The first 200 lines.
Ini, cobalah. Aku yang buat.
Cobalah!
Ayo makan!
Enak?
- Rasanya memang seperti buatanmu. - Maksudmu?
Enak! Anya, kue mangkuk buatanmu semakin enak setiap tahunnya.
Terima kasih, Sayang! Aku juga mau.
Buatanku sudah pasti enak.
Enak, 'kan?
Terima kasih sudah melahirkan Senja ke dunia ini.
Kami rindu kalian.
Tak terasa sudah enam bulan berlalu.
Pria yang kusuka pacaran!
Lihat, dia bersama seorang gadis!
Nya, ini pria yang mengobrol daring denganmu sejak bulan lalu, 'kan?
Yang setiap hari mengirim emoji ciuman untukku.
Sudahlah, aku muak pada pria. Persetan!
Hei! Beraninya kau!
Hei! Kau bisa mengendarai motor atau tidak?
Bagaimana jika aku tertabrak dan terjadi sesuatu. Kau bisa...
Maaf.
Lain kali jangan jalan sambil lihat ponsel.
Apa? Kau masih tetap salah! Nya, katakan padanya!
Dia malah pergi.
Hei, kalau minta maaf yang ikhlas! Nya!
Nya? Anya!
Ayo bicara! Kenapa hanya menatap?
Dia tampan!
Tadi kau bilang sudah muak pada pria.
Apa? Kau salah orang.
Anya!
Kami sedang mencari panitia pesta dansa Valentine. Silakan daftar.
Dia kelas berapa, ya?
Aku belum pernah melihatnya.
Nya!
Apa kau merasakannya?
Ada benih-benih asmara di antara kami.
Percikan.
Anya!
Kenapa tadi dia tak ada di kantin?
- Aku sangat ingin mengenalnya. - Tak ada topik lain?
Saat jatuh cinta, aku bersungguh-sungguh.
Kenapa? Karena cinta itu sakral.
Semakin total kau berikan hatimu, maka kau semakin bahagia.
Andai saja kau setotal itu saat mengerjakan tugas.
Kenapa ada foto bubur ayam di artikel ini?
Karena judulnya "Sarapan untuk Pikiran?"
Kau hanya baca itu?
Ini salahku. Aku tak memeriksa pekerjaannya.
Seharusnya kalian tahu, malam ini artikel ini harus dicetak.
Anya, jika tak kirimkan foto yang benar, sore ini tamat riwayatmu.
Baiklah.
Hei, Nya! Nya!
Pinjam.
Kenapa tak ikut ekskul?
- Kau mau mengadukanku? - Tidak.
Kau murid baru, ya?
Aku Anya, yang tadi pagi hampir kau tabrak.
Tenang, sudah kumaafkan.
Kau juga suka baca buku?
Kau sama seperti sepupuku.
Sepupuku suka baca buku dan menulis.
Lalu saat di rumah, dia akan...
Kau bisa diam?
Hei, kenapa kalian ada di sana? Kembali ke klub.
- Masuk! Cepat! - Baik.
Kenapa mereka malah kabur?
Kudengar...
kau mau menulis untuk majalah kita?
Aku masih ada tempat untuk edisi bulan depan.
Kuharap kau bisa menulis cerita yang bagus.
Jangan permalukan aku.
Baik.
Apa kabar, Bu?
Masa bodoh jatuh, patah tangan, patah hati. Tetap semangat. Jakarta keras!
Halo, keluargaku tercinta.
Anya, kenapa baru pulang jam segini?
Bu...
Aku baru tahu arti hidup. Jantungku berdegup karena cinta.
Berdegup? Jantung Ibu yang berdegup! Kau tak mengabari Ibu!
- Gantikan Senja menyetrika baju! - Cerewet.
Terima kasih, Senja!
Berkat jurnalmu, aku berhasil berkenalan dengan pria tadi pagi!
Hei, Anya!
- Bagaimana bisa? - Takdir.
Takdir. Dasar kau ini.
Menyetrika saja belum benar, sudah bicarakan takdir?
Belajar menyetrika dulu pada Senja. Ayo.
Belajarlah menyetrika dengan benar.
- Berisik. - Hei, Nya.
- Di mana jurnalku? - Di tasku.
- Kau yakin meletakkannya di sini? - Aku yakin. Memangnya tidak ada?
- Lihatlah sendiri. - Carilah dengan teliti.
Tidak. Aduh.
Ya, ampun.
Astaga!
