The first 200 lines.
★★ Spell ★★
Marquis!
Dimana kau?
Tidak!
Ayah, tidak!
Kumohon, tolong!
- Marq. - Sayang?
V?
Sudah 10 menit aku menggedor pintu ini.
Ada masalah dengan gagangnya.
Ya, gagangnya macet. Apa yang kau lakukan?
Marq, jangan mulai. Aku terlambat. Dobrak pintunya.
Ini pintu impor dari Belgia seharga $1.500.
Tak ada skenario, baik itu kebakaran atau bencana alam...
Yang membuatku akan menendang pintu seharga $1.500.
- Aku tak peduli berapa harga pintunya. - $1.500.
$1.500? Dobrak saja pintunya.
- Akan kupanggil tukang kunci. - Tidak, tunggu, Marq!
- Dobrak pintu ini! - Aku akan segera kembali.
Sekarang juga, kalau tidak...
Marq!
Aku sedang meneleponnya.
Aku bicara dengan tukang kunci. Hanya ada empat antrian sebelum kita.
- Kira-kira sekitar tiga jam. - Marq, ayolah!
Ini sangat penting. Aku tak bisa terlambat rapat.
Maaf. Aku masih menelepon. Jadi aku tak bisa mendengarmu.
Marq? Astaga, Marq.
Apa? Maksudku, hei.
Maukah kau menikahiku?
Marquis T Woods, aku membencimu.
Tapi terima kasih telah menyelamatkanku.
Kapan saja.
Aku suka bokong itu.
Lawan. Aku mau melawan.
Saat aku berkata, "Aku", maksudku kau, utusan malapetakaku.
Marquis T Woods.
Gladiator pribadiku.
Tapi apa dia sudah kehilangan taringnya?
Jangan berpikir bahwa hanya karena...
Kebanyakan penggugat dalam kasus ini adalah "orang-orangku".
Aku tak berencana untuk meraih kemenangan.
Dan melawan para pengacara mereka.
Dan itu tak mengganggumu?
Menggangguku?
Meskipun penggugatnya orang kulit hitam, pengacara mereka berkulit putih.
Koreksi. Anti kulit hitam.
Ini adalah gugatan perwakilan kelompok mengenai urusan publik...
Jadi kita harus menanganinya dengan hati-hati.
Kenapa menggunakan tinju jika kita belum kehabisan kata-kata?
Kau benar, Marquis. Seperti biasanya.
Itu sebabnya aku menyukaimu.
Aku tak melakukannya agar kau menyukaiku.
Tidak, Wyman. Aku melakukannya demi uangmu.
Demi uang, Kawan.
Tn. Woods, Otis Peeley, Esquire. Ingin berbicara denganmu di telepon.
Aku tak yakin aku kenal pengacara dengan nama itu, Peeley...
Apa maunya?
Masalah keluarga, katanya. Dia menelepon dari Kentucky.
- Sambungkan. - Ya, Pak. Kusambungkan.
Selamat pagi, Tn. Woods. Terima kasih telah menerima teleponku.
Sayangnya, aku punya berita buruk mengenai ayahmu.
Dia meninggal dunia.
Maaf aku memberimu kabar ini, tapi kau terdaftar sebagai saudara terdekat.
Dan ada urusan properti yang harus diselesaikan.
Kau jarang membicarakan dia. Seperti apa dia?
Aku tak pernah melihatnya lagi sejak kecil.
Sejak aku kabur dari Appalachia dan tidak kembali.
Katakan saja dia bukan pria yang baik.
Hanya...
Orang kolot.
Akan baik bagimu jika kau mengakhiri ini, Marq.
Tempat ini terdengar lebih dari sekadar ketinggalan zaman.
Apa ada listrik disana?
- Listrik? - Dan air di dalam rumah?
Apa disana ada orang kulit hitam?
Baik, sudah cukup.
Pria ini adalah ayah dari ayahmu.
Jadi akhir pekan ini, olahraga, permainan basket...
Kelas dansa, berkumpul sama teman, atau apapun itu...
Semua dibatalkan karena kita semua akan kesana.
Untuk memberi penghormatan terakhir, dan itu tak bisa diubah.
Baik, ganti topik.
Ty, ayo kita bicarakan anak yang menindasmu di sekolah.
Jadi, Ty, katakan apa yang terjadi.
Urusan media sosial, Ayah. Ayah tak akan mengerti.
Kurasa ayah mengerti.
Selalu ingat, bicaralah dengan gurumu.
Tapi apapun yang kau lakukan, jangan berkelahi.
Itulah yang mereka harapkan dari kita.
Kau lihat, Sayang? Itu mudah.
Indah sekali.
Bagaimana kalau kita mendengarkan musik?
Ada permintaan? Ada yang ingin kalian dengar? Tak ada?
Sam? Ty?
Baiklah.
