De eerste 200 regels.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
Sampai ketemu. Dah.
Pokoknya ingat, janji aku tadi benaran, lo.
Untuk pesta pernikahan kamu dan Saski, gaun pengantinnya harus dari aku. Oke?
- Tentu. - Oke. Mmm.
Apa, nih, oke-oke?
- Eh! -
Sayang.
Selamat, ya. Nanti ulasannya di blog aku. Harus baca, lo.
Pasti. Aku tunggu, ya. Ada yang menunggu, tuh.
- Sas, aku harus jalan sekarang. - Oh, ya sudah.
- Kamu ikut apa tidak? - Nanti aku susul.
Baiklah. Tak apa-apa.
Tapi jangan telat.
- Tidak. - Ini acara besar.
Ya?
- Kamu pakai sepatu ini? - Nanti pasti aku ganti, tenang saja.
Dah.
- Hendry. - Ya.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Ooh!
Sudah pasti, jodoh kalian berdua.
Hebatnya kamu.
Bukan cuma tulisan tenun gringsing di blog-mu saja yang menginspirasi orang.
Setelah ini, kisah cintamu bak Cinderella jadi kenyataan.
Akan menginspirasi banyak…
- Hai. - Hai, hai!
- Aku pulang dulu, ya. Pulang yuk. - Oh, begitu? Ya sudah.
Jangan pergi dulu, Anak manis.
Bu Hadra.
Duh. Ini sih dari tatapannya pasti mau mengobrol dengan Saski, ya? Hmm?
Sepertinya.
Sas, Bu Hadra ini tidak sembarangan lo meramal orang.
Ini peristiwa langka.
Ibu peramal?
Ya.
- Mau? - Peramal.
Kain gringsing adalah penolak bala.
Dan bahan-bahan tenun,
auranya atau sinarnya sudah masuk ke dalam tubuhmu.
Dan tubuh kamu baru sekarang.
Menjadi awal yang baru.
Sekarang ambil kartunya.
Buka.
Oke.
Putri Terompah dari Daun Kering.
Sekarang kamu tutup mata kamu
dengan daun ini.
Buka matamu…
setelah berputar tiga kali.
Kamu akan menemukan jalan barumu.
Kamu sahabatnya.
Kamu yang menjaga jalannya dia.
Ya. Siap.
Baca mantra ini.
Pada saat dia memutar Bumi.
Iya, Sayang. Ini sebentar lagi aku ke sana kok.
Cuma beli aksesori sebentar.
- "Menutup mata." - Ya. Dah, Sayang.
"Memutar.
Membuka mata.
Putar, putar.
Ikuti arah Bumi."
Heh!
Buang saja mantra itu. Kamu pikir hidup kita ini seperti film?
Diawali ramalan lalu seluruh cerita terseret oleh ramalan?
Kaya begini deh ini, pesimis sekali.
Bantulah aku berpikir pakai apa aku ini!
Iya, aku selalu punya solusi. Aku carikan sekarang.
Bagaimana kalau begini saja. Sekarang coba kamu putar badanmu tiga kali.
Tapi sambil kamu tutup matamu, ya.
Lalu setelah kamu putar badanmu tiga kali, kamu buka matamu.
Apa-apaan sih? Malas deh aku yang seperti itu.
Kok malas sih? Hei, dengarkan aku. Ibumu itu pembaca lontar.
Bapakmu itu penulis lontar yang terkenal. Terus yang seperti ini kamu malas begitu?
Aku ini penjaga sekaligus temanmu.
Jadi, dengarkan aku.
Pokoknya dengarkan!
Nah, begitu. Dari tadi kek.
"Gasing, gasing.
Putar, putar.
Buka pintu hatimu.
Putar, putar.
Temukan arah kakimu."
Nah!
Ini dia yang seharusnya kamu beli.
Yuk. Ayo.
Maaf, Dik, tokonya masih renovasi. Belum buka.
Bli, jangan seperti itu, Bli.
Itu namanya menolak rezeki, tahu? Kami ini ke sini karena ramalan.
Kalau Bli sampai menolak ramalan, Bli bisa kena tulah.
Tapi lain kali saja.
Tapi teman saya lagi buru-buru ini. Dia mau ke pesta.
Saya juga lagi buru-buru. Lagi renovasi toko ini.
Bli, tidak usah khawatir. Saya bisa pilih sendiri, cepat kok.
- Bli lanjut saja. - Dengar? Sudah lanjut saja, kerja dulu.
Kami pilih-pilih. Lumayan pelaris.
- Andra. Lucu, tidak? - Ya?
Ah, lucu itu. Lucu.
Lucu.
