The first 161 lines.
Sudah kelihatan. Itu adalah ibu kota Milis, Milishion.
Baiklah, aku pamit undur diri di sini.
Eh, kenapa di sini? Tidak mau masuk ke kota bersa—
Tidak perlu bersedih, Senior. Kita akan bertemu lagi.
Geese, kalau ketemu lagi, ajari aku memasak, ya!
Ngotot banget, deh.
Kenapa sampai segitunya mau belajar masak?
Itu...
Ada apa, Eris? Niatmu apa? Muehehe.
Bilang saja yang jelas. Awikwok.
Juragan jangan lupa jaga diri, ya.
Kamu juga jangan berbuat jahat lagi.
Iya, aku tahu, kok.
Senior, jangan lupa setor muka ke Serikat Petualang.
O-Oke.
Dadah!
Untuk kalian yang tersesat
Ikutilah bintang yang benderang
Kepada suara tanah yang subur
Untuk kehidupan baru yang tumbuh
Berikanlah hujan nan lembut
Kepada tanah yang gersang
Kepada butir-butir pangan bumi
Aku panjatkan syukur dan doa...
Mari memulai rapat tim Dead End.
Tepuk tangan.
Butuh satu tahun setengah sejak terpental ke Benua Iblis,
akhirnya kita sampai di wilayah manusia.
Perjalanan ke Asura tinggal satu penyeberangan lagi!
Mau bilang begitu, tapi aku rasa kita harus cari uang di kota ini dulu.
Kenapa?
Upah permintaan di Milis lumayan tinggi.
Mengumpulkan uang di sini akan lebih efektif.
Kita tidak tahu berapa biaya untuk penyeberangan berikutnya.
Kita harus naik kapal lagi?
Terlebih, aku kepikiran rencana bagus.
Aku ingin melanjutkan untuk membersihkan nama suku Superd.
Setelah menyelamatkan manusia, kita ungkap identitas Ruijerd.
Lalu, kita beri patung ini sebagai jimat pelindung.
"Dengan membawa patung ini, suku Superd akan baik padamu."
"Setelah beberapa saat, dia akan menjadi sobat karibmu."
Rencananya begitu.
Kamu membuat patung ini?
Oh, iya. Bagaimana kalau besok kita istirahat?
Memangnya ada apa?
Aku ingin memproduksi patung Ruijerd lebih banyak
dan ingin menulis surat.
Surat?
Ya. Surat untuk mengabarkan kita baik-baik saja.
Aku melupakannya karena banyak hal gila yang terjadi,
tapi Paul dan keluargaku pasti khawatir.
Lebih baik aku memberi kabar.
Apa boleh buat kalau keadaannya begini.
Kalian berdua bagaimana?
Aku mau ikut membasmi goblin.
Kabarnya mereka sering muncul di sekitar sini.
Membasmi goblin?
Tidak apa, Rudeus. Biarkan dia ikut.
Eh, tapi...
Begitu, ya.
Kalau Anda yakin, tidak a—
Aku sendiri cukup untuk melawan goblin!
Rasanya bakal terjadi sesuatu, deh.
Kalau begitu, besok kita bebas melakukan apa saja.
Oke.
Ya.
Tolong jaga Eris, Ruijerd.
Kalau dipikir-pikir,
ini pertama kali aku menulis surat untuk Paul.
Tulis apa, ya?
Aku berteman dengan suku Superd
atau mendapat Mata Iblis dari Kaisar Agung Dunia Iblis?
Apa mereka akan percaya?
Minggir!
Aduh, seram. Penculikan orang lagi.
Di dunia ini banyak terjadi penculikan.
Sejujurnya, aku ogah terlibat jauh.
Apalagi belum lama ini aku ditahan atas tuduhan palsu.
Ada-ada saja.
Prinsip Dead End nomor satu: Jangan mengabaikan anak-anak.
Prinsip kedua: Jangan pernah mengabaikan anak-anak.
Dead End adalah pahlawan kebajikan.
Dengan begitu nama suku Superd dapat dibersihkan sedikit demi sedikit.
Tidak ada yang menguntitmu, 'kan?
Iya.
Tidak apa?
I-Iya.
Hei, panggil Kapten.
Baiklah.
Mereka punya anggota lain?
Oke, bagaimana cara menyelamatkan anak itu?
Karena tidak tahu kemampuan lawan,
terjun langsung ke pertempuran akan berbahaya.
Aku duduk manis dan lihat keadaan dulu.
Tolong jangan kasar-kasar, ya.
Tapi tempat apa ini? Gereja?
Enggak terlihat berfungsi semestinya.
Kain, ya? Terlalu kecil sebagai baju.
Tapi kalau disentuh, aku merasa nyaman dan tenteram.
Dari tekstur dan bentuknya, aku mengingat satu benda.
Betul. Ada dua lubang di samping...
Lah, ini mah kancut!
Siapa?
Si-Sialan!
Ada di balik kotak kayu!
Keluar kau!
Sial! Licik sekali menyiapkan kancut sebagai jebakan.
Ada penyusup. Panggil bala bantuan!
Apa boleh buat!
Wahai orang-orang yang memisahkan anak dari orang tuanya.
Wahai orang-orang yang tunduk pada berahi.
Malulah atas tindakan kalian!
Mereka menyebut peristiwa ini sebagai penculikan!
Dia meremehkan kita.
Siapa kau?
Aku adalah Ruijerd dari Dead End!
Apa? Dead End katamu?
Maaf, Ruijerd.
Tapi aku janji akan menyelamatkan anak itu.
Bocah, kalau mau berpura-pura jadi pahlawan kebajikan di lain tempat saja!
Serangan Sinar Mentari!
Kami ini—
Kamu tidak apa-apa, Nak?
Lo? Sepertinya aku mengenalnya.
Apa yang terjadi?
Hati-hati.
Dia jago meski masih bocah!
Itu punyaku.
Maaf, Ruijerd. Mohon maaf sebesar-besarnya!
Dasar musuh wanita!
Serang!
Si-Sialan!
Sulit melepas pandanganku.
- Gondal kanan, gandul kiri! Mantaps cok! - Naungan tirta agung akan selalu datang bagi mereka yang membutuhkan.
Water Ball!
Hampir kelihatan, bos!
Nyaris saja.
Menghindar seperti kecoa. Dasar cabul!
Apa Kapten masih belum datang?
Halo, maaf aku terlambat.
Eh? Cuma orang mabuk?
Berengsek, jangan berbuat seenaknya.
Sudah siap menerima ajal, 'kan?
Lo, rasanya aku juga
pernah melihatnya di suatu tempat dan sangat tidak asing bagiku.
Dia bergerak seperti bocah itu.
Orang ini anjing atau apa?
Dia...
beda level dengan cecunguk tadi.
Sial.
Rudy?
Hanya ada satu pria yang memanggilku begitu.
Ya, tidak salah lagi, dia adalah orang tuaku.
Ayahanda?
Rudy.
Ayahanda, lama tak berjumpa.
Bagaimana , ya...
Rudy.
Baguslah kamu bisa bertahan hidup.
Ya...
Kenapa Ayahanda ada di sini?
No comments yet. Be the first to leave one.