De eerste 200 regels.
Episode Dexter sebelumnya.
Bagaimana jika pembunuh truk es menghilang?
Tidak. Dia punya urusan yang belum diselesaikan denganku.
"Kepada Ken. Aku terpotong-potong.
Kenapa kau diam saja? Dari Barbie."
Paul menelepon setelah kau pergi.
Dia sudah keluar penjara. Terlalu ramai. Kau percaya itu?
Kau meniduri istriku?
Lain kali, kita akan cari tahu akan bilang apa ke anak-anak...
...agar kau tak perlu menyelinap keluar seperti ini.
Kau mau ada lain kali?
Andaikan dia pergi saja.
Kenapa dia tak bisa pergi dan menghilang selamanya?
Aku ingin sekali menerkammu.
Aku ingin sekali kau menerkamku.
Ini berbeda.
Ini rasanya seperti...
Aku benci mengatakannya. Kedengarannya gombal sekali.
Rasanya seperti bercinta.
"Barbie, sabarlah."
"Suatu hari kita akan minum bersama."
Syukurlah ada waktu mandi. Waktu pribadi untuk berpikir.
Kini lebih sulit diperoleh karena aku punya hubungan sungguhan.
Kau keberatan?
Sama sekali tidak.
- Bisa oper sabunnya? - Ya.
Pintunya terkunci!
Ibu, aku perlu pipis!
Aku akan segera keluar, Sayang.
- Tunggu sebentar, Kawan! - Tak bisa!
Maaf. Hanya ada satu kamar mandi.
Panggilan alam.
Keren. Bagaimana kau bisa dapat bekas luka yang jelek itu?
Cody!
Pertarungan dengan pedang. Aku menang.
Ibu, aku harus sikat gigi.
- Kenapa kau tak ketuk pintu. - Aku akan terlambat ke sekolah.
Kau sikat gigi dan kau pipis. Aku akan...
Astaga. Bekas lukamu besar.
Pertarungan dengan pedang. Dia menang.
Apa artinya "perpisahan" bagimu?
Bagiku, artinya adalah kau berpisah...
...tapi berusaha memperbaikinya. Kini ini hanya kedok saja.
Aku sudah tahu dia ingin bercerai saat minta berpisah. Dia berbohong.
Ya, sedangkan kau tak bohong saat mengkhianatinya, bukan?
- "Mengkhianati". Sekali saja. - Baik.
- Itu kata tunggal. - Satu. Baiklah.
Aku begitu merasa bersalah sampai bilang kepadanya besoknya.
Itu masalahmu. Kau terlalu jujur.
Dia bahkan tak mau membahasnya.
Aku berusaha membujuknya pergi menemui konselor bersamaku.
Lupakan saja.
- Hentikan mobilnya! - Apa?
Hentikan mobilnya!
Hei!
Berhenti! Polisi!
Doakes! Doakes!
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Nama tersangka Jacques Bayard, berdasarkan SIM miliknya.
- Orang Haiti? - Itu tebakanku.
Baik. Mari kita ulang lagi.
Aku melihat pistol di karet pinggang tersangka.
Aku mau menginterogasinya. Dia langsung kabur saat melihatku.
Angel, kau melihat ini semua?
Ya, aku melihat Bayard lari.
Kuputar mobilnya untuk mengejar.
Baik. Saat kau turun ke bawah jembatan...
Dia menembakku.
Aku berlindung dan balas menembak dari sudut itu.
Tidak. Bukan dari situ.
- Ya, dari sana. - Tapi...
Jika kau menembaknya dari sana,...
...jeja darahnya akan ke arah situ. Lihat polanya.
Kau menginterogasiku? Aku juga mau menginterogasimu.
Dia hanya melakukan tugasnya.
Da adalah orang mencurigakan!
James, fokuslah pada faktanya. Paham?
Tim jaksa penuntut sudah siap mewawancaraimu. Kau bisa?
Ya. Aku bisa.
Ya. Kau berikutnya.
Maaf, bukan aku yang menciptakan ilmu fisika.
Dia hanya salah sedikit saja.
Aku bahkan tak yakin apa yang terjadi di sini.
Trauma bisa mengaburkan ingatan.
Ayo. Aku ingin kau dan Rita berkenalan dengan pacarku.
Sulit mencari pengasuh anak pada hari Jumat malam.
Dex, kau kakakku. Kau harus kenal pacarku.
Kau sangat suka memakai kata "pacar", bukan?
Rudy adalah pacarku. Jadi, berhenti membuat alasan konyol.
Sejujurnya, kencan ganda kita yang terakhir agak canggung.
Aku hanya mau memastikan pacar yang ini akan bertahan lama.
Terima kasih karena telah menurunkan rasa percaya diriku!
Dex, Rudy berbeda.
Aku merasa aman dengannya. Kurasa...
Aku mulai jatuh cinta kepadanya.
Permisi. Di mana Dexter Morgan?
Aku di sini.
Mudah sekali.
Surat mendesak dengan tanda terima?
Mungkin kau memenangkan sesuatu.
- Dex, bisa bicara sebentar? - Ya.
Kau sudah selesaikan laporanmu soal penembakan itu?
Ya. Aku sedang menuju Divisi Internal sekarang juga.
Kau masih berpikir versi Doakes tak masuk akal?
Darah tak pernah berbohong.
Sial.
Dengar.
