Saat... kau sedang tidur...
Jika salah satu sel kanker mencapai paru-paruku,
aku akan berhenti bernapas dalam hitungan menit.
Lalu aku mati.
Daripada melihatku mati segera setelah kau bangun...
Terbangun oleh air dingin...
Baik, Tuan.
Aku membelinya dari toko organik.
Makanya telur ini agak kecil.
Ada yang ingin diminum?
Ini.
Setelah direbus, aku membiarkannya mendidih
seperti perintahmu.
Aku tahu dari warnanya.
Apa kau bertanya-tanya kapan pria tua menyebalkan ini mati?
Tidak.
Jika kau menunggu, itu takkan cepat terjadi.
Tapi apa pun yang kau takutkan, akan segera datang.
Jangan ragu-ragu.
Mulai dari atas sampai ke bawah.
Baik, Tuan.
Singkirkan...
Bau orang tua
Bau sel kanker...
Dari setiap inci tubuhku.
Bau kematian...
Hapus semuanya.
Jangan merasa kasihan padaku.
Semua orang pada akhirnya mati.
Aku tak punya penyesalan.
Aku tak menyalahkan siapa pun.
Pertemuan Kepala Sekolah Pensiunan
Cukup.
Kupikir kau terlihat baik.
Dan itulah sebabnya!
Kukira dia menyembunyikan emas batangan
saat dia menolak keluar rumah.
Itu bukan emas. Itu bunga!
Berhenti bercanda.
Jika aku punya seseorang sepertinya, aku bisa mati besok!
Dasar bodoh.
Karena semua sepertinya sudah selesai makan,
kami sudah menyiapkan hiburan untuk kalian.
Siapa yang mau mulai hari ini?
Tuan!
Jangan dengarkan suara tua kita.
Mari dengarkan wanita cantik ini dulu!
Beri tepuk tangan yang meriah!
Berapa umurmu?
Maaf?
Berapa umurmu?
28...
Seumuran dengan Jung-hwan...
Pria itu...
Di mana kau belajar...
Lagu itu?
Kau tidak tahu?
Aku punya kekasih.
Dia... mengajariku.
Setelah itu... dia pergi.
Aku juga punya orang seperti itu.
Dia...
Pergi setelah mengajariku lagu itu.
Sayang sekali...
Mereka terlalu cantik...
Untuk terjebak di sini.
Terlalu cantik.
Pasti ada alasannya.
Untuk terjebak di sini.
Bagaimana denganmu?
Bagaimana kau bisa sampai di sini?
Dan merawat...
pria tua yang sekarat.
Kurasa...
itu jalanku.
Andai aku bisa mencabut kanker seperti ini juga.
Kupikir aku tak ingin...
terus hidup.
Tapi belakangan ini...
Aku tahu ini sia-sia...
Tapi aku masih...
Ini berkembang dengan cepat.
Perutmu akan segera membengkak dengan rasa sakit yang hebat.
Rasanya seperti ada yang memelintir ususmu.
Kalau begitu...
Saatnya kita berolahraga.
Pakaianku...
Setrika pakaianku.
Maaf?
Pakaianku...
Apa kau akan pergi ke suatu tempat?
Ke mana kau akan pergi?
Pergilah ke studio foto.
Apa?
Kau harus mengambil sesuatu.
Tetaplah di sana dan tunggulah.
Aku akan pergi setelah kita olahraga.
Sekarang.
Baik, Tuan.
Sudah siap.
Tidak...
Sayang.
Jung-hwan... mendapat gaji pertamanya...
Dan membelikan ini untukku.
Sayang.
Aku akan membawa ini bersamaku...
Agar kau bisa melihatnya.
Tidak...
Bangunlah.
Tidak!
Hiduplah.
Hiduplah...
Baik, mari.
Jika bersamamu...
Aku ingin hidup.
Cantik sekali.
Berapa harganya?
Bisakah kita beli yang organik?
Yang organik jauh lebih kecil dan mahal.
Aku tidak peduli.
Ini untuk pasien.
Bisakah kau mencarikannya jika tidak punya?
Aku ingin dia makan yang terbaik dari yang terbaik.
Tentu. Aku akan mengambilnya besok.
Terima kasih.
Dengan anak yang baik seperti itu, kau pasti cepat sembuh!
Ayo pergi.
No comments yet. Be the first to leave one.