The first 200 lines.
Sebelumnya di Mighty Ducks: Game Changers.
Aku pembimbing asrama kalian!
Kami senang ada kau. Juga ruang yang kau berikan.
Banyak peringatan buruk.
Ini gila!
Apa maksudmu? Tadi hebat.
Masa bagi anak untuk hebat dalam hoki tanpa dihalangi sekolah.
Tak menang musim panas.
Kau terobsesi dengan musim ini.
Biar aku yang kelola.
Aku tak suka hoki.
Aku hanya di sini karena disuruh Ayah.
Tembak!
Kau lebih baik dari itu.
Rasanya tidak, Ayah.
Coach Classic dimainkan tiap tahun, di mana pemain menghadapi pelatih.
Bagiku, itu menentukan komitmen untuk kehebatan di EPIC ini.
Setiap pelatih bermain di hoki kampus atau pro.
Mau jadi lebih baik? Bermainlah lebih baik.
Baja mengasah baja.
Mereka suka. Bagi banyak anak, ini malam terhebat musim panasnya.
Namun, semua yang didapat, harus diupayakan.
Inilah hoki paling agresif.
Coach Classic! Aku suka.
Pertandingannya besok malam.
Aku melihat bakat hebat beberapa minggu ini.
Agak cemas kalian mungkin akan menyulitkan para pelatih.
Siapa mau ikut?
Semua mau! Itu bagus.
Sayangnya, hanya bisa sepuluh anak, yang dipilih secara acak.
Jika kalian termasuk yang mujur, besok pagi saat bangun,
dan membuka pintu, ada kaus emas dengan namamu.
Bagai Natal, jika kau dari keluarga yang ganas.
Lihatlah.
Orang dewasa meremukkan anak. Bagaimana ini legal?
Jika aku dipilih, kenanglah aku dengan senang. Ceritakan kisahku.
PUSAT ES PERFORMA ELITE COACH CLASSIC
Astaga, siapa anak itu? Dia hebat. Mengalahkan semuanya.
Ya.
Ayo!
Tunggu.
Sampai nanti.
Hei!
Itu kau di video itu.
Tidak lagi. Boleh kembalikan bolaku?
Aku mencarimu di internet.
Kau peringkat tiga di AS untuk usiamu.
Kau disebut bisa main di NHL.
Terima kasih sudah memberi tahu. Harus kuperiksa.
Jadi, kau tak mau bahas?
Kau tak mau dengar. Kau di kamp hoki.
Kau cinta hoki. Tak mau dengar bisa mengacaumu.
Mungkin aku mau dengar.
Kau mau dengar semua tekanan Ayah kepadaku
membuatku gagal di pertandingan terbesarku dan mencetak gol?
Atau kau mau dengar soal aku kacau
dan kini punya gangguan menetap? Mau dengar yang itu?
Aku turut sedih.
Sudah kulupakan.
- Mungkin bisa kubantu... - Tidak!
Kalian datang dari seluruh negeri untuk dilatih Ayah jadi yang terbaik.
Selamat jadi bagian dari EPIC, Pusat Es Performa Elite.
Semoga berhasil bagimu.
Boleh kembalikan bolaku?
Waktunya surat!
Hari paket!
Itu untukku.
Di mana punyaku? Ini.
- Astaga, semoga ini... - Permen!
- Permen! - Permen, aku mau!
Kau belum buka bungkusnya.
Tak sempat!
Jijik.
Kedua ibuku penuh perhatian.
Mereka kirim empat jenis permen biasa.
Ada karamel, permen,
cokelat, dan permen kunyah!
Juga sandal bulu untuk malam dingin.
Mereka gunting artikel dari koran kota kita.
Apa! Val Lundgren pensiun?
Tak ada lagi bendahara dewan sekolah seperti dia lagi, asal tahu saja.
- Ini paketmu, Sof. - Terima kasih.
Aku mau cokelat sekarang.
Atau buku latihan PSAT.
Semuanya, inilah orang tuaku.
- Terima kasih. - Hei!
Coach Classic besok. Ayo tidur.
Asal tahu saja, permen itu melanggar aturan.
Namun, yang tak kulihat, tak kuketahui. Baiklah.
Para pelatih akan menggempur.
Entahlah. Ada banyak anak hebat.
Kau lihat teman sekamarku, Lawrence.
Dia bilang ayahnya dapat polis asuransi sejuta dolar untuk kakinya.
Di plakat, pelatih selalu menang.
Selalu ada saat pertama.
Mau buat jadi menarik? Taruhan permen para pelatih menang.
Baik, tetapi beri aku kemungkinan. Para pelatih terlalu bagus.
Tiga banding satu?
- Kalian bertaruh? - Ya.
Aku ikut.
Satu lagi untuk para pelatih.
