The first 200 lines.
Inggris
TAMAT
COBAAN ARABELLA oleh BRIONY TALLIS
-Aku selesai menulis dramaku. -Bagus.
Apa kau lihat Ibu?
Hm, beliau di ruang tamu, kurasa.
Kuharap kau tidak merintangi kami hari ini, Nona Briony.
Kami sibuk menyiapkan makan malam buat 10 orang.
-Halo, sobat, kudengar kau siapkan drama. -Dengar dari siapa?
Kabar burung.
-Kau akan datang tonton? -Aku tak yakin apa itu...
Bagaimana kalau aku baca?
Kau dulu biasa menjilid ceritamu dengan indah buatku.
-Aku simpan semuanya. -Aku tetap ingin kau datang.
-Kita lihat nanti. -Aku harus pergi sekarang.
Ibu, aku butuh kau!
Menakjubkan. Ini menakjubkan, sayang. Drama pertamamu.
Kau rasa begitu? Kau rasa Leon akan suka?
Yah, tentu saja.
Cobaan Arabella, oleh Briony Tallis.
-Cee. -Ya?
Kau pikir bagaimana rasanya jadi orang lain?
Lebih sejuk, kuharap.
-Aku kuatir soal drama ini. -Kuyakin ini karya besar.
Kami cuma sempat latihan sore ini. Kalau si kembar tak bisa akting?
Baik-baik dengan mereka. Apa rasanya kalau ibumu
kabur dengan Tuan Entah-Siapa yang pembaca berita di radio?
Mungkin aku seharusnya menulis cerita buat Leon.
Jika menulis cerita, hanya perlu sebut "istana", dan kau dapat lihat
menara dan hutan dan desa di bawah, tapi...
Dalam drama, itu...
Itu semua tergantung orang lain.
-Cee. -Ya?
Kenapa kau tak bicara lagi dengan Robbie?
Aku masih. Lingkungan kami berbeda, itu saja.
-Apa kita harus main drama? -Kenapa kita harus?
-Untuk merayakan kunjungan abangku Leon. -Aku benci drama.
-Aku juga. -Bagaimana kau bisa benci drama?
-Itu cuma pamer. -Kau akan ikut drama ini atau kena jotos.
-Akan kuadukan ke orang tua. -Kau tak dibolehkan memukul kami.
Kita tamu di rumah ini. Dan kata orang tua kita harus bersikap apa?
-Bagaimana, Pierrot? -Patuh.
-Jackson? Patuh, betul. -Patuh.
Nah, Briony, dramamu tentang apa?
Ini tentang bagaimana
cinta itu bagus, tapi kau harus berakal sehat.
-Kukira kau akan jadi Arabella. -Tidak juga.
-Jadi, bisa aku perankan dia? -Lola dulu ikut drama sekolah.
Tolong iyakan. Ini hal baik pertama yang terjadi padaku setelah berbulan-bulan.
Ya, baiklah.
Kukira kita mulai dengan membacanya.
Jika kau jadi Arabella, aku jadi sutradaranya, terima kasih.
Maaf.
Aku akan mulai dengan pendahuluan.
"Pendahuluan.
"Ini kisah tentang Arabella yang spontan,
"yang kabur dengan pria pendatang.
"Orang tuanya sedih melihat sang sulung
"lenyap dari rumah menuju Eastbourne."
Ya?
-Tidak apa-apa. Aku cuma menonton. -Maaf, latihan ini tertutup.
Kau bisa tonton dramanya malam ini.
-Aku kerja waktu itu. -Kalau begitu, maaf, Danny.
-Boleh kita pergi berenang sekarang? -Iya, iya, iya!
-Tidak, kita tak punya waktu! -Cecilia akan izinkan kami.
Aku yakin rehat setengah jam bagus buat kita semua.
Cecilia? Cecilia!
Cecilia!
Cecilia! Cecilia, Cecilia. Ayolah, boleh kami pergi berenang, Cecilia?
