As primeiras 200 linhas.
Diterjemahkan oleh TakaRizz, mahasiswa yang sedang mencari pemasukan tambahan.
FILM INI DIANGKAT DARI KISAH NYATA
BERLATAR ANTARA TAHUN 1997 DAN 2000.
Hai, aku Mark Kerr dan aku mewakili
gulat gaya bebas Amerika,
dan aku di sini, di Kejuaraan Dunia Vale Tudo 3
untuk membuktikan ini gaya tarung terbaik.
Dan itulah pegulat, Mark Kerr.
185 cm, 118 kg dari Toledo, Ohio,
dan kembali, spesialisasinya adalah gulat gaya bebas
dan ini pertandingan profesional pertamanya.
Kita berharap banyak pada pria ini
karena pelatihnya, Richard Hamilton,
yang membawa tiga pegulat Amerika terkuat
yang pernah masuk ke ring ini,
yaitu Dan Severn, Don Frye, dan Mark Coleman.
Ia mengatakan pada kami hari ini, bahwa pria ini yang terbaik
yang pernah ia lihat.
Dan selagi ia masuk ke ring untuk pertama kali
dalam karir profesionalnya, kita akan melihat bagaimana ia bertahan
melawan para pegulat tangguh di kompetisi ini.
Dan sekarang masuk yang paling besar.
Paul Varelans, 203 cm, 150 kg.
Dari San Jose, California.
dan dia juga sudah delapan tahun berpengalaman sebagai pegulat,
tapi tentu dia lebih ahli menggunakan kaki.
Dan di sana, Sergio Batarelli, mempersiapkan petarung
selagi kita menunggu lonceng pembukaan.
Dan pertarungan telah dimulai!
Dan Kerr coba menyerang.
Ia mencoba merobohkannya. Berhasilkah ia?
Oh! Jatuhan yang kuat pada Varelans.
Jatuhan dua kaki oleh Kerr.
Lihat dia berusaha merebut posisi.
Kemampuan gulat sungguh nampak dan...
Oh! Serangan lutut ke wajah!
Wow! Hantaman lutut ke wajah yang hebat
dan serangan lutut ke wajah kembali.
Aku beritahu, Varelans itu tangguh,
tapi kini ia diserang dengan brutal
ke arah wajah.
Wajahnya sedang benar-benar dirusak.
Batarelli sedang memantau.
Ia... Ya, dia menghentikan pertandingan.
Sudah usai.
Dan Kerr memenangkan debutnya.
Itu benar. Varelans tidak bisa menyelesaikan pertandingan.
Batarelli harus melangkah masuk.
Lihat itu. Luka yang cukup serius.
Apa dia baik-baik saja?
Oke. Santai saja.
Ayo, aku menahanmu.
Ayo duduk.
TKO. Dihentikan wasit.
Begitu.
Apa kau masih sadar?
Aku dalam pertandingan.
Ya benar. Bagaimana jalannya?
-Kau tahu yang terjadi? -Aku kalah.
Bisa aku tanya apa dia akan aman?
Aku hanya ingin tahu.
Dia akan baik saja, Mark.
Kembali ke sudutmu.
-Kita sudah siap? -Lima detik saja, tolong.
MESIN PENGHANCUR
Dan apa yang kau pikirkan
di awal pertandingan?
Ketika lonceng itu berbunyi,
kau bisa lihat beberapa lawan
dan kau bisa tahu
bahwa mereka takut setengah mati.
Kau bisa melihat di mata mereka.
Kau bahkan bisa mencium di keringat mereka.
Tapi kau tahu,
baru pada saat pertama kali tanganku menyentuh mereka,
dan menegaskan diriku pada lawan
di situ kau sungguh merasa, hampir seketika,
orang itu akan menyerah atau tidak.
Lalu, kemudian apa?
Sederhana saja.
Apa aku akan menyakitinya sebelum dia menyakitiku?
Dan jika ia menyakitiku,
maka aku akan menyakitinya dua kali lebih parah.
Karena, biar kuberitahu,
ketika mukamu kena tonjok,
kau bisa punya dua reaksi.
Kau bisa menghindar,
atau kau bisa menghukum orang yang menonjokmu.
Tapi aku menciptakan cara ketiga.
Jika aku ditendang atau dipukul,
Aku akan melakukan hal berbeda
daripada menghukummu.
Aku akan secara fisik memaksakan kehendakku padamu.
Dan kau sungguh merasa ketika itu terjadi,
ketika lawan pasrah saja,
dan dia benar-benar jadi layu dalam dekapanmu.
Dan itu...
Itu sesuatu yang cukup kuat.
