As primeiras 200 linhas.
Salam.
Selamat siang.
Apakah Anda akan lewat jalan layang?
Yang kedua?
Ya, yang setelah ini.
Terima kasih.
Apa itu?
Benda yang kau taruh di situ.
Ini?
Perangkat anti pencuri?
Ya, semacam itu.
Kelihatannya cukup keren.
Sungguh? Kau tahu alat ini?
Ini semacam bidang pekerjaanku.
- Percayalah. - Kau harus hati hati.
Sepupuku, pria malang, dia keluar rumah,
masuk ke dalam mobil untuk pergi bekerja,
dan kemudian menyadari 4 ban mobilnya telah diganti dengan batu bata.
Mobil apa?
- Benar-benar mobil murah! - Yang benar saja, mencuri mobil tua seperti itu!
Jika aku kepala negara,
akan kugantung beberapa dari mereka agar yang lain jera.
Menggantung mereka? Dengan mudah membuang hidup orang lain!
Mungkin orang itu melakukannya karena kebutuhan!
Tak percaya aku mendengarnya.
Kebutuhan? Apa maksudmu?
Mungkin dia membutuhkannya.
Sopir kita ini pasti lebih membutuhkannya.
Belum lagi aku!
Tidak ada alasan untuk membuat orang lain bernasib buruk.
Apa maksudmu?
Apakah kau mau jika itu terjadi padamu?
Apa itu akan membuatmu senang?
Tidak, aku tidak akan senang jika itu sampai terjadi padaku.
Aku hanya mengatakan, kau dengan mudahnya memberi hukuman mati.
Kita perlu menggali sampai akar masalahnya.
Jika mereka mengambil cuma dua...
Tidak ada orang yang terlahir sebagai pencuri!
Apa maksudmu?
Jika dua orang dihukum gantung, yang lain akan mengerti.
Aku mengerti, tapi kau salah.
Keadaan tertentu membuat kejahatan terjadi.
Tapi menggantung orang hanya karena mencuri ban mobil?
Logikamu miring!
Beberapa waktu yang lalu,
dua orang dihukum gantung untuk kejahatan yang lebih ringan.
Apa bedanya? Bisa saja itu membantu.
Jangan jelaskan padaku.
Kau berada di dunia yang lain!
Tentu saja, aku dengar mereka digantung karena serangan atau apa pun itu.
Terus apa? Apakah orang lain mendapat pelajaran?
Kau bicara omong kosong.
Tidak ada masalah yang selesai...
Hukum dan Syariah telah berbicara.
Jika sekarang masalahnya belum terselesaikan,
mereka belum menerapkannya dengan benar.
Jadi tenanglah, Nona!
Jadi menerapkan Syariah memecahkan semua masalah kita...
dengan meningkatkan jumlah eksekusi mati?
Setelah Cina, negara kitalah yang paling sering melakukan eksekusi mati di dunia!
Kau bilang itu menyelesaikan masalah? Tidak!
Kau sama sekali tak mengerti!
Kau benar-benar tak mengerti, Nona.
Rumah Sakit Parssian?
Lurus kedepan.
Lurus saja dan Anda akan sampai di sana.
Tidak, ke Parssian tidak ke sana!
Saadat Abad, antara Kaj Square dan Farhang.
Jadi aku harus putar balik?
Ya, pergi ke Saadat Abad.
Hadji ...
kau bukan sopir?
Apa maksudmu?
Kau sebut dirimu sopir taksi!
Yang benar saja.
Kau bahkan tidak tahu jalan menuju Rumah Sakit Parssian.
Lurus saja kedepan...
Sepertinya kau sedang jatuh miskin.
Kau telah mencapai titik terendah.
Ada apa?
Aku mengerti maksudmu, tapi sejak aku ngobrol denganmu,
boleh aku mengajukan pertanyaan?
Katakan saja, Nona!
Apa pekerjaanmu?
Apakah semua hal harus dihubungkan dengan pekerjaan?
Ada hubungannya.
Ketika kau membela sebuah ide, apakah kau mempercayainya...
ataupun kau punya kepentingan di dalamnya.
Ini tidak disangka-sangka. Apa pekerjaanmu?
Apa pekerjaanmu, panas terik begini?
Kau akan menjawab kalau kuberitahu?
Kau duluan, mungkin aku akan ikut.
Aku seorang guru.
Itu kelihatan, Hadji.