Di mana, ya?
Astaga, Senja. Maafkan aku, Senja.
Aku janji akan temukan buku itu.
Aku tahu betapa pentingnya jurnal itu untukmu.
Tak apa-apa, Anya.
Itu...
Itu hanya buku.
Bagimu itu bukan hanya buku biasa.
Kau curahkan semua isi hatimu di sana.
Anya?
Nya.
Anya.
Anya, kenapa kau menangis?
Aku yang seharusnya menangis, bukan kau.
Cukup, aku tak mau melihatmu menangis. Sudahlah.
Buku itu masih bisa diganti.
Tapi kau tidak.
Maaf.
- Aku janji akan menemukannya. - Anya.
Tak ada yang lebih penting darimu.
Sahabatku.
- Sedang apa kau? - Ayah.
Tidak ada.
Sedang mengerjakan tugas.
Ayo main basket!
Aku malas.
Bara.
Ayah tunggu di depan. Ayo cepat!
Bagaimana sekolah barumu? Seru? Kau sudah punya teman baru?
Tidak seru. Berbeda dengan Bandung.
Sudah pasti berbeda dengan Bandung. Tak mungkin sama.
Jangan khawatir, carilah teman baru.
Bar.
Kita pindah ke sini untuk memulai sesuatu yang baru.
Ayah yang butuh itu.
- Aku tak butuh. - Bar, ayolah.
Bar, Ayah tahu kehilangan Ibu sangat berat. Berat untuk Ayah dan kau.
Tapi kita harus melangkah. Hidup terus berjalan.
Sudahlah, Yah.
- Permainan berakhir. Ayah menang. - Bar, tunggu. Bar.
Bara!
Bara, tunggu! Bara, tunggu sebentar!
Bar, sekarang hanya tinggal kau dan Ayah. Tak ada orang lain.
Harus saling menguatkan. Kita tak punya orang lain.
Ada. Ada orang-orang yang menguatkanku.
Teman-temanku di Bandung. Mereka selalu menguatkanku.
Mereka yang menguatkan aku saat Ibu pergi. Ayah di mana?
Ayah...
Ayah hanya mengurung diri.
Aku tak pernah merasa Ayah ada.
Sekarang Ayah menjauhkanku dari mereka.
Aneh jika aku marah?
Tadi Ayah pikir kita bisa...
Maafkan Ayah.
Ayah tak menduga dengan pindah ke sini kau malah...
merasa kehilangan.
Ayah juga minta maaf.
Selama satu bulan...
Kau tahu, 'kan?
Ayah bertemu ibumu saat SMA.
Kami satu kampus.
Akhirnya kami menikah.
Tidak satu hari pun...
Ayah pergi tanpa ibumu.
Tidak sehari pun. Kami selalu bersama-sama.
Tapi di hari itu...
dia pergi sendiri.
Untuk selamanya. Jadi Ayah...
Jika kau...
Jika kau mau kembali ke Bandung, tak masalah.
Tak apa-apa, Ayah akan tetap di sini.
Lalu siapa yang main basket dengan Ayah?
Ada satpam kita, Pak Matum dan Bu Ijah.
Dengan begitu Ayah bisa terus menang?
Aku akan coba cari teman di sini.
Sepertinya ada yang mengalami hal yang sama denganku.
Hai.
Maaf aku terlambat.
Kau jahat sekali. Aku membereskan rumah sendirian.
Sebentar lagi kau pasti memaafkanku.
Ta-da!
Mau menyogokku? Nanti kulaporkan ke KPK.
- Berat! - Kau banyak bicara.
- Ayo cepat buka! - Bantu aku.
Wah.
Kau pasti mengerjaiku.
Di dalamnya pasti hanya ada batu dan satu permen, 'kan?
Ya.
Aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Itu memang laptop bekas.
Aku tak mampu membelikanmu yang baru.
Kau keterlaluan.
Maksudmu terlalu baik? Memang benar!
Aku tahu sejak jurnalmu hilang kau jadi jarang menulis.
Itu sebabnya aku memberimu cara baru untuk berkarya.
Bukan di lembaran rahasia,
tapi di depan seluruh dunia.
Jadi, semua orang bisa membacanya.
- Tambahkan lagi. - Masukkan tahu.
Tak peduli berapa kali kau terjatuh...
"Kau harus cari lebih banyak cara untuk bangkit lagi.
@caramellatte." Keren!
Bagus sekali!
Tentu saja!
No comments yet. Be the first to leave one.