As primeiras 174 linhas.
Wah! Bisa kita petik!
Yang ini juga bisa dimakan?
Banyak banget!
Putri Serafina, kamu udah kelewat betah di sini!
Maaf, Putri Serafina. Aku mau ngomong sesuatu.
Ada apa, Malcius?
Kamu dulu pernah bilang mau pulang ke Ildren entah kapan.
Aku masih bisa pegang ucapanmu itu, 'kan?
Bonggak.
Aduh, ini mah tanda enggak mau!
Walaupun nikah menurut agama Komonera
nggak dianggap sah di negeri kita,
tapi pertunangan ini terlalu buru-buru!
Tapi Kak Lesia bilang...
Walau dia mantan putri,
dia kan istri Pemimpin Agung di sini! Enggak boleh asal percaya!
Tenang aja, Malcius.
A... Aku, enggak lupa... kewajibanku... sebagai bangsawan, kok...
Sama sekali enggak ngeyakinin!
Ta... Tapi kata Kak Lesia,
aku juga harus cari kebahagiaanku sendiri.
Dan... aku mulai setuju sama kata-katanya...
Hasilnya jadi bimbang begini?
Bi... Bimbang?
Aku tahu itu! Aku tahu, tapi tetap aja!
Aku mau tahu kebahagianku itu apa yang
cuma kenal pedang sama kesatria.
Aku enggak ngerti! Sama sekali enggak ngerti!
Sampai bilang hal semenyedihkan itu...
Tapi, gimana bilangnya, ya.
Kesatria yang dijuluki Si Lavillant yang dingin itu
malah kayak gadis desa polos.
Itu mungkin juga.
Bukan, malahan selama ini cuma salah paham.
Dulu aku cuma tahu tugas dan perang.
Hidup sebagai kesatria bermodal bakat pedang.
Dari kecil aku cuma fokus begituan.
Kalau itu...
Kalau aku pikir lagi, mungkin aku terlalu maksain diri.
Walau buat kamu, aku mungkin tampak kesatria ideal.
Aku enggak nyalahin kamu, kok.
Cuma aja.
Setelah ke sini, mengenal kehidupannya, dan ketemu orang-orangnya.
Aku sadar, sehebat apa diriku memimpin Ekspedisi Timur,
di mata mereka, aku tetaplah penyerbu dari Barat.
Putri Serafina...
Tentu, aku enggak menyesal sudah bertarung tujuh tahun demi rakyat.
Selama ini aku yakin itu hal yang benar.
Tapi,
aku enggak pernah bayangin,
kalau orang di sini enggak nyalahin aku.
Itu yang buat kamu merasa bersalah?
Jangan-jangan, gara-gara itu kamu mau buang tanah air kita!
Tanah air.
Tanah Ildren yang gersang dan tandus.
Tujuh tahun Ekspedisi Timur membawa sebuah harapan,
tapi banyak kesatria kita gugur di tangan pejuang tanah ini.
Korban yang jatuh lebih banyak dari dugaan.
Tanah air atau rasa bersalah, keduanya sama-sama menyesakkan.
Sebentar, aku enggak bisa biarin obrolan tadi.
Cersei.
Wajar kalau kamu bilang begitu.
Meski orang sini diam saja,
ini bukan hal yang mudah dilupakan.
Aku sadar... aku pantas dibenci.
Itu udah enggak penting lagi sekarang.
Mau ngomong soal rasa bersalah atau tugas,
nyatanya kalung itu masih melingkar di lehermu.
Padahal kalau mau dilepas bisa tinggal dilepas.
Makanya, khawatirin soal begituan malah kelihatan lucu.
Mau khawatir mau enggak, perut tetep perlu diisi.
Kalau buat kita, sih, nyiapin makanan jauh lebih penting.
Pikir-pikir, makanan di tanah ini benar-benar melimpah.
Diberkati hasil hutan dan danau yang kaya rasa.
Bahkan ada monster sekelas naga
yang dagingnya bisa menghidupi ratusan orang.
Begitulah hutan di sini.
Hutannya luas, gunungnya pun terjal.
Mustahil orang sini bisa bertani.
Tanpa menebang pohon, gandum takkan bisa tumbuh.
Tapi jika ditebang, lambat laun berkahnya akan hilang.
Tujuh abad kami terus berebut wilayah.
