Africa: The Greatest Show On Earth

Africa: The Greatest Show On Earth

Download Indonesian Subtitle

Release info

Africa S01E03 - Congo BluRay ID
A Commentary by cortex

Tags

BluRay
Published on: 2018-01-06
Downloads: 57
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Pusat Afrika.

Dan pusat dari dua juta mil persegi hutan hujan tropis yang lebat.

Sekilas tampak kosong dan menakutkan,

bukan tempat yang mudah untuk didiami.

Tapi nyatanya, ada konsentrasi hewan yang lebih besar di sini

dibanding segala tempat lain di Afrika.

Dan di dunia ini, mereka harus menggenggam setiap peluang.

Persaingannya sangat ketat dan tiada henti.

Bahkan hutan itu sendiri memperjuangkan wilayahnya dengan duri

dan getah beracunnya.

Di sini, setiap makhluk hidup harus memperjuangkan ruangnya.

Sungguh indah.

Tapi bunga punya kepentingan sendiri,

memancing hewan masuk ke dalam aliansi yang tak disadari.

Lebah tak-bersengat.

Mereka harus bekerja keras.

Bunga hutan membuat mereka demikian dengan menakar nektar,

memaksa tiap-tiap lebah berkunjung dan menyerbuk

sedikitnya ribuan kembang per hari.

Bagi lebah, ini upaya yang layak.

Mereka membutuhkan nektar untuk membuat madu, yang mereka simpan di pot.

Ini begitu berharga, sehingga disembunyikan di balik kulit pohon.

Tapi rahasia mereka terbongkar.

Tak ada yang aman di hutan ini.

Simpanse menyukai madu.

Ia tampak tak menyadari bahaya.

Jatuh dari ketinggian ini bisa berakibat fatal.

Tapi ia butuh tongkat yang lebih besar.

Hanya simpanse yang mampu menerobos sarang lebah tak-bersengat

yang tersembunyi seperti ini.

Simpanse sangat cerdas,

tapi tak ada yang lahir dengan keahlian menggunakan alat.

Anak muda seperti ini harus belajar dengan cara mengamati.

Dia menggunakan alat khusus, satu demi satu,

untuk mendapat madu sebanyak mungkin,

dan dalam sekian menit, ia hancurkan apa yang dibangun lebah selama bertahun-tahun.

Di hutan hujan, tak ada yang aman.

Di Congo ini,

500 pohon bisa berjejalan di tiap setengah hektar.

Dalam memperebutkan ruang,

sebagian akan tumbuh setinggi 60 meter hanya dalam beberapa dekade.

Di lembah seperti ini,

ada hampir 1.000 spesies pohon yang berbeda.

Di atas sini, puncaknya nyaris tak tersentuh.

Tiap pohon tampak menghormati ruang tetangganya.

Saat mereka bertunas di dasar hutan, pepohonan

dan tanaman muda kurang terkendali.

Tapi setiap generasi baru melakukan perlawanan,

dalam pertempuran yang bisa kita lihat dengan mempercepat waktu.

Mereka harus dapatkan cahaya jika ingin bertahan, dan mereka saling meremas,

meremukkan dan bahkan memiringkan satu sama lain demi meraih cahaya.

Meski kanopi di atas lebat, sebagian sinar matahari tersaring masuk

dan memungkinkan tanaman spesialis cahaya-minim

berkembang di dekat dasar hutan.

Di bawah sini ada juga hewan yang mencari sinar matahari.

Predator terbesar di hutan.

Seekor sanca batu betina.

Panjang tubuhnya lima meter, berbobot 100 kilo dan memiliki 4.000 otot

yang digunakan untuk meremukkan korbannya.

Tapi kali ini, ia tak butuh makanan, melainkan kehangatan.

Ia temukan petak langka di mana seberkas sinar matahari menerobos ke bawah,

dan ia mulai berjemur.

Ia berdarah-dingin,

jadi inilah cara satu-satunya meningkatkan suhu tubuhnya.

Tapi kini ia menjadi sangat panas, lebih dari sepuluh derajat dari biasanya.

