لومړۍ 200 کرښې.
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
Dahulu kala,
sebuah ramalan munculnya seseorang yang terpilih,
seorang wanita dengan rambut berapi-api, yang akan membentuk kembali dunia.
Namun para dewa, takut akan kekuatannya,
berbisik ke dalam hati manusia,
mendorong mereka untuk membakar anak mana pun yang sesuai dengan ramalan itu.
Maka, kepolosan pun hilang,
saat orang-orang yang tidak bersalah itu dilahap habis oleh api ketakutan.
Tidak.
Kasihanilah, dia masih anak-anak.
Anak ini adalah hadiah dari cahaya,
dia putrimu, benihmu, aku bersumpah.
Jangan kutuk jiwamu!
Avalon, pegang tangan ibu.
Tidak, kamu tidak harus melakukan ini.
Dia putrimu, dan aku istrimu yang setia.
Tidak!
Tidak! Tidak!
Ada yang baru saja bermimpi buruk.
Katakan, apa kamu memimpikan dia?
Kamu memimpikannya, bukan?
Aku tidak melihat apa pun, karena tak ada mimpi.
Terus kenapa kamu terbangun dengan ketakutan begitu?
Karena aku merasakan mata
seorang pria yang mengawasiku saat aku tidur.
Dan aku belum makan.
Bagaimana kalau kukasih kamu sedikit makan jika kamu menceritakan mimpimu?
Makanannya dulu.
Mimpinya dulu, dong?
Baiklah.
Aku bermimpi bersama tiga wanita,
dan mereka semua menginginkanku secara bersamaan,
tetapi aku tak bisa memutuskan mana yang harus aku senangkan terlebih dahulu.
Aku tidak percaya kamu.
Dan kini kamu tahu kenapa aku marah sekali saat kamu membangunkanku.
Aku sangat kecewa melihat wajahmu.
Jika itu mimpimu,
kamu akan terbangun sambil memegang pedang yang lain.
Mungkin.
Ayah, mereka sudah datang.
Pergilah temui mereka dan beritahu apa yang telah kamu lihat.
Ramalan itu benar.
Orang-orangmu tak akan datang.
Mereka tak akan mempercayai anakmu.
Ayo kita semua pergi.
Kamu ceritakan sendiri apa yang kamu lihat.
Apa pun yang mereka persiapkan, itu terjadi malam ini.
Hidup kita ada di tanganmu.
- Aku tidak khawatir, Ayah. - Ayah tahu.
Hati-hati.
- Jaga dirimu baik-baik, keponakanku. - Sampai jumpa lagi, Paman.
- Di sini, dalam kemuliaan cahaya. - Sekali lagi, keponakan.
Tidak dalam kemuliaan.
Belum.
Kamu mungkin telah mengirimnya ke kematiannya.
Ketika mereka mendengar ramalan itu benar, mereka akan datang.
Kamu percaya orang secara membabi buta.
Dan kamu sama sekali tidak percaya mereka.
Udara mengalir dari atas.
Ya.
Tapi kemana mengarahnya?
Apa mimpimu tak memberitahumu?
Mimpimu memberitahumu?
Aku ingin mendengar lagi tentang mimpi dengan ketiga wanita itu.
Kamu membahasnya lagi.
Aku penasaran.
Apa kamu mengubah detailnya karena kamu biasa tidur dengan babi?
- Apa? - Bhodie, si penghibur babi.
Kamu tahu, sayang sekali Ayah tidak punya kamar
ke istananya untuk satu bajingan lagi.
Ya, benih Ayah telah ditabur luas dan jauh.
Kamu beruntung, kamu dilahirkan dengan anugerah "penglihatan Ayah".
Tapi tidak namanya.
Setelah ini, Bhodie, kamu tak akan membutuhkan namanya.
Itu karena hanya makhluk hidup yang butuh nama.
Sudah dimulai.
Itu adalah Caius Bersaudara.
Mereka mengorbankan diri mereka untuk para dewa.
Maksudmu para setan.
Mereka bunuh diri demi setan.
Dewa bagi satu orang, setan buat yang lainnya.
Semakin lama kita menunggu, semakin sedikit pula yang kita lawan.
Itu obornya.
Kita harus nemuin jalan masuk.
Jika kamu masih ingin pergi...
Apa yang mereka lakukan?
Mereka sedang mempersiapkan tubuhnya.
Untuk apa?
Untuk membebaskan "yang terjatuh".
Mereka membuka gerbang menuju neraka.
Apapun yang terjadi,
kita tidak boleh membiarkan setan melewati gerbang itu.
Kamu pernah melihat ini sebelumnya, bukan?
Aku berjanji padamu, dik...
Kita akan keluar dari sini hidup-hidup hari ini.
