The first 200 lines.
Alih bahasa oleh VIU Disinkronisasi ulang untuk versi NEXT
"Semua karakter, tempat, institusi, insiden"
"Dan organisasi yang digambarkan dalam drama ini hanyalah fiksi"
Kamu sudah memecahkannya?
Tidak, aku tidak bisa memecahkannya.
Lalu kenapa?
Haruskah aku memecahkannya? Apa untungnya bagiku?
Kenapa kamu marah?
Kamu malu
karena tidak bisa memecahkannya?
Aku tidak merasakannya lagi.
Apa hubungannya memecahkan masalah matematika atau tidak
dengan hidupku?
Apakah akan ada yang berbeda?
Siapa yang peduli dengan matematika?
Kamu ingin menyelesaikannya!
Karena itu kamu terus berusaha,
lalu kemari untuk mencari jawabannya.
Kamu berusaha tidak memikirkannya, tapi tidak bisa menahan diri.
Kamu melihat saat tidak menginginkannya.
Pikiranmu, tanganmu
terus bergerak mengerjakannya.
Pada akhirnya, kita berada di sekolah
dan bersenang-senang memecahkan masalah matematika semalaman.
Kamu tidak perlu menyembunyikannya.
Dahulu, kamu bilang
aku perlu membuka hatiku.
Kamu melarangku menyembunyikan apa pun.
Tunggu di sini.
"Episode 11"
- Kamu mau pergi? - Ya.
Ikutlah denganku.
Si An mengunjungi Profesor Ji.
Kita harus ke sana bersama.
Pergilah tanpa aku.
Hati-hati di jalan.
Ada orang lain di sana selain kami.
Hanya ini?
Ya.
Dia mengikuti mereka ke dalam perpustakaan,
tapi langsung pergi begitu merasa akan ketahuan.
Kamu boleh pergi.
- Apa? - Pergi kataku!
Baik, Bu.
Kudengar kamu mengelola klinik yang sangat istimewa.
Stafmu pasti sangat berbakat.
Aku yakin guru kami akan menyayangi Ji Na seperti Si An.
Jarang sekali guru itu meminta bertemu langsung dengan orang tua.
Dengan senang hati.
Maaf, aku terlambat.
Kamu sendirian?
Ya, aku baru dikabari. Ada hal mendesak yang harus diurusnya.
Masalah yang Bapak berikan sebagai PR kami.
Tadi kubilang Profesor Ji membantuku.
Kami punya solusi luar biasa.
Mau melihatnya?
Itu PR-mu.
Memang bisa menunjukkannya kepada bapak sebelum kelas dimulai?
Benar juga. Maaf. Aku terlalu bersemangat.
Berpamitanlah.
Profesor, aku senang hari ini. Selamat beristirahat.
Tunggu bapak di luar.
"Inside Math"
"Tinggalkan pesan"
Profesor.
Kamu bisa memarahiku jika mau,
tapi aku sangat menyukai putrimu.
Aku tahu.
Aku tidak bisa diandalkan dan kamu merasa cemas,
tapi percayalah satu hal.
Hatiku
tulus.
Tidak ada kesalahan
atau kontradiksi.
Kamu baik-baik saja?
Antar aku ke suatu tempat.
Saat kamu menyakiti seseorang,
menyebabkan rasa sakit,
dan menghancurkan hidup orang itu,
hal yang tepat untuk dikatakan adalah, "Maafkan aku."
Kamu seharusnya meminta maaf.
Jika aku tidak memanfaatkan foto itu saat itu,
apa yang akan terjadi?
Aku menyukai seseorang.
Seseorang yang lebih kusukai setelah lama tidak bertemu.
Banyak hal akan berubah.
Sejujurnya, kamu selalu tidak relevan bagiku sampai sekarang.
Kamu memberi tahu Seung Yoo semuanya?
- Tidak. - Kenapa tidak?
Kamu tidak marah?
Dia berbohong kepadamu dan memanfaatkanmu.
Lalu kenapa?
Aku sebelumnya juga berbohong kepadanya dan memanfaatkannya.
Sekarang,
aku merasa kami impas.
Baguslah.
Aku selalu berharap
Seung Yoo akan terluka.
Aku ingin dia terluka
agar menjadi sepertiku,
dengan begitu
saat bersamanya,
aku tidak akan terlihat payah
atau sengsara.