Pada 40 derajat celcius, ia bisa membunuh dirinya sendiri.

Tepat pada waktunya, ia beranjak pergi.

Ia menghilang di bawah tanah.

Inilah sarangnya dan dipenuhi telur-telur raksasanya.

Penting bagi perkembangan telur

bahwa mereka harus tetap di bawah 30 derajat.

Di lubang yang istimewa ini, ia lilitkan tubuh super-panasnya

di seputar telur-telur untuk menyalurkan kehangatan dari matahari.

Ia lakukan ini setiap hari selama tiga bulan.

Tekanan panas yang berulang di tubuhnya sangat tinggi sehingga bisa mematikan,

dan paling tidak, diperlukan waktu tiga tahun baginya

untuk pulih dari cara pengeraman telur seperti ini.

Kulit telurnya yang terkupas terdapat bekas tekanan sisiknya,

menunjukkan kekuatan dari lilitannya.

Setidaknya, jerih payahnya terbayarkan.

Tapi bayi-bayi ini tak bisa diam di sini. Mereka harus tinggalkan tempat perlindungan mereka

dan menemukan makanan dalam dunia kusut di atas.

Panjang mereka lebih dari 60 centimeter, sudah cukup besar untuk menjadi

ancaman bagi penghuni hutan yang lebih kecil.

Tapi mereka sendiri masih lemah.

Terutama bagi ular lain.

Tapi yang satu ini adalah induk mereka.

Tak biasanya bagi ular,

insting keibuannya masih berlanjut selama berhari-hari setelah telurnya menetas.

Meski begitu, hutan adalah tempat berbahaya, sehingga

hanya satu dari 100 anaknya yang mungkin mencapai usia dewasa.

Hanya sesekali, persaingan menjadi ringan.

Sebatang pohon tahu-tahu berbuah.

Magnet bagi hewan-hewan kanopi, dan mereka, pada gilirannya,

di saat makan, menciptakan keuntungan besar di bawah pohon.

Sekelompok babi hutan merah.

Mereka berjalan sejauh dua mil menembus semak belukar

untuk memperoleh buah-buah jatuh ini.

Tapi di hutan Afrika, sedikit yang gratis.

Pesta ini adalah sogokan.

Babi hutan akan membawa benih tanaman dalam perut mereka

dan menempatkannya jauh dari pohon induk.

Malam tiba.

Tapi satu komunitas hidup, yang bukan termasuk hewan ataupun tanaman,

melanjutkan pekerjaan tiada akhirnya dalam kegelapan.

Tanah ini dihidupi dengan jamur yang mencerna semua limbah

yang dibuang oleh hutan.

Beberapa jamur langka melakukannya dengan enzim yang bercahaya.

Penduduk lokal menyebut mereka "api simpanse."

Tanpa jamur, vegetasi yang mati akan menumpuk begitu tinggi

sehingga pohon hidup akan tenggelam.

Berganti fajar, dan hari baru mengungkap seberapa banyak kontrol hutan

mengatasi lingkungannya sendiri.

Hutan Congo adalah jantung Afrika.

Saat menggunakan sinar matahari untuk membangun jaringan mereka,

maka mereka melepas oksigen dan uap air ke udara.

Tiap hektar hutan, saat penguapan, menghasilkan

hampir 190 ribu liter air per tahun.

Begitu banyak hingga bisa menciptakan cuacanya sendiri.

Awan menyelimuti hutan, menaikkan kelembaban dan suhu.

Badai bergolak.

Congo memang bagian terkaya di Afrika,

tapi juga paling ganas.

Setiap tahun, 100 juta halilintar menyambar hutan.

Melebihi tempat lain mana pun di dunia.

Seiring halilintar, turunlah hujan.

Lebih dari 95% hujan yang tercurah di sini

dihasilkan oleh hutan itu sendiri.

Seiring curah hujan, akan muncul perubahan pada satwa dan hutan.

Ini cuaca yang sempurna bagi katak.

Badai besar mengisyaratkan pendakian paling penting dalam hidup katak ini.

