Impetigore

Impetigore (Perempuan Tanah Jahanam)

Download Indonesian Subtitle

Release info

Impetigore 2019 1080p BluRay x264 TrueHD5 1-ALF
A Commentary by alfky
Retail versi UNCUT/UNCEN. Durasi 1:47:16

Tags

BluRay
x264
1080
HD
Published on: 2022-05-27
Downloads: 333
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Din, pokoknya kau harus membantu mencari pondokan baru.

Semua tetanggaku mulai usil.

Mengatakan aku pulang pagi hari karena menjadi perek.

Kau risi disebut perek?

Tak apa kalau benar, tapi aku bukan.

Mungkin enak menjadi perek, ya?

Usai dipakai, dapat uang.

Pasti tak semudah itu.

Harus berias, belum lagi kalau orangnya kasar atau terlalu besar.

Pilih-pilihlah.

Mana bisa?

Bagaimana caranya tahu itu terlalu besar atau kasar kalau belum kejadian?

Ya, dicek dulu sebelum mengiakan.

Kalau belum berdiri, bagaimana caranya tahu terlalu besar?

Aku pasti tahu. Mana mungkin kau tahu? Kau masih perawan.

Sebentar. Ada mobil datang.

Kau tak pakai pengeras suara? Nanti ditegur.

Ya, sudah.

Tak apa pakai pulsa?

Masa bodoh. Aku takut.

Kau sedang berjaga dengan siapa?

Pak Chondro. Tapi dia tadi ke kantor dan belum balik. Entah sedang apa.

Jalan ini sudah mau ditutup. Maka itu mobil jarang lewat.

Memang. Sebentar lagi juga sudah tak ada yang menjaga pos.

Tak masuk akal semua mau diganti mesin saat negara sedang begini.

Akan makin banyak penganggur.

Maka itu kita harus bergegas membuka toko baju kita.

Aku tak akan merindukan pekerjaan ini.

Tak lagi bertemu orang-orang aneh.

Seperti satu mobil butut yang selama seminggu ini

bolak-balik terus menatapiku.

Ini sudah dibahas. Mungkin dia memang bolak-balik pulang kantor tiap hari.

Din, dia bisa bolak-balik sampai dua atau tiga kali dalam semalam. Aneh, 'kan?

Tiap kali dia lewat, tatapannya seperti mau memakanku.

Itu dia. Kau seperti baru bekerja saja. Aku sudah bilang

kalau ada yang lewat, jangan lihat wajah, tapi tangannya saja.

Justru itu. Tangannya kotor. Kukunya hitam.

Mungkin penggali kubur.

Din, kenapa bilang begitu? Kau enak tak sendirian.

Kau sedang berjaga dengan siapa?

Di sebelahku ada Mas Wahyu yang suka melirikku.

Sudah tiga hari ini, dia terus mengantarku pulang.

Dia itu memang menyukai barang bekas, atau bagaimana?

Hei, kau tak bisa mengganti musiknya?

Lawas sekali. Seram.

Tak bisa. Saluran FM-nya rusak, hanya bisa AM.

Mati aku.

Kenapa?

Mobil butut itu datang lagi.

Halo?

Maya?

Halo?

Maya?

Dia masih belum pergi.

Serius? Sedang apa dia?

Aku tak tahu. Dia terus menatapiku.

Akan kutelepon pos.

Akhirnya dia pergi. Terima kasih, Pak.

Jantungku hampir saja copot.

Din, mobil tua itu ternyata belum pergi,

dan orangnya berjalan ke sini! Aku harus bagaimana?

Din?

Baik, kau harus tenang. Akan kutelepon pos.

- Din… - Pak,

tolong kirim petugas ke pintu Bukit Selatan 1 sekarang.

Ada petugas diganggu, Pak.

- Cepat, Pak! - Din!

Baik, kau tenang.

Kunci pintu! Tutup jendela!

Coba lihat ada apa di posmu.

Maksudmu?

Besi, batu, apa pun yang bisa kau gunakan sebagai senjata.

Tidak ada apa-apa di sini! Din!

Petugas sekuriti sedang menuju ke sini!

Nama Mbak "Rahayu", bukan?

Bukan, nama saya Maya. Itu tertulis di bawah sana!

Itu nama asli?

Ya!

Hei! Jangan macam-macam! Bisa pergi, tidak?

Mbak dari desa Harjosari, Mandiraja, 'kan?

Mau apa kau?

Nama bapak Mbak, "Ki Donowongso?"

Maya.

Dia sudah pergi, ya? Dia sudah pergi.

Kalau tak ada petugas di sana, pergi saja!

Tinggalkan pos itu!

Ya.

Pak, cepat! Sudah ada petugas, belum?

Din, dia kembali lagi membawa senjata!

Senjata apa?

