Road to Ninja: Naruto the Movie
لومړۍ 200 کرښې.
Kuchiyose no Jutsu!
Apa itu tadi?
Apa itu... Tidak mungkin!
Ekor Sembilan!
Majulah, Ekor Sembilan.
Kenapa...
Minato...
Semua baik-baik saja.
Tetaplah bersama Naruto.
Naruto...
Minato, terima kasih.
Jaga dirimu.
HOKAGE KEEMPAT
Aku akan segera kembali.
Aku takkan membiarkanmu berbuat seenaknya!
Kau sudah menyadari keberadaanku?
Aku takkan membiarkanmu!
"Apa itu ninja?"
Aku sering ditanya pertanyaan itu.
"Seorang ninja adalah seseorang yang bertahan dalam penderitaan."
Itulah yang dulu dikatakan guruku.
Laporannya akurat,
tak diragukan lagi,
mereka Akatsuki.
Bagaimana mungkin?
Bahkan yang sudah kita kalahkan ada di sini.
Kita bisa cari tahu alasannya nanti.
Kita harus mengalahkan 8 musuh di depan kita ini.
Dan mereka semua punya kemampuan sangat merepotkan.
Aku sudah melihat profil data mereka semua, tapi...
Kami sudah siap.
Menunggu perintah selanjutnya.
- Dimengerti. - Rasengan!
Apa?
Aku tak akan kabur atau sembunyi!
Majulah, bajingan-bajingan!
Dan...
Namaku adalah...
Uzumaki Naruto!
Aku adalah seorang Ninja!
Apa yang sedang dia lakukan?
Dia seorang ninja, tapi dia tak tahu cara bertahan sama sekali!
Tapi, dia bisa jadi pengalih perhatian yang baik.
Shikamaru!
Kita tak bisa melawan mereka semua sekaligus.
Menurut nalar, kita harus memisahkan mereka
dan menghancurkan mereka secara individual.
Kalau begitu...
Ayolah! Jangan mengganggu!
Kau sama sekali tidak berpikir, ya?
Apa katamu?
Mungkin tidak akan cukup, tapi ayo mulai!
Baika no Jutsu!
Nikudan Sensha!
Kembalilah ke posisimu.
Aku takkan memberi kalian waktu untuk merespon
karena jurus-jurus kalian merepotkan.
Apa kalian lihat kombinasi kami?
Hinata! Tunjukkan semua kemampuanmu!
Naruto!
Daburu Dainamikku Entorī
Dulu aku kesusahan untuk melawanmu, tapi sekarang aku sudah berbeda!
Aku sudah menyempurnakan kemampuanku murni dengan kerja keras!
Bagus, Lee.
Inilah saatnya menunjukkan pada mereka kekuatan berkilau masa muda kita!
Kau tak boleh kabur.
Tentu saja!
Tempat itu...
Tempat di mana Pertapa Genit dan Ayah dulu berlatih.
Gua Latihan.
Maaf membuatmu menunggu... Aduh!
Jangan langsung lari begitu saja!
Doton: Doryuheki!
Ninpo: Choju Giga!
Sial. Biar aku...
Apa-apaan ini?
Tangan! Tangan!
Tangan!
Teknik jutsu gaya tanah. Ini ulah musuh.
Mereka menghilang tanpa jejak?
Baiklah!
Kurasa kita berhasil mengusir mereka, setidaknya untuk saat ini.
Master Kakashi.
Ya. Ini aneh.
Para anggota Akatsuki yang seharusnya mati datang untuk menyerang kita?
Apa yang sedang terjadi?
Kami tidak tahu.
Mereka mundur tanpa terlalu banyak perlawanan.
Apa itu hanya untuk mengancam kita?
Atau mereka punya rencana lain?
Mari kita tingkatkan jumlah penjaga
dan memperketat keamanan desa.
Baik.
Setidaknya mereka meninggalkan sampel tubuh ini.
Segera analisa komposisinya dan lakukan perbandingan!
Baik!
Kudengar kalian mengusir para Akatsuki.
Itu benar.
Tapi, mereka tak terlalu sulit untuk ditangani.
Jangan katakan itu!
Seperti yang diharapkan, anakku bisa menyelesaikan masalah saat diperlukan!
Omong-omong soal Akatsuki,
kelompok itu hanya beranggotakan orang-orang sangat kuat.