Ye Rin.
Apa yang harus kulakukan?
Di mana letak kesalahannya?
Aku benar-benar tidak tahu.
Ya, matematika. Siapa yang peduli dengan matematika?
- Langsung bersihkan, ya. - Baik.
Halo, Ayah.
Hai.
Selanjutnya.
- Ayah sudah jauh lebih baik. - Benarkah?
Ayah pasti banyak berlatih.
Ini dibawa dari Pulau Jeju pagi ini.
Anggur putih memang cocok dengan hidangan laut,
tapi belakangan ini ayah terpikat anggur merah.
Anggur merah sangat cocok dengan daging sapi yang dikeringkan.
Silakan.
- Cicipilah. - Baiklah.
Kamu tahu ada lowongan di dewan direksi yayasan, bukan?
Siapa di antara kalian yang akan mengisi posisi itu
akan diputuskan di rapat dewan berikutnya.
Ingat itu.
- Ya, Ayah. - Baiklah.
Bagaimana hubunganmu dengan pacarmu saat ini?
Aku harus tahu, bukan?
Kamu satu-satunya adikku.
Sung Jae sama sekali tidak menyukaimu.
Apakah itu mengganggumu?
Aku khawatir dia mungkin memanfaatkanmu.
Kenapa harus dia?
Jika menggenggamnya saat Ji Yoon Su tidak bisa,
menurutmu kamu lebih unggul?
Sepertinya kamu sangat cemas karena dia.
Bukannya kamu yang paling cemas karena dia?
Kamu tahu dia sudah kembali, bukan?
Aku menantikan pertunjukanmu.
Anggota Dewan. Kamu harus berpikir besar.
Kamu berjuang untuk segera menjadi perwakilan DPR dan ketua partai
dan bahkan presiden.
Ini suara Noh Jung Ah.
Kenapa bersikap centil seperti itu?
Pergilah.
Mari buka sebotol anggur ini juga setelah audit.
Suaranya terdengar semanis madu.
Jangan-jangan mereka berdua...
- Kamu sedang apa? - Itu...
Aku menjatuhkan lipstikku saat pergi ke pusat kebugaran.
Keluarlah. Aku harus pergi.
Kamu akan pergi lagi?
Kamu pulang larut semalam.
Benar juga. Kamu tahu kalau Ye Rin menyukai Baek Seung Yoo?
Apa? Baek Seung Yoo?
Perhatikan dia.
Seung Yoo? Dari semua pria?
Tunggu.
Memang Seung Yoo kenapa?
Dia pintar, tampan,
dan punya masa depan yang cerah.
Apa? Kepala Sekolah Noh Jung Ah dan Anggota Dewan Sung Min Jun?
Benar.
Mereka terlihat
sangat mesra.
- Yu Hye Mi? - Halo.
Jaga ucapanmu.
Jangan sembarangan membicarakan orang lain.
Di mana aku harus meletakkan ini?
Taruh saja semaumu.
Bagaimana kalau di sini?
- Apa itu? - Aku membelikannya
saat berbelanja untuk keluargaku. Semoga kamu menyukainya.
Apa? Buah? Terima kasih.
Tumben sekali.
Putra kami akan datang nanti untuk makan malam.
Kebetulan sekali.
Baguslah.
Aku memilih yang terbesar dan paling segar.
Selamat menikmati, Kak.
Kamu memanggilku apa? Kak?
Seharusnya aku bersikap lebih baik kepadamu.
Maaf soal itu, Kak.
Mulai sekarang, kita harus akur seperti saudari.
Apa? Aku mau...
Omong-omong, terima kasih untuk buahnya,
Dik.
Terima kasih.
Mereka menakutkan.
Seung Yoo dan Ji Yoon Su.
Lupakan semuanya.
Kita akan menyingkirkan Seung Yoo
dan memastikan Ji Yoon Su tidak bisa menginjakkan kaki di Korea.
- Bagaimana dengan museum itu? - Kita harus melupakannya.
Tidak ada pilihan lain.
Ada lowongan di dewan direksi yayasan.
Ayahku bilang akan memutuskan memilih siapa di antara kami,
aku atau Yeon Woo, di rapat direksi mendatang,
dan memberikan tempat itu.
Kalau begitu,
No comments yet. Be the first to leave one.