The first 200 lines.
Resync By Bajingan, Toa Pek Yuna
- Jadi apa pekerjaanmu? - Aku sedang belajar menjadi aktris. Kau?
- Aku buruh. - Tidak, aku serius.
Aku juga serius.
Mulai Minggu depan,
aku akan lakukan sesuatu yang sedikit lebih menarik.
Apa itu?
Sebagai kasir malam di cafetaria.
Maksudku bukan pekerjaanmu. Tapi, apa yang membuatmu tertarik?
Sayang, jika aku harus jawab pertanyaan itu,
kurasa kita pasti sudah bosan dalam setengah jam ini.
Syukurlah sudah berakhir.
Penampilan pertama Laurel Players yang berlebihan.
Dan dia sangat kecewa.
- Frank! Bagus sekali, Frank! - Terima kasih banyak, Ny. Givings.
Tak bisa kukatakan betapa aku menikmatinya. Istrimu sangat berbakat.
Permisi.
- Frank! - Hai!
Dia disana. Aku sudah siap untuk minum.
Sebentar lagi.
April? Sayang?
- Hai. - Hai.
- Sudah siap? - Ya. Ya.
Aku harus bersihkan riasan dulu.
Ku rasa kau tak puas dengan aktingmu, ya?
- Kurasa tidak. Aku siap sebentar lagi. - Akan ku tunggu.
Dengar, bisa kau lakukan sesuatu?
Milly dan Shep mengajak kita keluar minum sebentar.
Bisa kau menolaknya? Katakan saja karena anak-anak atau apa saja.
Masalahnya, aku sudah bilang bisa.
Aku sudah bertemu mereka dan aku bilang kita akan ikut.
Kalau begitu bisa kau temui mereka dan bilang kalau tak bisa?
Itu hal mudah.
Tidakkah menurutmu itu sedikit kasar, April?
- Kalau begitu biar kusampaikan saja. - Oke. Oke, tenang.
Baiklah. Akan kukatakan.
Aku sungguh-sungguh, sayang. Hanya kau yang hebat di sandiwara itu.
Terima kasih.
Tak seharusnya kau biarkan dirimu memikirkan itu.
Baiklah.
Mereka masih amatir. Kau sudah belajar.
Bisa kita tak membahasnya sekarang?
Tentu.
Aku hanya tak ingin kau merasa sedih, itu saja.
Karena itu tak ada gunanya.
Cukup buruk bermain peran dengan orang-orang ini...
- Apa yang kau katakan? - Aku bilang ya. Baik, Frank.
Bisakah kau berhenti membahas itu sebelum kau membuatku kesal?
Apa yang kau lakukan?
April, sayang, kita bicarakan ini, oke?
- Tidak, Frank, aku tak mau. - Ayolah.
- Jangan sentuh aku. - April...
Tinggalkan aku sendiri.
Oke. Oke.
Ini membuatku merasa terbebani dengan kejadian ini.
Dan ada beberapa hal yang ingin ku perjelas. Oke?
Pertama, bukan salahku kalau sandiwara itu jelek.
Yang kedua, tentu saja bukan salahku
kalau kau tak bisa jadi aktris,
dan hanya bisa bermain kecil dalam opera sabun,
itu yang terbaik yang bisa kita lakukan.
Yang ketiga, aku bukan contoh
suami pinggiran kota yang bodoh dan yang tidak mengacuhkan keadaan.
Kau menyalahkan keadaan ini padaku bahkan sejak kita pindah.
Dan aku tak bisa mendiamkannya.
Yang keempat... April? April!
April.
Apa yang kau lakukan? Kembali ke mobil.
Tidak. Aku ingin sendiri. Biarkan aku berdiri disini sebentar.
Sial!
April, bisakah kau kembali ke mobil dan kita bicarakan ini
daripada lari di Rute 12 ini?
Tidakkah sudah ku jelaskan kalau aku tak mau membicarakan ini?
Oke. Aku cuma bersikap baik
mengenai yang terjadi.
Betapa baiknya dirimu. Betapa sangat, sangat baiknya dirimu.
Tunggu. Aku tak layak menerima ini.
Kau selalu sangat yakin dengan
yang kau lakukan dan kau masih merasa tak layak.
Tunggu! April! Dengarkan aku.
Kali ini kau tak bisa menghindar lagi
dengan apa yang ingin ku katakan, April.
Ini baru terjadi sekali.
Aku tahu bukan aku yang salah.
Kuharap kau bahas ini dirumah.
Kau tahu seperti apa dirimu saat kau seperti ini, April?
Kau gila. Aku sungguh-sungguh.
- Kau gila! Apa? - Dan kau tahu kau apa?
- Kau menjijikan. - Oh, ya?
Jangan membodohiku, Frank.
Hanya karena kau membuatku nyaman dalam perangkap kecil ini,
kau pikir kau bisa membuatku merasakan apa yang kau ingin aku rasakan!
- Kau dalam perangkap? - Ya! Ya! Aku, Frank!
- Astaga, jangan buat aku tertawa! - Aku!
Kau menyedihkan, bocah penghayal. Lihat dirimu!
Lihat dirimu dan katakan padaku, dari sudut khayalan mana
kau bisa menyebut dirimu pria dewasa?
Sialan!
Astaga
- Jangan lihat aku seperti itu, April. - Bisa kita pulang sekarang?
Lantai 15.
Aku akan membutuhkan bantuanmu pagi ini, Pramuka Tua.
