The first 200 lines.
Apa yang tadi sedang kamu pikirkan di sini?
Aku memikirkan Ibu.
Kamu sepertinya sedang membaca buku.
"Jika tugas laut membuat ombak, tugasku adalah memikirkanmu"
"Jika tugas laut membuat ombak,
tugasku adalah memikirkanmu."
Kurasa kita sungguh beruntung memiliki penulis di dunia ini.
Mereka bisa menyentuh hati banyak orang hanya dengan satu kalimat.
Kurasa itu mewakili betapa sering seorang ibu memikirkan putrinya.
Aku dan tokoh ibu di buku ini sama.
Pada akhirnya, kami berdua memikirkan seseorang.
"Episode 10"
Maafkan aku.
Tempat ini digunakan untuk acara hari ini, kalian tidak bisa masuk.
Restoran Italia kami menawarkan makanan enak, pemandangannya bagus.
Apa kalian tidak keberatan jika kuantar ke sana saja?
- Tidak masalah bagimu? - Ya.
Bu Cha mengatakan
kita bisa membiarkan pelanggan lainnya masuk.
Itu hanya akan membuat keributan.
Setidaknya, ini yang bisa kita lakukan untuk melindunginya.
Baiklah.
Ini terasa sedikit canggung.
Dan tidak ada siapa pun di sini.
Apa Ibu langsung datang kemari dari rumah Bu Lee?
Ya.
Dia menceritakan tentang mendiang suaminya.
"Aku baru bisa bertemu lagi dengannya setelah meninggal."
"Nikmatilah perjumpaan kalian selagi bisa. Itulah kebahagiaan."
Bu Lee mengatakan hal seperti itu tanpa banyak menekankan tiap kata.
Tapi semua yang dia katakan akhirnya menjadi sangat bermakna.
Apa kamu menghabiskan waktu di tanggul laut itu setiap hari?
Aku pergi ke pantai di mana kita bermain pasir,
aku juga ke bangku di sisi mesin otomatis, di mana kita minum kopi.
Aku juga pergi ke taman bermain di Hongjae-dong.
- Tempat itu akan segera lenyap. - Kenapa?
Nenek tua pemilik lahan itu sudah wafat,
jadi, anak-anaknya menjual lahan tersebut.
Kamu kecewa, bukan?
Tentu saja, aku menghabiskan masa kecilku di taman bermain itu.
Namun, segala hal di dunia ini pasti berubah.
Kita harus pergi sebelum taman itu menghilang selamanya.
Kita juga harus berfoto.
Baiklah, mari pergi bersama jika aku ke Seoul saat libur.
Baiklah.
Tidakkah kamu sedih saat aku mengatakan
kita harus berpisah untuk sementara?
Itu tidak membuatku sedih.
Tapi hal lain membuatku sedih.
Apa yang membuatmu sedih?
Kita berjanji untuk melaluinya dengan kenangan indah,
tapi Ibu khawatir aku tidak akan bisa bertahan.
Itu yang membuatku sedih.
Aku menerima banyak pesan teks belakangan ini.
Kim Jin Hyuk adalah topik gosip di antara teman sekelasku dahulu.
Keluargaku pun mengkhawatirkanku.
Begitu banyak reaksi yang ditujukan terhadapku.
Jadi…
Jadi, apa aku ingin bersembunyi dari semua itu?
Atau aku merasa ragu karena terkejut?
Aku tidak berniat melakukan itu.
Aku tidak punya solusi, tapi aku bertekad untuk memecahkannya.
Mungkin aku terlihat lemah.
Itulah yang kupikirkan.
Aku membuat kesalahan.
Karena itulah aku langsung berlari menghampirimu.
Bisakah kamu memaafkanku kali ini saja?
Jika Ibu meminta dengan wajah cantik seperti itu,
aku harus memaafkan Ibu.
Kalau begitu, biar aku yang bayar.
Sungguh?
Silakan makan sepuasnya.
Aku harus makan yang banyak.
Apa kabarmu baik, Pak Nam?
Kabarku juga baik.
Ya. Sebenarnya,
Bu Cha datang kemari.
Aku mengkhawatirkan Bu Cha di perjalanan pulang nanti.
Aku ingin mengantar Bu Cha, tapi nanti aku bekerja sif malam.
Terima kasih.
Tolong telepon aku begitu tiba di sini.
Baiklah.
Baiklah.
Silakan duduk.
Aku lega punya waktu senggang.
Mungkin kami harus mengusirmu
jika kamu berkunjung secara tiba-tiba seperti ini.
Aku berniat pulang setelah mengantar anggur itu jika kamu sedang sibuk.
Karena kamu di sini, aku terpikir untuk menyapa.
Kurasa kabar mengejutkan mengenai Soo Hyun
sudah menggantikan hal itu.
Bu Ketua,
aku sungguh minta maaf.
Aku datang jauh-jauh ke Sokcho untuk menemui pria itu
dan memarahinya dengan tegas.
Dia akan menyadarinya.
Apa gunanya memarahi anak orang lain?