Ya, kenapa tidak. Jangan terlalu dalam!
Bisa buatkan aku satu linting cerutu punyamu?
-Hari indah. -Kukira begitu. Terlalu panas buatku.
-Kau suka bukumu? -Tidak, tidak juga.
Nanti makin bagus.
Aku lebih suka Fielding kapan pun juga.
Lebih penuh hasrat.
-Leon datang hari ini, kau tahu? -Kudengar gunjingan.
Ia bawa seorang teman. Paul Marshall, si jutawan cokelat.
-Bunga-bunga ini buat dia? -Mengapa tidak?
Kata Leon, dia sungguh memikat.
Si Bapak telepon semalam. Ia bilang kau berencana jadi dokter.
-Sedang kupikir, iya. -Jadi murid lagi enam tahun.
-Ada cara lain jadi dokter? -Kan bisa dapat beasiswa?
-Dengan IP-mu? -Aku tak mau mengajar.
Kubilang akan kukembalikan uang ayahmu.
Itu bukan maksudku sama sekali.
-Mari aku bantu. -Aku bisa, terima kasih.
-Ambil bunganya. Ambil bunganya. -Aku bisa.
Oh, tolol kau.
Sadarkah itu mungkin milik kami paling berharga?
Sekarang tidak lagi.
Hati-hati!
Aku...
Halo, Robbie!
Tak perlu menyemangati dia.
Cee?
Ibu?
-Di mana semua orang, Danny? -Aku tak tahu, tuan.
-Tuan. -Sangat butuh minum.
-Kau mau satu? -Bolehlah.
-Wiski? -Ya.
-Leon! -Ini dia.
Oh, aku rindu kau. Aku sudah sinting di sini.
-Ini adikku, Cecilia. Paul Marshall. -Aku dengar banyak tentangmu.
-Aku juga. -Di mana dia bisa tinggal?
Di kamar biru. Ibu sedang baring, migrainnya kambuh.
Aku tak heran, dengan panas seperti ini.
Di kamar besar di samping kamar anak-anak.
Si Bapak tinggal di kota?
Kayaknya begitu. Ada kesibukan di Kementerian.
-Jadi kita tidak pentaskan drama? -Tidak.
-Kenapa tidak? -Jangan tanya aku.
Aku tak suka tempat ini.
Selalu ada masalah saat merek baru keluar.
Pemasaran, kemasan, bentuk, semua baru.
Bahkan rasa pun baru kadang kala, atau seluruh teknologi baru.
Kurasa tantangan utama kami, apa akan meluncurkan Cokelat Amo baru.
Amo Armada. Bisa terbayang? Beri aku Amo?
Sumberku di Kementerian andal,
dulu kubersihkan sepatunya di Harrow, bilang kita berpeluang
untuk masukkan Amo di paket ransum standar.
Berarti aku harus buka setidaknya tiga pabrik lagi.
Lebih jika wajib militer mulai, yang kurasa pasti terjadi
jika Herr Hitler tidak diam.
Itu seperti bilang dia akan beli saham
dari Marks and Spencer, bukan begitu?
-Ini tak begitu enak. -Aku bisa buat koktil dengan es serut,
rum dan cokelat hitam lumer. Sungguh lezat.
-Tebak kami ketemu siapa saat masuk? -Robbie.
-Aku suruh ia ikut kita malam ini. -Oh, Leon, kau tidak.
Jadi, Robbie, anak penjaga rumah, yang ayahnya kabur 20 tahun lalu,
dapat beasiswa ke sekolah menengah lokal, Si Bapak menyekolahkan dia ke Cambridge,
kuliah bersamaan dengan Cee, dan selama tiga tahun Cee tak bicara padanya.
Tak bolehkan Robbie dekat teman kuliahnya.
Ada rokok?
Aku tak tahu kerja apa dia kini, buang waktu di kebun bunga.
