The first 186 lines.
Hei, dengar tidak?
Jangan memaksakan diri!
Kalau ini terlalu sulit, tinggalkan saja semuanya dan selamatkan dirimu!
Ini hidupmu. Jalanilah dengan bebas!
Baiklah.
Tidak disangka
aku akan datang lagi ke tempat ini.
Silakan masuk.
Itu mereka.
Ratu Iblis Echidna
dan Empat Jenderal.
Aku pasti bisa.
Mereka belum menyadari jati diriku.
Masih belum.
Harus lebih dekat lagi.
Lebih dekat lagi.
Aku, mantan pahlawan Leo Demonheart,
mendaftar untuk bergabung dengan Pasukan Iblis!
Keahlian, teknik pedang, sihir hitam, sihir suci,
dan yang lainnya.
Aku juga pernah mengalahkan Ratu Iblis Echidna!
Kemampuan tempurku telah terbukti!
Aku tahu kondisi Pasukan Iblis saat ini.
Kalian sedang kesulitan
karena kekurangan orang yang andal.
Karena yang membuat kalian mengalami hal ini
adalah aku sendiri.
Namun, mari kita lupakan masa lalu!
Kini saatnya menatap masa depan
dan menuju hari esok yang penuh harapan!
Demi membasmi manusia yang bodoh
dan membangun Kerajaan Iblis yang kekal,
aku bersedia bergabung dengan Pasukan Iblis yang baru!
Berhasil.
Aku pasti akan diterima.
Tentu saja aku menolak, Bodoh!
Kalau aku diterima,
aku akan memperkuat pasukan kalian...
Aku akan menjadikanmu ratu iblis terkuat dalam sejarah!
Berisik!
Tentu saja, skala pasukanmu
- akan berkembang... - Diam!
- Performamu akan meningkat drastis! - Mati sana!
Menyeduh teh atau membuat kopi...
Atau membersihkan toilet...
Kalian tidak akan rugi...
Selain itu...
Sebaiknya kujelaskan sedikit.
Cerita ini dimulai satu tahun yang lalu.
Pasukan Iblis yang dipimpin Echidna
tiba-tiba muncul dan menyerang dunia manusia.
Aku bersama para pahlawan dari berbagai kota yang dipilih oleh Raja
berangkat bersama dari Kota Suci untuk membasmi Pasukan Iblis.
Namun, bukan ingin menyombongkan diri,
tapi aku ini sangat kuat.
Aku diberi gelar Kesatria Terkuat,
mahir menggunakan berbagai senjata,
kemampuan sihirku juga yang terbaik.
Kalau boleh jujur, rekan-rekanku hanya menghambatku.
Pendeta yang hanya bisa menggunakan sihir penyembuh,
ahli pedang yang sama sekali tidak mengerti sihir,
atau pemanah yang tidak bisa berkutik jika didekati musuh.
Aku diharapkan membangun hubungan erat dengan mereka
dan membasmi musuh bersama dengan kekuatan persahabatan.
Setiap kali tiba di kota, kami selalu meributkan pembagian kamar.
Yang benar saja!
Selagi kalian bertengkar,
aku sudah bisa menyelamatkan dunia lima kali!
PANDUAN WAWANCARA DIJAMIN BERHASIL
Pada akhirnya, aku bertualang seorang diri,
mengalahkan Echidna seorang diri,
dan membasmi Pasukan Iblis seorang diri.
Tidak akan ada pahlawan sehebat aku.
Kenapa kalian menolakku?
Tuan Leo, justru kau tidak diterima karena tabiatmu ini.
Aku sudah tidak seperti dulu.
Benar! Dia sudah berubah!
Lily, diam. Jangan loncat-loncat.
Kita terima saja dia!
Kurasa tidak ada salahnya, Mernes.
Lily juga sangat senang karena sudah lama tidak bertemu.
Kalau diperhatikan kembali,
kalian benar-benar unik.
Jangan bertele-tele!
Jika Nona Echidna tahu apa yang kita lakukan sekarang,
dia pasti akan menghancurkan istana ini.
Padahal dia sudah bilang tidak mungkin menerimamu.
Kami terpaksa melakukan ini karena kau begitu bersikeras.
Benar juga.
Kalau begitu, akan kumulai presentasiku.
Presentasi?
Ya, aku ingin membuat kalian memahami kekuatanku.
Apa maksudmu?
Aku mengakui kalau tabiatku memang sedikit bermasalah,
tapi kemampuanku mengalahkan Empat Jenderal seorang diri
seharusnya cukup untuk menutupi kelemahanku.
Aku ingin kalian tahu kenapa kalian bisa kalah
untuk menunjukkan kemampuanku.
