The first 200 lines.
Hei! Hai!
Ya ampun, lihat ini.
Cantik seperti biasa.
Menarik!
Kau mengemas koleksi bola bolingmu di dalamnya?
Astaga! Suasana hatinya sedang baik.
Siapa yang kusayangi?
Kau tahu aku menyayangimu.
Aku juga sayang Ibu.
Tahun Senior. Ini dia.
Semuanya penting,
tetapi ini yang membawamu ke garis akhir.
Apa yang selalu kukatakan?
Aku bisa hadapi ini.
Kau bisa hadapi ini.
Tahu yang tak akan kurindukan?
Bayar 28 ribu setahun.
Ayah.
Jangan dengarkan dia.
Dia memang pelit dengan uang.
Aku suka di sini.
Aku suka kembali ke almamater kita, benar, Sayang?
Secara teknis, ini almamaterku.
Kau tak lulus.
Dia menyukainya.
Astaga, aku akan menangis.
- Ibu! - Kau tahu?
Rasanya aku cuma butuh keju atau semacamnya.
Aku agak kurang camilan.
Baik, ada lalu lintas.
Baiklah. Kita akan lepaskan.
Kau wanita muda yang luar biasa.
Sayangku kepadamu sangat mendalam.
Apa? Jarakku cuma 22 menit!
Itu 22 menit terlalu jauh bagiku.
Selamat bergembira di Italia. Pasti hebat.
Arrivederci ! Itu bahasa Italia.
Selamat bergembira.
Simpan resimu. Cuma bercanda, tetapi simpanlah.
Baik.
Pintunya.
Ya. Ya, ampun.
Ciao , Sayang!
Ciao.
Kita berdua fasih. Aku datang, Dan.
Klakson dirimu, Tuan.
Ada yang mau aku masuk ke mobil untuk dirinya sendiri.
Empat minggu di Italia.
Kau siap? Aku siap.
Aku selalu menikmati liburan kita di rumah,
tetapi aku siap untuk naik gondola dengan suamiku.
Tunggu!
Aku mau lihat gadis kita masuk.
Lihat itu.
Aku mau cerai.
- Apa? - Aku mau cerai.
Melegakan sekali mengatakan itu.
Aku mau sepenuhnya terbuka denganmu, Deanna.
Aku jatuh cinta dengan orang lain.
Kau jatuh cinta dengan siapa?
Marcie.
Marcie Strong.
Makelar rumah itu?
Yang ada di bangku bus?
Dia juga ada di beberapa papan iklan di pusat kota,
dan dia punya pengikut media sosial yang cukup terhormat.
Astaga!
- Jangan... Kumohon... - Jangan sentuh aku.
- Tolong tetap di mobil. - Aku mau muntah.
Aku tahu ini terdengar jahat,
tetapi kulakukan ini agar tak berlarut-larut.
Seperti menarik plester dengan cepat.
Ini lebih baik bagimu.
Jangan berani mengatakan bahwa ini lebih baik bagiku.
Juga, mengingat kita akan sepenuhnya terbuka,
aku akan jual rumahnya.
Tak bisa begitu. Bukan itu cara kerjanya.
Marcie sudah memulai dokumennya, dan semua atas namaku.
Hentikan! Ini sewaan.
Kita masih harus bayar 10 bulan...
- Hentikan, kumohon! - Aku tak peduli ini sewaan.
Tolonglah, kembali ke mobil.
Itu akan kena biaya.
Kita akan bicarakan ini nanti.
Pergi saja, Dan.
Kini aku harus pakai Waze.
Dua puluh tiga tahun perkawinan lenyap begitu saja.
Bisa percaya itu?
Tidak. Aku sangat kecewa kepada Dan,
dan Maddie akan berbuat apa?
Kau harus batalkan perjalanan ke Italia.
Sumpah, aku tak mengira ini akan terjadi.
Kau selalu dengar itu, tetapi aku tak mengira itu akan terjadi.
Kuberi tahu ini, Dan tak pantas untukmu.
Kau wanita yang hebat, Deanna.
Terima kasih. Kau baik sekali.
Ini dia. Rumah orang tuaku di depan sebelah kanan.
Terima kasih, Dale.
Dari lubuk hatiku yang paling dalam,
akan kuberi kau ulasan Uber yang bagus.
Semoga harimu jadi lebih baik, Deanna.
Aku yakin begitu.
Mau kubuatkan roti lapis?
Tidak, terima kasih, Bu. Aku tak lapar.