Berhasil melawan mereka adalah pencapaian pangkat Jounin.
Benarkah?
Benar! Kami semua membicarakannya.
Kami akan merekomendasikan pada Hokage
agar kalian semua dinaikkan menjadi pangkat Jounin.
Sungguh? Kami akan menjadi ninja Jounin?
Percaya dirilah.
Ini sesuatu yang sudah kita sepakati, bukan?
- Ya. Tentu. - Itu benar.
Hei, apa itu berarti aku juga akan...
Tapi, aku agak merasa tidak enak.
Kita bukan dari keluarga yang punya pencapaian tinggi.
Ibu!
Dan orang yang bersangkutan agak tidak sopan.
Dia menggeletakkan sepatunya sembarangan,
tidak melipat bajunya, dan benci bersih-bersih.
Kalau kau menaikkan pangkatnya,
bukankah dia hanya akan menyebabkan masalah bagi para atasan?
Kau tak perlu mengatakan itu di sini.
Sakura sungguh tak berdaya di depan ibunya.
Tak apa.
Sakura punya guru yang hebat.
"Kalau kau punya seorang guru, kau tak perlu takut kematian."
Atau sesuatu semacam itu.
Oh, yang benar saja!
Kalian, sudah hentikanlah!
Kalian terlalu berisik dan lelucon kalian payah! Bodoh sekali!
Apa? Apa katamu?
Sakura, kau tak perlu bicara seperti itu...
Diam! Jangan ikut campur masalah keluarga!
Yang lain akan mendapat rekomendasi dari orang tua mereka.
Apa yang akan kau lakukan?
Aku anggota kelompok Anbu, Root.
Kami punya sistem pangkat yang berbeda.
Hei,
bukankah kue itu agak terlalu besar untukmu?
Aku bisa makan semuanya!
Sungguh?
Sudah jelas terakhir kali sisa banyak.
Ayo pulang.
Baik.
Aku pulang!
Kau ingin bicara sesuatu padaku?
Master Iruka...
Yah...
Bisakah kau menuliskanku rekomendasi untuk kenaikan pangkat menjadi Jounin?
Apa?
Yang lain akan meminta orang tua mereka melakukannya.
Jadi, kupikir...
Tidak mungkin. Aku menolak.
Kenapa?
Kau harus menjadi pangkat Chuunin dulu.
Hanya karena kau menyelamatkan desa dari Pain dan menjadi pahlawan
tidak berarti kami bisa memberimu perlakuan khusus.
Bahkan ayahmu, sang Hokage Keempat,
dari level Genin, naik ke level Chuunin kemudian level Jounin,
dan seorang pahlawan.
Lalu dia menjadi wajah di batu.
Wajah batu tak bisa mengatakan, "Selamat datang kembali."
Kau...
Terkadang aku berpikir seperti itu.
Daripada menjadi pahlawan yang terpahat di batu,
dia seharusnya bertahan hidup saja
dan bilang, "Selamat datang kembali," saat aku pulang.
Master Iruka, bahkan orang tuamu...
Sudah cukup!
Ada apa denganmu hari ini?
Tak ada.
Ini ramen-mu.
Dan Miso Chashu untuk Naruto.
Paman, tidak ada lauk naruto di ramen-ku!
Oh, kami kehabisan,
jadi aku memberimu tambahan lauk menma.
Habis
Aku benci menma!
Terbuat dari apakah sebenarnya menma?
Menma terlalu susah untuk dikunyah!
Itu terbuat dari batang bambu gugur yang difermentasi...
Jadi, itu bambu busuk?
Kau mengharapkanku makan...
Kaulah benda busuk yang kulihat di sini!
Hei! Jangan berkelahi di kedai!
Bukan ramen namanya kalau tak ada naruto di dalamnya.
Hei! Naruto!
Apa dia sungguh sangat membenci menma?
Tunggu. Uang yang ditinggalkannya tak cukup.
Biar kubayar kurangnya.
Master Iruka itu...
Kenapa kau begitu membangkang?
Berhenti menggangguku! Aku bukan anak kecil!
Tunggu.
Aku belum selesai bicara denganmu!
Kau tak perlu mengomeliku mengenai semua hal.
Sakura!
Sakura.
Berhenti di sana, Sakura!
Ayo pergi!
No comments yet. Be the first to leave one.