The first 200 lines.
Polisi melanjutkan pencarian mereka terhadap "Pill" yang misterius,
Yang diyakini pihak berwajib bertanggung jawab...
...terhadap hampir setengah lusin pembunuhan di seluruh kota...
Halo?
Nenek?
- Apa-apaan, Blake?! - Oke.
- Apa yang kau lakukan di sini? - Aku ingin memberimu kejutan.
Tapi kau menamparku, dan sekarang aku...
...menjadi bergairah.
Ya Tuhan.
Tentu saja kau bergairah.
Kau tahu Kathryn gadis cerewet di tempatku kerja?
Aku dengar jika saudara dia, Cameron Claymore,
Adalah salah satu anak yang dibunuh semalam.
- Demi Tuhan. - Ya.
- Bukankah kalian berteman? - Apa, dengan Kathryn?
Kau serius?
Gadis itu sampah, Blake.
Kau pernah lihat rumah yang mereka tempati?
Kau tak boleh berkata begitu tentang anak yang baru tewas.
Apa, perasaannya akan terluka?
- Hei! Bisa kau berhenti? - Apa?
Aku sedikit paranoid, oke?
Kau harus akui, itu agak seram,
Seseorang berkeliaran kota menculik anak-anak.
Oke. Siapa yang mencoba melawak sekarang?
Kau benar-benar tidak tahu siapa "Pill"?
Mereka bilang dia sosok kuno.
Setua seperti Page Hollow.
Dia memangsa anak muda,
Melahap daging mereka seolah dia adalah Dahmer.
Tak ada yang tahu seperti apa penampilan dia.
Tapi menurut legenda, jika kau bertingkah di kota ini,
Dia akan menjadi obatmu.
Itu sebabnya dia disebut "Pil."
Demi Tuhan. Kau benar-benar berpikir dia akan membunuhmu, 'kan?
Blake...
Blake! Ini pemadaman listrik.
- Aku berpikir untuk pergi. - Blake...
Blake? Kau serius?
Hei! Hei!
Bisa bantu aku nyalakan kembali sekringnya?
Persetan itu.
Aku tak mau dibunuh karena seorang gadis.
Wow!
Wow, Blake!
Dasar bajingan.
Bajingan.
Seminggu Sebelumnya
Mata fokus pada bolanya, Cameron.
Kau pasti bisa. Ayah tahu kau bisa.
Jangan menyerah.
Ayo, mundurkan siku, lalu ayunkan.
Ini dia.
Baiklah!
Pukulan yang bagus!
Ayah tahu kau bisa melakukannya.
Ayah tahu itu. Ayah sangat bangga denganmu.
Ayah tahu kau bisa melakukan itu.
- Kerja bagus, Cam. - Cam?
Cam?
Kau pasti bercanda.
Apa kau sudah mulai berkemas?
Ibu tak mau melakukan ini denganmu sekarang.
Kau akan terlambat sekolah. Ayo.
Sekarang.
Kau selalu melakukan ini.
Kita sudah bicarakan ini. Ibu butuh bantuanmu berkemas.
Dan aku sudah bilang aku ada rencana.
Aku punya teman, tak seperti beberapa orang di rumah ini.
Bagus! Undang mereka ke sini. Ibu yakin mereka ingin membantu.
Kenapa aku mau mengundang mereka datang, Ibu?
Mereka bahkan tak mau aku pergi.
Kau tahu ibu tak suka kau membanting kulkasku seperti itu.
Kau tahu, Ibu, hidup sudah dipenjara dengan sendirinya.
Kau dan Cam tak harus berusaha begitu keras...
...untuk membuatnya lebih menyedihkan.
Ibu pikir aku takkan merindukan kenangan yang ada?
Kita menjual bioskop. Kita sudah menjual rumah.
Kita pindah. Ibu tak bisa berbuat apa-apa.
- Ibu bisa. Jangan jual rumah. - Baiklah, aku berangkat.
Rumah ini sudah dijual.
- Kita akan pindah. - Siapa peduli?
Bagaimana denganku?
Bagaimana jika aku tak mau menjual rumah?
- Tak ada yang peduli. - Maafkan aku.
- Tak apa. - Ibu tak bisa hentikan yang sudah pasti.
Kau harus berkemas.
Tak ada yang pernah peduli dengan apa yang aku inginkan.
- Hei, jaga nada bicaramu. - Nada bicaraku?
Ibu mau aku menjaga nada bicaraku?!
Selamat pagi.
Apa yang kau lihat?
Astaga, tak ada yang peduli dengan apa yang aku inginkan.
Aku peduli.
Aku harusnya sudah di kereta menuju New York sekarang.
Berjalan ke sekolah.
Apa yang akan kau lakukan di sana?
Aku akan jadi desainer busana.