Ya, bisa bertaruh aman dengan cokelat,
atau bertaruh pada pemain dengan peluang 10:1.
Apa?
Para pemain tak akan menang.
Jika mereka kalah, kau kalah apa? Hanya satu permen?
Jika mereka menang, sepuluh permen lezat jadi milikmu.
Cokelat, karamel, mungkin nugat. Kau suka nugat?
Aku suka nugat. Aku ikut.
Pilihanmu benar.
Beri tahu temanmu.
Apa yang baru terjadi?
Aku belajar taruhan olahraga dari Ayah.
Aku penasaran saat dia teriak. Jadi, dapat ide.
Pacarku di Asrama C bilang seisi kamp kini punya permen.
Kukira pacarmu di Asrama B.
Tidak, itu gagal. Masih berteman.
Itu hebat.
Tawarkan peluang untuk tim pemain menang, terima banyak taruhan.
Jika pemain kalah, kita tak perlu bayar.
Permen kita akan banyak! Mau ikut?
- Aku ikut. - Aku ikut.
- Nick? - Tak bisa. Ibuku mengirim permen ini.
Bagai bertaruh dengan cinta mereka.
Dasar anak mama.
- Hei, Nak. - Hai, Ibu.
Ada pasta gigi...
Semoga kau tak marah aku tak kirim paket.
Aku sudah di sini, jadi kau tahu aku peduli.
Aku hanya peduli soal seragam emas di luar pintuku besok pagi.
- Ya, itu bagus. - Semoga beruntung.
- Dia melalui sesuatu. - Ya.
- Dapat! - Ibu!
Pasti melekat semalaman. Selamat tidur, sayang kau!
- Semoga ada seragam. - Semoga tak ada seragam.
- Tidak! - Terima kasih! Ya!
Aku merencanakan pelarian kedua, jadi itu kabar baik.
Lihat.
Setidaknya aku tak dapat.
CATATAN PELATIHAN HOKI ES
Aku tak mau main.
Hei! Kau dipilih!
Kau tahu aku dipilih.
Aku tak terkait.
- Sungguh? - Ya.
Ada sepuluh tempat, dan putramu kebetulan dapat?
Ini acak, Jace. Oleh komputer.
Aku tak akan pura-pura tak senang. Ini bagus bagimu.
- Bagiku? - Ya.
Sungguh? Ini bagimu. Selalu.
Aku sangat ingin dapat.
Aku tahu, aku mau melihatmu main.
Melawan mantan pemain NHL? Kapan itu bisa terjadi lagi?
Sial sekali! Sedihnya ini tak berhasil.
Kau mau tempatku? Ambillah.
Apa? Kau yakin?
Ibu! Akhirnya berhasil.
Ya, kau tak akan main.
Apa? Kau bilang...
Aku bohong. Kau anakku dan tak ikut main.
Kau tak melawan pemain NHL. Mereka selalu cedera.
Di tubuh bawah dan atas. Tak ada bagian lain tubuh.
Sejak tiba di sini, kau bilang tak akan jadi ibuku.
Karena dia tak di sini, kau tak bisa mencegahku main.
Ini pengecualian.
Ini klausa mimpi buruk gilanya.
Kau tak mendengarkanku.
- Baik, kita dapat lima. - Lima.
Satu pada anak-anak.
Maggie, Mags, kenapa bertaruh satu demi mendapat 20
saat kau bisa bertaruh lima dan dapat seratus?
PELATIH - PELUANG - ANAK-ANAK
- Baik, sepuluh! Benar, Mags! - Ya!
Tunggu, hanya sembilan permen dan sabun mandi semangka.
Kami terima sabun mandi.
Kami terima sabun mandi.
Baik, ini. Nikmati harimu.
Kita perlu bicara.
Bagus. Simpan saja keluhanmu
dan minta Marni buat rapat mingguan.
Serius. Coach Classic ini kegilaan lain lagi.
Kukira kau suka tradisi kamp. Anggap saja ini perang warna.
Perang warna itu antara anak. Melempar-lempar telur.
Ini bagai melempar granat. Evan tak boleh ikut.
Apa maksudmu? Evan tak masuk tim.
Putramu berikan tempatnya.
Dia tak bisa ambil tempat Jace. Tak begitu caranya.
Evan tak boleh main.
Kau tak bisa kemari dan mulai...
- Tunggu, debat kita sama. - Tidak.
Ya.
- Ya. - Kurasa begitu.
Tunggu, ini pertama kalinya kita sepakati sesuatu?
Kurasa begitu.
Baik, jangan cemas. Akan kuurus.
- Semoga kau bisa kuandalkan! - Kita mau hal sama.
- Ya, rasanya aneh. - Baik.
Baik.
Baik, sempurna.
Lima.
No comments yet. Be the first to leave one.