Sebenarnya, dia berencana jadi sarjana kedokteran.
Dan Si Bapak bilang setuju?
Aku sungguh pikir kau perlu ke pondok dan minta ia tak datang.
Kenapa? Sesuatu terjadi antara kalian berdua?
Demi Tuhan.
-Kapan kita bisa pulang? -Segera.
Kita tak bisa pulang. Ini perceraian.
-Berani-beraninya kau bilang itu? -Tapi itu benar!
Jangan sekali-kali ucapkan kata itu lagi! Mengerti?
-Lalu sekarang kita akan buat apa? -Aku selalu merenungkan itu.
Namaku Paul Marshall. Kalian pasti para sepupu dari utara.
-Siapa nama kalian? -Pierrot.
-Jackson. -Nama-nama hebat.
-Kau kenal orang tua kami? -Aku baca tentang mereka di koran.
-Apa yang kau baca tentang mereka? -Oh, kau tahu. Omong kosong seperti biasa.
Tolong jangan bicarakan ini di depan anak-anak.
Orang tua kalian orang-orang yang luar biasa,
itu jelas, dan mereka sayang kalian dan memikirkan kalian setiap saat.
Celanamu bagus.
Kami nonton dan aku beli ini di Liberty.
-Menonton apa? -Hamlet.
Ah, itu. "To be or not to be."
Aku suka sepatumu.
Dari Duckers di Turl. Mereka buat sesuatu dari kayu, dibentuk seperti kakimu.
Awet selamanya.
Aku kelaparan. Kapan makan malam?
Nah, mungkin ini bisa kubantu, jika kau bisa tebak pekerjaanku.
-Kau punya pabrik cokelat. -Semua orang tahu itu.
Jadi itu bukan tebakan, dong?
Ini bakal terdapat di setiap ransel milik setiap serdadu Angkatan Darat Inggris.
-Terbungkus gula, jadi takkan lumer. -Kenapa mereka dapat manisan gratis?
Sebab mereka bertempur demi negeri.
Ayah kami bilang, perang takkan terjadi.
Ayah kalian keliru.
-Ini kunamakan Amo Armada. -Amo, amas, amat.
Bagus sekali.
Bosan benar semua merek berakhir dengan "o." "Polo" dan "Aero."
-Dan "Oxo" dan "Brillo". -Tampaknya kalian tak mau ini.
Kalau begitu akan kuberikan kepada kakak kalian.
Gigit.
Kau harus gigit.
Sang Putri sadar akan kekejian sang bangsawan yang tanpa sesal.
Tapi tetap tak gampang melupakan cinta berlimpah yang ia rasakan
di hatinya untuk Tuan Romulus. Sang Putri tahu secara naluriah
bahwa yang berambut merah tak dapat dipercaya.
Saat putri jagaannya menyelam lagi dan lagi ke dalam telaga,
mencari piala ajaib, Tuan Romulus memuntir kumis lebatnya.
Tuan Romulus berkuda dengan dua pendamping, ke utara, semakin dekat
ke laut cemerlang.
Dengan sikap gagah, ia tampak sungguh ksatria dalam tutur
tiada yang menduga kegelapan
tersembunyi dalam hati hitam Tuan Romulus Turnbull.
Ia adalah pria paling berbahaya di dunia.
"Cecilia tersayang, kurasa aku perlu menulis untuk minta maaf atas sikapku
"yang kikuk dan kurang pengertian."
"Maafkan aku jika aku tampak aneh tapi aku..."
Dalam mimpiku
aku cium memekmu,
memekmu yang manis dan basah.
Cecilia tersayang, bisa kumaklumi bila kau pikir aku gila,
dengan tingkahku sore ini.
Sejujurnya aku berasa pusing dan bodoh saat bersamamu, Cee,
dan aku rasa aku tak bisa menyalahkan cuaca panas.
"Maukah kau maafkan aku?
No comments yet. Be the first to leave one.