Untuk beberapa jam ke depan, kau harus ingatkan aku setiap kedatangan Bandy
dan kau harus melindungiku dari pandangan publik
yang mungkin saat aku kosongkan perutku.
Seburuk itulah.
Selamat pagi, Jack.
Tak ada yang enak dengan ini.
Tentu saja, aku tahu saat kau melangkah keluar dari kereta api
dan apa yang kau cari.
Gudang kecil yang dirubah bentuk, atau rumah kereta.
Dan harus ku katakan rumah semacam itu
tidak dijual lagi.
Tapi aku tak ingin kau putus asa.
Ada satu rumah ditempat ini yang ingin ku tunjukan padamu.
Tentu saja, yang ini tidak begitu diinginkan orang lain.
Seperti yang bisa kau lihat, Jalan Crawford kebanyakan agak sider blok,
tempat tinggal bagi supir pick-up, tukang ledeng, tukang kayu,
orang-orang kecillah.
Tapi pada akhirnya...
Secepatnya jalan ini mengarah ke Jalan Revolusi, yang lebih baik.
Rumah yang ingin kutunjukan padamu
rumah kecil yang nyaman dan letaknya yang strategis.
Sederhana, bentuk yang bersih, rumput bagus, anak-anak yang mengagumkan.
Rumah itu ada disekitar tikungan ini.
Kau akan lihat. Disana. Yang warnanya putih? Bagus, 'kan?
Yang bagusnya lagi rumah itu agak sedikit landai? Keren, 'kan?
Oh, ya.
Bapak ingin menemui saya?
Ini datang untukmu dari Toledo pagi ini. Ini yang ketiga kalinya di bulan ini.
Maaf. Ku pikir sudah aku urus...
Aku tak mau membicarakan ini lagi, Frank.
- Kau mengerti? - Aku baru saja ingin...
Orang-orang didaerah ini mengawasi kita. Kita harus lebih efisien.
Kita tak bisa terus menerima ini dan terus-terusan.
- Ini tidak efisien. Benar kan? - Ya.
- Masalah apa? - Toledo.
Manajer Cabang ingin merevisi brosurnya
untuk pertemuan di Knox 500.
"Ini tidak efisien. Benar 'kan? Benar 'kan? Benar'kan?"
Terdengar seperti bos.
Demi Tuhan. Aku bahkan tak tahu apa yang dilakukan Knox 500. Kau tahu?
Jangan menghinaku.
Jika kau lihat file non-aktif dibawah SP 1109,
kau akan temukan salinan surat yang kita kirim ke agensi,
dengan begitu kita bisa lacak surat itu dari sumber aslinya.
Dengar, ku harap kau tak berencana makan siang lebih cepat hari ini.
Tidak. Aku tak begitu lapar.
Bagus. Akan ku lihat lagi nanti. Oke?
- Oke. - Oke.
Kau tahu sesuatu, Maureen?
Kau beruntung bertemu aku.
Beruntung apanya?
Kurasa aku bisa menunjukanmu simpulnya.
Tentunya ada seni bertahan hidup di Knox. Sungguh. Biar kutunjukan apa maksudku.
Pelayan. Bawakan aku telpon, bisa? Dan dua martini.
Wow.
Klondike 5-55-66, tolong.
Halo, Ny. Jorgensen? Frank Wheeler disini. Ya.
Aku hanya ingin memberitahu kalau aku telah mengirim Maureen Grube
ke Visual Aids untukku.
Aku mungkin akan membutuhkan dia sampai sore ini. Ya.
Kau juga. Hati-hati.
- Aku tak pernah dengar Visual Aids. - Itu karena memang tak ada.
Hai, Helen. Masuklah.
Aku tak bisa lama.
Aku cuma ingin membawakan tanaman sedum ini
untuk ditanam didekat pintu rumah.
Ini seperti tanaman rumahan Eropa,
hanya saja ini punya bunga kecil berwarna kuning yang indah.
Untuk beberapa hari
sirami saja dengan air, kemudian tanaman ini akan tumbuh subur.
Terima kasih, Helen. Kau baik sekali.
Mau minum kopi?
Ada sesuatu yang bisa ku lakukan untukmu, Helen?
Aku hampir lupa.
Ada permintaan kecil yang ingin ku ajukan.
Ini tentang... Tentang putraku, John. Dia berada di rumah sakit.
Maaf. Apa semuanya baik saja?
Sebenarnya, untuk sementara waktu, dia di Pleasant Brook. Rumah Sakit Jiwa.
- Oh, begitu. - Tak ada yang serius.
Dia merasa sedikit lelah. Mungkin bisa lebih membaik jika bersama kami.
- Bukankah begitu? - Ya. Tentu.
Fasilitas disana mengagumkan
dan cara pengobatan yang dilakukan sepertinya banyak berarti untuknya.
Mereka bilang sore ini dia bisa keluar
mungkin bisa membuatnya semakin baik.
Ku rasa dia bisa bertemu teman-temanku seperti biasa.
Maksudku, dia suka bepergian. Dia mendapat gelar Ph.D. dalam matematika.
Kau bisa bilang dia seorang intelektual.
Akan membuatnya merasa lebih baik jika dia bertemu pasangan muda seperti kalian.
Kami senang bila menjumpainya.
- Benarkah? - Ya.
Kami akan senang.
Terima kasih.
Terima kasih.
Aku harus pergi.
Aku masih ingat saat pertama kau turun dari kereta.
Kau tidak seperti klienku yang lain. Kau berbeda.
Kau sepertinya istimewa.
No comments yet. Be the first to leave one.