Apa?
Begitu rupanya.
Kemampuan Tuan Leo memang tidak diragukan lagi.
Lawan yang bisa mengalahkan aku secara langsung
adalah lawan yang sangat langka.
Ini sama sekali tidak lucu!
Tidak.
Bisa bertarung dengan lawan yang tangguh sangatlah menyenangkan.
Benar, Tuan Leo?
Dari Keempat Jenderal, dialah yang pertama bertarung denganku.
Ahli pedang dengan julukan "Raungan Merah",
Jenderal Naga, Edvard.
Sebenarnya jika dilihat dari fisiknya,
dia mungkin yang terkuat.
Sebagai ras naga, sisik naga yang menyelimuti tubuhnya
sangatlah keras.
Jika hanya bertarung dengan pedang, aku tidak mungkin menang.
Tapi dia juga bodoh karena lebih suka bertarung dari depan.
Jika dia tak mengotot untuk bertarung, mungkin sulit bagiku untuk menang.
Nikmat sekali!
Omong-omong,
kenapa kau mengikuti Echidna?
Kau cukup kuat untuk menguasai dunia sendirian.
Kenapa, ya?
Aku tidak pernah memikirkan hal itu,
tapi mungkin sebagai seorang ahli pedang,
aku lebih suka bertarung dengan lawan yang tangguh.
Lagi pula,
menjadi seorang raja pasti akan sibuk.
Aku tidak mau waktu mengobrol dengan putriku Julietta berkurang.
Itu pasti menyedihkan! Aku tidak bisa!
Seorang putri, ya?
Sebenarnya kami harus mengasihanimu.
Kenapa?
Bertualang seorang diri
berarti kau tidak memiliki teman untuk saling berbagi.
Aku tidak ingin mendengar hal ini darimu, Mernes.
Kau juga pasti tidak punya teman, 'kan?
Lawan berikutnya setelah Edvard adalah dia.
"Pedang Tak Kasat Mata", Jenderal Tanpa Bayangan, Mernes.
Awalnya dia seorang genius yang dibesarkan di gilda pembunuh.
Kelincahan dan kemampuannya untuk menghilangkan diri sangat hebat.
Jika diberi waktu lima menit lagi, mungkin aku akan kalah.
Tapi sejak awal, aku tidak berniat mengadu kecepatan.
Aku fokus bertahan sambil membaca sihir terlarang, Komet Merah.
Pada akhirnya, Mernes beserta gildanya sama-sama hancur.
Sebenarnya,
yang lebih sulit itu setelah mengalahkan Mernes.
Sihir terlarang itu terlalu kuat,
dan tampaknya menghancurkan bangunan bersejarah di kota juga.
Omong-omong, bagaimana masalahmu dengan penduduk kota?
- Bukankah mereka meminta ganti rugi... - Apa?
Tidak terdengar! Tidak terdengar sama sekali!
Apa? Tidak kedengaran!
Dasar kau, Lily.
Kak Leo, gayaku tadi mirip tidak denganmu? Mirip tidak?
Setelah Mernes,
yang ketiga adalah anak ini.
si "Taring Bengis", Jenderal Buas, Lily.
Pertemuan pertama kami benar-benar konyol.
Saat aku berteduh di bawah pohon saat hujan,
entah sejak kapan seorang gadis yang tidak kukenal juga berdiri di sana.
Sepertinya dia kehilangan ingatan,
dan tidak punya orang tua atau teman,
serta tidak punya tempat tinggal.
Aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja.
Setelah merawatnya beberapa hari,
ingatannya kembali dan dia baru sadar bahwa dia adalah Jenderal Buas Lily.
Setelah tahu dia salah satu Empat Jenderal,
aku terpaksa mengalahkannya,
jadi, kulakukan.
Sebenarnya, tidak disengaja.
Setelah itu aku baru tahu
bagi suku tempat dia berasal,
dikalahkan langsung oleh lawan jenis
berarti telah menemui pasangan hidupnya.
Kenapa aku harus terlibat dengannya?
Hei, Kakak, ayo menikah denganku!
Ya? Ayo menikah!
Tunggu kau lebih dewasa dulu.
Tidak mau! Aku mau menikah sekarang! Sekarang juga!
Ya?
Lawan terakhirku adalah sang Penyihir Terkuat,
Jenderal Sihir, Shutina.
Kemampuan sihirnya jauh melebihi yang lain.
Katanya dia tahu semua mantra, termasuk mantra terlarang dan mantra kuno.
Makanya aku menggunakan mantra kuno juga.
Stasis, mantra yang mengunci semua sihir kami berdua,
No comments yet. Be the first to leave one.