- Itu lucu. - Apa yang lucu dengan itu?
Kau memakai jaket universitas ke SMA,
Dan kau menyebut dirimu fashionista.
Apa kau...
Maksudku, itu bukan busana.
Aku memakai jaket universitas SMA ke SMA.
- Ya, tapi di mana seleramu? - Di mana selera...?
- Kau terlihat seperti laki-laki. - Itu sangat lucu...
...berasal dari pria yang memakai bajuku.
Aku sedikit bingung. Apa kau...
- Kau selalu bingung. - Jadi kau sebenarnya mau pindah?
Aku mau pindah? Tidak.
Ya. Kau tidak tahu apa-apa. Diamlah.
Tentu saja aku mau.
Bat datang. Berhenti bersikap aneh.
Apa perbuatanku yang aneh?
Hei.
Aku suka jaket itu. Itu manis.
- Terima kasih. - Ya.
Aku mendapatkannya dari salah satu orang di tim bisbol.
- Dia cukup seru. - Hei.
Kau tak sabar untuk malam ini?
Aku tak bisa datang malam ini.
Kau tahu kau dalam masalah, bukan?
Makalah terakhir tahun ini, dan kau putuskan...
...untuk membuat cerita tentang "Pill"?
Seseorang harus melakukan apa yang benar, Shawn.
Cam, kau gunakan tip dariku...
...untuk membuat karangan cerita hantu anehmu sendiri.
Itu tidak bagus.
Ayahku akan menyalibmu untuk ini.
Aku hanya sedikit menyinari cahaya...
...di bayangan kegelapan kota kita, oke?
Jika itu membuatku mendapat masalah, aku tidak keberatan.
Aku adalah martir.
Apa kita tidak mendengarkan yang baru kita katakan, atau...?
Oke.
Satu-satunya yang penting...
...yaitu jika semua orang melihat bahwa "Pill" nyata.
Dan jika orang tahu "Pill" nyata,
Maka dia pasti tahu jika dia bisa dihentikan.
Apa dia orang baik?
Dia pendiam.
Jadi dia bukan orang baik?
Kau juga akan jadi pendiam jika ayahmu meninggal.
Oke, ayahku juga sudah meninggal, dan aku baik saja.
Terakhir aku mengajak Cameron ikut berpesta bersamaku,
Dia jadi sangat mabuk dan kencing di rumahnya Barclay.
Berarti dia tak boleh ikut ke pestaku.
- Tidak dengan sepatu ini. - Ya.
Hei, Cam, apa kabar?
Salahku, kawan! Itu salahku!
Sebenarnya, itu salahmu!
- Terasa bagus, bukan? - Hei, apa kabar, gadis-gadis?
Apa kabar?
Hari yang indah.
Aku rasa Cavalli baru saja membuat rahimku menyusut dan mati.
Cameron...
Aku benar-benar berpikir kau butuh bantuan.
Kau belum bisa memproses semua hal yang terjadi.
Apa kau sudah berpikir atau bicara dengan ibumu,
Tentang mengikuti konseling kesedihan?
Lily Gotch.
Ronnie Gibbs.
Patrick Knight.
Brandon Lawrence.
Adria Reed.
Hannah Lankford.
Andy Claymore.
Maksudku, itu sangat jelas,
Terjadi sesuatu di kota ini. Jadi...
Kenapa tak ada yang diizinkan untuk membicarakan itu?
Aku menyadari jika kau baru saja menyebutkan ayahmu,
Dan kehidupan ayahmu tidak direnggut seperti orang lainnya.
Ayahmu tewas secara tragis dalam sebuah kecelakaan.
Aku peduli denganmu, Cameron.
Mungkin kau butuh konseling tambahan.
Persetan itu. Bajingan.
Kau di mana?
Astaga. Sudah aku duga mendengar bajingan cengeng di sini.
Aku sudah bilang ke kalian.
Ya... Biar aku lihat hasil karyaku. Biar aku lihat.
Itu... Itu indah.
Aku rasa itu salah satu karya terbaikku, benar?
Astaga, lihatlah itu.
Ayolah, bung.
Ayolah. Kita semua teman. Semua orang tertawa.
Kenapa kau tidak?
Bajingan, itu bau pesing!
Apa kabar, Derringer?
Aku dengar kau tidak naik kelas lagi.
Apa, itu yang ketiga kalinya?
Itu sangat gila, bukan?
Bajingan.
Ya.
Aku dengar kau masih menyusu dari puting ibumu, jadi...
Kau beruntung aku ada kelas.
Ada sisa susu...
Sampai nanti, Bocah Kencing.
Aku akan kembali untuk tanda tangani itu, oke?
Kau sebaiknya percaya itu!
No comments yet. Be the first to leave one.