Itu gila karena pada awalnya,
Aku hanya bersenang-senang.
Aku mengendalikan insting buas yang
mengambil alih begitu saja.
Akan kucoba jelaskan,
dan mungkin dengan cara ini,
tapi ini agak aneh.
Segalanya terasa evolusioner.
Aku juga bergulat di kuliah,
tapi ini benar-benar berbeda.
Apa maksudmu?
Ketika aku merasakan aliran dan pukulan pertama itu,
Aku sadar aku cukup mendekati
sesuatu yang...
hampir ajaib.
Wah, gila.
Kau menuju sebuah titik
di mana kau harus bertanya pada dirimu,
maukah kau menusukkan jarimu
ke dalam luka lawan?
Membukanya sedikit lebih lebar?
Hanya untuk menang?
Supaya dia merasa sakit? Maukah kau?
Kurasa aku mau.
Tentu kau mau.
Kau tahu kenapa?
Karena menang adalah perasaan terbaik yang pernah ada.
-Ya. -Dan ingatlah,
ini sebuah turnamen di Brazil.
Jadi jika menang, kau tidak langsung pulang.
Kau lanjut dan melawan orang selanjutnya,
setelah itu orang selanjutnya,
lalu orang selanjutnya, lalu orang selanjutnya.
Jadi di akhir, kau merasa seperti dewa.
Terdengar keren.
Itu luar biasa.
Jujur, ketika kau menang,
tidak ada yang penting lagi di dunia ini.
Itu mungkin adalah perasaan terbaik
-di dunia, kau tahu? -Ya.
Aku bahkan tidak menyangka itu bisa dirasakan.
Maksudku, aku saja merinding bicara ini padamu.
Jadi, Moti, si Palu Godam.
Ya.
Dia berpengalaman di Octagon.
Kau tidak. Dia sangat tangguh.
Apa yang ingin kau bawa pada pertandingan ini?
Kurasa tingkat kardiovaskularku cukup baik.
Aku merasa bagus dengan kekuatanku, yang sudah kutingkatkan.
Tapi kau tahu, bedanya seperti senter dan sinar laser.
Wow.
Itu keren. Bagaimana maksudmu?
Aku harus pastikan aku berkonsentrasi penuh pada yang harus kukerjakan.
Karena kalau tidak, emosiku akan berlarian ke sana kemari,
seperti senter.
Ya, itu masuk akal.
Ya, coba pikirkan.
Berlaku untukmu dan siapapun di sini. -Tentu.
Jika kita tidak mengontrol emosi,
ketakutan dan kegelisahan akan melahap potensi terbaik kita.
Dan kau tahu yang akan terjadi?
Kita akan dihajar oleh emosi kita...
-...dan kita tidak bisa begitu. -Benar.
-Betul? -Hei, Kerr.
Berdirilah. Mereka menunggu, kawan.
Hei, terima kasih banyak
-atas waktumu. -Ya. Terima kasih banyak.
-Aku menghargainya. -Aku juga.
-Siap? Senang melihatmu. -Sobatku.
Hei, bedanya hanya di bentuk ring, ya?
-Kandang. -Sebuah kandang.
Aku tahu.
Pertama kali di Octagon.
Aku mengatakan hal yang sama.
-Benar. -Teman-teman, ayolah.
Hanya 14 orang yang pernah bertarung di sini.
-Dia ganas. -Permisi.
-Coleman? -Ya.
Vidmark Entertainment.
Boleh aku bertanya tentang rencanamu melawan Bobish?
-Oh, Bobish. Kerr? -Ya?
-Cepat kalahkan dia. -Pasti.
-Aku akan pemanasan. -Baiklah.
Maaf. Sampai mana aku?
Kau bicara tentang Bobish.
Dan sekarang kita ke kelas berat.
Mark Kerr memulai debutnya
melawan Moti Horenstein,
yang pada penampilan keduanya di Octagon kalah hanya melawan Mark Coleman.
Dan ini dia, 116 kg, Mark Kerr,
Mantan juara NCAA Divisi 1 di Universitas Syracuse.
Hadirin sekalian,
waktunya para pria besar,
sementara kita mulai turnamen kelas berat kita.
Berdiri di sebelah kiri saya, ia adalah pemenang
Kejuaraan Gulat Piala Dunia 1994,
pemenang Kejuaraan Nasional Gulat Bebas Putra,
juara NCAA Divisi 1,
dengan tinggi 185 cm,
dan bobot 116 kg.
Bertanding dari Phoenix, Arizona,
kita sambut dalam debutnya di Octagon,
No comments yet. Be the first to leave one.