Kalau roti lapis selada tuna atau selada telur?
- Kau suka selada telur. - Aku memang suka selada telur.
Aku janji, nanti kuberi tahu,
tetapi aku benar-benar tak lapar saat ini.
Setidaknya Marcie cantik.
- Mike! - Ayah! Astaga!
Apa kubilang?
Akan lebih buruk jika dia cuma bersahaja.
- Tidak, itu tak akan lebih buruk! - Kau tahu?
Dan itu tak berguna.
Aku tahu itu sejak pertama dia coba membuatmu berhenti kuliah.
Pria macam apa yang membuat istrinya yang hamil
berhenti kuliah padahal tinggal setahun lagi?
Mike, pelankan suaramu.
Kau membuat Razzles gusar.
Maaf, Razzy.
Dia tak membuatku berhenti kuliah.
Aku dan Dan memutuskan itu bersama. Kami akan punya bayi!
Kami perlu menghemat uang.
Cuma mampu satu dari kami yang selesaikan kuliah,
dan dia pikir lebih penting jika dia yang lulus.
- Baik. - Ya?
Aku seharusnya kembali kuliah. Hanya tak pernah terjadi.
Kau sudah hampir lulus.
Kurasa dia cuma masih kesal.
Ya, aku cuma masih agak kesal.
Ya.
Aku punya ide, Sayang.
Bagaimana kalau roti lapis ham?
Sandy, dia tak mau roti lapis ham.
Namun, dia suka ham, Mike.
Tentu saja, dia suka ham. Semua suka ham!
Namun, intinya, dia terlalu kesal untuk makan!
Yang membuatku kesal adalah perkawinanku hancur,
dan kalian berdua terus berteriak tentang ham!
Aku tak berteriak tentang ham.
- Kau berteriak tentang ham! - Kau begitu!
Ya, hentikan!
Kau pikir aku berteriak tentang ham?
Saat ini, suaramu meninggi dengan "ham"!
Baik! Aku berteriak tentang ham! Tak bisa kuhentikan!
Aku jadi sangat marah!
Aku benar-benar marah!
Aku serasa akan meledak seperti pemanas air panas!
Aku akan pergi sekarang.
Aku akan membuat roti lapis untuk semuanya.
Bu, apa cuma aku yang tak mengira ini akan terjadi?
Ya. Aku akan menembak Dan.
- Mike. - Ya!
Letakkan pistolnya. Kau tak akan menembak Dan.
Ayah, berhenti mengayunkan pistol itu.
Aku tahu persis yang akan kulakukan.
Astaga! Kau hampir menembak Razzles.
Michael, kau buat tangganya berlubang!
Kau tahu? Kesalahan Dan!
Ini kesalahan Dan.
Sial!
Kau tak bisa sebut ini racquetball.
Ini mempermalukan permainan.
Kau tahu? Aku memang sempat menolak,
tetapi terima kasih telah membawaku keluar dari rumah.
Ayolah. Kau pikir apa gunanya sahabat?
Hei!
Maaf, dilarang minum alkohol di lapangan.
Diamlah, Eugene!
Jangan marahi anak itu!
Berapa yang sudah kau minum?
- Aku minum tiga dalam perjalanan kemari. - Ya.
Kusuruh Frank mengantarku.
Kau minum empat di sini.
- Kau minum tujuh? - Aku minum tujuh.
Kami harus berbuat apa? Menunggu di sini seharian?
Mari kita tunjukkan bagaimana caranya, ya?
- Astaga! - Maaf.
Tepat di kemaluanku.
Itu tak lucu!
- Diam! - Tak lucu.
Astaga! Sakit sekali.
Aku sungguh minta maaf.
Mungkin aku sedang memikirkan wajah Dan atau area selangkangannya.
- Namun, kau mahir. - Aku agak lepas kendali.
Pukulanmu bagus. Wah!
Apa yang kulakukan? Aku minum alkohol
di lapangan racquetball dan memarahi pria tua.
Apa yang akan kulakukan?
Sewa apartemen studio atau mulai ikut kelas sepeda aerobik?
Astaga! Aku tak mau memulai blog.
Aku tak tahu cara melakukannya.
Tolong jangan lakukan itu.
Aku seharusnya lebih melawan.
Jangan lakukan itu kepada dirimu.
Yang kau lakukan sudah bagus.
Bagaimana dengan Maddie?
Dia sangat hebat.
Dia sangat hebat.
Aku sama sekali tak menyesali itu.
No comments yet. Be the first to leave one.