160 baris pertama.
Sebelumnya di "Submission..."
Buku itu milikku.
Maaf. Aku hanya membacanya sekilas.
Air liurmu menetes.
Kau tidak menganggapku sebagai gadis yg suka membaca buku porno.
Pria bisa menjadi seperti anak kecil yg pasif.
Begitukah?
Bila kau sudah kembali, kau harus bicara.
Perlahan-lahan aku sekarat disini tanpamu.
Terkadang kehilangan kendali memiliki kekuasaan sendiri.
Dillon baru saja mengajak Chelsea masuk mobilnya
diborgol dan ditutup matanya.
Begitulah Dillon.
Sudah kubilang, Dia itu memang aneh.
Kita mulai.
IDFL™ SubsCrew
mbendholz
Tadi malam begitu menyenangkan.
Rafe, ada pelanggan.
Hanya satu orang, dan kita bisa pergi ke belakang.
Hentikan.
Kenapa?
Aku tidak mau membahas soal ini saat bekerja.
Kita bisa membicarakannya nanti di rumahku.
Aku akan segera kembali.
Selamat pagi.
Ya, akhirnya.
Kenapa? Apa yg terjadi?
Rafe mengeluarkan mobilnya ketika aku pulang pagi tadi.
Kelihatanya gadis baik menjadi gadis nakal semalam.
Itu bukan seperti yg kau kira.
Pastinya seperti yg kami kira.
Apa mengesankan?
Kiranya... baik² saja.
Baik² saja?
Baik² saja.
Baik² saja itu bohong.
Baik² saja bukan yg kau inginkan sekarang.
Aku ingin penjelasan setiap detailnya, tapi aku mau pipis dulu.
Buatkan aku kopi?
Kau tidak memberitahu dia, bukan?
Soal apa?
Pesta kejutan.
Tidak, tidak akan kuberitahu.
Karena dia selalu bertanya jika kita bertiga bisa jalan bareng hari Sabtu,
jadi kurasa mungkin dia mencurigai sesuatu.
Tidak, tak pernah kulakukan itu. Aku tahu caranya menyimpan rahasia.
Baguslah kalau begitu. Sayang sekali Rafe tidak boleh tahu.
Apa yg bisa kubuatkan?
Boleh kupesan kopi moka medium rendah kalori
- ... dengan susu almond? - Aku terima ini dulu.
Tolong kabari aku jika cek-nya sudah kau kirimkan.
Itu bagus.
Bukan "Halo. Apa kabarmu?"
Hai, Vincent. Apa kabarmu?
Nyalakan speaker-nya.
Bagus. Sedang bersiap.
Itu bagus.
Dan tidak, aku belum mengirimkan.
Apartemen tidak mengembalikan uang jaminan sampai penghuninya keluar,
jadi akan kutuliskan cek pribadi untukmu.
Baiklah. Dan kapankah itu?
Coba kulihat dulu.
Tunggu sebentar.
Untuk apa aku menunggu?
Aku akan memeriksa dan melihat cek komisiku berikutnya sudah terkirim.
Entah kenapa Wifi-ku sangat lemot.
Tutup telponnya.
Kau harus mengatakan apa yg terjadi.
Apa kau bisa menelponku kembali?
Tidak, tidak juga.
Tahan sebentar.
Halamannya sudah terbuka sekarang.
Astaga. Aku mau keluar.
Tahan dia tetap menelpon.
Aku harus pergi. Aku mau kerja.
Tahu tidak? Aku bisa mendapatkan uangmu minggu depan.
Baiklah. Akan ku SMS alamat ku.
Jangan biarkan dia menutupnya.
Tunggu, tunggu. Satu hal lagi.
Dia menjadi begitu menjengkelkan.
- Siapa, Rafe? - Bukan.
Sofa yg kita beli.
Memangnya kenapa?
Kau menginginkannya atau...
- Keluarkan di dalam. - Tidak, tidak apa .
Kau bisa menahannya.
Apa?
Vincent, sudah kubilang sofanya jangan dijual.
Kau membuatku menunggu Vincent?
Apa?
Dia menangis.
Benarkah?
Vincent, dengar, aku tahu kita tidak mengakhirinya dengan baik,
dan, kau tahu, aku benar² tidak menginginkan apapun darimu kecuali kebahagiaan.
Aku tahu.
Kirimkan cek-nya kapanpun sebisamu.
Baiklah.
Dia pasti tidurnya tidak nyenyak.
- Bagaimana kabarmu? - Terimakasih.
Ash.
- Permisi sebentar. - Silahkan.
Ash, ini bos² ku, Scarlet and Tomas.
Senang bertemu denganmu.
- Sama². - Aku telah mendengar hal² menyenangkan.
- Tidak dari Jules, pastinya. - Dasar. Kau tahu aku menyayangimu.
- Cranberry vodka? - Silahkan.
Nona panjang umur, tunjukkan bar-nya.
Lebih baik waspada.
Aku bisa mencuri suamimu nantinya.
Jules hanya menggodamu.
Dia memang jagonya.
Aku akan memarahinya karena tidak memberitahuku betapa cantiknya dia.
Itu ucapan yg sangat bagus.
Dan sangat jujur.
Aku ingin mem-foto-mu lain waktu. Apa kau model?
Dulu semasa SMU, tapi sekarang tidak lagi.
Apa kau mau melepas bajumu?
Jadi bagaimana kabar Fuckit ?
Apa kau peduli?
Tidak terlalu.
Lalu untuk apa kau bertanya?
Karena berpura-pura seperti aku peduli menjauhimu daripada jujur.
Kau mabuk.
Tidak juga.
Bukan telanjang dalam artian eksploitasi.
Itu seni erotis.
Meski begitu, aku tidak akan melepas bajuku di depan kamera
Coba pikirkan. Inilah pembebasan.
Bahkan aku tidak ingin menyimpan foto digitalnya.
Dan kau bisa bergaya dengan Jules.
Dia telah memintaku untuk memotret-nya.
Kurasa dia menyukai ide fotonya digantung di kamar tamu kita.
Kurasa begitu.
Tidak keberatan kutinggal sebentar?
Tentu saja.
Tak ada lagi yg disembunyikan dari Rafe.
Memang tidak.
Aku tidak buta.
Aku tak bisa membantu.
Hanya saja pekerjaan itu begitu canggung.
Seperti mimpi buruk.
Kau membuatnya menjadi mimpi buruk.
Apa yg terburuk yg bisa saja terjadi?
Dia menyetubuhimu lagi,
dan mungkin kali ini kau menyukainya.
Atau malah membuatnya lebih canggung lagi
karena aku tidak tahu isi perasaanku padanya..
Jangan hanya memikirkannya saja.
Santai saja, terutama jika ada kesempatan kau menyukai dia.
Mungkin kau yg harus santai saja.
Apa?
"Lebih baik waspada. Bisa saja kucuri suamimu nantinya."
- Benarkah, Jules? - Apa?
Kau pamerkan dia tepat di depannya.
Ashley.
Dan dia sangat manis dan benar² menyukaimu.
Maaf.
Teruskan saja.
Seseorang di pesta ini pastinya ingin ditiduri.
No comments yet. Be the first to leave one.