Harusnya wilayah timur sudah meluas
dan tanahnya pun makin subur.
Tapi kenapa... tanahnya justru makin gersang?
Sera?
Kamu kayak lagi mikirin sesuatu, ya.
Mukamu jadi kayak tupai, lo?
Putri Serafina! Ini air minum!
Te... Terima kasih.
Kamu enggak apa-apa?
I... Iya.
Masih kepikiran soal tadi siang?
Tadi aku merenungi arti Ekspedisi Timur bagi kesatria dan bangsawan.
Tentang kami yang merebut tanah demi rakyat kami sendiri.
Aku enggak bisa yakin itu tindakan yang benar.
Kalau aku bilang begitu,
apa para kesatria dan sukarelawan yang gugur
juga rakyat yang selamat akan membenciku?
Sera.
Setelah makan mau ngobrol di luar sebentar?
Mau di sini atau di Barat
tiga bulan kembar ini tetaplah indah.
Iya. Indah sekali, ya, Sera.
Iya.
Soal siang sama yang tadi,
aku jadi bingung harus apa setelah ini.
Antara pulang demi rakyat dan teman seperjuangan,
atau mencari kebahagiaanku sendiri.
Rasanya saling bertolak belakang.
Kalau begitu, begini aja.
Gimana kalau coba berandai-andai dulu?
Berandai-andai?
Enggak nyangka kamu ngomong begituan.
Apanya yang enggak nyangka.
Justru soal impian, akulah yang paling serius.
Kata para peri, tekad kuat untuk menjadi sesuatu
bakal menarik hasil yang kamu mau.
Makannya, keraguan cuma bakal menyisakan penyesalan.
Jadi, coba bayangin masa depan
seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Ngebayangin...
Ngebayangin, ya.
Misalnya, aku berhasil raih hal baik terus pulang ke tanah air.
Hore!
Inginku rakyat hidup makmur tanpa kelaparan.
Mengakhiri sejarah Ekspedisi Timur.
Setelah itu, statusku sebagai bangsawan tak lebih dari tahanan.
Dikurung di kamar selamanya.
Makin kupikirin, makin buntu.
Yah, segitu mah aku udah siap, sih.
Lalu, yang ini baru andai-andai...
Kalau kulepas tugasku sebagai kesatria dan memilih Veor...
Dia agak kasar, tapi bukan rendahan.
Meski ilmu pedangnya kalah, tubuh besarnya tangguh.
Bentar, dia kan masih delapan belas tahun.
Seiring waktu, dia pasti bisa setara.
Apalagi dia keturunan Kak Lesia.
Enggak kebayang, sih.
Tapi, kalau kami punya anak?
Anak? Aku sama Veor punya anak!
Pasti bakalan lahir, sih.
Lo? Kok kayaknya boleh juga, nih.
Bentar, ini mah udah ngekhayal!
Aduh! Ujungnya tetep enggak bisa mutusin apa-apa!
Jadi kamu bimbang, ya.
Eh?
Sebenarnya, aku pikir kamu bakal nolak mentah-mentah.
Makanya, aku senang kamu bimbang.
Itu artinya, prinsip hidupmu
begitu juga harga dirimu sudah sebanding
dengan perasaanmu padaku, 'kan?
Artinya, sudah cukup, 'kan?
Kamu ini...
Omonganmu enggak konsisten.
Tadi larang ragu, sekarang nyuruh bimbang.
Hm? Itu kan pilihanmu.
Aku cuma bisa ada di sampingmu.
Tapi, mungkin begini saja...
Aku bakal bantu buka duniamu biar kamu enggak gelisah lagi.
Itu, 'kan!
Gimana kalau kita mulai berencana untuk pergi jauh?
Yang Mulia Sidius!
Saya Hilbein, pembawa pesan dari wilayah timur.
Maaf laporannya mendadak, ini masalah mendesak.
Masuklah.
Siap!
Terima kasih sudah membawa kabar dari medan tempur.
Melihatmu saja, aku sudah bisa merasakan situasinya.
Serafina kalah, ya.
Siap!
Belum pasti. Jenazahnya belum ditemukan.
Beliau kemungkinan ditawan setelah menjadi barisan pertahanan terakhir.
Itu sama saja.
No comments yet. Be the first to leave one.