Maya!

Maya!

- Tolong… - Maya!

Maya!

Pak, tolong! Tolong!

Hei!

Jatuhkan senjata!

Kami…

hanya tak menginginkan apa yang keluargamu tinggalkan di kampung kami.

Tolong musnahkan.

Bu, ini ada barang-barang baru.

Tidak sekarang.

Ya, sudah. Kalau begitu, cicilan minggu ini saja dulu.

Aku belum bisa membayar.

Bagaimana belum bisa? Ini sedang ramai, Bu.

Maka itu, bukan tak bisa bayar, tapi sedang sibuk.

Bu, tolong. Ibu hanya harus mengambilnya saja.

Perlu kutang?

Aku harusnya mengecek pasar ini ramai atau tidak.

Sudahlah.

Terburu nafsu karena bayar sewanya murah.

Kita jual saja lewat internet.

Barang aspal seperti ini?

Justru itu dijual lewat internet. Jadi, pembeli tak bisa mengecek.

Bahkan aku pun tak mau memakainya.

Lebih baik memakai kantong plastik atau karung goni.

Aku menyesal mengajakmu berbisnis, Din. Sampai tabunganmu habis pula.

Apa maksudmu? Memang kau memaksa? Aku juga mau.

Sepertinya aku mau pergi selama seminggu.

Ke mana?

Mau ke mana?

Siapa ini?

Karena kejadian kemarin, aku membongkar barang-barang bibiku.

Lantas, kutemukan foto ini.

Sepertinya itu orang tuaku.

"Sepertinya"?

Aku tak pernah tahu wajah mereka.

Saat itu aku masih terlalu kecil, jadi, tak mengingatnya.

"Rahayu"?

Berarti pria penyerangmu itu benar.

Dulu bibiku sempat memanggilku "Rahayu."

Hanya saja diganti menjadi "Maya." Entah kenapa.

Terus?

Coba kau perhatikan.

Kau pendek saat masih kecil?

Apa? Rumahnya?

Rumah yang sangat besar.

Solusi masalah kita. Rumah keluargaku.

Tapi kita tak tahu persis di mana desanya.

Aku ingat kata penyerangku itu.

Desa Harjosari, Mandiraja. Sudah kucari dan tertemu.

Ini solusi agar kita bisa hidup lagi.

Aku ikut.

Tidak.

May, kau itu sahabatku. Tak mungkin kubiarkan kau pergi ke sana sendirian.

Lagi pula, kalau ternyata kau kaya. Aku tak mau tinggal di sini sendirian.

Lalu siapa yang menjaga kios?

Alah! Tidak ada juga yang membeli.

Hei! Kalian tak boleh merokok di sini!

Mau apa ke sini? Ini toilet perempuan, Berengsek!

- Diam kau! Ke luar, sana! Bedebah! - Padahal kuberi tahu.

Maaf.

Kenapa, May?

Tak apa. Ini luka kemarin.

Kenapa seperti luka baru?

Tak apa. Aku hanya butuh antiseptik.

Tak heran. Aku padahal tahu mensmu tanggal berapa. Ya sudah.

Kau di sini dulu. Kucarikan obat anti-infeksi.

Din?

Din?

Din?

Belum pulang, Mbak?

Belum, Bu.

Din?

Din?

Din?

Hei.

Orang-orang makin malas saja.

Semua lampu dimatikan, pintu dikunci.

Semua apotek juga sudah tutup.

Obatnya tidak ada.

Ayo.

Sedang baca apa?

Perencanaan bisnis.

Bisnis apa?

Apa saja, agar punya gambaran kalau mau berbisnis lagi.

Kalau aku naik bus tanpa membaca, malah selalu ingin buang air kecil.

Matikan lampunya. Orang di belakang merasa terganggu.

Dasar orang kampung.

Berapa lama lagi?

Tadi, kata sopirnya enam jam lagi.

Lihat, 'kan? Aku mau buang air kecil lagi.

Selimut, Ma.

Mas tak memakainya?

Aku tidak merasa dingin. Kau tidur,

nanti kubangunkan kalau kita sudah sampai di desa orang tuamu.

Saya tidak terganggu denganmu, juga temanmu.

Kadang saya batuk…

agar para penunggu bus ini tidak mengganggu penumpang lain.

"Penunggu"?

Ya, ada beberapa arwah penunggu di bus ini

yang juga tidak tahu ke mana mereka harus pergi.

Jangan berpikir saya gila.

Saya dosen.

Dosen pengajar apa, Pak?

Sastra Rusia.

Saya tahu tidak ada gunanya di sini.

Tapi saya sangat suka sekali bahasa Rusia.

Bahasa-bahasa lain juga, saya suka.

Bapak, paham bahasa Jawa?

More Indonesian subtitles for Impetigore

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left