Ya, itu maksudku.
Dulu ayah sering menyanyikan lagu ini untuk ibumu.
Ya!
Nyanyikan, V.
☣☣ Peringatan ☣☣ Izin Untuk Semua Pesawat Terbang
Nak, tangga. Yang besar.
Diesel.
Bagus sekali.
Bagaimana ayah tahu tempat ini ada disini.
Ada aplikasi untuk segalanya.
Kujamin tempat ini tidak muncul di peta.
Tapi ayah kalian adalah pilot handal.
Ayah bisa menavigasi hanya dengan mengandalkan bintang jika harus.
Dan pesawat itu? Kami menyebutnya antik.
- Benar, Sayang? - Panas sekali disini.
Baiklah, ini menyenangkan.
Aku akan berada di pesawat menulis jurnalku, jika ada yang mencariku.
Ayah akan ke kamar mandi. Ada yang butuh sesuatu?
Minyak Babi Liar
Yang benar saja.
Sial.
Hei. Halo, Kawan. Apa ada layanan di sekitar sini?
Zaman perbudakan sudah lewat.
Isi sendiri bensinmu.
Tidak.
Biar kulihat.
Aku takkan mencurinya. Aku hanya ingin melihatnya.
Hei, tas sihir.
Sudah lama aku tak melihat itu sejak aku kecil.
Tapi bahkan saat itu pun, aku tak yakin apa itu.
Ini keberuntungan.
- Keberuntungan. - Ya, keberuntungan.
- Pernah mendengarnya? - Aku pernah mendengar keberuntungan.
- Perlindungan? - Perlindungan dari apa?
Dari orang-orang yang ingin menyantetmu.
Kau pasti sangat kaya.
Berapa harganya?
Aku tak tahu pastinya.
Itu milikmu, tapi kau tak tahu harganya.
Ayahku membelikannya untukku.
Astaga.
Ini dia.
Coba kulihat. Baiklah.
Simpanlah kembaliannya, Pak.
Dan aku harus ke toilet. Aku harus buang air kecil.
Kamar kecil ada di belakang.
Dengan lambang bulan sabit di pintunya, kan?
Senang berbicara denganmu dan mengenalmu.
Semoga harimu menyenangkan.
Kau bukan mau terbang ke kaki bukit disana, kan?
Ya.
Kau tidak mau membawa ini bersamamu?
Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja.
Terima kasih. Aku tak percaya hal-hal seperti itu.
Terserah kau saja.
- Bisa kembalikan ponselku? - Tanganmu kenapa?
Ini?
Patah saat bermain basket.
Anehnya yang terjadi setelah sembuh...
Tiba-tiba aku bagaikan Steph Curry. Mencetak gol tanpa masalah.
Astaga.
Benar-benar ada lambangnya.
Persetan dengan itu.
Jadi untuk apa kalian kesini?
Untuk pemakaman kakekku.
Aku tak pernah bertemu dengannya.
Aku tidak mendengar ada orang meninggal di sekitar sini.
Tidak, masih jauh disana.
Ya, aku sebaiknya pergi.
Sebelum ikan-ikannya pergi.
Dan jika lain kali kau ingin mendapat layanan di sekitar sini...
Belilah ponsel 5G.
Sudah bertahun-tahun kami tak mendapat sinyal 4G atau 3G.
Dasar orang desa.
Apa?
Apa katamu?
Ibu tak ingin kau menggunakan kata itu lagi, mengerti?
Baiklah. Maksudku, ayah menggunakannya.
Kata itu muncul di daftar lagunya.
Maksud ibu adalah "orang desa".
Jangan lakukan itu, membenci orang kulit hitam lain.
Pada suatu masa, kita semua orang desa.
Ibu tak ingin kata itu keluar dari mulutmu.
- Ya, Bu. - Ya, tentu saja.
Sekarang, masuk ke dalam pesawat.
- Toko Kelontong Mammy Carter --
Tidak mungkin ayah mau menempelkan bokong ayah ke jamban itu.
Ayo kita pergi saja.
Polisi
Tidak, kau pasti bercanda.
Tetap disini. Tenang saja.
Buka pintunya.
Buka pintunya.
Selamat siang. Aku tahu bahwa peraturan penerbangan di Virginia Barat...
Mengizinkan pesawat pribadi dengan mesin tunggal...
Untuk mendarat di landasan manapun, baik itu milik pribadi atau bukan.
Sayang, bisa kau ambil itu?
Tercantum disini, Pak.
Ini dia.
Legal atau tidak...
Kami jarang menemui pesawat disini.
Jadi kupikir aku memeriksa dan memastikan semuanya kooperatif.
Jadi, kalian mau kemana?
Cypress Ridge.
Jika tidak ada lagi, kami ingin melanjutkan perjalanan.
No comments yet. Be the first to leave one.