Kau bekerja dalam dunia khayalan, Nona.
Membaca terlalu banyak buku dan menghabiskan hari-hari dengan anak-anak
telah membuat bicaramu terdengar seperti khayalan.
Bahkan jika kau tidak mengatakannya kepadaku, aku bisa menebaknya.
Sekarang katakan apa pekerjaanmu.
Pekerjaanku adalah freelance.
Nanti akan ku beritahu apa spesialisasiku.
Tolong, turunkan aku di sana setelah lampu.
Berapa tarifnya?
Tidak perlu membayar.
Sialan!
Kau benar-benar bukan sopir taksi!
Kau beberapa kali melakukan kesalahan.
Kau sebenarnya freelance di bidang apa?
Aku akan keluar dan memberitahu dirimu.
Kau benar-benar ingin tahu yang sebenarnya?
Ya.
Sepesialisasiku adalah sebagai perampok.
Perampok?
Iya.
Tapi aku tidak merampok guru atau supir taksi seperti dia.
Orang-orang yang merampok ban orang miskin
tidak bisa lebih rendah lagi.
Pecundang yang paling buruk.
Dengar nasihatku. Jangan mengasihani mereka!
Tuhan memberkati.
Luar biasa.
Dari mana asalnya?
Apa kabar?
Akan ke sana dalam 10 menit. Baik...
10 menit.
Aku akan turun sedikit lebih jauh.
Di sini?
Ya terima kasih.
Ini tarifnya.
Terima kasih.
Aku akan menyewa taksi ini hanya untukku.
Shariaty? / Maaf, tidak bisa.
Tuan Panahi, aku mengenali Anda.
Bahkan dengan baret itu, aku mengenali Anda.
Bisakah Anda berhenti agar aku bisa duduk di depan?
Terima kasih.
Terima kasih banyak.
Anda sedang membuat film, kan?
Pria dan wanita itu...
Belok kiri, terima kasih. Menuju Shahran.
Mereka itu aktor, kan?
Tahu bagaimana aku menyadarainya?
Dialog terakhir pria itu seperti dalam adegan kedai kopi
di film "Crimson Gold", bukan begitu?
Anda, sopir taksi? Tidak mungkin, Tn. Panahi.
Pekerjaan seperti yang lain.
Tentu, tapi Anda tidak menikmatinya!
Anda benar-benar tidak mengenaliku?
Aku pasti lupa.
Aku Omid.
Omid siapa?
Omid rental video!
Aku yang biasanya membawakan Anda film!
Untuk anak Anda, maksudku. Bukan Anda.
Kita peernah bertemu sekali.
- Aku berkata "Halo, apa kabar?" - Anda mengatakan "Baik, Nak!"
Anda ingin film "Once Upon a Time in Anatolia"
oleh Nuri Ceylan. Aku memberikannya kepada Anda.
Kenapa kau berkeringat begitu banyak?
Panas sekali.
Anda juga ingin film lain, ingat?
Tidak.
"Midnight in Paris", Woody Allen!
Itu kamu./ Tentu saja!
Masih belum dibuka.
Anda belum melihatnya!
Aku bisa membawakan Anda film baru setiap hari.
Kutelepon lagi nanti.
Masukkan dia!
Rumah Sakit Chamran.
Kenapa harus ke Chamran?
Pergilah ke Milad. Dia malang!
Dimana itu? Bagaimana caranya ke sana?
Ayo, jalan.
Apa yang terjadi?
Kecelakaan.
Aku sekarat...
Sebuah kecelakaan sepeda.
Bukan salahku.
Aku sudah bilang dia harus pakai helm.
Aku minta kertas...
Tidak, aku ingin menulis wasiatku.
Tolong beri kertas untuk menulis apa yang harus ku katakan.
Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Tulislah apa yang kukatakan.
Istriku tidak mengerti.
Menurut hukum, dia tidak bisa dapat warisan.
Paling banyak dia hanya akan mendapatkan beberapa kalkun.
Dia akan kehilangan tempat tinggal!
Tolong lebih cepat! Pergi ke rumah sakit.
Telepon genggam! Kalian punya?
Bukan untuk membuat panggilan.
Aku butuh kamera.
Hidupkan.
Punyaku baterainya habis.
Kamera...
Arahkan padaku.
Rekam aku!
Bismillahirrahmanirrahim!
Namaku Rabei Mohammadi,
No comments yet. Be the first to leave one.