Tidak cocok itu untuk Anda.
Kenapa?
Pernah dengar tidak? Ada orang bilang…
Kalau kamu mau lihat pribadi seseorang, lihat sepatunya.
Silakan duduk. Biar saya pilihkan.
Oke.
Menurut saya sepatu ini cocok untuk Anda.
Sesuai dengan karakter Anda.
Maaf.
Maaf.
Ini sudah jadi tugas saya.
Mmm…
Bagaimana?
Bagus.
Eh, saya pilih yang ini saja. Tolong agak cepat, ya.
Ini.
- Terima kasih. - Ya.
Terima kasih.
- Sas. - Hah?
Aku ke Café Kebun dulu, ya.
Kerja. Dah.
- Dra, hati-hati. - Ya, dah.
Lo…
Bli, Bli, Bli, Bli. Cepat balik, Bli.
- Balik ke mana ya, Non? - Ya ke toko sepatu tadi, Bli.
Cepat, kenapa pakai tanya lagi?
Aduh, Non ini. Suruh balik, suruh balik, tapi tidak dikasih tahu baliknya ke mana.
Eh, eh, kok kencang, ya?
- Bli, jangan ngebut-ngebut! -
Bli, Bli, Bli, Bli!
Bli!
Tadi mintanya cepat-cepat, sekarang jangan ngebut.
Non ini bagaimana sih, Non? Omongannya putar balik.
- Kamu itu di mana, Saski? - Ini sudah di jalan.
- Hah? - Iya, Sayang. Ini jadi datang, kok.
Dari tadi aku, bapak,
dan semua kolega bisnisnya menunggu kamu, lo.
- Ini aku sebentar lagi… - Acara tak bisa dimulai.
- Iya, ini jadi da… - Kamu jadi datang atau tidak?
Iya, Sayang, ini aku sebentar…
Anakku.
Coba Ibu lihat.
Semoga hari ini semua lancar, ya. Dan kamu bisa bereskan semua masalah kamu.
Aku tidak tahu lagi kalau tidak ada Ibu.
Ayo turun. Bapakmu 'kan tidak suka kalau orang terlambat. Ya?
Bli!
Kenapa kamu taruh tangga dan cat di depan pintu?
Bagaimana ini sekarang?
Mana toiletnya? Mana?
Aduh… Aduh.
Mana?
Mana airnya?
Aduh, Betara, di mana airnya? Mataku perih!
Saya ambilkan air sebentar. Toilet ini memang rusak.
Sebentar, sebentar.
Coba merem, tenang, tenang.
Tenang bagaimana?
Sepatu tertukar gara-gara kamu.
Lalu sekarang aku terlambat lo ini, datang ke ulang tahun pacarku.
Aku harus pakai baju apa?
Lalu rambutku bagaimana? Coba jawab!
- -
Bagaimana ini, kok tidak bisa?
Kamu itu di mana, Saski?
Saski!
Ini.
Ini. Pakai kemeja ini. Masih bersih, kok. Atau kamu bisa pakai ini. Yang di sini…
- Berengsek! -
Apa ini? Pakai dibanting-banting?
Saski mana? Hmm?
Deni, kamu sedikit dewasa dong.
Hmm?
Apa pun yang terjadi sama kamu dan Saski, kamu harus temui tamu-tamu di depan.
Kamu 'kan sudah tahu,
toilet ini tidak ada pintunya.
Kenapa masih di situ?
Sana!
SELAMAT ULANG TAHUN I GUSTI AGUNG DENI WIJAYA
Selamat ulang tahun kepada I Gusti Agung Deni Wijaya yang ke-27.
Dan tentunya pada malam hari ini kita juga akan bersama-sama meresmikan
hotel bintang lima, Agung Wijaya.
Selamat ulang tahun!
Mungkin ada beberapa hal
yang harus kita bicarakan nanti secara serius, ya?
Oh, ini anak saya. Deni, Den…
Pulang, Bu.
- Maaf saya tinggal sebentar, ya. - Baik, Pak. Baik.
Hai.
Selamat ulang tahun, Sayang.
Ini kemeja siapa?
Kemeja siapa?
Ceritanya panjang. Nasibku lagi sial saja.
Laki-laki itu siapa?
- Maaf. - Aku dengar semua obrolan kamu dan dia.
Aku dengar semuanya di sini!
Ada hubungan apa kamu sama laki-laki itu?
Jawab.
Ya, jadi tadi aku ke… Aku ke toko sepatunya beli sepatu.
Lalu sepatu yang aku beli tertukar.
- Jadi aku harus balik… - Mulai bohong kamu sama aku.
No comments yet. Be the first to leave one.