Bhodie!
Bantu aku!
Kenapa mereka berhenti?
Setan.
Tidak!
Bhodie, apa kamu ingat sumpahmu?
Kita telah gagal.
Kita belum gagal. Belum.
Apa kamu serius dengan kata-kata itu?
Dia tak bisa diselamatkan.
Bagaimana kalau bisa? Seberapa jauh kamu akan melangkah?
- Kamu mau melangkah hingga ke ujung dunia? - Dia sudah tiada, kakak!
Bersumpah dan bersungguh-sungguhlah atau tidak mengatakan apa pun.
Akan kulakukan apa pun yang diperlukan...
untuk memenuhi ramalan itu, termasuk menyerahkan nyawaku.
Aku tahu.
Tapi ini adalah takdirmu.
Kamu akan memperjuangkannya ketika yang lain tidak.
Kamu akan melindunginya ketika yang lain gagal.
Kamu akan menjadi perisai saat badai mengamuk.
Itulah takdirmu.
Ingatlah, tidak peduli seberapa pun gelapnya,
cahaya akan memberikan jalan.
Ikutlah denganku.
Ksatria yang malang.
Dikhianati oleh kakaknya.
Ditelantarkan oleh ayahnya.
Mengejar janji kemuliaan.
Tapi apa akan ditemukan?
Siapa kamu?
Akulah Penjaga alam ini yang kesepian.
Dan tempat apaan ini?
Kamu gagal melindungi dia.
Sekarang kamu telah melakukan traveling melalui Gerbang Terlarang...
menuju tanah para dewa.
Apa kamu menginginkan bantuanku?
Apa aku bisa mendapatkan bantuan setan?
- Kebaikanku tidak cukup. - Bicaralah terus terang, setan.
Berapa upahmu?
Aku dapat membantumu menyelamatkan "yang terpilih".
Dan kenapa dia?
Gadis dengan rambut api.
Aku membuat kesepakatan. Aku memberinya ini.
Ini akan memungkinkan kamu mati seratus kali.
Aku menawarkannya padamu.
Seratus kematian?
Kurang lebih.
Semoga saja kurang.
Dan apa kesepakatanmu?
Kesepakatannya?
Ya.
Yang aku minta hanyalah ketika gerbangnya terbuka,
kamu akan membiarkanku ikut denganmu ke alam-mu.
Itulah harga dari seratus kematian itu.
Kurang lebih.
Kurang lebih.
Dan bagaimana aku bisa kembali ke kakak-ku?
Tiga penguasa memegang tiga batu itu.
Dan apa "yang terpilih" ini pergi untuk melawan para penguasa ini?
Ya. Dan kamu membuang-buang waktu.
Kenapa aku tidak membunuhmu saja, setan?
Kamu boleh mencobanya.
Tapi kekuatan jimat ini hanya bekerja...
selama aku masih bernafas.
Baiklah, Penjaga.
Jika aku berhasil,
aku izinkan kamu melewati gerbang bersama kami.
Kesepakatan bagus.
Namun ini harus disegel dengan darah.
Hanya setetes.
Ketika aku menutupi lukamu,
aku mungkin tidak bisa menahan diri.
Cobalah khianati aku, setan...
- dan aku akan memburumu sepanjang masa. - Ya, ya, terserah.
Selama masih ada cahaya di jimat ini,
kamu akan bisa mati dan terlahir kembali.
Jika cahayanya mati,
kamu ikut mati.
Berpikir ulang?
Katakan tujuanmu.
Kamu kalah.
Baiklah, tikus kecil.
Kuminta kamu turunkan aku sekarang juga.
Kamu telah membuat kesalahan besar.
Adalah bijaksana bagimu untuk melepaskanku sekarang juga.
Sepertinya kamulah orang yang sekarang terperangkap, tikus kecil.
Seorang ksatria cahaya, di sini, di alam para dewa.
Orang akan bertanya-tanya kejahatan apa yang dia lakukan...
sampai dikirim ke sini.
Atau, apa dia memburu si penyihir itu?
Kamu bukan penyihir itu, kan?
Kalau ya, aku tidak memburu penyihir itu.
Siapa yang mengirimmu?
Aku di sini karena ramalan itu.
Yang mana yang kamu maksud?
Ramalan tentang seorang wanita,
yang tidak bisa dibakar dengan rambutnya yang berapi-api.
Dia akan menghilangkan kegelapan
dan menyatukan semua manusia melawan kembalinya para dewa.
Dan di mana kamu mendengar ramalan besar ini?
Ayah dan kakakku memimpikannya...
dan hal itu dikonfirmasi dalam teks kuno cahaya.
Dan apa kamu ingin aku percaya...
No comments yet. Be the first to leave one.