Apa?
Putrimulah masalahnya.
Ya…
Itu benar.
Aku juga sangat tegas saat memarahi Soo Hyun.
Jika Ibu bisa lebih memaklumi…
Sampai sejauh apa aku harus memaklumi?
Jika ini yang ingin dibicarakan, mari kita hentikan.
Aku tidak tertarik lagi.
- Bu Ketua. - Putraku
sedang menemui wanita lain untuk dipilih sebagai istrinya.
Aku akan menolak menemuimu seperti ini untuk ke depannya.
Berdirilah.
Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan
untuk membuat Soo Hyun kembali ke tempatnya.
Kumohon.
Pemilihannya sebentar lagi. Kumohon, Bu Ketua.
Kamu benar.
Sesaat lagi, kamu akan menjadi ibu negara di Gedung Biru.
Kamu tidak boleh bersikap seperti ini.
Meski untuk menjamin bahwa kamu akan menempati Gedung Biru
setelah melepaskan tangan Taegyeong.
Bu Ketua. Soo Hyun dimanjakan saat kecil,
jadi, dia masih kekanak-kanakan.
Ini semua salahku.
Aku tidak akan membuat Ibu kesal lagi.
Aku merasa kamu tidak akan berdiri,
jadi, aku akan berdiri lebih dahulu.
Tenanglah dan hati-hati dalam perjalanan pulang.
Bagaimana bisa kalian berdua melakukan ini di belakangku?
Pak Nam akan kelelahan.
Aku meminta bantuannya agar merasa lega.
Aku sudah makan cumi-cumi dan eomuk di bus. Itu menyenangkan.
Berhati-hatilah dalam perjalanan pulang.
Aku pengemudi terbaik di sini. Kenapa kamu khawatir?
Baiklah.
Ibu sebaiknya beristirahat dalam perjalanan pulang.
Aku pamit.
Sering datang kemari membuatku merasa ini kampung halamanku.
Aku akan mentraktir makanan enak jika kamu kemari lagi.
Baiklah. Mari minum soju nanti. Aku pamit.
Hati-hati.
Sampai nanti.
Maafkan aku. Makananmu akan segera disajikan.
- Permisi. - Ya?
Ini lezat. Tolong berikan lagi untuk kami.
Baiklah. Terima kasih.
Kenapa kamu ingin menemuiku?
Apa? Aku?
Kamu memintaku datang kemari. Adik Jin Hyuk meneleponku.
Dia bilang kamu memintaku datang ke restoran ini.
Jin Myung mengatakan tidak bisa bekerja hari ini,
jadi, kubilang sebaiknya dia mencari pekerja paruh waktu untukku.
Apa kamu datang untuk bekerja?
Bekerja? Aku?
Tunggu sebentar. Aku harus membuat siput bulan.
Permisi.
Permisi.
Di sini.
Sebentar.
Aku ingin bir lagi.
- Akan kuambilkan berondong jagung. - Terima kasih.
- Kamu mau celemek? - Apa katamu?
Silakan.
Soo Hyun.
Ya?
Rasanya sulit, bukan?
Aku masih bisa menahannya.
Apa aku perlu menceritakan kisah yang sangat sedih?
Dahulu ada seorang wanita yang aku suka.
- Sungguh? - Ya.
Kurasa dia tidak benci padaku.
Tapi aku tidak pernah bisa menyatakan cinta kepadanya.
Kenapa tidak?
Saat bercermin, aku merasa tidak pantas.
Dia sangat cantik.
Dia bersinar, bahkan dari kejauhan.
Meski mungkin dia tampak seperti itu hanya bagiku,
dia cantik.
Kamu cukup tampan.
Wajahku besar.
Ayolah.
Aku juga pernah dipenjara.
Tapi kamu tidak merampok atau menyakiti seseorang.
Mereka memenjarakanmu karena tersinggung oleh artikelmu.
Tetap saja aku mantan tahanan.
Aku bisa mencari nafkah hanya karena kamu presdir perusahaan ini.
Entah apa yang akan kulakukan jika tidak seperti itu.
Pak Nam, jangan bicara begitu. Kamu membuatku ingin menangis.
Aku menceritakan ini bukan untuk membuatmu menangis.
Jika tidak ada kamu, aku tidak akan punya teman.
Sekretaris Jang… Kamulah
yang juga mengenalkan Mi Jin kepadaku.
Ibu tidak akan membiarkanku bermain dengan anak seusiaku,
tapi kamu mengizinkanku ke konser diam-diam bersama Mi Jin.
Kamu juga membantuku mengadakan pesta piama saat orang tuaku pergi.
Itu karena Mi Jin sangat ingin bermain.
Intinya, jangan bicara seolah kamu tidak pantas mendapatkan semua ini.
Itu akan membuat aksi mogok makan ayahku sia-sia.
Kamu benar. Kamu benar, Soo Hyun.
Lalu?
Apa yang terjadi antara kamu dan wanita itu?
Aku tidak pernah bisa menyatakan perasaanku.
No comments yet. Be the first to leave one.