Ia pejantan yang mencari pasangan.

Tapi jika menemukannya, ia harus mencapai ke puncak.

Ia perlu menjaga akal sehatnya,

karena hujan juga menggiring keluar para pemburu.

Mudah melakukannya.

Akhirnya, sampai puncak.

Tapi ia terlambat masuk pesta.

Semakin tinggi seekor jantan duduk, kian jauh suaranya tersampaikan,

jadi celah teratas patut diperjuangkan.

Dan ia menang.

Ia memiliki tempat teratas.

Jadi, kini saatnya bernyanyi.

Dan seekor betina berperut-putih meresponnya.

Mereka menyatu untuk kawin.

Pecundang harus menunggu hingga badai berikutnya sebelum ia bernyanyi lagi.

Betina bertelur di atas sehelai daun panjang.

Dan dengan kaki belakangnya, si jantan menggulung daun itu

dan merekatkan kedua sisinya untuk menutup telur-telur di dalam.

Sarang tertutup ini adalah tempat teraman bagi katak pelipat-daun

untuk bisa melindungi telur-telur berharga mereka.

Dalam beberapa hari, telur-telur itu berkembang.

Waktunya tepat.

Hujan membasahi perekat daun, dan berudu tergelincir

dari dedaunan, jatuh ke genangan air yang kian mengembang di bawah.

Musim hujan mencapai puncaknya dan daratan telah berubah.

Hutan kebanjiran.

Ini sebuah dunia baru.

Ikan berenang masuk dari sungai yang meninggi,

memanfaatkan ruang yang baru tercipta, menyambar serangga yang tenggelam.

Ini ikan kupu-kupu.

Seekor ikan palmas Congo.

Pemburu menjadi yang diburu.

Ikan kupu-kupu terlalu cepat dan melompat keluar dari bahaya.

Banjir secara bertahap mengalir kembali ke jalur air yang semestinya,

yang membentang di sepanjang hutan bagaikan pembuluh darah.

Begitu banyak air yang mengalir melalui hutan,

bahkan anak sungai kecil pun bisa mengukir tanah di sekitar bebatuan purba.

Ini rumah bagi makhluk hutan yang telah hidup

di Congo ini selama 44 juta tahun.

Burung rockfowl.

Kedua burung ini berpasangan seumur hidup,

dan si jantan mempertegas ulang ikatan mereka dengan melakukan pertunjukkan.

Mereka membangun sarang lumpur yang menggantung di bawah batu besar,

sehingga terlindungi dari hujan.

Si betina yang memimpin.

Si pejantan tampaknya kurang pandai.

Ya, ampun.

Untunglah si betina bisa memperbaiki keadaan.

Kini ia mengumpulkan perkakas lunak.

Si jantan juga ikut membantu, tapi tetap saja hasilnya payah.

Akhirnya, si betina tampak puas pada hasil akhirnya

dan tepat pada waktunya.

Mungkin tampak seolah si jantan diusir ke dalam hujan,

tapi sebenarnya mereka adalah tim yang hebat.

Mereka berbagi tugas pengeraman,

masing-masing punya giliran 12 jam, untuk tiga minggu ke depan.

Hingga pada waktunya, ada beberapa mulut yang harus diberi makan

dan kini si jantan harus membuktikan kelayakannya.

Cacing adalah awal yang bagus, dan ia bekerja dengan baik.

Tapi anak-anak tak terpuaskan.

Untunglah, menunya tak cuma satu jenis.

Ia mungkin pembangun sarang yang payah.

Tapi kini ia menebus kekurangannya.

Kebahagiaan rumah tangga!

Bebatuan menganjur adalah satu-satunya tempat bersarang bagi burung rockfowl,

jadi mereka berhutang budi pada sungai yang menyingkap

lerengan batu raksasa.

Sungai ini, dan aliran lain seperti ini yang tak terhitung jumlahnya

bergabung membentuk sungai besar di Afrika Tengah.

More Indonesian subtitles for Africa: The Greatest Show On Earth

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left