Kau bisa tunda dulu sampai aku bicara dengan Doakes?
Ini.
Kini kau bisa duduki atau injak. Lakukan apa saja yang kau mau.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Membaca surat orang lain adalah pelanggaran federal.
"Dengan berat hati, kami sampaikan bahwa ayahmu mati?"
- Ayah mati 10 tahun yang lalu. - Ini bukan mengenai Harry.
"Joseph Driscoll, asal Kota Dade. Florida, menunjuk putranya,..."
"...Dexter Morgan, asal Miami, sebagai pewarisnya."
- Ini surat wasiat. - Tak mungkin dia ayah kandungmu.
Kata Ayah dia sudah mati sebelum kau mulai tinggal dengan kami.
Dia tak mungkin melakukan kesalahan seperti itu.
"Mayat akan dikremasi sementara kerabat terdekat dihubungi."
Hei, hanya aku kerabat terdekatmu. Jangan pernah lupakan itu.
Aku juga mewarisi rumah.
Aku tahu yang sebenarnya. Harry selalu cerita yang sebenarnya.
Dia harus melakukan itu.
Dia mengajarkan prinsip kepadaku. Sebuah kode.
Dia tahu aku akan menjadi apa tanpa itu.
Jadi, Joseph Dricsoll, asal Kota Dade, pasti salah menduga.
Kau tahu ini apa?
Ini akta lahir Dexter yang baru.
Adopsinya akhirnya sudah selesai.
Kini kau seorang Morgan.
Kukira aku sudah menjadi Morgan.
Bagi kami ya, tapi kini sudah resmi.
Ini butuh waktu cukup lama dan banyak rintangan.
- Ini hari penting bagi kita. - Hei, Ayah.
Kenapa kau tak pernah cerita kepada kami...
...soal apa yang terjadi kepada orang tua kandung Dexter?
- Mereka mati. - Aku tahu, tapi bagaimana bisa?
- Aku tak tahu. - Tak perlu bahas itu.
Tidak. Bagaimana mereka bisa mati, Ayah?
Itu kecelakaan yang tragis.
Kau sudah mendapat informasi soal Joe Driscoll?
Sudah kucari di Internet. Bahkan di berkas kepolisian.
Tak ada catatan kelahiran atau SIM. Hanya surat kepemilikan rumah itu.
Juga artikel kecil di koran setempat soal tim bolingnya.
- Aneh. - Aku bertanya ke pengacaranya.
Pria yang menangani surat wasiatnya.
Katanya Joseph Driscoll adalah petugas asuransi yang waras...
...serta tahu jelas siapa aku.
Dexter, kau tak mau membuka perasaanmu, bukan?
Sudah jelas kau kewalahan sehingga kau menutup dirimu.
Mungkin.
- Ini terlalu berat untuk kau tangani. - Ya, kurasa begitu.
Jadi, kurasa sebaiknya aku ikut denganmu.
- Tidak, kau tak perlu lakukan itu. - Percayalah. Kau akan butuh aku.
Aku tertidur.
Seks seperti itu memang membuat orang lelah.
Jadi, kita masih akan bertemu kakakmu untuk makan malam hari Jumat?
Tidak. Dia harus pergi ke Kota Dade?
Ada apa di Kota Dade?
- Aku sudah bilang dia diadopsi? - Ya.
Ada pria mati di Kota Dade yang mengaku ayah kandung Dexter.
- Dia mewariskan rumah kepadanya. - Sungguh?
Astaga.
Itu kesalahan besar.
Tetap saja, itu pasti membuka luka lama.
Kapan kau akan pergi?
Aku?
Aku akan tetap di ranjang bersamamu sepanjang akhir pekan.
- Kukira hubungan kalian dekat. - Memang.
Dex hanya lebih suka menangani hal seperti ini sendirian.
- Dia tak butuh bantuanku. - Atau...
Dia tak tahu cara meminta bantuanmu.
Aku meninggalkan pesan agar kita tak perlu membahas ini.
Ya, itu sebabnya aku terburu-buru datang kemari.
Agar kita bisa membahasnya seperti orang dewasa.
Patut dikagumi, Paul, tapi aku masih akan tetap keluar kota.
Tak bisa, jika artinya kau batalkan kunjunganku untuk menemui anak-anakku.
Itu bukan keputusanmu.
Anak-anak sudah tiba di rumah Colleen.
Kau bisa mengunjungi mereka saat kami kembali.
Hanya saja aku sudah siapkan dana untuk membeli tiket.
Kematian dalam keluarga lebih penting dari sirkus.
Dexter bukan keluargamu. Aku keluargamu.
Sudah siap?
Hei, Paul. Kami harus segera jalan.
Harusnya mereka sediakan kardiolog saat memberikan burger ini.
Kita harus memakannya.
Makanan camilan adalah hal umum saat bepergian.
Rumahnya bagus.
Kata pengacaranya, kuncinya di bawah keset.
Kalian tetangga baruku?
Tidak. Kami hanya datang untuk membereskan urusan riil estat.
Aku turut sedih soal Tn. Driscoll.
Usianya hanya 60. Terlalu muda untuk serangan jantung.
Dulu dia membersihkan selokanku setiap musim gugur.
Kini aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Kecuali kau tahu cara membersihkan selokan.
Kami takkan menetap di sini selama itu.
Semoga harimu menyenangkan.
No comments yet. Be the first to leave one.